NovelToon NovelToon
Hanya Karena Aku Anak Pertama

Hanya Karena Aku Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Matabatin / Chicklit / Tamat
Popularitas:242.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.

Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.

Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.

Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?

Ikuti kelanjutan kisahnya dalam

Hanya Karena Aku Anak Pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hanya di luar negeri , bukan di luar dunia

“Kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Putri Pak Hamid,” setelah sedikit berbincang, akhirnya Rendy mengutarakan maksud kedatangannya, lalu melirik sekilas terhadap Mira yang terlihat wajahnya sudah merah merona.

“Yang bernama Maharaya!” Rendy melanjutkan ucapannya.

Wajah Mira yang semula tampak berbinar penuh dengan rasa bahagia, langsung saja menjadi masam dan geram. Maharaya… lagi-lagi nama Maharaya yang disebut. Orang yang sudah tidak ada, tetapi tetap saja masih membuatnya merasa kesal.

Pak Hamid menghembuskan napasnya, seolah sudah tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi. Sejak kedatangan Rendy yang secara tiba-tiba, Pak Hamid sudah mengira, bukan Mira yang dicarinya. Apalagi dengan ucapan Tuan Rendy barusan selama percakapan, yang seolah-olah dia tidak menyukai Mira.

“Maharaya bukan putri kami. Putri kami hanya satu, dan itu adalah Mira.” Belum sempat Pak Hamid memberikan jawaban, Bu Lusi sudah berbicara terlebih dahulu.

Pak Hamid menggeram dalam hati. Istrinya itu sama sekali tidak bisa membawa diri, tidak bisa melihat siapa yang di hadapannya. Tangan Pak Hamid bergerak untuk menggenggam tangan istrinya dengan erat, untuk menghentikan ucapannya. Tuan Rendy, yang sering didengarnya melalui berita, bukanlah orang yang suka melihat orang banyak berbicara.

“Maafkan saya, Tuan Rendy. Saya sungguh tersanjung dan sungguh bangga, Anda menginginkan putri yang pernah saya besarkan. Akan tetapi, seperti yang telah Anda dengar dari istri saya, bahwa Maharaya, sebenarnya bukanlah putri kandung saya, dan sekarang Maharaya tidak lagi berada di sini!” ucap Pak Hamid dengan sopan. Ditundukkannya kepalanya penuh dengan penyesalan.

Rendy tersenyum mendengar ucapan Pak Hamid.

“Saya tahu tentang itu, Pak Hamid. Karena itulah kedatangan saya ke sini bersama keluarga saya, ingin meminta informasi dari Pak Hamid, di manakah saat ini Maharaya berada…!” ucap Rendy.

Pak Hamid menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia merasa bingung. Haruskah dia menyampaikannya ataukah tidak, perihal tentang Maharaya?

“Katakan saja, Pak Hamid! Saya berjanji jika ada sesuatu, apa pun itu, maka saya, Rendy Raharja, yang akan bertanggung jawab dan tidak akan melibatkan Pak Hamid dalam apa pun…!” Rendy memberikan ketegasan.

“Baiklah, karena Anda yang meminta!” ucap Pak Hamid pada akhirnya.

Lalu Pak Hamid pun mulai bercerita tentang kisah 27 tahun yang lalu, di mana di dalam pernikahannya, dia tidak memiliki seorang anak.

Kemudian tentang pertemuannya bersama Tuan Abdullah Jordan. Tuan Abdullah yang hendak menitipkan putrinya, dan mengatakan bahwa putri dari Tuan Abdullah yang pada saat itu masih bayi, sedang berada dalam bahaya karena saudara dari Tuan Abdullah mengincar nyawa putri itu karena putri itu adalah pewaris tahta.

Hingga akhirnya Pak Hamid-lah yang kemudian merawat Putri Maharaya, dengan diberikan imbalan berupa uang dan fasilitas untuk hidup bagi keluarga Pak Hamid. Hingga yang terakhir, Pak Hamid pun menceritakan tentang kedatangan Tuan Abdullah dan Tuan Benjamin Jordan untuk menyambut dan menjemput kembali putrinya, Maharaya, dan membawanya kembali ke negaranya.

Rendy menganggukkan kepalanya. Sebenarnya sedikit-sedikit Rendy sudah mendengar berita itu dari orang-orang suruhannya, dari ahli IT yang didapatkannya. Rendy datang ke sana hanya untuk memenuhi keinginan putranya.

Lain halnya dengan Arga. Dia yang sangat kaget mendengar pernyataan tentang Maharaya, bahwa kekasih yang dicintainya itu adalah seorang Putri Raja, dan sekarang berada di negara yang sangat jauh darinya, bahkan berada di belahan benua yang berbeda.

“Baiklah, Pak Hamid. Karena saya dan keluarga sudah mendapatkan informasi yang kami inginkan, kami hendak berpamitan pulang!” ucap Rendy.

“Baiklah, Tuan. Dan juga terima kasih untuk semua hadiah yang Tuan bawa hari ini. Saya benar-benar merasa tersanjung!” ucap Hamid lagi.

“Tidak, Pak Hamid. Saya yang berterima kasih. Anda telah membesarkan seorang menantu yang baik untuk saya. Itu hadiah untuk Anda. Anda layak menerimanya!” ucap Rendy lagi, sambil menepuk bahu Pak Hamid.

Pak Hamid menegangkan tubuhnya, merasa tak percaya bahwa seorang sekelas Rendy Raharja, bahkan tak merasa jijik untuk bersentuhan dengannya.

