•••
Sam tidak pernah jatuh cinta dengan wanita manapun.
Hatinya mati dan beku.
Prinsipnya terlalu kokoh.
Bentengnya terlalu tinggi.
Ternyata cintanya hanya tertuju pada sang keponakan.
Gadis cantik yang memikat hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puppy Bangtan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35. Bertemu Ben
Perjamuan sudah selesai sejak 10 menit yang lalu.
Dan kini mereka tengah berbincang santai.
Shila terlihat begitu bosan dan ingin sekali pergi dari sana.
Apalagi ia duduk bersandingan dengan Sam membuat Shila semakin tidak bisa bergerak dengan bebas.
Tok tok
Semua kepala menoleh saat pintu diketuk.
"Maaf mengganggu waktu kalian," sela Angel sembari melemparkan senyum ke arah mereka semua.
Shila memutar bola matanya malas kala melihat kedatangan Angel.
Tampak Angel masuk ke dalam dan tak lama diikuti seorang pria tinggi dengan wajah tampan nan blasteran.
"Ben!"
Shila bergumam kala melihat seseorang yang dia kenal.
Sam menaikkan sebelah alisnya kala Shila mengenal Ben, sepupunya.
"Shila!"
Ben langsung memeluk Shila kala baru menyadari keberadaannya.
"Bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Ben tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya, terlebih tatapan dingin Sam.
"Aku bekerja dengan tuan Smith," jawabnya sembari menatap sekilas tuan Smith.
Ben manggut-manggut paham.
"3 bulan kita tidak bertemu, kenapa kamu terlihat begitu cantik sekali?" puji Ben membuat Shila berdecak.
Angel tersenyum miring kala tak menduga kakaknya mengenal Shila, wanita yang Sam cari hampir gila selama ini.
Angel menarik kursi di samping kanan Sam, "Siapa yang tahu jika mereka saling kenal? Kamu pasti terkejut bukan?" tanya Angel menggoda Sam.
Sam yang mendengar hal itu sontak langsung berdiri.
"Lebih sopan lagi jika kau menyapa tuan rumah lebih dulu," sindir Sam dengan sarkas membuat Ben tersenyum tipis dan memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Aku tidak berniat kemari, dia yang memaksaku," jawab Ben santai sembari menunjuk Angel dengan dagunya.
Sam dengan cakap langsung menarik pinggang ramping Shila.
Ben menatap datar dan dingin Sam, di mana sikap Sam sekarang seolah membatasi Ben untuk tidak mendekati Shila.
Shila berusaha melepas tangan kekar Sam dari pinggangnya, sayang sekali tangan kekar itu begitu kuat sekali.
"Sepertinya aku harus memberitahu sesuatu."
Sam dan Ben saling menatap satu sama lain dengan sedikit sengit.
"Shila adalah calon istriku. Jadi, ku tekankan padamu, jaga sikap dan batasi pergerakanmu sebelum aku yang bertindak, kamu paham maksudku bukan?"
Ben terlihat tertawa renyah membuat Shila menatap Sam dari samping dengan sangat datar dan sinis.
"Persetan dengan siapa dia? Kita sudah lama berteman 2 tahun terakhir ini, bukan begitu Shila?"
Sam melihat perlahan Shila di sampingnya, seolah tak percaya dengan apa yang barusan Ben katakan.
"Ya."
Jawaban yang singkat nan padat itu benar-benar membuat Sam tak bisa mempercayainya.
Bagaimana mungkin mereka berteman?
Ben terlihat tersenyum kemenangan dengan hal itu.
"Bagaimana jika kita minum kopi nanti sore?" tawari Shila yang langsung diangguki oleh Ben dengan senang hati.
Shila menelan salivanya kala cekalan Sam pada pinggangnya semakin erat.
"Berikan alamat tempat tinggalmu. Aku akan menjemputmu nanti sore."
Shila hanya mengangguk membuat Ben mengerlingkan sebelah matanya lalu melenggang pergi begitu saja.
Sam yang melihat kedekatan mereka seolah tak terima.
"Sejak kapan kamu mengenal sepupuku?"
Shila menatap Sam dengan lekat dari jarak yang begitu dekat.
"Apa pedulimu," jawab Shila singkat.
Angel yang melihat bagaimana angkuh nan sombongnya sikap Shila sontak langsung angkat bicara.
"Jangan berlagak sombong karena kau merasa diperebutkan. Sudahi pura- puramu dan pilih salah satu dari mereka. Kau bukan putri, bersikap sewajarnya saja."
Shila hendak membalas ucapan Angel sayangnya Sam lebih dulu angkat bicara.
"Jaga bicaramu. Shila hanya milikku!"
Klaimnya dengan paten dan tegas.
"Lepaskan!" pekik lirih Shila dengan terkejut kala Sam memanggul tubuhnya membawanya pergi dari ruang perjamuan.
"Lepaskan aku brengsek."
Sam hanya diam tak mengubris, terus berjalan tanpa memperhatikan tatapan karyawannya saat ini.
Sejak tadi Sam sudah berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan amarahnya.
Namun rasa cemburu itu sepertinya sudah meledak begitu saja tanpa bisa Sam tahan.
Sam sangat gerah kala melihat banyak pria di sekeliling Shila.
