10 tahun sudah berlalu, kini tiga bocah kembar yang dulu selalu tampil menggemaskan, sekarang sudah tumbuh menjadi pria tampan dan gadis yang cantik.
Semenjak 10 tahun itu banyak hal yang sudah terjadi, Zio, Zayn dan Zea mengalami keterpurukan yang mendalam karena terbunuh atau meninggal nya dua orang terkasih nya, yang disebabkan oleh orang terdekat nya.
Namun sayangnya, semenjak hari kejadian itu, orang yang telah mencelakai keluarga mereka menghilang bak ditelan bumi. Dan semenjak hari itu tiga anak kembar itu berjanji akan mencari dan menemukan pembunuh itu dan akan membalas dendam atas kematian dua orang yang mereka sayangi.
Dan seperti apa kisah cinta mereka? apa kah mereka masih bersama orang yang sama yang mereka sukai dan mereka temui pada masa kecil atau kah justru berpindah hati?
Yuk ikuti kisah nya. selamat membaca🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Betanggung jawab bagaimana Daddy, apakah aku harus mencari donor mata untuk gadis itu dan membayar semua biaya tagihan rumah sakit nya, atau membiayai semua kebutuhan dia sehari-hari?." Tanya Zayn, remaja tampan itu memang ingin sekali bertanggung jawab atas apa yg terjadi, meskipun harusnya orang yg bertanggung jawab itu adalah pengendara mobil yg berniat menabrak Zayn.
"Semua nya, Zayn, inti nya kamu harus bisa menjadi mata untuk Senna." Jawab Elang, yang membuat ketiga anak nya menatap bingung sang Daddy, karna mereka tak faham apa yg di maksud Daddy nya.
"Bagaimana cara Zayn bertanggung jawab, nanti saat pulang sekolah Mommy akan menjelaskan semua nya." Elang yg mengerti kebingungan anak-anak nya kembali menjelaskan.
Ketiga nya mengangguk faham, dan mulai fokus sarapan.
Tak butuh waktu lama, mereka telah selesai sarapan, dan di saat yg bersamaan, terdengar teriakan suara cempreng seorang gadis.
"Ze Jelita aku sudah dataanggg." Teriak Arania, kebiasaan gadis itu, pasti setiap pagi menghampiri Zea dan mengajak nya berangkat ke sekolah bareng.
"Zio, calon istrimu sudah datang, cepat lah temui dia, bilang pada nya, jangan teriak-teriak terus, lama-lama kami bisa tuli." Cerocos Zayn.
Zio hanya menanggapi dengan memutar bola matanya malas. Kemudian lelaki itu bangkit dari duduk nya, dan gegas menuju ruang tamu, pastilah Ara telah menunggu di ruang tamu.
Zea yg juga telah selesai sarapan, juga bangun dari duduk nya, lalu menyusul Zio untuk menemui Ara sahabat nya tersebut.
Tinggal Elang dan Zayn yang masih menghabiskan sisa sarapan mereka.
"Zayn boleh Daddy tanya sesuatu?." Elang baru ingat kalau dia belum menanyakan tentang siapa yg berusaha mencelakai Zayn.
"Tentu Dadd." Sahut Zayn.
"Apakah kamu sempat melihat mobil yg berniat menabrak mu semalam?." Tanya Elang dengan raut wajah yg sangat serius. Zayn juga ikut serius. kemudian Zayn mengangguk.
"Aku melihat nya dengan jelas Dadd, sebuah mobil Alphard dengan nomor flat xxx." Jelas Zayn, semalam dia memang menghafal flat mobil tersebut.
"Haruskah aku dan Zio ikut mencari tahu pelaku nya Dadd?." Zayn mulai berkata, sorot mata laki-laki tampan itu begitu tajam dan dingin. Elang tersenyum, sambil menggelengkan kepala nya.
"Tidak perlu, tugas kalian saat ini adalah fokus belajar saja, biar masalah ini Daddy dan orang-orang Daddy yg urus." Tegas Elang, jika hanya masalah spele seperti itu, dia tak akan melibatkan putra-putra nya, kecuali memang berhubungan dengan meretas.
