Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kata kata Rania membuat mulut Arya tertutup. Jika di awal pernikahan, Arya bisa mengatakan apapun dengan seenaknya. Tapi tidak dengan sekarang. Dia sudah sadar akan arti Rania di keluarganya. Kalau dulu dia bisa bersikap sombong dan berkata bisa mengurus anak-anaknya tanpa istri. Arya pernah berpikir, anak anaknya bisa diurus oleh baby sitter. Tapi tidak dengan sekarang.
Perbuatan bibi Nining membuat Arya trauma untuk memperkerjakan orang lain di rumah.
Besoknya, Rania membuktikan keseriusannya. Pagi pagi sekali, Rania sudah meminta Hanin untuk menjaga Rio. Sedangkan, Arya tidak dapat mencegah keinginan Hanin untuk bekerja. Kali ini, Rania menunjukkan keras kepalanya.
"Kamu serius, Ran?" tanya Hanin. Kini mereka berada di meja makan. Sofia juga ada di antara mereka.
"Serius mbak."
"Kamu siap dengan pernikahan LDM ?" tanya Hanin lagi.
Rania tertawa kecil. Pernikahan mereka karena terpaksa dan tidak ada cinta di antara mereka. Berjauhan pasti tidak membuat mereka kesepian. Apalagi Rania mengetahui jika dirinya dijemput dari kost karena usul Hanin dan karena Rio.
Tentang Rio, Hanin sudah mengatakan jika dia siap membawa bayi itu.
"Lalu bagaimana dengan Rio. Dia sangat membutuhkanmu," tanya Hanin.
"Kalau kak Arya mengijinkan. Aku akan membawa Rio. Jika tidak, terpaksa aku meminta mamaku atau mama mertua yang datang ke sini untuk merawat Rio."
Arya sedikit tersentak mendengar perkataan Rania. Dari tadi dia diam karena mempercayakan Hanin untuk membujuk Rania supaya tidak bekerja. Perkataan Rania berarti wanita itu sudah memikirkan matang matang rencananya.
Hanin menoleh pada Arya. Jika sudah begini. Hanin tidak bisa berbuat banyak. Dia mengetahui bagaimana pernikahan Arya dan Rania sejak awal. Hanin sudah bisa menebak. Jika keputusan Rania pasti karena sikap Arya dan Sofia.
Rania tidak main main dengan perkataannya. Di hadapan Arya dan Hanin. Rania menghubungi mama dan mama mertuanya dan menceritakan rencananya. Dua wanita itu tentu saja terkejut dan berusaha melarang. Tapi Rania sudah bulat akan keputusannya.
Berbagai macam kata kata nasehat yang diterima dari mama dan mama mertuanya. Keputusan itu tidak bisa diganggu gugat lagi. Berat rasanya meninggalkan Rio. Tapi itu semua karena keputusan Arya yang tidak memperbolehkan Rania membawa Rio bersamanya.
Kini, Rania sudah hidup jauh dari Arya. Ribuan kilometer jarak memisahkan mereka. Cinta yang belum bersemi di hati Rania membuat Rania serasa mudah menjalani hari harinya. Hanya terkadang, rasa rindu untuk Rio terselip di hatinya.
Berbeda dengan Rania yang terasa ringan menjalani hari harinya. Tapi tidak dengan Arya. Meskipun ada ibu Ratih di rumah. Tetap saja, Arya kewalahan mengurus dua anaknya.
"Pa, aku tidak mau makan."
Arya merasakan kesal yang luar biasa. Dua Minggu ditinggal Rania. Selama dua Minggu itu juga, Sofia tidak suka dengan masakan neneknya.
"Makan apa yang ada, Sofia. Belajarlah bersyukur."
Pagi ini ibu Ratih hanya menyediakan nasi putih dan telor dadar untuk sarapan. Bukan karena tidak ada uang. Mengurus anak bayi dan mengurus rumah tentu saja hal yang melelahkan untuk wanita setua ibu Ratih. Untuk memperkerjakan orang. Arya masih trauma dengan kejahatan bibi Nining.
"Kenapa sih, harus nenek yang masak?. Papa sih main pecat Bibi Nining saja."
Brak. Brakk.