Ingin rasanya Sam menghujam Shila saat ini.
Jika saja ia tidak menyayangi dan mencintai Shila.
Mungkin ia sudah habis sejak kemarin malam.
Sam membawa Shila ke basement parkiran, dengan pelan ia mendudukkan Shila di kursi depan.
"Aku ingin pulang sendiri."
Shila hendak keluar dari mobil Sam namun dengan jahil Sam menurunkan standar kursi mobilnya hingga sedikit menurun sekitar 45 derajat.
Shila menelan salivanya sembari meremas lengan kemeja hitam Sam.
"Patuhlah sayang, sebelum aku menghujammu di sini."
Shila memicingkan matanya kala mendengar suara ancaman Sam.
Sam tersenyum manis kala melihat tatapan Shila.
Cup
Shila menyipitkan matanya kala Sam mengecup singkat pipinya.
"Dasar tua bangka."
Shila langsung memperbaiki kursinya sebelum Sam menghujamnya di dalam mobil.
Sam masuk ke dalam mobil, melepas dasinya dan melemparkannya ke belakang kemudi.
"Pakai sabuk pengamanmu sayang!"
Peringati Sam kala Shila enggan memakai sabuk pengamannya.
Melihat tak ada pergerakan Sam langsung melepas seal beatnya hendak membantu Shila.
"Aku akan memakainya sendiri!"
Shila langsung memakai sabuk pengamannya sebelum Sam bertindak dan selebihnya modus.
Sam hanya bisa menahan senyumnya saat ini.
Ia langsung melajukan mobilnya untuk pergi ke apartemen Shila.
"Kita mau kemana? Aku ingin kembali ke kantorku."
Shila terlihat begitu kesal saat ini.
"Pulang sayang," jawab Sam lembut membuat Shila mendelik kesal.
"Pekerjaanku belum selesai, kenapa kau membawaku pulang? Cepat putar balik sekarang."
Shila terlihat begitu marah saat ini terlebih ia begitu risih dengan sikap Sam yang begitu over terhadap orang- orang di sekitarnya.
Sam menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke kantor, kamu pasti akan pergi minum kopi dengan Ben nantinya."
Shila memicingkan matanya kala mendengar hal itu, "Memangnya kenapa, aku berhak atas diriku sendiri."
Sam menoleh, menatap Shila sekilas.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan pria selain aku!"
Tegas Sam tanpa meninggikan nada suaranya.
Shila berdecak pelan membuat Sam menoleh, "Kenapa?" tanya Sam pelan.
"Lucu sekali, kau bukan siapa- siapaku tapi berlagak seolah aku milikmu."
Spontan Sam menginjak pedal remnya membuat Shila sedikit tersentak kaget dengan hal itu.
Sam mengatur napasnya, mencoba mengendalikan emosinya saat ini.
Perlahan Shila menoleh menatap Sam dengan datar.
Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain hingga menciptakan kesunyian yang begitu mencekam dan dingin.
Shila bisa merasakan bagaimana atmosfer di sekelilingnya berubah menjadi sangat dingin.
Meski Sam tidak menunjukkan tanda- tanda sedang marah, namun diamnya mampu membuat bulu kuduk Shila berdiri.
"Bukan siapa- siapa? Lantas apa yang pernah kita lakukan 2 tahun lalu? Bahkan kamu juga mengungkapkan perasaanmu sayang."
Shila meremas tangannya erat.
"Anggap saja semua tidak pernah terjadi. Lupakan cinta gila yang tabu itu, anggap saja kita tidak pernah bertemu ataupun kenal. Lepaskan aku dan carilah wanita lain yang bisa hidup bersamamu."
Sam tersenyum kecut sembari memalingkan wajahnya ke depan sekilas di mana matanya sedikit berkaca- kaca saat ini.
"Lalu bagaimana dengan benih yang pernah kamu kandung? Bukankah kita hampir menikah kala itu? Bagaimana bisa kamu menyebutnya cinta gila yang tabu? Kita melakukannya bersama- sama secara sadar dan sama- sama suka, apa semudah itu mengatakan untuk menganggap semuanya tidak pernah terjadi? Mencari wanita baru?" Sam berdecih pelan mengusap sekilas air matanya.
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan wanita manapun selama 2 tahun ini selain mencarimu. Bagaimana bisa kamu memintaku untuk mencari wanita lain?"
Sam mengusap sekilas kedua matanya dan kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Shila pulang.
Shila hanya diam tak mengucapkan apapun setelah mendengar ucapan Sam barusan.
Shila memilih menatap keluar jendela untuk menahan air matanya.
Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya saat ini.
Tapi Shila tidak bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Shila tidak akan bingung apalagi dibuat bimbang dengan tujuan awalnya.
Balas dendam.
Itulah tujuan utama ia pergi ke kota Milan.
Anak Lo yg cinta sama sam tapi sam juga gk memberikan harapan palsu dia juga sudah menolak secara baik baik,tapi anak lo yg gk waras itu terlalu obsesi sama sam.
Baru Bapanya Aluna Balas dendam ke Sheyla udah gak waras otaknya kali.Aneh banget.Anaknya udh bodoh tambah bapaknya makin bodoh Lagi.