Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Cahaya matahari pagi perlahan menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menyentuh lembut wajah Dian yang perlahan mulai membuka mata. Ia terbangun dengan perasaan berat di hati, lalu menoleh ke samping—tempat tidur di sebelahnya masih terasa dingin dan kosong, seolah tak pernah ada siapa pun yang berbaring di sana semalam.
Belum sempat ia beranjak, pintu kamar terbuka perlahan. Joshua masuk dengan pakaian rapi lengkap seolah hendak berangkat bekerja, wajahnya tampak tenang namun tak ada sedikit pun senyum yang terukir di sana.
“Kau sudah bangun?” ucapnya singkat, nada suaranya datar tanpa kehangatan sedikit pun.
Dian duduk perlahan sambil merapikan selimut di pangkuannya, menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan dan sedikit kecewa. “Aaa, ummm,...Say,...Kamu datang kapan? Aku sama sekali tidak sadar kalau kamu datang.”
Wajahnya sedikit memerah malu. Ia masih ragu memanggilnya dengan panggilan apa pun, meski kini secara sah dia adalah suaminya.
Joshua membuang muka sejenak, berpura‑pura merapikan barang di meja seolah tak berani menatap mata Dian. “Maaf, aku baru bisa pulang menjelang pagi tadi. Ada masalah besar yang mendadak muncul di kantor, harus kuselesaikan sampai larut malam—sangat mendesak dan tak bisa ditinggalkan. Sekarang aku harus kembali lagi ke sana.”
Dian terdiam mendengar penjelasan itu. Di lubuk hatinya yang paling dalam, samar‑samar ia merasakan ada sesuatu yang tidak benar—seolah itu hanyalah alasan yang diucapkan agar tidak perlu menemaninya semalam. Namun ia tak berani menanyakan lebih jauh, hanya menelan rasa kecewa itu sendirian sambil berusaha tersenyum tipis.
“Begitukah… ya sudah, aku mengerti,” jawabnya pelan sambil menundukkan pandangan. “Terima kasih sudah memberitahuku.”
Joshua hanya mengangguk sekilas, lalu berjalan menuju pintu tanpa berhenti sedikit pun. “Aku harus segera berangkat. Jangan tunggu aku, jika aku pulang terlalu sore nanti.” Tanpa menunggu jawaban, ia pun melangkah keluar dan menutup pintu perlahan di belakangnya.
Dian kembali sendirian di ruangan itu; keheningan pagi itu terasa jauh lebih dingin daripada semalam. Ia memeluk lututnya sendiri, perlahan menyadari bahwa pernikahan yang dulu ia impikan begitu indah—mungkin jauh berbeda dari kenyataan yang sedang ia jalani.
Namun tak lama berselang, pintu kembali terbuka perlahan. Joshua berdiri di sana, menatap Dian yang kini duduk meringkuk di depan meja rias.
“Kau kembali?” tanya Dian dengan gugup saat melihat Joshua menatapnya lekat‑lekat.
“Aku melupakan sesuatu,” jawabnya singkat.
“Melupakan sesuatu? Apa itu? Mungkin aku bisa membantumu mencarinya?” tanya Dian segera.
“Tidak perlu.” Joshua melangkah perlahan mendekat, membuat jantung Dian makin berdebar kencang karena gugup.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?” suaranya nyaris tak terdengar.
Joshua berhenti tepat di hadapannya, lalu menunduk perlahan dan mendaratkan kecupan lembut di kening Dian. Sentuhan itu begitu halus namun membuat seluruh wajah Dian seketika memerah padam.
“Aku melupakan hal ini,” ucapnya pelan, lalu berbalik dan kembali berjalan keluar ruangan sambil menutup pintu dengan lembut.
Dian masih diam terpaku, tangannya perlahan terangkat menyentuh keningnya di mana bekas sentuhan itu masih terasa nyata.
“Kenapa dia melakukan hal seperti itu…?” gumamnya pelan, hatinya kini penuh kebingungan campur rasa hangat yang tak terduga. “Aku terlalu cepat berburuk sangka padanya. Sebagai istri, sudah sepantasnya aku percaya dan mendukung segala urusan serta pekerjaannya. Tadi aku malah memikirkan hal‑hal yang tidak‑tidak… sungguh aku ini.” Ia menepuk pelan pipinya sendiri, merasa bersalah karena sempat menaruh curiga pada suaminya.
