Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 35
Suara langkah terdengar memasuki ruangan, tempat Ellena berada saat ini. Sebuah kamar yang biasanya menjadi saksi pergulatan panas, hari ini menjadi saksi atas dinginnya sikap Marco.
Sejak pulang kerja beberapa saat lalu, dia memasang wajah masam dan kesal. Meskipun Ellena sudah menjelaskan bahwa Gibran hanyalah teman, tetapi Marco tetap merasa cemburu. Hingga akhirnya, dia mendiamkan istrinya itu sampai sekarang.
"Aku harus membujuknya sampai dia mau memberikan maaf. Nggak akan kubiarkan masalah ini berlarut-larut," batin Ellena, menatap lekat tubuh Marco yang hanya berbalut handuk. Suaminya itu memang baru selesai mandi.
Sambil menarik napas panjang, Ellena bangkit dari ranjang dan menghampiri Marco yang hendak berganti baju. Dia genggam tangan kekar itu dengan lembut, kemudian ditatapnya mata sang suami dengan raut sendu.
"Kak!" panggilnya, pelan dan tertahan.
Marco masih tidak menjawab, hanya wajah masamnya yang perlahan mengendur.
"Aku minta maaf, tadi aku memang salah. Aku pulang dengan lelaki lain tanpa izin dulu. Tapi, HP-ku benar-benar low bat, bukan karena sengaja mematikannya," sambung Ellena dengan tatapan yang belum teralihkan, tetap tertuju pada wajah Marco.
"Lain kali aku nggak mau seperti itu lagi. Meskipun teman, tapi dia laki-laki. Aku cemburu! Apalagi kalian pulangnya sampai selambat ini, memangnya berapa buku yang dia beli?" Marco masih terlihat kesal.
Sebelumnya, Ellena sudah menjelaskan bahwa Gibran mampir beli buku, dan dia terpaksa menemani karena sudah diberi tumpangan. Namun, menurut Marco itu tidak masuk akal, karena waktu yang dihabiskan terlalu lama.
"Iya, Kak. Aku janji nggak akan mengulangi lagi. Kejadian ini adalah yang pertama dan terakhir. Sebenarnya aku tadi juga kesal, Kak. Dia bilangnya sebentar, tapi ternyata lama. Tahu begitu aku nggak akan menerima tawaran dia," cakap Ellena, masih berusaha membujuk suaminya.
Marco mengembuskan napas kasar setelah mendengar jawaban Ellena. Meski dalam hatinya masih sedikit kesal, tetapi gemas juga saat melihat wajah cantik Ellena. Apalagi jemari sang istri itu tak lagi menggenggam tangannya, melainkan menyentuh dada Marco dengan mesra. Marco sampai merasakan bagian bawahnya berdenyut-denyut, dan membayangkan sesuatu yang lebih dari sentuhan.
"Kamu menggodaku, Sayang?" Marco tidak tahan lagi dengan sikap Ellena. Dia pun meraih pinggang istrinya itu dan merengkuhnya dengan erat. Hingga kini tubuh keduanya saling merapat.
Senyum Ellena mengembang ketika merasakan sesuatu yang hangat dan menonjol. Sepertinya, belut kesayangan sudah bangun dan siap berkunjung ke tempatnya.
"Kak Marco udah nggak marah lagi, kan?" tanya Ellena, sengaja menggerak-gerakan tubuhnya untuk menggoda belut sang suami yang masih terbungkus handuk.
Marco memejam, menikmati sentuhan-sentuhan Ellena yang mulai liar. Kemudian dia berbisik di telinga sang istri, "Sekarang ganti belutku yang marah. Kamu harus bertanggung jawab kalau dia ngamuk."
Ellena tertawa pelan mendengar bisikan Marco. Hatinya sangat senang karena suaminya itu sudah tidak marah lagi. Ellena pun kian gencar membangkitkan gaairah Marco. Selain memberikan gigitan-gigitan kecil di leher lelaki itu, tangannya juga bergerak lincah melepaskan lilitan handuk. Hingga kini tubuh Marco terbebas dari apa pun, dengan belut yang tampak kaku dan berurat.
"Aku nggak tahan lagi, Sayang," ucap Marco disertai desaahan. Sentuhan Ellena di bawah sana sangat hangat dan nikmat, Marco tak sabar untuk melakukan penyatuan bersamanya.
Dengan napas yang memburu karena terbakar hassrat, Marco meraih tengkuk Ellena. Lalu meraih bibir merahnya, dan membelit lidahnya dengan lembut.
Setelah cukup lama bertukar ludah, ciuman Marco mulai bergerak turun. Leher Ellena menjadi sasaran utama, sampai meninggalkan beberapa bekas kepemilikan.
"Kak Marco." Ellena merasakan nikmat ketika ciuman Marco beralih ke dada, yang kini sudah tidak tertutup baju.
Dengan lihai Marco menyapukan lidahnya di puncak bukit milik sang istri. Tangan pula tak tinggal diam, dan menggenggam bukit yang lain. Ellena sampai menggigit bibir bawahnya saking nikmatnya permainan itu.
"Kak, ayo! Aku udah nggak sabar menerima amukan belut kesayanganku ini," ucap Ellena di tengah-tengah desaahannya.
"Aku nggak akan membuatmu menunggu, Sayang. Kamu ratuku malam ini," jawab Marco dengan bisikan.
Kemudian, dia langsung menggendong tubuh istrinya itu dan membaringkannya di atas ranjang. Keduanya meninggalkan handuk dan baju yang kini tergeletak di lantai.
Dalam waktu singkat, belut milik Marco sudah melesak dan memenuhi tempat kesayangannya. *******-******* nikmat pun mulai memenuhi ruangan, yang lagi-lagi menjadi saksi pergulatan panas mereka.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...