Menikah dengan pria tampan, baik, setia dan kaya mungkin terdengar seperti mimpi di siang bolong. Tapi tidak bagi Erina, wanita dengan nama lengkap Erina Azkia Davina itu menjadi salah satu wanita beruntung di muka bumi ini karena berhasil menikah dengan pria tampan, baik, setia dan kaya raya.
Namun, meskipun Erina menikah dengan pria yang nyaris sempurna, pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Penghianatan yang dilakukan ayahnya di masa lalu menghantui Erina dan membuat Erina tidak bisa mempercayai suaminya, Bisma, apalagi Erina pernah memergoki Bisma dengan wanita lain di kantor.
Rasa takut yang menghantui Erina membawa petaka dalam rumah tangganya. Bahkan, Erina dan Bisma hampir bercerai. Hampir, beruntung Bisma selalu bisa mengimbangi Erina dan tidak suka memperpanjang masalah. Bisma memang pantas disebut sempurna.
****
Note: Saya harap kalian tidak mengandalkan emosi saat membaca novel ini, karakter ceritanya mungkin kurang baik, tapi kalian jadilah pembaca yang baik.
©2019, lightqueensa || Nur Alquinsha A
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Alquinsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ITC #34
Malam di kota Seoul semakin larut, Erina sudah terlelap dan Bisma tidak berani memejamkan matanya, Bisma takut kejadian beberapa jam lalu hanya mimpi yang akan hilang di pagi hari.
"Mari terus bersama untuk waktu yang lama."
Bisma meringis, dia kembali mengingat perkataan Erina di coex artium, dia merasa tidak mengenali Erina, istrinya adalah wanita datar, tidak di sangka bisa melakukan rayuan seperti itu.
Dan lagi, seharusnya Bisma yang mengucapkan kalimat itu dan meminta Erina untuk tetap bersamanya selamanya, tapi Erina sudah lebih dulu mengambil perannya.
"Berani sekali kamu merayu saya dan tidur begitu saja." Ucap Bisma sambil memperhatikan wajah terpejam Erina.
"Erin, kamu harus mendapatkan hukuman." Bisma merapihkan rambut Erina yang sedikit berantakan dan menutupi sebagian wajahnya.
Erina merasa terusik, dia perlahan membuka matanya dan sedikit terkejut saat melihat suaminya masih belum tidur, Erina melemparkan senyuman.
"Bisma, kenapa belum tidur?" Tanya Erina dengan suara serak karena baru bangun tidur.
Bisma tidak menjawab, hanya terus menatap istrinya, lalu Erina tiba-tiba mendekat dan memeluk tubuhnya.
"Tidak bisa tidur?" Erina kembali bertanya dengan lembut, dia teringat ketika Bisma belum tidur dan meminta pelukan darinya sehingga berinisiatif memberi suaminya pelukan.
Bisma tertegun untuk kesekian kalinya, dia tidak menyangka Erina berani memeluknya di tempat tidur, Bisma kemudian membalas pelukan Erina.
"Erin, kamu berhutang penjelasan kepada saya." Ucap Bisma tanpa menjawab pertanyaan Erina.
"Penjelasan apa?" Tanya Erina yang terdengar polos. Bisma membuat wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
"Kamu dan idolamu, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Bisma penasaran pasalnya perubahan Erina berasal dari pertemuan Erina dengan idolanya.
"Oh, aku hanya mengucapkan terimakasih pada Bryan." Jawab Erina seadanya, Bisma tidak terlalu percaya.
"Lalu isi hati yang kamu maksud?" Tanya Bisma lagi, teringat perkataan Erina ketika berterimakasih padanya. Bisma sangat penasaran mengenai hal itu, dia sempat berpikir Erina sudah menyatakan perasaannya terhadap sang idola sampai terlihat senang.
Tapi, jika memang itu benar, tidak mungkin Erina mengajaknya bersama untuk waktu yang lama, atau mungkin waktu yang Erina maksud memiliki batasan? Bisma tidak tahu! Makanya dia harus mengetahui apa yang Erina bicarakan terhadap sang idola.
"Aku akan memberitahumu nanti, lebih baik sekarang kamu tidur." Ucap Erina, dia kemudian mengecup bibir Bisma.
"Selamat malam, suamiku." Erina melemparkan senyuman kepada suaminya, Bisma membisu dengan pandangan yang mendadak kosong.
Bisma ingin sekali protes dan meminta Erina memberitahu hal itu detik ini juga, akan tetapi mulutnya tiba-tiba terkunci, Erina baru saja menciumnya?
"Bisma, tidurlah!" Erina kembali bicara saat melihat Bisma terdiam, dia menyentuh lembut wajah Bisma.
Mata Bisma terpejam menikmati kelembutan tangan Erina, lalu Bisma menahan tangan hangat Erina supaya tetap berada di wajahnya.
"Saya tidak bisa tidur, Erin." Sahut Bisma dengan suara rendah.
"Aku bisa memelukmu supaya kamu tidur."
"Tidak usah, kamu akan membuat saya yang lain bangun."
Bisma memelankan suaranya dalam kalimat terakhir, Bisma percaya Erina tidak akan mengerti maksudnya, Erina sudah membangunkan miliknya.
"Kamu penasaran mengenai obrolanku dan Bryan?" Tanya Erina kemudian menghela nafas pelan.
"Baiklah, aku akan memberitahumu." Putus Erina, dia tidak ingin membuat Bisma terus memikirkan tentang isi hati yang dirinya maksud.
