【Cantik×Ketos Dingin+Cinta Pandangan Pertama+Cinta Manis】⚠️ FOLLOW DULU BARU BACA ⚠️ Haii..selamat menyelami dunia fiksi, sebagian cerita diambil dari kisah nyata. mohon maaf jika ada kesalahan/kekurangan Dalam cerita ini, karena saya juga manusia biasa. Terimakasih sudah mau mampir ke cerita ini ••••••••• Liliana Marcella Kusuma, Itulah nama yang dulunya disematkan oleh neneknya. entah kenapa sejak dia kecil dia tak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya, seakan kedua paruh baya itu membentangkan jarak kepada putrinya itu. Namun walaupun begitu, Liliana tetap semangat menjalani harinya karena dia punya pacar yang sangat cinta padanya. Ivander Jovanka Bagaskara, Pria dingin yang tak tersentuh, dan terlahir dari keluarga konglomerat. walaupun punya harta yang melimpah dan keluarga yang lengkap tak membuatnya bahagia. Tapi sejak berjumpa dengan perempuan yang bernama Liliana Marcella Kusuma, membuat dunianya serasa berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sriii Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(35)
Happy reading
Di ruang kerja sementara yang ia dirikan di sebuah villa tersembunyi, Alex menatap peta besar yang penuh dengan tanda merah. Titik-titik itu adalah lokasi bisnis, gudang, dan markas jaringan Raja Surya.
“Dia pikir bisa mengacak-acak keluarga Pratama sesuka hati…” gumam Alex dingin.
Seorang anak buahnya masuk membawa berkas tebal.
“Bos, semua data sudah kami kumpulkan. Raja Surya punya banyak kaki tangan, bahkan ada pejabat yang melindunginya. Kalau kita serang secara frontal, bisa jadi perang terbuka.”
Alex menatap berkas itu dengan sorot tajam.
“Perang terbuka atau tidak, aku tidak peduli. Mulai malam ini, kita tidak hanya bertahan. Kita yang akan menyerang duluan.”
Sementara itu, di rumah sakit, suasana jauh lebih hangat. Vander sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Liliana duduk di kursi samping ranjang, menggendong bayi mungil mereka.
“Lihat, Mas. Dia senyum lagi. Seolah tahu ayahnya kuat.” ucap Liliana dengan tatapan penuh cinta.
Vander mengulurkan tangannya, menyentuh pipi putrinya dengan hati-hati.
“Putri kecilku… kamu alasan ayah untuk hidup. Ayah janji, kamu tidak akan pernah merasakan kehilangan seperti ayah.”
Liliana menatap suaminya, matanya berkaca-kaca.
“Kamu nggak sendirian, Mas. Aku akan selalu ada. Apapun yang terjadi.”
Untuk pertama kalinya setelah tragedi itu, Vander merasa tenang. Kehangatan Liliana dan anaknya membuat luka yang ia rasakan perlahan terobati.
Namun, di saat yang sama, badai memang sedang berkumpul. Di markas besarnya, Raja Surya duduk di kursi mewah, dikelilingi para pengawal. Ia menyalakan cerutu, senyum sinis menghiasi wajahnya.
“Alex Pratama mulai bergerak, ya? Biarkan dia. Semakin cepat dia maju, semakin cepat dia masuk ke perangkapku.”
Matanya menyipit, penuh rencana.
“Keluarga Pratama akan tumbang. Satu per satu.”
Di balkon rumah sakit, Alex menerima telepon. Suara di seberang terdengar jelas.
“Bos, Raja Surya tahu kita sudah bergerak. Dia menantangmu… langsung.”
Alex menutup ponselnya, menatap ke arah kamar adiknya. Wajahnya dingin, tapi hatinya membara.
“Baik, Raja Surya. Kau ingin perang? Kau akan mendapatkannya.”
*****
Suara roda kursi rumah sakit berderit pelan ketika Vander didorong keluar dari ruang perawatan. Di sampingnya, Liliana berjalan perlahan, wajah pucatnya tersapu cahaya sore yang menembus kaca jendela. Di pelukannya, bayi mungil mereka terlelap damai, seakan tidak menyadari badai yang sedang berkumpul di luar sana.
“Alhamdulillah, Mas… akhirnya kita bisa pulang,” bisik Liliana dengan mata berkaca-kaca.
Vander menoleh, bibirnya menekuk senyum kecil yang penuh arti. “Rumah, istri, anak… aku tidak pernah meminta lebih dari ini, Li. Tuhan memberiku kesempatan kedua. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.”
