Bulan yang baru pulang dari Australia harus mendapatkan sebuah tugas yang sangat berat yaitu untuk mengubah dan memperhatikan anak dari teman Ibu-nya yang tak lain adalah Revan Armanio.
Sedangkan, Revan Armanio lelaki yang sangat dingin dan kaku apalagi cuek membuat Bulan harus mau tidak mau berusaha untuk mengubahnya kembali ke sikap yang dulu Revan punya. Bulan berjanji akan mengubah sikap Revan dan Revan menyetujuinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya, ikuti terus ya❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellina Army, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Setelah pelajaran yang melelahkan dengan menguras banyak tenaga mental, akhirnya jam pulang tiba. Semuanya dengan senang mengemas barang-barangnya untuk pergi meninggalkan kelas dan pulang untuk istirahat.
Akhirnya, pulang juga!
Bulan yang sudah letih dengan cepat membereskan buku yang berserakan di mejanya. Revan yang masih malas-malasan untuk mengemas barangnya hanya menatap intens Bulan yang sibuk dengan tas-nya sendiri. Sedangkan, Bulan yang merasa ada menatapnya hanya mengacuhkan saja tanpa menoleh pun.
"Revan, kamu gak pulang mau tidur sini!?" sentak Bu Yuli dengan berkacak pinggang.
Revan pun menengok ke samping dan melihat Bu Yuli yang sedang menatapnya tajam seperti ingin memakan dirinya utuh-utuh, "Saya salah apa, Bu?" tanya Revan dengan kikuknya.
Bulan yang sudah selesai mengemasi barangnya pun langsung duduk dan, "Bu Yuli, dia mau nginap sini katanya mau tidur sama doi barunya!" ucapan Bulan sontak membuat semua yang ada di kelas langsung menatap kearah bangku Revan dan Bulan.
Bu Yuli melotot dan langsung menjewer telinga Revan dengan keras sampai-sampai sang pemilik telinga pun meringis menahan sakit.
"Kamu ini masih pelajar sudah mulai berani begituan ya! Besar nanti mau jadi apa, Hah!? Revan, ingat kamu itu pelajar kebanggaan SMA sini yang selalu mendapatkan piala prestasi setiap tahunnya jangan bikin malu dan ulah!" cerocos panjang kali lebar Bu Yuli. Mungkin saja dia mulai terhasut candaan Bulan yang seperti nyata itu.
Revan melirik kearah Bulan yang sedang menutup mulutnya agar tak tertawa ketika melihat hal itu, "Kau pasti bercanda bukan!?" bisik Revan dengan kata penekanan.
"Ekhem, kalian semua dengarkan dulu pembicaraan aku jangan langsung salah paham. Begini, Bu Yuli, Revan akan tidur dengan doi itu maksud saya dengan nyamuk!" jelas Bulan dengan tawa kecil.
Tawa pun meledak dengan sekejap saja, Bu Yuli menghela nafas lega dan melepaskan jeweran-nya pada telinga Revan sampai membekas merah.
"Siapkan, dan berdoa untuk pulang!"
"Awas ya lo, Lan!" batin Revan yang kesal dengan ulah jahil Bulan.
Langkah Bulan langsung terhenti ketika ada kumpulan teman Revan yang sedang rumpi enak dekat mobilnya. Dengan langkah malas, Bulan berjalan kearah parkir mobilnya berada. Revan yang mengetahui jika Bulan berjalan kearahnya hanya mengangkat alis saja.
Bulan melirik Revan dan temannya, "Kalian mau apa sih? Minggir mau pulang gue!" ucap Bulan dengan judes.
"Mau kemana?" tanya ulang Revan yang membuat geram Bulan sendiri.
Bulan menghela nafasnya agar tetap sabar menghadapi beruang es satu ini, "Tinggal minggir aja apa susahnya sih buat kalian!"
"Kita-kita cuma disuruh Revan buat disini, Lan!" sahut Hidan.
"Jawab dulu lo mau kemana?" tanya ulang Revan.
Bulan memejamkan matanya sekilas dan mengeluarkan nafas dengan kasar, "Gue mau pulang, Van! Lo mau apasih, halangi aja deh!?"
"Lo pulang sama gue aja, gak usah nolak!" perintah Revan dengan tegas.
Bulan menghela nafasnya, sebenarnya ia akan berencana ingin ke bengkel Jio untuk membahas tawaran pekerjaan itu tapi bagaimana jika Revan memaksakan dirinya untuk pulang bareng.
Bulan memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat agar Revan berubah pikiran, "Van, gue bawa mobil dan masih ada urusan privasi. Jadi, lo gak usah nganterin gue pulang!"
Revan menatap wajah Bulan yang sedikit bingung itu, "Yakin?" Bulan menganggukkan kepalanya dengan ragu.
