NovelToon NovelToon
Asphyxia

Asphyxia

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Sci-Fi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Chicklit / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: xrubberbandx

“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”

“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."


genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY

tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE


[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?

"We get dirty so the world stays clean."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Nuts

"Dia gila," Juni sudah lama menyadari bahwa otak Zeze bermasalah, tapi tidak pernah mengira akan sebegitu parah.

Belum ada satu jam sejak hari berganti, dan hari itu sudah resmi masuk ke dalam daftar panjang hari tersial di hidup seorang Junigra Mavros. Bahkan untuk mengintip reaksi orang-orang di sekitarnya, Juni tak bernyali. Ia sudah cukup nyaman terlebih dengan Volta dan Luna, yang dulu pernah menjadi subjek prasangka buruknya. Mereka adalah sejumlah orang yang tidak memandangnya sebelah mata sebagaimana siswa-siswi di Exousia. Apakah ia sanggup mengambil nyawa kedua gadis itu? Akankah diselenggarakan pertumpahan darah malam ini?

Zeze membuka kotak berisi kokakia di atas meja, mencomot satu dari dua belas kue itu, lalu menggigitnya sambil menikmati berbagai ekspresi di sekitarnya. "Oh, apakah ada orang terdekat kalian yang pernah kami... bersihkan?"

Tak ada jawaban. Mereka masih menatap Zeze dengan mata kosong dan mulut menganga. Bagaimana bisa dia mengatakannya sesantai itu?

"Apakah ini sungguhan?" Volta bisa merasakan mulut dan matanya menganga saat menatap sang tuan Putri, sosok yang dimuliakannya dan seisi negeri. Pelan-pelan ia menoleh ke Luna dan menemukan kengerian di mukanya. Begitu pula dengan Juni, Rhea, dan Obi. Kion, walaupun tenang, juga tidak menyanggah apa pun.

Luna menatap balik saat merasakan tatapan Volta. Bibirnya bergerak-gerak tanpa disusul suara. "Dia memutilasi mereka semua," itulah yang dikatakannya. Liur yang turun di kerongkongan Volta terasa macet, di detik itulah ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam kenyataan.

Rhea menahan Juni yang tampaknya sudah gatal ingin melempar Zeze keluar ruangan dan mengumumkan kepada semua orang bahwa teman mereka menderita gangguan jiwa, sekalipun Rhea juga tengah bergelut dengan gemuruh jantungnya sendiri, mewanti-wanti tindakan yang selanjutnya akan diambil oleh adiknya yang nekat itu. Sekalipun Rhea percaya Zeze tidak akan mungkin melakukan suatu hal yang mampu membahayakan Énkavma secara disengaja, bagaimanapun, situasi kali ini tak dapat mendustai rasa takutnya.

Obi pun sepemikiran dengan Rhea. Akan tetapi, karena ia tumbuh besar bersama Zeze sehingga ia mengenalnya lebih baik dari siapa pun, Obi masih menyimpan sedikit harapan yang tak lebih banyak dari sisa kesabarannya, setidaknya cukup untuk membuatnya tetap bertahan di samping Zeze, menyimak sisi kiri wajah sahabatnya itu dengan tekun agar ia bisa tepat waktu membekap mulutnya jika ia merasa Zeze akan membocorkan hal yang berkaitan dengan Raja mereka.

Sementara itu, Froura dan Saga langsung mengarahkan perhatian mereka sepenuhnya ke Kion. Tubuh mereka agak condong kepada sang Pangeran, siap melesat bagai ketapel dan menghadang bagai tameng jika diperlukan. Kedua tangan mereka berada sedekat mungkin dari belati dan pistol yang tersembunyi di balik pakaian. Kion menyadari itu dan langsung mengangkat satu tangan, mengimbau mereka untuk menunggu dan mendengarkan. Mereka tidak punya pilihan meskipun sangat keberatan.

“Tidak ada? Well, itu bagus. Setidaknya aku tahu dia tidak bodoh dalam memilih sekutu. Dalam hal ini kau lulus."

Kion sadar sarkasme itu diarahkan untuknya. Tapi ia bertingkah seperti tak mendengar apa pun.

“Pamanku...” tiba-tiba Airo berucap dengan pandangan kosong, “Arwin Laktisma... tewas akibat penyerangan yang kalian lakukan di kediamannya.”

