Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Tak Ada Tujuan
Dari kejauhan Kai memandangi toko kue nenek Cempaka dengan perasaan nanar. Raut wajah sedih yang semalam Kai lihat di wajah neneknya, kini tergantikan oleh senyum gembira.
Cempaka temani oleh Gala melayani para pembeli, mereka berdua terlihat sangat akrab bak seorang nenek dan cucu kandungnya. Meski Kai merasa sedikit cemburu dengan kedekatan mereka, tapi Kai lega karena akhirnya ia melihat Cempaka tersenyum lagi.
Kekhawatiran akan neneknya terlarut dalam kesedihan karena berita semalam semuanya sirna, Gala berhasil membuat Cempaka gembira lagi. "Maafkan aku telah membuatmu kecewa, aku bukan cucu yang baik untukmu," gumam Kai memandangi neneknya dari balik kaca jendela.
Setelah puas memandangi neneknya dari kejauhan, ia kembali melajukan kendaraannya. Ia tak ingin merusak senyum di wajah neneknya, sehingga ia memutuskan untuk tidak turun, biarkan waktu yang akan memulihkan kondisi ini.
Saat mobil Kai melaju pergi, secara tak sengaja Cempaka melihatnya ia yakin betul jika itu adalah mobil cucu kandungnya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia merasakan kehadiran Kai, tapi ia mengabaikannya karena rasa kecewa yang teramat dalam pada cucunya itu.
***
Sementara di tempat berbeda, Mutiara tengah sibuk mengaduk-aduk tasnya. Ia berharap masih ada gepokan uang yang terselip di antara tumpukan bajunya. "Sial uangku sudah habis," gerutunya, ia baru saja ingat jika kemarin ia baru dari salon kecantikan merawat tubuhnya.
Selain uangnya sudah habis, masa menginapnya di hotel pun sudah berakhir. Jam 14.00 siang ini ia sudah harus meninggalkan kamar hotel yang ia tempati sejak ia keluar dari rumah Rendi.
Mutiara bolak balik di kamarnya, memikirkan dimana ia akan tinggal selanjutnya. "Apa aku minta uang pada Kai saja ya?" gumamnya, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak." Mutiara tidak ingin anaknya tahu mengenai permasalahan rumah tangganya, ia juga tak ingin melibatkan Kai.
Tak punya pilihan lain siang itu setelah merapihkan semua barang-barangnya, Mutiara memilih untuk pulang ke kediaman orang tuanya. Orang tuanya sudah meninggal dua tahun yang lalu, dan rumah itu di tempati oleh adik tirinya.
Mutiara yakin jika adik tirinya akan menerimanya, pasalnya selama ini ia selalu memberinya uang. Tapi sayangnya kenyataan berbanding terbalik dengan harapan Mutiara.
Mutiara justru di usir oleh adik tirinya. "Aku tidak bisa menerima gembel tinggal di rumahku!" ucap Berlian dari balik pagar besi yang menjulang tinggi di halaman rumahnya.
"Apa maksudmu gembel?" tanya Mutiara setengah berteriak karena tidak terima dengan perkataan adik tirinya.
Berlian mengatakan jika beberapa waktu lalu Rendi menghubunginya untuk mencari keberadaan Mutiara. "Kau kabur dari rumah suamimu dan mau menumpang hidup di sini karena sudah tidak punya uang lagi kan? Apa kau berniat cerai dengannya?" tanyanya. "Aku tidak akan menampungmu sebelum kau kembali pada suamimu!"
"Aku tidak akan kembali padanya," teriak Mutiara dengan lantang. "Cepat bukakan pintu, aku mau tinggal di rumah orang tuaku!"
Berlian tersenyum sinis pada Mutiara. "Rumah ini sekarang sudah menjadi hak milikku," ia memperlihatkan surat kepemilikan rumah tersebut pada Mutiara, wanita itu sudah menyembunyikannya di balik tubuhnya sejak menghampiri Mutiara di depan pagar.
Mutiara menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin? Mommy jelas-jelas mewariskan padaku," ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau sudah menandatangani surat limpahan hak rumah ini padaku, Mutiara." Berlian tersenyum puas.
Mutiara menerawang jauh pada kejadian satu tahun yang lalu dimana Rendi menyuruhnya untuk tanda tangan berkas yang ia sendiri tidak sempat membacanya karena Rendi memintanya buru-buru. "Apa kau satu komplotan dengan Rendi?"