"Baiklah Dadd, kalau perlu bantuan ku dan Zio, bilang saja ." Ujar Zayn, lelaki itu mulai bangkit dari duduk nya.
Elang mengacungkan jempol nya, menanggapi perkataan Zayn barusan. Zayn berjalan menuju ruang tamu, di ikuti oleh Elang.
Di ruang tamu, tampak Ara, Mark, Zio dan Zayn sedang berbicara.
"Zea aku marah padamu." Cemberut Ara, gadis itu langsung melengos, seolah tak ingin bersitatap dengan Zea. Zea terkekeh pelan, melihat tingkah Ara, yang persis seperti anak kecil.
"Lalu kenapa kalau kamu marah, apakah kamu fikir aku peduli, oh tidak Ara, aku tidak peduli sama sekali." Sahut Zea dengan santainya, yang membuat Ara jengkel.
"Zea teman macam apa kamu ini, semalam keluarga kalian mengalami musibah, tapi satupun diantara kalian tidak ada yg memberitahu ku, termasuk kamu Zio, aku juga ngambek dengan mu." Ara melanjutkan sesi ngambek nya, kali ini dia melengos dan tak ingin melihat Zio serta Zea.
"Lalu kami harus apa Ara, haruskah kami mengulang waktu semalam, kan tidak bisa." Sahut Zea.
"Kalian benar-benar tidak menganggap ku orang terdekat kalian, giliran sama Mark saja kalian memberitahukan." Ara kembali mengomel, dia tak terima karna hanya Mark saja yg diberitahu apa yg terjadi semalam.
"Make tahu lantaran dia menelponku, saat kami sedang di rumah sakit Ara." Jelas Zio.
"Aku tidak mau dengar alasan apapun, pokok nya aku kesal sama kamu Zi, dan untuk Zea dan Zayn, aku tidak mau lagi berteman dengan kalian, kalian bikin aku badmood." Ara masih setia dalam mode ngambek nya.
"Baiklah, karna kita tidak berteman, maka kamu berangkat lah ke sekolah, biar aku berangkat bareng Mark saja, kan kita bukan teman lagi." Sahut Zea, tentu saja kedua gadis itu memang biasa ngambek-ngambekkan seperti itu.
"Baik, aku akan berangkat sendiri saja." Ara benar-benar meneruskan sesi ngambek nya, gadis itu bahkan telah berjalan menuju keluar rumah, dengan menghentak-hentakkan kaki, serta bibir gadis itu maju 5 centi.
Melihat Ara yg telah lebih dulu keluar, Zio memutuskan untuk mengikuti Ara.
"Berangkat dengan ku saja." Ajak Zio, akan tetapi Ara malah semakin mempercepat langkah nya, agar tidak berjalan berdampingan dengan Zio.
Zio tersenyum tipis, melihat Ara yg sedang ngambek begitu Zio jadi gemas sendiri, gadis itu terlihat sangat manis ketika lagi ngambek atau kesal.
"Sweety berangkat ke sekolah nya bareng aku saja ya." Zio berkata sekali lagi.
"Tidak mau." Ketus Ara.
Zio mulai membuka pintu mobil yg memang telah siap dengan sopir yg telah menunggu. Ara juga telah membuka pintu mobil nya, gadis itu akan menunjukkan pada Zio dan Zea bahwa dirinya benar-benar kesal.
Namun saat baru saja Ara akan memasuki mobil tersebut, tiba-tiba tubuh gadis itu langsung terasa melayang, sebuah tangan kekar mengangkat tubuh nya.
Ara terjingkat kaget, saat Zio tiba-tiba menggendong diri nya dan mengangkat tubuh nya ala karung beras, iya betul, kalian salah sangka jika mengira Zio menggendong Ara ala bridal style nyata nya Zio memikul tubuh Ara.
Ara hanya memberontak pelan, sambil memukul-mukul punggung Zio, tentu saja hanya pukulan sayang, sebab dalam hati Ara, gadis itu bersorak senang, karna dengan diri nya yg ngambek, akhirnya bisa berangkat bareng Zio.