Punggung Obi, Juni, dan Rhea menegak dengan sendirinya, sementara Zeze terdiam sebentar, "Ah, benar. Dua tahun lalu, bukan?" Entah mengapa Zeze malah melempar senyum miring misteriusnya ke Kion yang masih nihil ekspresi. Senyum itu hanya bertahan dalam satu kedipan sebelum dia berpaling ke Airo. "Tahukah kau dosa apa yang telah dia perbuat sehingga dia pantas mendapatkan 'pelayanan' spesial kami?"

Airo masih menatapnya dengan pandangan kosong tanpa keinginan untuk menjawab.

“Kurasa tidak. Tidak mengherankan. Aku tidak bisa menyalahkanmu,” Zeze menghela napas, sudah ke titik muak dengan kebenaran yang sengaja dipendam. "Kau ingat atau pernah dengar desas-desus tentang hilangnya para aktivis HAM? Pamanmu adalah dalangnya. Dia menculik para aktivis yang meluncurkan protes terhadap kebijakan-kebijakan yang diusulkannya di High Table yang dinilai melenceng dari demokrasi."

Pernyataan itu membulatkan mata kosong Airo.

“Apa kau mencoba mengatakan bahwa kalian berperan sebagai Robin Hood di sini?” Driko mengernyit pada Zeze.

"Tentu saja tidak," Zeze mengibaskan tangannya yang memegang kue, "Kami tidak membagi-bagikan harta dan makanan secara gratis. Dan kami tidak mencuri."

"Bagaimana kami tahu bahwa semua yang kau katakan itu benar?"

"Jika kami adalah siapa yang selama ini kalian percaya, kau pasti sudah mati sekarang."

Hanya dengan itu, rahang Driko mengencang; Luna dan Volta menegakkan badan mereka dan mencengkeram bahan rok.

"Tapi pada kenyataannya, kami bukan," kata Zeze enteng. "Dan daripada Robin Hood, kami akan lebih tersanjung jika dianggap sebagai dewa. Kami hanya memusnahkan yang pantas dimusnahkan lagipula. Tidak punya waktu bermain-main."

"Aku ingin mendengarnya," tiba-tiba Airo menyambar. Rahang dan matanya keras. "Tentang pamanku. Aku ingin mendengar apa yang terjadi pada malam itu."

Zeze menatapnya spekulatif beberapa detik, lalu berkata, “Pamanmu adalah dalang dari penculikan aktivis. Jangan harap media berani menyiarkan fakta yang bisa mengotori citra saudara dari seorang Marquess terhormat jika terdapat pisau yang menodong leher mereka. Ini benar-benar penghinaan bagi dunia jurnalistik. Kau tahu apa yang kami temukan di ruang bawah tanahnya? Para aktivis itu... mereka nyaris mati. Bahkan mereka buang air di tempat yang sama dengan tempat mereka makan dan tidur. Sebagian besar sudah tak tertolong. Beberapa yang selamat menjadi gila sehingga tidak bisa mengeluarkan kesaksian yang benar, sehingga cara terakhir yang mereka gunakan adalah cuci otak untuk memberikan kesaksian palsu. Beberapa lagi memiliki kandungan n*rkotika di aliran darahnya. Suntik paksa, tidak salah lagi,” Zeze tiba-tiba saja memasang muka berang, "Dengan lancangnya para brengsek itu memanipulasi fakta dan menjadikan kami sebagai kambing hitam."

"Benar," Obi tanpa sadar membenarkan. Tangannya mengepal di atas paha kala otaknya memutar kembali pemandangan menjijikkan yang disaksikannya dua tahun lalu.

Zeze menoleh pada Obi, "Ah, benar, kau bisa menanyakan detailnya kepada Obi, dia yang terlibat langsung dalam pembersihan itu."

"Melanjutkan yang sebelumnya," Driko menginterupsi, mencondongkan tubuh, dua siku bertumpu di paha. "Kau bilang kau dan Kion telah membuat satu kesepakatan." ia melihat Zeze dan Kion—yang tak pernah berpaling dari Zeze—bergantian.

"Benar. Kesepakatan macam apa?" Tanya Obi ke Zeze, mewanti-wanti tapi juga penasaran, begitu pula dengan yang lain.

Zeze mengangkat satu tangan, memintanya menunggu selagi ia menelan kue. Siku di meja kaca, bertopang dagu, ia bergumam, "Membantunya merebut kembali kerajaan dari tangan Dewan."

