NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aktivitas

Perasaan yang hancur, kini pulih tanpa ada bekas gores. Ibu Laras sungguh sangat senda, melihat hadirnya putri kesayangannya, yang telah membuatnya merasa gelisah.

Nia berjalan terlebih dahulu, disusul pamannya dari belakang.

"Siang, Bu," sapa Nia, seraya memberikan salam kepada Ibunya dan Ibu Lian.

"Siang jaga, Nak."

Ibu Laras menatap nya sinis, sedikit rasa sesal terhadap Nia terpancar jelas di raut wajahnya, "Siang juga, Nak. Darimana saja engkau?"

Nia menatap Ibunya penuh makna, dia kemudian memegang kedua lengan Ibu Laras, dengan sedikit belaian yang manja, "Aku tadi berhenti dulu di pondok Opa Beda, makanya aku telat pulang ke rumah, Bu."

"Buat apa kamu berhenti disana, sehingga lupa untuk pulang ke rumah?"

"Hm... Bu, aku sangat lelah, di tambah lagi teriknya matahari yang membuat aku jenuh untuk berjalan."

"Gusur saja rumahmu, dan pindahkannya di dekat sekolah," cetus Lias.

"Diam!" bentak Ibu Lian, dengan tatapan yang sinis kepada anaknya.

"He!" Nia seketika kaget, mendengar Lias yang seraya berjalan menghampiri mereka, "Kau lagi, kenapa hari ini kamu tidak masuk ke sekolah?" tanya Nia, dengan raut wajah yang sangat cemberut.

"Apa..." Raut wajah Ibu Lian memerah, menatapi Nia dengan penuh tanya, "Dia tidak sekolah, Nia?"

"Iya, Bu. Hari ini, dia tidak sekolah lagi," pinta Nia, menunjuk ke arah Lias.

Ibu Lian yang dari tadi duduk di samping pintu masuk dapur dari Ibu Laras, kini mulai berdiri. Tatapan matanya tajam, dia mengigit bibir bawah nya, seraya berjalan menghampiri Lias yang mau beranjak pergi dari situ.

"Lias! Mau kemana engkau!" tegas Ibu Lian, yang bermaksud menghentikan langkah dari anaknya itu.

"Tidak kemana-mana, Bu," jawab Lias, sembari mengelus-elus dadanya, "Bu...."

"Bu, apa! Mau bohongi aku lagi, setelah semuanya sudah jelas!"

Ibu Lian meraih telinga kanan dari anaknya, dan mencubit nya sekuat mungkin, "Tadi pagi, katamu ke sekolah, tapi kenapa kamu tidak sampai di sekolah? Kenapa engkau tidak sekolah, tapi keliaran tidak jelas?"

Amarah Ibu Lian makin membara, dibakar anaknya yang hampir tiap hari menipu daya kan dia.

"Pukul saja, Bu. Dia sangat malas ke sekolah. Jangan lagi percaya apa yg dia katakan, sebab dia sama sekali tidak menyayangi engkau, Bu," cetus Nia.

Paman Nia menggelengkan kepalanya pelan, serta menatapi keduanya dengan sinis, "Lias... Lias... Kenapa tadi pagi engkau lari, ketika melihat aku di belakang sekolah kalian?"

"Apa! Berarti selama ini engkau seperti demikian," Ibu Lian makin kaget, mendengarkan cerita tentang kelakuan buruk anaknya, "Engkau, sungguh sangat membuatku malu."

"Kenapa Lias? Ada apa dengan dirimu, sehingga engkau tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah?" tanya Ibu Laras.

"Kau sungguh keterlaluan Lias, bukan cuma kali ini saja, tetapi sering kali aku melihatmu dan beberapa temanmu yang lain nongkrong di belakang sekolah, ketika pelajaran sedang berlangsung."

"Dia juga kerap merokok di sekolah, Bu," pinta Nia, tersenyum mengejek Lias.

Lias sama sekali tidak menghiraukan mereka, melainkan dia menjerit kesakitan karena cubitan dari Ibunya, "Sakit, Bu... Sakit," pintanya, seraya menarik tangan Ibunya, yang semakin lama semakin kuat cubitan yang diterimanya.

"Sakit... Engkau pikir, Ibu peduli denganmu," Ibu Lian memasangkan wajah yang geram tetap dia, "Engkau tidak usah sekolah lagi."

Ibu Laras dan Nia saling berpandangan sesaat, sebelum Ibunya menyuruh dia untuk menggantikan pakaian seragam nya, "Buat apa engkau bisu disini. Pergi sana, dan gantilah pakaian mu."

"Nanti, Bu," pinta Nia, tersenyum hangat menatapi Ibunya.