Perjalanan pulang mereka diselimuti rasa syukur. Mobil keluarga melaju tenang di bawah langit senja. Di dalam kabin, Vander menatap Liliana dan anaknya tanpa berkedip. Setiap tarikan napas bayinya, setiap senyum tipis sang istri, seolah menancapkan tekad baru di dadanya: ia harus hidup lebih lama, lebih kuat, demi mereka.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ada suara lirih yang tak bisa ia abaikan. Suara itu mengingatkan, bahwa kecelakaan tempo hari bukan sekadar kebetulan. Ada tangan kotor yang sedang bermain, dan cepat atau lambat, ia harus berdiri di garis depan melawan mereka.
*****
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana kontras bagaikan bumi dan langit. Gudang tua yang disulap jadi ruang kerja sementara tampak penuh dengan peta, catatan, dan foto-foto buram. Di tengahnya, duduk Alexander dengan mata tajam menatap tanda-tanda merah yang membentuk pola besar.
“Raja Surya,” gumamnya lirih, “kau pikir bisa menyentuh keluargaku lalu hidup tenang?”
Seorang anak buah memasuki ruangan, membawa map tebal dengan ekspresi serius.
“Bos, kami dapat kabar. Orang-orang Surya sedang memindahkan senjata mereka ke pelabuhan timur. Itu kesempatan pertama kita untuk menyerang.”
Alexander menyandarkan tubuh ke kursi, jarinya mengetuk meja kayu. Tatapannya tajam seperti seekor elang yang mengincar mangsanya.
“Bagus. Malam ini kita serang. Aku ingin pesan ini jelas: keluarga tidak bisa disentuh.”
Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap yang mengepul di udara dingin.
“Raja Surya… mari kita mulai tarian perang ini.”
Malam menjelang, pelabuhan timur yang biasanya ramai kini berubah jadi medan perang. Ledakan pertama memecah keheningan, diikuti rentetan tembakan yang menggema di sepanjang dermaga. Api melahap salah satu kapal kargo, asap hitam membumbung tinggi ke langit malam.
Alexander turun langsung memimpin pasukannya. Tubuh tegapnya bergerak lincah di antara kontainer, setiap tembakannya selalu tepat sasaran.
“Habisi mereka! Jangan ada yang berdiri!” serunya lantang.
Peluru beterbangan, teriakan terdengar dari berbagai arah. Bau mesiu dan darah bercampur jadi satu, menciptakan aroma perang yang memabukkan.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria tinggi berjas hitam melangkah keluar dari balik kontainer. Wajahnya keras, sorot matanya dingin—dia adalah salah satu tangan kanan Raja Surya.
“Alexander…” suaranya berat, penuh ejekan. “Akhirnya aku bertemu denganmu. Bosku sudah lama menunggumu.”
Alexander menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia mengangkat pistol, menodong tepat ke arah lawan.
“Kalau begitu, kau cukup beruntung. Kau akan jadi pesan pertama untuk bosmu.”
Di rumah, Vander duduk di kursi empuk ruang tamu. Bayi kecilnya terbaring di pelukan, wajahnya begitu tenang hingga membuat hati Vander luluh. Liliana duduk di sampingnya, menyeduhkan teh hangat lalu meletakkannya di meja.
“Mas, jangan pikirkan hal berat dulu. Fokus sembuh, ya. Biarlah Alexander yang mengurus sisanya.”
Vander menatap istrinya, lalu menoleh ke arah putrinya yang menggeliat kecil. Senyum samar muncul di bibirnya.
“Benar, aku harus sembuh. Tapi aku tahu, cepat atau lambat aku juga harus berdiri di garis depan. Aku tidak akan biarkan anakku tumbuh dengan rasa takut.”
Liliana terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia tahu suaminya keras kepala. Namun di balik kata-kata itu, ia merasakan ketulusan seorang lelaki yang rela berkorban apa pun demi keluarga kecilnya.
Dalam hati, Liliana berdoa lirih: “Ya Allah, lindungi suamiku. Jangan biarkan dia jatuh lagi. Lindungi keluarga kami dari setiap bahaya yang mendekat.”
Di pelabuhan, perang masih berkecamuk. Alexander kini berdiri berhadapan dengan musuh tangguh. Api dan peluru jadi saksi duel mereka.
Dan di rumah, Vander menatap putrinya lekat-lekat, menggenggam jemari mungil itu sambil berbisik:
“Putri kecilku, jangan takut. Ayah akan pastikan dunia ini aman untukmu.”
Namun ia tidak tahu, bayangan hitam telah mengintai dari kejauhan. Seseorang memotret rumah mereka diam-diam, lalu mengirimkan foto itu ke nomor misterius.
Pesan singkat pun terkirim:
“Target sudah pulang. Perintah selanjutnya?”
||||||||||||||||||||||||••••••••|||||||||||||||||||||||
Jangan lupa vote + komen ya
Agar author semangat ngupdate nya