Sesuai dugaan, itu menjadi bom yang mengguncang seisi ruangan.

"Sebagai gantinya, dia akan menjadi sekutu kita, membantu kita sebisanya. Yah, menyamarkan jejak, menyediakan informasi... semacam itu. Ah, satu hal lagi, kami tidak benar-benar bertunangan." Yang satu itu berpengaruh besar pada Luna. Selain syok, secercah harapan terpercik dari mata kelabunya.

"Well, walaupun orang tua kami dengan seenaknya memanipulasi kami layaknya boneka untuk kepentingan politik mereka... tapi itu tidak masalah. Tak ada satu pun dari kami yang menganggap ini serius. Sehingga kalian tidak perlu khawatir, begitu semua ini berakhir, kami akan menghilang dari kehidupan kalian, dan kabar baiknya, Alpha kalian mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah itu, tamat. Sungguh akhir yang membahagiakan."

Semuanya bungkam, berkutat dalam pikiran masing-masing. Kenyataan yang mereka hadapi memang tidak mudah untuk mereka terima. Orang yang selama ini dianggap teman adalah buronan kelas dunia? Sang pangeran bersekutu dengan mereka? Seperti mimpi saat demam. Kelewat tidak masuk akal.

"Ada tambahan?" Zeze bertanya kepada Kion selagi ia mengikat rambutnya menjadi satu.

Hening sesaat sementara pandangan Kion melekat di mata Zeze. Zeze mengangkat alis padanya, gerakan sederhana yang menyiratkan tantangan. Dirinya sedang diuji, Kion tahu itu. Sekutunya akan menjadi sekutu Zeze juga jika di masa depan mereka memutuskan untuk serius dalam melangkah, dan Zeze belum sepenuhnya percaya pada mereka, pada Kion, terutama. Dia ingin tahu apakah Kion layak menjadi partner in crime-nya. Dia membutuhkan satu saja faktor yang dapat meyakinkannya untuk berkomplot dalam jangka yang panjang dengan Kion.

Pangeran itu memutus kontak mata saat membuka mulutnya, berbicara dengan kewibawaan di setiap kata, "Dengarkan, kalian yang membawa nama keluarga yang melayani keturunan Kronos."

Sontak, orang-orang yang merasa terpanggil, bangkit serempak dari tempat duduk mereka dan berlutut dengan satu kaki menghadap Kion, membagi formasi menjadi dua baris dengan meja kaca di antara barisan. Obi, Juni, dan Rhea, terutama Zeze, yang sama sekali tidak menyangka adegan itu bakal terjadi, langsung melompat bangkit dan menepi ke belakang.

"Andrikos Deka Megaloan, putra kedua Duke Megaloan, menghadap Yang Mulia Kion Ropalo Zesto. Mewakili yang lainnya, siap mendengar perintah Anda." Driko, selaku keturunan bangsawan tingkat tinggi, berikrar seolah ia telah berlatih melakukan hal itu sebelumnya.

Setiap kepala tertunduk, tak ada yang berani lancang menatap langsung sosok kepada siapa mereka akan memberi sumpah setia.

"Aku memberi kalian darma. Dukung aku menjadi Raja ke-20 Aplistia."

Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan, mereka serentak berkata, "siap, Yang Mulia".

"Angkat kepala kalian."

Mereka semua menjalankan izin itu. Pandangan mereka diselimuti rasa hormat, seolah sang pangeran terbuat dari emas dan berkian yang berkilauan.

"Kami berjanji bahwa kami tidak akan pernah mengecewakan Yang Mulia," Froura berikrar mewakili teman-temannya.

"Jiwa dan raga kami sepenuhnya milik Anda," Luna menambahkan dengan mantap.

"Kami akan mengabulkan apa pun keinginan Yang Mulia," Saga berjanji dengan sungguh-sungguh.

"Kami akan tetap setia melayani Yang Mulia," ungkap Volta dari lubuk hatinya yang terdalam.

"Keinginan Anda adalah perintah bagi kami," sambung Airo singkat. Hanya dia yang belum mengangkat pandangannya dari lantai. Tampaknya dia butuh waktu lebih untuk mencerna fakta-fakta yang ditelannya tanpa jeda dalam waktu berdekatan.