Setelah pintu tertutup rapat, senyum tipis yang sempat muncul lenyap seketika dari wajahnya. Tatapan matanya kembali tajam dan dingin, penuh kebencian yang terpendam lama. Joshua mengusap dengan kasar, bibir nya yang sempat menyentuh kening Dian tadi. Ia melangkah menjauh sambil bergumam pelan tanpa rasa bersalah sedikit pun,
"Itu hanya langkah kecil yang harus kulakukan supaya kau tetap percaya padaku, Dian. Jangan sampai kau curiga sedikit pun... karena saat kau sudah merasa paling aman dan bahagia, barulah aku akan menghancurkanmu sepenuhnya, beserta segala hal yang kau dan ayah angkatmu banggakan."
Belum lama Dian selesai menenangkan dirinya, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
“Mbak Dian… boleh aku masuk?” suara Cindy terdengar lembut dari balik pintu.
“Tentu saja, masuklah Cindy,” jawab Dian sambil segera merapikan duduknya.
Pintu terbuka perlahan, Cindy melangkah masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat dan camilan ringan. Saat ia mendongak menatap wajah kakak iparnya itu, ia langsung tersenyum miring penuh arti—wajah Dian masih tampak kemerahan samar, matanya berbinar malu‑malu seolah baru saja mengalami sesuatu yang sangat manis.
Cindy meletakkan nampan di meja, lalu duduk perlahan di samping Dian sambil menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Aku menunggu mbak Dian di bawah tadi untuk sarapan. Ternyata mbak Dian baru bangun dan belum mandi juga. Berarti keputusan ku membawa sarapan untuk mbak sudah sangat tepat. Tapi dilihat dari wajah Mbak Dian yang merah merona begini. Pasti tadi Kak Joshua melakukan sesuatu yang sangat manis ya sebelum berangkat?” candanya pelan sambil tersenyum lebar.
Dian langsung menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan karena makin malu. “Ah… kau ini ada saja ya, Cindy… dia hanya… sebentar saja kembali ke sini sebelum berangkat." Jelas Dian berusaha bersikap biasa-biasa.
"Tapi kenapa kamu repot begini? Mbak kan bisa makan di bawah nanti."
"Cindy lagi kepengen. Lagian Cindy sangat mengerti kondisi mbak Dian. Mbak sudah sangat capek kemarin. Jadi biarkan hari ini Cindy yang layani."
"Kamu ini... Kan ada pelayan juga."
"Tidak apa-apa mbak. Justru aku sangat senang." Cindy diam sejenak, sebelum akhirnya ia berbicara lagi.
"Mbak Dian,… aku ingin minta maaf sedikit ya… sebenarnya aku sempat khawatir juga tadi pagi melihat Kak Joshua berangkat lagi dengan terburu‑buru, seolah tak sempat beristirahat sama sekali. Aku tahu pasti rasanya sepi dan berat menunggu sendirian begini.”
Ia mengusap pelan punggung tangan Dian. “Tapi Kak Joshua memang orang yang sangat bertanggung jawab dan sangat giat bekerja. Kadang kesibukannya memang luar biasa padat, sampai‑sampai lupa waktu atau bahkan harus pulang berjam‑jam di luar jam biasa. Bukan berarti dia tidak peduli atau tidak menyayangi Mbak Dian… hanya saja mungkin kali ini urusannya begitu padat dan tidak bisa ditinggalkan.”
Dian mendengarkan sambil menunduk pelan, perlahan mengangkat wajahnya kembali dengan senyum yang lebih tenang dan mantap. “Terima kasih sudah bicara begitu padaku, Cindy… kau benar sekali. Aku seharusnya lebih paham akan hal itu. Dia pasti bekerja keras demi kita berdua, demi masa depan kita. Aku seharusnya lebih sabar dan mengerti keadaannya.”
Cindy tersenyum lega melihatnya, meski di lubuk hati kecilnya sebenarnya masih ada sedikit rasa ragu—namun ia memilih untuk percaya pada kakaknya sendiri.