Bisma hanya menatap wajah Erina, dia yang lain sudah benar-benar bangun hanya dengan melihat wajah istrinya.
"Bryan ..." Erina berhenti bicara, Bisma tiba-tiba menindih tubuhnya.
"Jangan menyebut pria lain." Suara berat Bisma membuat Erina merinding. Erina tidak mengerti alasan Bisma tidak suka dirinya menyebut nama pria lain disaat Bisma sendiri ingin tahu mengenai apa yang Erina bicarakan dengan pria lain itu.
"Tidak peduli isi hatimu, kamu milik saya." Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan, Bisma membungkam mulut Erina dengan bibirnya.
Erina tersenyum, dia tidak begitu mengerti maksud perkataan Bisma, dia mengalungkan tangannya pada leher Bisma dan membalas ciuman suaminya itu. Tidak berlangsung lama, Bisma kemudian teringat akan sesuatu dan langsung menghentikannya.
"Saya mengantuk." Ucap Bisma lalu dalam sekejap menyingkir dari tubuh Erina, padahal dia hanya teringat Erina sedang tidak bisa melayaninya.
Bisma tidur dengan membelakangi tubuh Erina supaya istrinya percaya bahwa dia memang mengantuk. Entah mengapa Erina malah tersenyum menatap punggung suaminya, Erina memeluk tubuh Bisma dari belakang.
"Kamu yakin mengantuk?" Tanya Erina menggoda suaminya pasalnya Bisma sempat mengatakan tidak bisa tidur. Erina tidak mengerti dengan apa yang terjadi terhadap suaminya.
"Erin, tolong jangan mengganggu, saya sangat mengantuk dan ingin tidur." Ucap Bisma tanpa menjawab istrinya.
Bahkan, Bisma sengaja menutup matanya supaya meyakinkan Erina, meskipun Erina tidak sedang melihat wajahnya, tapi menurut Bisma hal itu perlu untuk di lakukan.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu." Ucap Erina kemudian melepaskan pelukannya.
Bisma merasa bersalah, meskipun nada bicara Erina terdengar biasa saja, entah mengapa Bisma merasa sudah membuat istrinya kecewa. Bisma tidak bisa mengalah dan berbalik kali ini, atau dia akan tersiksa seperti beberapa hari terakhir, semua itu karena dia menginginkan istrinya.
Bisma harus tetap diam supaya setelah Erina tidur nanti dia bisa menyelesaikan sendiri masalahnya, karena untuk sekarang Erina masih belum bisa membantunya. Dan Bisma harus mengambil resiko Erina akan kecewa terhadapnya.
Tapi, seakan dunia dan seisinya tidak memihak Bisma, pria itu mendengar suara nada dering ponsel, meskipun ponsel yang berdering milik Erina, akan tetapi hal itu akan menghambat Erina untuk tidur. Dan Bisma akan lebih lama merasa tersiksa.
"Soraya, gue ketemu Bryan." Ucap Erina terdengar girang.
Sial! Bisma mengumpat. Dia sudah sangat tersiksa sementara Erina malah telponan dan membicarakan pria lain.
Erina memang sulit mengontrol dirinya ketika membicarakan Bryan. Berhubung Soraya juga memiliki aliran yang sama dalam hal idola, Erina langsung memberitahu Soraya mengenai impiannya yang baru saja menjadi kenyataan.
Ya, sebagai seorang penggemar dari negara yang berbeda, impian terbesar Erina adalah bertemu Bryan. Sekedar bertemu. Karena Erina tidak termasuk penggemar kaya sehingga bertemu Bryan hanya bisa menjadi impiannya.
"Erin, lo dan Bisma tidak serius mau bikin anak disana kan?" Tanya Soraya tanpa peduli apa yang barusan Erina bicarakan.
Erina melirik kearah Bisma yang tidur di sampingnya. Dia menebak Soraya sengaja menelpon hanya untuk bertanya hal itu, mungkin karena Soraya belum puas dengan jawaban Erina sebelumnya. Dan sepertinya Soraya tidak percaya bahwa Erina memilih untuk mempertahankan pernikahannya.
"Lo bilang apa sih, Ray?" Erina membalikan pertanyaan.
Erina mengerti Soraya khawatir, tapi menelpon malam-malam hanya untuk menanyakan hal itu membuat Erina kurang nyaman. Masalahnya, Soraya pasti sampai tidak bisa tidur karena terlalu mencemaskan Erina dan Erina tidak ingin hal itu terjadi, Erina bersyukur Soraya peduli tetapi tidak ingin dirinya menjadi beban dalam pikiran sahabatnya itu. Soraya seharusnya memikirkan dirinya sendiri yang baru beberapa hari menjalani operasi.
"Serius, Raya! Gue ketemu Bryan." Ucap Erina berusaha mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.
"Bryan ganteng banget loh, Ray." Erina beranjak pergi dari tempat tidur, Bisma mencibir karena mendengar Erina memuji pria lain dan setelah itu suara Erina tidak terdengar.
Bisma membuka matanya dan mencari keberadaan Erina, istrinya itu tidak ada di dalam kamar, sepertinya Erina pergi ke balkon supaya lebih leluasa membicarakan sang idola yang katanya tampan.
"Haish, menyebalkan!"
Bisma berjanji akan benar-benar menghukum Erina. Sungguh, jika Bisma tidak ingat Erina sedang datang bulan, pasti Bisma sudah menyerang istrinya tepat setelah mereka berdua kembali ke hotel mengingat perlakuan Erina di coex artium tadi.
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.
Berharap cerita nya menarik dan seru.