Lengkap sudah ritual pengambilan sumpah. Di sisi lain, Zeze, Obi, Juni, dan Rhea masih tersihir usai menyaksikan untuk pertama kalinya sebuah adegan menakjubkan yang terjadi tepat di depan mata mereka. Afeksi keenam orang itu terhadap Kion ternyata jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Dan, tanpa diragukan, Kion memegang kendali penuh atas kesetiaan mereka.

Kion bangkit untuk membuka jas kerajaan. Froura yang melihat itu, lantas berdiri dan menerima jas yang dia berikan. Zeze bertemu dengan mata hazelnya yang keras dan melihat sesuatu di sana, sesuatu yang sebelumnya juga ia berikan untuk laki-laki itu. Tantangan.

Zeze terpana, ia menahan napas, tercekat. Hanya sebentar sebelum ia bisa merasakan satu sudut bibirnya terangkat dengan sendirinya sementara dadanya membara oleh gairah. Baiklah, Yang Mulia. Kau menang.

"Sudah larut malam, sebaiknya kalian istirahat," Kion berjalan begitu saja melewati barisan orang yang berlutut. Suaranya terdengar aneh di telinga Zeze. Ada amarah yang bercampur dengan lelah di dalamnya.

"Dimengerti," mereka menjawab serempak. Setelah Kion menghilang di balik tangga penghubung lantai satu dan dua, mereka pun beranjak.

Sementara Zeze masih menatap kepergiannya.

\=\=\=\=\=\=

Hari berlayar sebagaimana mestinya. Tak ada perubahan berarti semenjak pengakuan besar-besaran itu. Yang paling mensyukurinya adalah Juni, yang awalnya mengira bahwa setelah malam itu akan terjadi pertumpahan darah, minimal menimbulkan ketegangan suasana. Namun beruntung dugaannya meleset.

Dua hari setelahnya, di hari pertama sekolah setelah liburan tahun baru, mereka tetap duduk di satu meja yang sama pada jam istirahat. Topik diskusi mereka kali ini adalah insiden percobaan pembunuhan tempo hari.

"Apakah ada yang kalian inginkan?" Tanya Juni kepada kesepuluh orang itu. Ia mengangguk-angguk sambil menceklis pesanan yang mereka sebutkan satu per satu pada kaca meja yang telah dipasangi LED dengan tampilan menu makanan. Semua meja di kantin memiliki teknologi itu, dan karena Juni duduk di bagian tengah meja, letak yang strategis, maka dirinyalah yang memesan.

Juni menoleh pada Kion, "Bagaimana denganmu, Tuan Pangeran?"

Kion hanya menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah buku dongeng.

"Pesankan aku sup kentang," celetuk Zeze.

Juni mendelik padanya. "Pesan sendiri!" Sergahnya dan langsung berlalu ke wastafel di pojok kantin.

"Sepertinya dia masih marah padamu," ucap Driko kepada gadis yang duduk di hadapannya itu.

Zeze mengangkat bahu, "Dia berhak. Tapi aku yakin dia tidak mungkin bisa mempertahankannya terlalu lama."

"Jadi, bagaimana dengan 'itu'?" Satu pertanyaan singkat dari Rhea sukses menjerat seluruh perhatian. Bahkan Kion pun bersedia menutup bukunya.

“Asumsiku, ada keterlibatan dengan Bagian Kanan,” Driko berpendapat.

"Apa itu 'Bagian Kanan'?" Tanya Obi.

"Dengar," Driko berdeham seraya memajukan tubuhnya, meletakkan tautan tangan di bawah dagu. Tingkah sok seriusnya itu disambut siulan singkat oleh Obi. Menanggapi godaan Obi, Driko hanya terkekeh kecil, sebelum memulai penjelasannya, "Di kalangan Keluarga Pendiri, kami menyebutnya dengan 'The Founding Fathers'...." ia menjeda sebentar, menatap Zeze lekat, "Tahu siapa saja yang kumaksud?"

Zeze mengangguk. Ia membayangkan nama-nama keluarga terhormat kerajaan Aplistia di dalam kepalanya. Zesto, Enochlei, Ankhatia, Asteri, Edafos, Algarius, Aposto, Haedas, Qiseidon, terakhir Zilevo. Benar, semuanya berjumlah sepuluh. Aku masih mengingatnya dengan jelas dan mungkin tidak akan pernah melupakannya semua berkat Madam super cerewet itu.