Berlian tertawa terbahak-bahak karena tebakan Mutiara tepat sekali, ia meminta bantuan kakak iparnya untuk bisa menguasai seluruh harta warisan orang tuanya. " "Sudahlah ebih baik kau kembali saja pada suamimu yang kaya raya itu, rumah ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rumahnya." Berlian berbalik, kembali masuk kekediamannya. meninggalkan Mutiara yang semakin marah dengannya.
Hampir satu jam Mutiara berteriak meminta Berlian membukakan pintu untuknya, setelah lelah ia sadar wanita ular itu tidak akan membukakan pintu untuknya. Dengan langkah gontai ia menyeret kopernya menjauh dari kediaman orang tuanya.
Mutiara tidak tahu harus kemana, ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah tak tau arah. Sampai tiba di jalan besar, ia melihat beberapa gerombolan anak laki-laki masuk ke rental PS. Ia teringat jika dulu, ia sering memarahi Kai jika ketahuan pergi ke rental PS tanpa seizinnya.
Perlahan Mutiara melangkahkan kakinya mengikuti anak-anak itu, setelah membayar sewa untuk satu jam ia duduk dengan nyaman di balik layar. Sekilas ia mengintip ke sebelahnya, ada anak laki-laki tengah bermain sembari makan mie instan.
Mutiara baru teringat jika dirinya belum makan sejak pagi tadi karena sibuk membereskan barang-barang. Wanita itu memberi kode pada sang anak dimana dia mendapatkan mie instan cup tersebut.
Sang anak menujuk pada rak yang berisi aneka mie instan, segera saja Mutiara menghampirinya dan membuat mie instan pedas yang sudah lama ia tidak makan. Sejak menikah dengan Rendi, pria itu selalu mengawasi makanan yang di konsumsinya, Rendi tak ingin memiliki istri yang gendut. Naik setengah kilo saja, pria itu bisa langsung mengamuk dan menghina Mutiara.
Sangat jauh berbeda dengan Baskara yang membolehkan Mutiara makan apapun yang di senanginya, bahkan tak segan-segan Baskara yang membuatkannya jika pria sedang tidak sibuk. "Kenapa aku jadi teringat dengannya?" Mutiara menghela napas beratnya, ia kembali ke tempatnya dengan mie instan favoritnya yang dulu sering ia makan bersama Baskara.
"Ternyata main PS semenyenagkan ini, pantas saja Kai suka," gumam Mutiara, kalau dari dulu ia tahu semenarik ini, ia tentu akan bermain bersama putra semata wayangnya.
Hati Mutiara kembali sesak mengingat hubungannya dengan Kai dari dulu tidak pernah baik, ia selalu memaksakan kehendak terhadap putranya, ia yakin jika anak itu tidak bahagia karena memiliki ibu seperti dirinya.
"Aku sudah membebaskannya, aku harap dia bisa menemukan kebahagiaannya." Mutiara kembali fokus pada PS nya, ia berteriak gembira ketika ia berhasil memenangkan permainan.
Suara teriakan Mutiara yang menggelegar mengganggu anak-anak di sekitarnya, salah seorang dari mereka mengadu pada penjaga rental, dan langsung saja ia mengusir Mutiara pergi dari tempat rentalnya, ia tak ingin pelanggannnya yang lain yang malah pergi dari tempatnya.
"Lagi pula kau sudah sangat tua untuk bermain ini," ucapnya.
"Tapi... Aku baru saja memenangkan permainan..."
"Aku mohon, nenek pergilah aku tidak mau pelangganku yang justru malah kabur karena ulah nenek."
"Nenek katamu?" mata Mutiara melotot. "Aku ini masih sangat cantik..."
"Ia, Anda masih sangat cantik," bisik seorang pria dari belakang, hingga membuat Mutiara seketika menoleh.
Gala yang tak lain merupakan pemilik rental PS itu terkejut melihat wajah Mutiara. "Anda, istri Tuan Maharaja?" tanyanya, pandangannya beralih pada koper besar milik Mutiara.
"Ah... Anda salah orang, aku bukan istri Tuan Maharaja." Mutiara bergegas menyeret kopernya keluar dari rental PS.
Gala sangat yakin jika wanita itu adalah Mutiara, istri dari Rendi Maharaja yang berarti ibu dari Kai atau Gema Maharaja. "Kenapa dia ada di sini?"
Development-nya (jujur aja) bahkan lebih berasa dari pada developmentnya Gita. Aku rasa karena Gita ya karakternya udah baik, jadi yaudah stuck aja... gak perlu banyak development. Sementara Jiva kan beda. Jujur, Jiva itu karakter dengan development terbaik yang underrated sih. 👍😌