Revan mengeluarkan ide-ide bagus dari otaknya, dengan cepat ia mengambil paksa kunci mobil Bulan yang masih ada di tangan kirinya. Bulan mendelik tajam ke Revan saat kunci mobilnya diambil, "Revan, balikin gak kunci mobil gue! Ini tuh hampir sore, balikin!" ucap Bulan dengan meraih kuncinya.
Teman Revan yang melihat hal Seperti itu hanya bisa mengelus dada aja karena, mereka menginginkan punya pacar yang seperti Bulan.
"Udah ah, gue iri lihat kalian begini terus! Mending gue balik aja deh, daripada jiwa gue melonjak-lonjak!" ucap kesal Derrick dengan berlalu pergi bersama Hidan.
"Pergi aja, gue gak larang juga!" sahut Revan.
"Lo maunya apaan sih, Van?" tanya Bulan dengan bibir mengerucut yang membuat Revan gemas tapi masih ia kontrol agar tak hilang kendali.
"Mobil lo biar teman gue yang ambil, dan lo ikut gue naik motor!" perintah Revan dengan tegas.
Hingga akhirnya, Bulan mengikuti kemauan Revan yang seperti memaksa itu karena ia tak mungkin menang jika adu bicara dengan Revan yang selalu mendapatkan ide bagus. Berat hati, Bulan memakai helm yang diberikan oleh Revan dan naik ke jok belakang motor Revan.
"Pegangan, ntar lo jatuh lagi!" perintah Revan tapi diabaikan oleh Bulan seakan tidak mendengar.
"Oke, akan gue buat lo pegangan sama gue!"
Tanpa aba-aba Revan melajukan motornya dan langsung mengerem mendadak. Tubuh Bulan langsung terdorong ke depan dan memeluk pinggang Revan.
"Lo sengaja ya!?" teriak Bulan saat motor Revan sudah berjalan keluar gerbang sekolah.
Revan hanya diam, dalam hatinya ia bersorak senang ketika Bulan memeluk pinggangnya. Bulan ingin melepaskannya tapi ia juga takut kalau Revan melakukan hal itu tadi secara tiba-tiba, akhirnya ia lebih mengalah dan pegangan erat pada pinggang Revan.
Di perjalanan pun mereka saling terdiam dan hanya terdengar suara bising dari kendaraan lain dan motor Revan sendiri. Revan sendiri lebih fokus dengan jalanan yang didepan, tapi Bulan hanya pasrah aja dengan gerutuan tidak jelasnya.
"Lo gerutu terus gak capek?" tanya Revan dengan sedikit teriak.
"Diem lo, fokus aja sana biar gak nabrak! Gue gak mau mati sebelum nikah sama jodoh gue nanti, entar kasihan jodoh gue gak bisa nikah!" celetuk Bulan dengan asal-asalan.
"Lagian ya, gue gak tuli jadi jangan teriak-teriak tambah pusing kepala gue tahu gak!"
"Dasar cewek, gaje!" gerutu Revan dengan pelan.
"Apa lo bilang!?"
...*******...
"Bentar deh, Van! Berhenti dulu!" perintah Bulan dengan menepuk pundak Revan pelan.
Revan mengehentikan motornya di pinggir jalan, "Mau ngapain, lo mau makan di restoran itu?" tanya Revan setelah melepaskan helm-nya.
Bulan melepaskan helm-nya dan turun dari motor ninja Revan, "Van, semalam gue ketemu anak kecil disini tapi hilang tiba-tiba tahu gak sih?"
"Ck, gak perlu mengada-ada. Cepetan naik, mau gue tinggal lo!?" Bulan menaiki motor Revan kembali dan pergi meninggalkan jalan tersebut dengan kecepatan sedang.
"Gue beneran, Van! Gak bohong, suwer!"
"Ya ampun, lo aja yang berpikiran aneh-aneh. Mana ada coba hantu jaman now!?" ucap tidak percaya Revan.
"Emang ada, tapi lo aja yang gak percaya sama gue!"
Bulan merasa kesal sendiri dengan Revan, "Udah turun sini aja, gue mau pulang jalan kaki!"
"Masih jauh, naik lagi gak!?"
"Gak perlu, gak usah sok peduli, gue mau jalan, BYE!"
Jangan lupa like:)
Semoga sehat, bahagia dan sukses selalu ya..
Semangaaaaattt... ❤❤❤❤❤
asisten dadakan hadir
mampir yuk..
semangat selalu💪
Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
Dukunganku untuk jari-jari yang lelah menulis & apresiasi untuk ide yang telah tertuang 🙌💐
like untukmu 😉😉
ditunggu feedbacknya kak 😉
a world full of zombies hadir lagi 💚🙂