Setelah berbasa-basi berpamitan, Rendy dan keluarganya pun pulang. Di dalam perjalanan, Arga hanya membisu, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Ada apa?” tanya Rendy. “Bukankah kau seharusnya berbahagia, kau sudah mendapatkan berita tentang calon istrimu itu kan? Harusnya kau senang kan? Kenapa hanya melamun saja…?” tanya Rendy ingin memastikan keadaan putranya.

“Hanya tahu di mana dia berada, Ayah. Tetapi tidak bisa menemuinya. Apa gunanya…? Lalu bagaimana aku bisa menemuinya sekarang…?” tanya Arga dengan nada sendu.

“Apakah kau ini benar-benar Putra Rendy Raharja…?” tanya Rendy.

“Auws… Sayang, kenapa kau memukulku…?” Rendy menoleh ke arah istrinya sambil mengusap bahunya yang terasa panas.

“Kau meragukan kalau dia adalah putramu…? Maksudnya kau ingin mengatakan bahwa dia anak orang lain…?” Maya bertanya dengan nada yang sangat marah.

"Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku hanya tidak percaya Putraku bahkan mengatakan bahwa dia tidak bisa menemui calon istrinya itu…!” jawab Rendy memberikan alasan.

“Tentu saja. Lalu bagaimana…? Dia berada di tempat yang sangat jauh, Ayah…!” jawab Arga lagi.

“Memangnya kenapa kalau Maharaya berada di tempat yang jauh…? Hanya berada di luar negeri kan…? Bukan berada di luar dunia…!! Hanya berada di benua yang berbeda! Bukan berada di dunia yang berbeda…? Bukankah itu artinya kau masih bisa mencarinya ke sana…?” tanya Rendy. Terdengar dari nada suaranya dia begitu kesal. Entah kenapa anaknya itu berubah menjadi sangat bodoh.

“Ah, iya… Ayah benar. Kenapa aku tidak bisa berpikir ke sana…? Apa yang sekarang tidak bisa ditempuh dengan perjalanan…?” ucap Arga sambil menepuk keningnya. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa menjadi orang yang sangat bodoh.

Tentu saja bukan hal yang sulit baginya jika dia ingin pergi ke negara mana pun. Ayahnya itu bahkan memiliki pesawat pribadi. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah alasan apa yang dia gunakan untuk datang ke sana? Bagaimana caranya dia datang ke sana…? “Ayah, tolong bantu aku sekali lagi. Antarkan aku ke tempat Maharaya…!” pinta Arga kepada ayahnya.

“Tidak semudah itu, Boy. Jika kau ingin mendapat bantuan dari Ayah, terlebih dahulu kau harus menyelesaikan tugasmu di sini. Kau mendengar cerita dari Pak Hamid kan? Maharaya adalah Putri seorang Raja. Raja Abdullah Jordan adalah rajanya bisnis di negaranya."

"Untuk datang ke sana, alasan apa yang akan kau gunakan? Apakah hanya akan datang ke sana dengan membawa dirimu saja? Apa kau yakin Raja Abdullah akan menerimamu? Selesaikan tugasmu di sini, lalu berusaha keras. Tunjukkan dirimu. Tunjukkan pada dunia bahwa kau layak untuk Maharaya. Tunjukkan bahwa kau bisa berdiri sejajar dengan Maharaya, agar Raja Abdullah tidak segan untuk menerimamu.”

“Tentu saja, Ayah. Aku akan berjuang lebih keras. Aku akan bekerja keras, dan aku akan mewujudkan impianku dan impian Ayah.”

“Itu hanya impianmu saja yang ingin memperistri Maharaya!” Rendy mencibir putranya.

“Mulai besok aku akan benar-benar memimpin perusahaan dengan sebenar-benarnya. Aku akan menjadi layak di mata Raja Abdullah,” tekad Arga.

1
Nanik Kusno
ini juga sudah khatam....👏👏👏
Nanik Kusno
sudah katam Kak Othor....
Nanik Kusno
Bener2 wanita g tau malu..... PD mu ketinggian.... begitu dijatuhkan.... sakitnya tak terperi.....😏😏😏😏😏🥴🥴🥴🥴
Nanik Kusno
Yessss...👍👍👍👍👍👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Persahabatan bagai kepompong....👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Arga..... keren pollllll......👏👏👏👏👏👍👍👍👍👍👍👍
Nanik Kusno
Mas Bejo.....g sah kakean mikir.... langsung di rabekne wae....☺️☺️☺️☺️☺️👏👏👏
Nanik Kusno
Duuuuhhh yg lagi kangen2an.....yg lain g terlihat pokoknya.....☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️
Nanik Kusno
Yang mau ketemu Arga dan Raya..... tapi aq yang deg2an......☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️
Nanik Kusno
siiiip Arga 👍👍👍👍👍👍👍👍👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Keluar juga sifat aslinya Mira.....😏😏😏😏😏🥴🥴🥴
Nanik Kusno
Tom dan Muhklis...... bersabarlah....lapangkan dadami seluas mungkin....agar bisa menampung semua kelakuan ayah dan anak itu......🥴🥴🥴🥴🥴
Nanik Kusno
Hiiiiiiiii.....miris banget akhir hidup Riswan.....😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Huuuuhhhhh.....emang hanya bapake aja yang masih waras.....😏😏😏😏😏😏😏😡😡😡😡😡
Nanik Kusno
Hebat Arga...... sekarang g mungkin ayahnya g mau bergerak untuk menemukan Raya.....👍👍👍👍👍👍👍👍👍👏👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Gimana ya nanti kalau Mira tau aslinya Arga....😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Hanya P. Hamid yang otaknya beres di rumah itu......😏😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Nanik Kusno
Itu bapak kandungmu Raya...
Nanik Kusno
Arga sudah menandai Raya sebagai istrinya.....g ada yang membantah.....👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!