"Mungkin tidak banyak yang menyinggung hal ini, namun sudah menjadi rahasia umum di lingkaran pergaulan kelas atas—kalangan bangsawan—bahwa terdapat tiga belah kubu di Aplistia. Kubu kanan, Kiri, dan Tengah." Driko menyapukan pandangan ke setiap wajah yang menatapnya serius.

“Kubu Kanan adalah mereka yang berdiri di faksi bangsawan, dengan kata lain mereka yang pro terhadap feodalisme. Enochlei adalah keluarga terhormat kerajaan penggagas Kubu Kanan. Keluarga ini adalah pencetak perdana menteri Aplistia dari generasi ke generasi hingga ayah Kion, Yang Mulia Raja Gen Naios Zesto, memutuskan untuk mengubah bentuk pemerintahan dari monarki menjadi aristokrasi. Sampai saat ini, keluarga pendiri kerajaan yang telah memutuskan untuk mengambil jalan kanan ini adalah Edafos, Algarius, dan Aposto.

"Sementara Kubu Kiri adalah faksi yang pro terhadap monarki, kekuasaan yang berpusat di raja resmi Aplistia, Keluarga Zesto. Keluarga yang berdiri di kubu ini adalah: Asteri, Haedas, Qiseidon, dan Zilevo.

"Sedangkan Kubu Tengah adalah keluarga pendiri yang memilih untuk tidak berpihak. Kau sudah bisa menebak siapa itu, bukan?" Driko bertanya dan Zeze langsung mengangguk. Driko telah menyebutkan sembilan keluarga. Tersisa satu.

"Ankhatia tidak memihak satu di antara kedua belah kubu ini. Bahkan selama tiga dekade terakhir, Ankhatia memosisikan diri mereka sebagai penonton di tengah pertunjukkan perang dingin antar saudara.

"Tapi semua itu terbantahkan saat Yang Mulia Ratu Mionares Dean Ankhatia menikah dengan Yang Mulia Raja. Hal ini telah menjadi catatan penting dalam sejarah bahwa untuk pertama kalinya seorang Ankhatia memihak salah satu kubu."

"Memangnya di dalam silsilah keluarga Ankhatia, belum pernah ada keturunan dari keluarga pendiri lain?" Tanya Zeze.

Driko berdecak tak habis pikir, "Bukankah kau seorang Ankhatia?"

Zeze mengangkat bahu, "Materi tentang sepuluh Keluarga Pendiri baru saja kupelajari dari Madam Thoryvos, dan beliau tidak mengatakan apa pun tentang hal yang tadi kutanyakan."

Driko mendengus, "Baiklah, dengarkan. Ankhatia telah melakukan praktik pernikahan intern sejak kerajaan ini berdiri."

Mata Zeze terbelalak kaget, "Incest? Bukankah... perkawinan sedarah dinilai tidak baik bagi keturunan karena berpotensi menimbulkan kecacatan genetik—"

"Mungkin itulah alasan yang membuat ibumu tidak waras, Ze," sambar Juni yang baru kembali menempati kursinya.

Zeze mengangguk, "Mungkin itu salah satunya."

Sebagian besar orang di meja itu tercengang. Bagaimana bisa bahkan anaknya sendiri menghina Putri Vourtsa yang terkenal itu.

"Dan itulah alasan logis yang dapat menjelaskan mengapa anaknya pun menjadi seaneh alien."

Zeze melayangkan tatapan tajamnya kepada Obi, sebelum menenangkan diri dan berkata, "Aku sudah tahu tentang keturunan kerajaan yang hanya memiliki dua opsi dalam kehidupan asmaranya; menikah dengan sesama keturunan kerajaan, atau dengan keturunan bangsawan tingkat tinggi seperti duke atau marquess. Tapi yang melakukannya dengan seorang keturunan marquess terbilang jarang. Kecuali jika pihak keluarga kerajaan yang bersangkutan telah menyetujui. Dan tentang praktik pernikahan intern itu... aku baru pertama kali mendengarnya." Ini menjelaskan mengapa Silly memanggilku dengan sebutan darah kotor.

"Satu hal yang perlu kau tahu," kata Driko, "baik Kubu Kiri maupun Kubu Kanan tak pernah sedetik pun mengedipkan mata pada keturunan Ankhatia. Mereka menganggap bahwa racun yang tak berwarna adalah yang paling mematikan. Terlebih, banyak yang berspekulasi bahwa Ankhatia adalah dalang yang merancang perselisihan antar kedua belah kubu dari balik layar.

