Tujuannya untuk membalas dendam sakit hati 7 tahun lalu justru membuat seorang Faza Nawasena terjebak dalam pusara perasaannya sendiri. Belum lagi, perasaan benci yang dibawa Ashana Lazuardi membuat segalanya jadi semakin rumit.
Kesalahpahaman yang belum terpecahkan, membuat hasrat balas dendam Faza semakin menyala. Ashana dan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut, tak memiliki pilihan selain berkata 'ya' pada kesepakatan pernikahan yang menyesakkan itu.
Keduanya seolah berada di dalam lingkaran api, tak peduli ke arah mana mereka berjalan, keduanya akan tetap terbakar.
Antara benci yang mengakar dan cinta yang belum mekar, manakah yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LYTTE 35 — Want You
“Maaf,” ucap Ashana, tiba-tiba napasnya terasa memberat dan ia mulai merasakan dadanya terasa sesak. Perasaan bersalah itu begitu besar sampai rasanya satu permintaan maaf saja tidak cukup. Kepalanya tertunduk dan kedua matanya terasa memanas.
Melihat Ashana yang tertunduk sayu, membuat hatinya ikut mengiba. Itu bukan kesalahannya, tapi mereka berdua yang harus menanggungnya. Pria itu mengusap bahu Ashana pelan. “Sudahlah, Ashana. Itu bukan salahmu sepenuhnya.”
Ashana memberanikan diri untuk mendongak, menatap netra Faza dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku … aku mohon maafkan aku, semua yang ayahku lakukan padamu mungkin … “ ucapnya tertahan.
Faza menggeleng pelan. “Jangan. Jangan menangis di hadapanku. Aku tak menyukai air mata yang jatuh,” pinta Faza sambil mengusap pipi Ashana pelan.
Mengangkat dagu Ashana sedikit ke atas, Faza mendekatkan wajahnya. Ia memberi satu kecupan singkat yang penuh makna. Ashana tidak menolak ataupun bicara saat Faza mulai meraih tengkuknya dan mulai mencecap rasa bibirnya lebih dalam.
Gerakan Faza pelan namun penuh hasrat. Sentuhan lembut itu berubah menjadi pagutan yang menuntut. Matanya berkabut oleh gairah, meminta lebih dari sekadar kecupan. Faza menginginkan Ashana berada dalam dirinya. Seutuhnya. Seluruhnya.
Setelah Ashana menceritakan dan meminta maaf untuk semua kesalahpahaman yang diciptakannya selama tujuh tahun terakhir, membuat hati Faza merasa sedikit lega dan mulai meyakinkan dirinya sendiri.
Bahwa yang dibencinya bukanlah perempuan itu, apalagi setelah Ashana menunjukkan jurnal bersampul cokelat milik Danendra. Mengetahui alasan mengapa Danendra tidak menyukainya memang cukup menyakiti hatinya. Tapi itu membuat Faza semakin yakin bahwa kebenciannya selama ini hanya kepada pria itu.
Tidak ada alasan lain bagi Faza untuk terus membenci Ashana. Ia cukup kecewa dengan keputusan kekasihnya tujuh tahun lalu, tetapi itu juga didasari oleh ayahnya. Faza hanya cukup menyayangkan kenapa gadis yang lugu dan cerdas seperti Ashana bisa terpedaya oleh selembar foto.
Napas keduanya terengah, bibir keduanya memerah. Menatap Ashana lekat, Faza ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Penyebab semua luka hatinya adalah Danendra, bukan perempuan yang memberinya tatapan menggoda di hadapannya ini.
“Kebencianku terhadap ayahmu dan kekecewaan itu mungkin belum bisa sepenuhnya hilang, Ashana. Sebagaimana tak ada yang sempurna, aku juga begitu,” ucap Faza sambil mengusap punggung tangan Ashana pelan.
Sementara Ashana tetap diam mendengarkan, ia akan menerima apapun keputusan pria itu untuk hubungan mereka.
Faza menarik napas panjang sebelum bicara. “Tapi, bisakah kau bersabar? Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk memahami makna sebuah hubungan lagi. Dan itu sulit bagiku. Tetapi, maukah kau —”
“Memulai semuanya kembali dari awal,” potong Ashana diiringi senyuman manisnya. “Ini juga sulit bagiku. Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Apakah perasaan itu masih ada?”