"Apa-apan," Ibu Laras mengangkat tangan kanannya, serta menyentil kening Nia, "Apakah engkau tidak mau sekolah besok?"

"Sekolah, Bu. Lagi pula aku baik saja, dan buat apa juga aku tidak sekolah?"

Ibu Laras menujuk kerak dari pakain seragam Nia, "Itu... Apakah engkau mau ke sekolah pakai pakaian seragam yang kotor. Cepat, gantilah pakian dan makan, setelah itu cucilah baju mu."

"Aku sudah makan, Bu..." pinta Nia, penuh manja.

"Apa? Dimana?"

"Aku sudah makan siang, bersama Metallo dan Festo di pondok mereka."

"Jikalau demikian, cucilah pakaian seragam yang engkau kenakan itu, dan istrahat sejenak. Setelah itu, bantulah Ibu, Nak."

"Iya, Bu," Jawab Nia, seraya melangkah menuju ke kamarnya.

"Awas kau... Setelah kita pulang dari kebun, Ibu akan menghukum engkau," pinta Ibu Lian.

Ibu Lian terlihat sedikit menurunkan amarahnya terhadap Lias, namun dia tidak memberikan pengampunan pada anaknya itu, karena telah berulang kali Ibu Lian mendapatkan pagilan dari kepala sekolah, akibat perilaku buruk dan juga absen Lias.

"Laras kami pergi dulu," pinta Ibu Lian, seraya mengambil bakulnya.

"Iya Lian, hati-hati di jalan."

"Iya."

Setelah Ibu Lian dan anaknya pergi, paman Nia pun bergegas pergi juga dari situ. Sedangkan Ibu Laras beristirahat sejenak disitu, sebelum bergegas masuk ke dalam dapur untuk membereskan peralatan memasaknya.

"Ada-ada saja Lias," Ibu Laras menggelengkan kepalanya pelan, "Buat apa jikalau tidak sekolah, tapi pamit dari rumah katanya mau ke sekolah. Hm... Anak-anak jaman sekarang memang sulit untuk diatur. Mau jadi apa nantinya, jikalau tidak sekolah," gumannya, seraya mengambil beberapa piring kotor yang mau dicuci nya.

*****

"Hey, Kastel. Apa yang engkau lakukan di situ?" tanya Dabllo, seraya turun dari motor bubut milik Metallo.

"Tidak salah, kalian bertiga kesini menggunakan satu motor saja," pinta Kastelo, sembari mengusap-usap matanya.

Kastelo tersadar dari tidurnya akibat suara rezing motor Metallo. Dia tidur di depan kost Dabllo, tetapnya di tempat tongkrongan mereka.

"Sejak kapan engkau ada disini?" tanya Festo, yang sedikit merasa kebingungan, karena melihat pakaian seragam yang dikenakan Kastelo.

"Aku belum pulang ke rumahku, karena ketiduran disini."

Metallo tertawa kecil, "Kenapa engkau tidak pulang ke rumah mu, apakah ada masalah dengan kedua orangtua mu?"

"Apa lagi yang kamu bicarakan, Metal. Aku ketiduran disini, makanya aku belum pulang."

"Dimana anak-anak yang lainnya? Kenapa keadaan disini seperti tidak berpenghuni."

"Aku lapar, apakah ada makan Dabllo?" tanya Kastelo, yang tidak mau menghiraukan lagi mereka.

"Mana mungkin kutahu, sedangkan aku saja baru pulang Kastel."

Ketiganya tertawa mengejek Kastelo, yang memegang perutnya karena lapar. Sedangkan Dabllo memaikan gitar yang dibawa nya.

"Aku sangat lapar," dia kemudian bangkit dari duduknya, "Metal, aku bawa dulu motor mu ke rumahku, setelah itu aku akan kembali lagi kesini," pintanya.

"Bawa saja, tapi ingat isi bensin."

"Cepat pulang kesini," pinta Dabllo.

"Iya... Tapi, jikalau aku tidak kembali kesini, maka kita akan bertemu lagi sebentar malam di tempat yang sama, seperti hari-hari kemarin," pinta Kastelo, seraya menghidupkan motor dan mulai meninggalkan mereka.

"Hoeee, aku tidak mau tahu, engkau harus pulang menjemputku di pondok..." teriak Metallo.

Selepas itu, Dabllo mulai bergegas masuk ke dalam kost nya untuk menggantikan pakaian seragam nya, dan juga menyeduhkan kopi untuk mereka bertiga. Sedangkan Metallo dan Festo menunggunya di tempat tongkrongan, bernyanyi bersama diiringi gitar klasik yang Metallo mainkan.

Bersambung....

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!