"Tetapi karena sekarang Ankhatia telah memilih keberpihakan... kalian sudah bisa menebak bagaimana perkembangannya. Kubu Kanan kebakaran jenggot, dan kabar pertunangan antara Roze dan Kion pastinya telah menyiram minyak di atas api.

"Ngomong-ngomong, drama ‘kubu’ ini tak hanya berpusat di keluarga kerajaan. Dalam kubu tertentu, sekurang-kurangnya ada satu keluarga kerajaan yang diberi sumpah setia secara khusus oleh satu keluarga bangsawan. Ada yang menunjukkan dukungannya secara gamblang, ada yang tidak. Keluarga kami adalah bagian dari para pemberani itu.”

Kalimat terakhir yang Driko ucapkan memicu Zeze untuk melihat mereka semua satu per satu, sebelum kembali fokus ke wajah Driko dengan tatapan yang seolah memintanya untuk melanjutkan, dan Driko pun mengabulkannya:

"Untuk mereka yang memilih tidak memihak, menurutku, mereka hanya ikut-ikutan berlindung di bawah payung narasi 'Kubu Tengah'. Pada kenyataannya mereka hanyalah para pengecut yang tak berpendirian. Terlalu penakut untuk menunjukkan di pihak mana mereka berdiri."

“Justru golongan itu yang patut diwaspadai,” ucap Rhea, “Mereka mencoba mendapat keuntungan dari suatu perselisihan.”

"Benar, Countess Mavros, contohnya," Juni menyambar dengan enteng, sehingga semua pasang mata kini tertuju padanya.

"Apa? Aku bicara kenyataan. Jadi, kalian, terutama kau Tuan Pangeran, tidak perlu membuang waktu mendengarkan omong kosong wanita it—"

"Kita kembali ke topik awal," Zeze menginterupsi. "Jadi menurutmu, yang bermaksud membunuhku adalah mereka, para 'Kubu Kanan'?"

"Kemungkinan besar," Driko mengangkat bahu, "Sebenarnya, percobaan pembunuhan tak jarang terjadi saat kami sedang menghadiri suatu acara. Misalnya obat tidur di dalam minuman, ban mobil tiba-tiba kempes, sistem autopilot mobil yang keliru, dan sebagainya. Tapi tentu tidak secara gamblang dilakukan, dan untungnya tidak ada yang berhasil mencelakakan kami.”

Zeze mengangguk paham dan menyandar ke kursi. Sepertinya selain sebagai Artemis, sebagai Rozeale Ankhatia pun hidupku tidak akan tenang.

"Sebenarnya," ujar Juni tiba-tiba, sehingga sekarang gilirannya yang mendapatkan perhatian semua mata di meja. "Masih ada dua lagi keluarga pendiri kerajaan yang belum Driko sebutkan."

"Apa kau serius mengungkit itu di sini?" Luna mendesis panik.

Namun suasana kental itu harus buyar akibat kehadiran dua pelayan yang membawakan pesanan mereka.

\=\=\=\=\=\=\=

"... Tetapi, apakah Yang Mulia tahu bahwasanya..."

Madam Thoryvos berhenti bicara saat melihat Zeze sedang membuat balon menggunakan permen karet di mulutnya.

"Tuan Putri Rozeale Ankhatia."

Zeze menatapnya dengan perasaan dongkol, "Nama itu kedengaran buruk sekarang."

"Yang Mulia, saya mohon? Kita hanya punya satu jam dan besok saya sudah harus memberi Anda topik bahasan yang berbeda." Madam Thoryvos sepertinya sudah nyaris mencapai batasnya.

"Baiklah, baiklah," Zeze mengambil selembar tisu di pinggir meja dan melepehkan permen karetnya di sana.

"Sekarang Anda bisa melanjutkan," Zeze berlagak tersenyum. Madam Thoryvos hanya bisa mendesah pasrah.

"Saya ulangi. Topik kali ini akan membahas mengenai keluarga terhormat pendiri kerajaan yang sebenarnya berjumlah dua belas."

Ah, ternyata ini. Zeze tersenyum penuh arti lalu menumpu dagunya dengan telapak tangan.

"Dua yang lain yaitu keluarga Velosa dan keluarga Westafo."