Ashana memejamkan matanya untuk sesaat, ia takut setelah tahu kebenarannya, maka hatinya akan terluka untuk kesekian kalinya. Ia tahu kesalahannya, tetapi ia masih berharap. Bahwa pria di hadapannya masih mencintainya, seperti dulu. Seperti yang ada dalam bayangannya.
Respon yang diberikan Faza jauh sekali dari bayangannya Ashana. Alih-alih menjawab atau sekadar mengangguk, pria itu justru kembali menarik tengkuknya, memagut bibirnya cukup lama.
“Aku rasa cara itu bisa membuatmu cukup yakin bahwa perasaan kita sama, Ashana. Aku tidak sekadar mencintaimu, tapi juga menginginkanmu,” kata Faza tepat di sebelah cuping Ashana.
Keduanya tersenyum lalu saling memeluk erat seolah takut sesuatu memisahkan mereka lagi. Merasakan detak jantung yang berdetak untuk satu sama lain, keduanya seakan jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Ashana mungkin tak akan bisa menghapus semua kesalahan ayahnya begitu saja. Termasuk luka hati dan semua derita yang sudah Faza terima selama tujuh tahun terakhir. Namun, melihat betapa lapangnya maaf yang pria itu berikan untuknya, itu sudah lebih dari cukup bagi Ashana.
Tidak semua kesalahan bisa dilupakan, tapi seseorang selalu punya maaf dan kesempatan kedua untuk memperbaiki.
Ashana mencintai pria itu, tujuh tahun lalu, kini dan nanti. Dan keduanya tak akan membuang kesempatan untuk melanjutkan hubungan mereka yang sempat terlupakan oleh waktu.
“I want you,” bisik Faza mesra. “Aku tidak yakin berapa lama lagi aku bisa menahannya, bagaimana kalau kita ke atas?” bujuknya.
Ashana mengangguk pelan, “Tapi gendong aku, ya? Kakiku masih sakit, aku tidak bisa berjalan sekarang,” balas Ashana setengah berbisik.
“Dengan senang hati, Sweetheart.” Faza mulai mengangkat tubuh Ashana, menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar Ashana di lantai atas.
Dengan langkah pelan, Faza ingin memastikan Ashana aman dan nyaman dalam dekapannya. Meski sangat ingin, tapi Faza tidak tergesa. Ia seolah-olah ingin menikmati setiap detik waktunya yang berharga bersama Ashana.
“Kau memanggilku sweetheart? Kenapa?” tanya Ashana dengan tawa geli yang mengiringi saat mereka mencapai anak tangga yang ke-tujuh.
Faza mengangguk mantap. “Yes, cause you’re sweet and now you’ve my heart. Percayalah, panggilan sweetheart sangat cocok untukmu,” jelasnya yang membuat Ashana tertawa lagi.
“Kau terus tertawa, apa ada yang lucu?” protes Faza ketika Ashana tidak berhenti tertawa.
“Maaf, tapi ini bukan karena lucu, aku tertawa karena aku merasa bahagia, tahu?”
“Aku juga bahagia, Ashana.”
Faza meletakkan Ashana di tepi kasur dengan sangat hati-hati. Bagaimanapun, kaki perempuan itu terkilir dan ia tidak bisa bersikap sembarangan.
“Tapi, apa kau tahu? Panggilan sweetheart membuatku seperti anak kecil,” kata Ashana saat keduanya mulai berbaring dengan nyaman.
Faza menarik Ashana mendekat, memainkan anak rambutnya secara asal. Menyentuh hidung Ashana yang mancung, ia lantas berkata, “Tidak, kau bukan anak kecil. Kau istriku, Ashana.”
Pipi Ashana merona di bawah temaramnya lampu sementara Faza tak henti-hentinya menggoda dirinya. “Dan kau duniaku.”
“Apa kau siap?”
***
GAK, AKU GAK SIAP, AKU BELUM SIAP 😣😣😣
Kenapa aku bisa nulis novel roman begini sih padahal aku jumbluh kuadrat 😭
Tolongggg
Lov Yu till the end ... ekspektasiku bakal ada salah satu yg meninggoy, lalu yg satunya akan minum racun atau menceburkan diri ke laut while saying "i lov you till the end, my lovely."
(cinta apa bego ya🥴) but it was in my mind✌️