Kemarahan Arya sampai ke ubun-ubun. Arya sampai menggebrak meja karena rasa marah itu. Kemarahan bukan hanya karena perkataan Sofia pagi ini. Tapi kemarahan itu karena akumulasi sikap Sofia yang menjengkelkan selama dua Minggu ini. Berkali kali, Sofia merajuk karena bibi Nining dan Usi tidak kunjung pulang ke rumah itu.
Arya mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk pertama kalinya dia marah pada putrinya. Sofia terlihat ketakutan. Dan itu yang membuat Arya semakin merasa bersalah.
"Asal kamu tahu Sofia. Bibi Nining dan Usi yang mengakibatkan mama Ayumi meninggal dunia."
Akhirnya, Arya mengatakan kebenaran itu. Arya paham, resiko mengatakan hal ini pada putrinya.
"Tidak mungkin pa. Kata bibi. Tante Rania yang menginginkan mama meninggal."
Mulut Arya menganga mendengar perkataan putrinya. Ternyata sampai sejauh itu bibi Nining mencuci otak Sofia. Pantas saja, apapun yang dilakukan oleh Rania. Sofia tidak pernah menyukai karena sudah tertanam di hatinya jika Rania adalah pembunuh mamanya.
"Apalagi yang dikatakan bibi Nining kepadamu, nak?" tanya Arya lembut. Tapi tidak dengan hatinya yang panas karena kebenciannya pada bibi Nining semakin menggunung.
Sofia diam. Anak itu menundukkan kepalanya karena masih tersisa ketakutan di hatinya.
"Katakan nak. Apa saja yang dikatakan bibi Nining padamu,"
Arya berusaha membujuk. Melihat sikap diam putrinya, Arya sadar jika Bibi Nining sudah sangat mempengaruhi Sofia.
"Aku takut pa."
"Takut karena apa?" bujuk Arya lebih lembut lagi. Arya berusaha mendapatkan informasi dari Sofia untuk mencari bukti yang lebih banyak lagi tentang kejahatan bibi Nining.
"Aku takut Tante Rania membawa adik Rio pergi jika aku cerita sama papa."
"Bibi Nining berkata seperti itu?"
Sofia menganggukkan kepalanya. Arya kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Arya merasa menyesal karena pernah mempekerjakan siluman wanita itu di rumahnya.
"Asal kamu tahu, nak. Bibi Nining yang menginginkan mama Ayumi meninggal," ulang Arya. Dia ingin meyakinkan jika bibi Nining dan Usi tidak sebaik yang di pikiran Sofia.
Dan benar saja. Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak terima dengan perkataan papanya. Di otaknya sudah tertanam jika Rania adalah pembunuh mamanya. Apalagi Bibi Nining mengatakan itu dengan bukti yang tidak benar.
"Bibi Nining sudah menunjukkan buktinya jika Tante Rania yang membunuh mama. Papa yang bodoh mau sama Tante Rania yang jahat. Dibandingkan Tante, aku lebih suka jika Miss Usi itu yang menjadi bundaku."
Lagi lagi mulut Arya terbuka lebar mendengar perkataan putrinya. Bibi Nining tidak hanya memfitnah Rania tapi wanita itu juga sudah mencuci otak Sofia supaya lebih menginginkan Usi yang menjadi istrinya.
Putrinya yang berusia sepuluh tahun sudah menyimpan dendam pada Rania. Seketika, Arya merasa sangat menyesal karena tidak dari dulu memasang Cctv di rumah itu. Andaikan sejak dulu, Cctv terpasang di rumah itu. Bisa dipastikan jika bukti kejahatan bibi Nining akan mudah didapatkan.
Sekarang, bukan hanya bukti kejahatan bibi Nining akan pembunuh Ayumi yang harus didapatkan. Arya juga harus membuktikan jika Rania bukan pembunuh. Rasanya otak Arya semakin pusing karena permasalahan itu yang tak kunjung tuntas.
"Sofia putri papa. Kamu sayang sama papa kan?" tanya Arya akhirnya. Sofia menganggukkan kepalanya.
"Sofia putri papa yang pintar. Untuk saat ini dan seterusnya. Papa mohon, tolong percaya pada papa dibandingkan dengan orang lain. Bisa?"
Lagi lagi Sofia menganggukkan kepalanya.
"Dan sekarang, papa mohon. Tolong ceritakan apa yang sudah dikatakan bibi Nining alasan Tante Rania membunuh mama Ayumi."
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