Persis seperti yang diungkapkan Juni kemarin—fakta yang sebenarnya tabu untuk diangkat ke permukaan jika tidak melibatkan badan edukasi resmi berlisensi seperti institusi pendidikan. Orang bisa ditangkap hanya dengan mengucapkan namanya. Itulah mengapa Lady Luna menghentikan Juni di tengah-tengah. Kedua keluarga itu sudah tak lagi menyisakan keturunan. Tidak ada yang pernah tahu penyebab kepunahan mereka.

Tapi, tunggu... benarkah begitu kenyataannya? Bagaimana dengan wanita di hadapanku ini? Bukankah kata Kion, dia adalah salah satu dosen sejarah terbaik di Aplistia?

"Ma'am, apa Anda tahu alasan di balik menghilangnya mereka?"

Alis Zeze bertaut usai melihat ekspresi terkejut di wajah sang Madam, apa-apaan reaksinya itu?

Wajar bila beliau bereaksi seperti itu, mengingat untuk pertama kalinya, Zeze bersedia berpartisipasi dalam kelasnya.

Madam Thoryvos berdeham, "Sebenarnya, di kerajaan ini terdapat tiga belah kubu—"

"Kanan, Kiri, Tengah," potong Zeze tidak sabar.

Madam Thoryvos mengangguk puas, "Velosa dan Westafo, keduanya memihak Kubu Kiri. Namun karena keduanya dinilai membangkang pada saat masa pemerintahan Raja ke-13, Raja Edwand Gaia Zesto, Kubu Kiri akhirnya mengasingkan mereka. Tak hanya itu, mereka pun menolak tawaran bersekutu dari Kubu Kanan, yang pada saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri Laselo Q. Enochlei.

"Mereka juga tidak berusaha mendekati Ankhatia untuk meminta perlindungan, sehingga semua pihak mulai berasumsi bahwa mereka ingin memisahkan diri dari kerajaan. Kubu Kiri sudah tidak lagi mengakui mereka, sehingga tempat perlindungan bagi mereka sudah sepenuhnya hilang.

"Seperti yang Anda tahu, dalam suatu persaingan, kemenangan akan lebih mudah dicapai jika kompetitor semakin sedikit. Untuk itu, Kubu Kanan mengambil kesempatan itu untuk menghancurkan mereka. Satu per satu dinyatakan bertanggung jawab atas sejumlah tindak pidana; korupsi dan kudeta adalah sebagian besar tuduhan. Kebanyakan diajukan tanpa bukti yang kuat.

"Hingga tiba saat di mana aset mereka habis tanpa sisa. Karena melihat kebungkaman Raja Edwand terhadap perkara ini, para rakyat berasumsi bahwa mereka memang benar bersalah. Seperti yang Anda tahu, rakyat Aplistia sangat menjunjung tinggi para anggota keluarga kerajaan, terutama mereka yang berasal dari Keluarga Zesto, keluarga yang sejak negara ini dibentuk selalu mencetak raja-raja Aplistia."

"Tapi tidak mungkin mereka menghilang begitu saja," Zeze berkomentar, "Lebih logis bila mengasumsikan bahwa mereka bersembunyi."

Mata tajam Madam Thoryvos membulat. Ia berkata, “Saya setuju. Sejarah mencatat bahwa Velosa dan Westafo telah musnah. Tetapi nyatanya tidak ada yang benar-benar dapat membuktikan klaim itu.”

"Lalu, apa asumsi Anda, Ma'am?" Tanya Zeze, sorot matanya menilai.

"Saya rasa, beberapa dari mereka yang berhasil bertahan..." Madam Thoryvos berhenti karena ragu.

"Aku ingin mendengarnya." Kesungguhan di mata birunya melunturkan keraguan sang Madam.

"... kemungkinan telah mengganti identitas, atau menggabungkan diri dengan keluarga bangsawan lewat perkawinan. Bisa juga keduanya."

"Dan menurut Anda, siapakah tepatnya keluarga bangsawan itu?"

"Saya tidak punya bayangan. Mereka bisa ada di mana pun. Di antara keluarga bergelar baron, earl, bahkan bangsawan tingkat tinggi seperti marquess. Viscount keluar dari opsi mengingat gelar tersebut tidak diturunkan ke ahli waris dan selalu berganti kepemilikan setiap lima tahun sekali. Sedangkan, sejak dulu hanya ada empat dukedom di kerajaan—negara ini. Yaitu Megaloan, Gahernam, Reiztain, dan Arthares. Mereka tidak mungkin mau menerima mempelai yang asal-usulnya tidak jelas, kemurnian darah adalah hal nomor satu bagi mereka."