"Ziiii turunin, aku sedang tidak ingin bersama mu, aku marah pada mu." Berontak Ara.
Akan tetapi Zio memilih cuek, lelaki tampan tersebut malah sengaja menghempaskan tubuh Ara di salah satu jok mobil bagian penumpang.
"Aku tidak suka penolakkan Ara." Ucap Zio dengan tegas, sementara bibir Ara makin maju saja, gadis itu semakin jengkel saja pada Zio, bisa-bisa nya Zio menghempaskan tubuh nya, seperti benar-benar menurunkan karung beras.
"Zio aku bukan karung beras, atau gabah dan yg lain nya, aku manusia Ziiii, manusia, lembut dikit bisa tidak." Omel Ara, sambil menatap Zio dengan mata mendelik tajam.
Zio tak memperdulikan omelan Ara barusan, lelaki itu ikut duduk di samping Ara.
"Jalan Pak." Titah Zio, biarlah Zayn saudaranya pergi dengan mobil dan sopir yg lain.
Kalau Zea, Zio sangat yakin adik perempuan satu-satunya itu pasti pergi bersama pangeran nya Mark.
Saat mobil mulai melaju pelan, Zio menatap Ara, akan tetapi gadis itu memilih untuk membuang pandang ke arah jalanan, bibirnya masih setia dengan gaya pantat bebek.
"Yakin tidak mau bicara dengan ku?." Tanya Zio.
"Tidak." Sahut Ara, bilang tidak mau bicara tetapi dia telah bicara, yang membuat Zio lagi-lagi di buat tersenyum oleh tingkah Ara.
Jika disana Zio sedang berusaha membujuk Ara, maka berbeda lagi dengan Zea dan Mark, dua sejoli itu justru tengah asyik berbincang, dan bermanja-manja.
Iya saat ini Zea dan Mark tengah berada di dalam mobil Mark, tentu saja Mark juga masih diantar sopir.
"Princess, nanti saat di sekolah jangan tebar pesona ya, dan jangan jauh-jauh dari ku." Ujar Mark sambil mengusap lembut kepala Zea.
"Memang nya kenapa Mark?." Tanya Zea.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan cowok mana pun, kecuali keluargamu, kamu tahu itukan." Sahut Mark menatap lembut Zea, sambil menggenggam erat jari jemari Zea. Zea tersenyum manis.
"Memang nya siapa yg mau dekat dengan gadis culun sepertiku Mark Sanjaya?." Sahut Zea, yang membuat Mark langsung tertawa pelan. Zea mengernyitkan dahi nya, saat Mark malah tertawa pelan.
"Mark apa yg kamu tertawakan?." Zea bertanya bingung, gadis itu bahkan sudah mencebikkan bibir nya, karena hanya di tertawakan.
Mark tak menanggapi pertanyaan Zea barusan, lelaki tampan tersebut malah merogoh saku celana nya, dan mengeluarkan ponsel.
Kemudian Mark mengarahkan kamera ponsel nya dan memfoto Zea, padahal gadis itu tengah cemberut.
"Mark, ngapaian ambil foto aku yg lagi kesel." Cemberut Zea.
"Nih lihat." Mark menyodorkan ponsel nya pada Zea, dan memperlihatkan sebuah foto yg tadi dia ambil.
"Kan aku jadi jelek, karna cemberut gini." Zea berkata, yang ia lihat hanya wajah nya cemberut, gadis itu tidak memperhatikan penampilan nya hari ini. Mark menghela nafas dalam.
"Perhatikan baik-baik penampilan mu princess, kamu tidak memakai kaca mata, rambut mu tidak kepang dua, dan kamu juga tidak memakai make up yg biasa nya kamu pakai dan membuat wajah mu sedikit gelap." Jelas Mark, yang membuat Zea seketika langsung melotot, karna dia baru menyadari kalau dirinya lupa berpenampilan culun.
"Mark, aku lupa." Sesal gadis itu.
\*
Bersambung....................
salam kenal Thor maaf baru menyapa 😅 ,karna trllu serius mmbca cerita mu jd lp ma yg nulis crt ny😅.
di tggu up slnjut ny
lanjut ceritanya
bikin bingung membaca