Oleh orang tuaku, aku di jadikan sebagai pelunas utang dan menikahkan ku dengan seorang pria kaya. Tidak ada cinta di antara kami. Suatu malam, tanpa sengaja, aku melakukan one night stand dengan bos ku hingga aku harus mengakhiri rumah tangga ku yang masih berumur jagung.
Ternyata, kejadian malam itu adalah jebakan. Jebakan balas dendam yang membuatku terluka dan trauma.
Lima tahun berlalu, aku bertemu lagi dengannya, bertemu dengan pria yang malam itu membuatku tak berdaya karena sentuhannya. Pria yang sangat aku benci dan ingin aku lupakan.
Tapi pertemuan itu kembali membuatku terseret oleh pesonanya.
Mampukah aku tetap membenci atau justru aku malah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 : Luapan kemarahan
Gerrard memberanikan diri mendekati tempat tidur. Cahaya rembulan dari balik jendela menerpa wajah Emilia, wajah cantik yang sedang tertidur lelap begitu indah di mata Gerrard.
" Jika kau melihatku berada di sini, aku yakin wajahmu tidak akan setentram itu." Gumamnya.
Tangan Gerrard terulur membelai lembut pipi Emilia, hangat. Itulah yang di rasakan Gerrard.
" Mungkinkah dia masih demam?" Karena panik, tangan Gerrard beralih ke dahi Emilia, dan ternyata sesuai prediksi Gerrard, wanita itu memang sedang demam.
Karena merasakan sentuhan di kulitnya membuat Emilia membuka mata.
Beberapa saat netranya perlu menyesuaikan cahaya redup di sekitarnya. Dia belum sadar jika saat ini dia sedang bersama dengan masa lalu kelam yang sangat ingin dia lupakan. Penyebab trauma berkepanjangan yang membuatnya menutup diri untuk waktu yang sangat lama.
Setelah menyadari situasi yang ada, seketika Emilia bangkit dan menjauhi Gerrard, saking terkejutnya, infus ditangan kanannya tercabut dan mengeluarkan banyak darah.
" Jangan bergerak! Tangan mu berdarah." Gerrard bertambah panik dan segera memencet bel untuk memanggil perawat.
Perawat datang mengerjakan tugasnya, dan setelah semua aman, perawat tersebut keluar.
" Kau tidak apa apa?" Tanya Gerrard mencoba kembali mendekati Emilia, namun, penolakan juga kembali di tunjukkan oleh wanita cantik itu.
Emilia beringsut, mundur dan menyenderkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Tangannya gemetar. Andai tubuhnya tidak lemah dan ini bukan tengah malam, Emilia pasti sudah berlari keluar dan mencari tempat persembunyian agar pria jahat itu tidak menemukannya lagi.
" Aku minta maaf."_ Gerrard.
Emilia tidak merespon, netranya melihat ke arah lain, tidak mau menatap Gerrard. Suasana jadi canggung karena sikap Emilia yang jelas jelas menolak kehadiran Gerrard.
Tidak lama, perawat kembali datang, memecah keheningan.
" Permisi nyonya, karena nyonya Emilia masih demam, saya harus memberikan infus kembali." Kata perawat.
" Tidak perlu, saya tidak apa apa." Ucap Emilia.
" Suhu tubuh anda tiga puluh sembilan derajat, dan untuk cepat menurunkannya, saya harus memasang infus dan memberikan obat penurun demam."
" Saya mau pulang saja."_ Emilia.
" Tidak bisa nyonya."
Emilia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
" Aku ingin pulang."_ Emilia.
" Ada apa Emi? Ini tengah malam, kau tidak mengigau kan?"_ Ken.
" Aku mau pulang, tanya perawat mu, biarkan aku keluar malam ini juga."_ Emilia.
Emilia memberikan ponsel pada perawat, dan terlihat perawat tersebut menjelaskan situasi yang ada. Dan penjelasan itu tentu membuat Ken tidak mengijinkan Emilia untuk meninggalkan rumah sakit.
Gerrard menyaksikan drama Emilia tanpa berani untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Perawat memberikan kembali ponsel pada Emilia. " Kata perawat kau demam Emi. Ada apa dengan mu?" _ Ken.
Belum sempat berucap, Gerrard mengambil ponsel itu di tangan Emilia.
" Ken, ini aku Gerrard."
" Gerrard? Apa yang kau lakukan di sana?"_ Ken nampak terkejut.
" Ceritanya panjang. Lain kali aku akan mengatakannya padamu. Aku hanya meminta padamu untuk tidak membiarkannya pulang, tubuhnya sangat lemah Ken."
" Baiklah, tentu saja. Kau pikir aku gila. Biarkan perawat ku melakukan tugasnya, kalau Emilia menolak, ikat saja." Ken mengakhiri panggilannya.
Ken kesal, dia sedang berada di atas tubuh istrinya ketika Emilia menelpon dan membuat gairah seks nya menguar seketika.
" Dia menyuruh ku untuk mengikatmu kalau kau tidak mau mengikuti apa kata perawat." Gerrard memberikan ponsel Emilia. Namun Emilia diam saja tidak menyentuh benda segi empat itu. Gerrard pun menyimpannya di atas tempat tidur tepat di samping Emilia.