“Lagi-lagi karena darah. Sebenarnya mereka ini apa? Nyamuk?” gumam Zeze, menjatuhkan pandangan ke meja, "Jika mereka benar-benar masih ada... aku tidak sanggup membayangkan apa yang bakal terjadi kelak, tetapi balas dendam pasti tercantum di dalam agenda mereka. Aplistia memanglah salah satu negara besar di dunia. Bahkan banyak institusi yang menempatkan kualitas militer Aplistia di posisi puncak peringkat seluruh dunia..."

Selama Zeze berbicara, mata Madam Thoryvos terus melekat pada Tuan Putri muda itu. Ia dapat menilai bahwa putri itu cerdas dan kritis, dan bertanya-tanya mengapa ia baru menyadarinya sekarang.

"... tapi konflik internal dengan saudara sendiri adalah bencana yang lebih buruk dari melawan orang luar. Jika situasi di dalam sampai bocor ke luar, bisa-bisa mereka memanfaatkannya untuk mengkolonialisasi Aplistia," lanjut Zeze penuh pertimbangan.

Sependapat, Madam Thoryvos mengangguk.

"Jadi, Ma'am, di pihak mana sekarang Anda berada? Kanan atau Kiri?"

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Catatan Kaki :

¹Feodalisme adalah sistem sosial politik yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan.

²Monarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang oleh satu pihak, yakni raja atau kaisar

³Aristokrasi adalah bentuk pemerintahan negara yang kekuasaannya dipegang oleh kaum bangsawan.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Jadi ceritanya di abad ke-22 itu, Aplistia tuh kayak semacam 'Amerika'-nya sekarang. Semacam negara super power yang menjadi kiblatnya ekonomi, hiburan, dan teknologi negara-negara di dunia.

Nah, negara besar macam Amerika ini pastinya gak sepenuhnya lurus-lurus aja, kan? Pasti juga ada bengkoknya, entah itu karena rumor atau konspirasi.

Pokoknya bayangin aja Aplistia seperti 'Amerika' atau 'Rusia' gitu dah 😂 // ape sih nih anak gak jelas.

Lin emang gak jelas, jadi yok lanjut baca, scroll ke bawah 👇

1
Nu razizah
bener Thor nyari nyari ternyata gk ada lanjutannya
Chronos
lah tamat cuman sampai sini kah? gak ada lanjutannya gitu? gimana keadaan Rhea sama Norofi 😭
Chronos
Imphy?
Chronos
ada Indonesia coy
Chronos
oh jadi piper pied of hamelin itu mereferensikan organisasinya ya (nyulik anak-anak)?
Chronos
ada Indonesia coy
Azera
kapan update lagi kak lin, aku udah kangen banget sama zeze😭 udah berkali-kali aku lupa alur dan baca dari awal tapi belum ada updatenya lagi🥺
jeji hoha
kak kok gaada lanjutan,ini ceritanya masi gantung bgt. pliss lanjut
Nia Indawasih
kak lin ini novel dr tahun kapan si seingetku dr anakku belum ada sampe udah mau 5thn, dr pasang copot app nya 😂😂 gak kelar2
jeji hoha
thor,,,, ga update
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
Amethys: Samaaa, udh lumutan nih aku
total 1 replies
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
oceanad.
authornya suka bts kah?
Naturelight
kyaknya byk othor yg kcewa dg platform ini y
Nana Bee: betul
total 1 replies
Naturelight
1st love always fail in real life😟
Naturelight
pnsaran, Lin udh baca seri Red Queen blum y
Naturelight: iy, ad 4 buku, othorny Victoria Aveyard
total 4 replies
Alvia Maharani
thor.. uda setahun, ga mau update?
Alvia Maharani: lin, belum mau ada update??
total 3 replies
Naturelight
luv this story so much
brasa bca novel trjemahan
Naturelight
ap motif Glen?🤔
Naturelight
kyakny bkal ska ma ni crita, dh lama nyari² fanfic yg detail. smoga aj gk brenti d tengah jln
kika
bgus bgt thor karyanya...semangat thor...tpi jgn sampe lulus kuliah bru lanjut lagi update nya ya thor... wkwk...
L I N: makasih udah dukung kak 😺💕
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!