Kamar rawat kembali hening, perawat mengerjakan kembali tugasnya tanpa ada drama penolakan lagi. Infus sudah di pasang dan obat sudah di berikan. Tinggallah mereka berdua. Emilia masih belum berucap satu katapun. Sementara Gerrard duduk di sofa panjang sedikit berjauhan dengan Emilia.
Setelah perawat keluar beberapa saat lalu, Emilia lebih memilih merebahkan tubuhnya membelakangi Gerrard. Punggung Emilia menjadi pemandangan indah bagi Gerrard. Tidak di usir sudah merupakan pencapaian terbaik baginya. Walau tak saling sapa, tidak apa.
Hingga menjelang dini hari, Gerrard masih betah berada di dalam kamar tersebut. Emilia tentu tidak dapat tidur. Andai ia punya kekuatan, sudah pasti Gerrard menjadi objek pemuas kemarahannya. Melemparnya menggunakan besi tiang infusan hingga membuat kepalanya bocor dan mengeluarkan banyak darah, lalu setelah kehilangan kesadaran nya, Emilia akan mulai mencabik cabik tubuh Gerrard hingga tersisa tulangnya saja, Itu yang Emilia pikirkan saat ini.
Lelah duduk berjam jam, Gerrard memutuskan merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Namun belum beberapa detik kepalanya menyentuh sandaran sofa, suara lembut tapi terdengar kasar memenuhi telinganya.
" Apa yang kau lakukan di sini?"_ Emilia.
Gerrard kembali ke posisi semula, duduk sempurna dengan mata berbinar. Emilia mau mengajaknya berbicara.
" Aku dengar kau sakit, jadi aku datang melihatmu."_ Gerrard.
" Kau sudah melihatku, jadi silahkan pulang." Ketus Emilia.
Gerrard menghela nafas," Aku hanya mau memastikan kau baik baik saja."
" Sebelum aku tidak baik baik saja, sebaiknya kau pergi dari sini." Suaranya memang terkesan halus dan lembut tapi dengarlah dengan seksama, dia sedang mengusir Gerrard dengan lantang.
" Emilia.. aku minta maaf."
Mendengar kata maaf langsung dari mulut Gerrard, bukannya luluh, Emilia justru semakin tersulut emosi. Dia bangkit, mencoba bangun dengan kepala yang masih terasa sangat berat.
Kini dia berdiri di pinggiran tempat tidur, meski oleng dia tetap berusaha berdiri tegak. Jangan lupakan tatapan tajam yang dia arahkan pada Gerrard. " Kau minta maaf untuk apa?"
" Semua yang sudah ku lakukan padamu."
" Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Gerrard membisu. Pertanyaan yang sangat dia tau jawabannya, tapi untuk mengatakannya langsung, begitu sulit dia keluarkan.
Emilia masih dengan tatapan tajamnya. Menunggu Gerrard menjawab pertanyaannya.
" Emilia, ku mohon. Jangan seperti ini."
" Lalu aku harus bagaimana? Bisa kau katakan padaku apa yang sebaiknya harus aku lakukan?"
" Aku sudah minta maaf Emi."
" Lalu setelah kau minta maaf, semua selesai begitu saja?"
Deg...mulut Gerrard terkunci.
" Tuan Gerrard yang terhormat. Lima tahun lalu, ku anggap itu adalah pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak pernah berniat untuk bertemu dengan mu lagi. Semua selesai. Jadi sebaiknya kau pulang. Aku sedang tidak ingin di ganggu."
Tatapan Gerrard sendu.
" Pintu di sebelah sana, tidak perlu aku mengantar mu kan? Karena ku rasa kau masuk ke sini melewati pintu itu juga." Emilia membuang muka. Tidak lagi melihat wajah Gerrard.
" Kau tidak boleh berkata seperti itu Emi, ya aku akui aku salah. Tapi, hubungan kita tidak bisa kau putuskan begitu saja. Kita memiliki Sophia. Aku daddy-nya , kau tidak lupakan?"
Emilia geram, darahnya mendidih dengan tangan mengepal kuat. Kemarahannya sudah mencapai ubun ubun.
Emilia berbalik, melangkah mendekati Gerrard setelah lebih dulu mencabut infusnya yang baru saja di pasang perawat, darah kembali berceceran, tapi dia tidak peduli.
Tersisa jarak satu langkah di mana Emilia sedang berhadapan dengan Gerrard, dan....
Plaakkk...
Tamparan keras mendarat di pipi Gerrard, dadanya terlihat naik turun, menahan degup jantungnya yang semakin cepat akibat emosinya yang meluap.
" Kau harus ingat baik baik, dia anakku, dia lahir dari rahimku. Dia tidak ada hubungan apapun dengan mu ! Jadi jangan lancang menyebut namanya!" Geram Emilia.
Tubuh lemah Emilia sampai gemetar, kepalanya terasa benar benar sakit, dia terhuyung, tapi tetap mencoba berdiri tegak. Demam di sertai kondisi mentalnya yang tidak stabil menjadi akibat dia mengalami syok. Dan baru beberapa saat setelah dia menampar Gerrard, Emilia jatuh tersungkur ke lantai.
Gerrard panik, beruntung dia cepat menangkap tubuh Emilia, hingga kepalanya tidak membentur lantai dingin rumah sakit.
" EMILIA..."
...****************...
ayo doong... tamatin..
semangat🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