Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Terselubung
Di awal-awal masa pernikahan, Hesti sama sekali tidak pernah memaksa untuk mengajak Kayla mengobrol panjang lebar. Sebagai wanita yang matang, ia sangat paham bahwa memaksakan kedekatan pada remaja yang sedang terluka hanya akan memperlebar jarak. Hesti memilih untuk membiarkan Kayla tenang, memberinya ruang untuk bernapas sebelum melangkah lebih dalam untuk mengenalnya.
Namun, diamnya Hesti bukan berarti acuh. Wanita itu selalu memberikan perhatian-perhatian kecil yang terselubung. Setiap pagi, Hesti diam-diam menyiapkan kotak bekal berisi makanan kesukaan Kayla dan menyelipkannya ke dalam tas sekolah gadis itu secara sembunyi-sembunyi. Tidak hanya itu, Hesti diam-diam selalu memantau perkembangan nilai Kayla di sekolah, mencari tahu apa saja bakat, minat, hingga hal-hal yang disukai oleh anak tirinya tersebut dari berbagai sudut.
Hingga pada suatu malam, ketegangan itu akhirnya pecah di ruang tengah saat Kayla baru saja turun ke lantai bawah untuk mengambil minum.
"Udah deh, jangan sok berlagak jadi ibu buat gue. Gue gak butuh!" cetus Kayla tiba-tiba, menatap tajam ke arah Hesti yang sedang merapikan majalah di meja.
Hesti menghentikan gerakannya. Ia tidak kelihatan sedih atau tersinggung. Sebaliknya, ia menegakkan tubuh, menatap balik Kayla dengan ekspresi wajah yang teramat tenang namun tegas.
"Siapa juga yang mau jadi ibu kamu?" balas Hesti santai, melipat kedua tangannya di dada. "Kebetulan aja orang yang saya cintai itu Papih kamu. Ya mau gak mau, saya juga harus sayang sama kamu, demi suami saya!"
Kayla mendengus sinis, memutar bola matanya remeh. "Halah! Suami hasil ngerampas kebahagiaan orang aja bangga lo!"
Mendengar tuduhan itu, alis Hesti terangkat sebelah. Ia sama sekali tidak terpancing emosi. Dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, ia membalas telak, "Minimal kalau gak tahu ceritanya, diem deh. Cek dulu faktanya kebenarannya gimana." Hesti melirik jam dinding lalu mengibaskan tangannya pelan. "Udah ah, sana naik tidur. Udah malam."
Skakmat. Kayla seketika bungkam, kehilangan kata-kata karena respons Hesti yang begitu berani dan tidak terduga. Kesal karena kalah telak dalam adu argumen, Kayla berbalik dan melangkah naik kembali ke kamarnya sembari menghentakkan kakinya dengan kasar ke anak tangga.
Namun, begitu pintu kamarnya dibuka, langkah Kayla mendadak terkunci. Di atas meja belajarnya, sebuah objek baru tampak berkilau diterpa lampu kamar. Itu adalah sebuah terarium mini berbentuk bulat yang sangat indah, berisi ekosistem tanaman hijau kecil dan bebatuan estetik di dalam kaca tebal. Siang hari tadi, Hesti sengaja menaruh benda itu di sana, karena ia tahu betul dari hasil pantauannya kalau Kayla sangat menyukai hal-hal yang berbau terarium, akuarium, dan sejenisnya.
"Waahh... bagus banget," gumam Kayla spontan, matanya berbinar menatap terarium itu dari dekat. Namun, sedetik kemudian dahinya berkerut dalam. "Bentar... ini siapa yang naro? Nenek sihir itu kah?"
Keesokan paginya, sebuah pemandangan langka terjadi di ruang makan. Kayla sudah duduk rapi di kursi meja makan, bersiap untuk sarapan. Kehadiran Kayla yang tidak mendekam di kamar itu seketika membuat Pak Hendra yang baru turun dari kamar mandi terkejut sekaligus luar biasa senang. Sementara itu, Hesti tampak sibuk bolak-balik menyajikan nasi goreng hangat dan lauk-pauk di atas meja.
Kayla mengetukkan jemarinya di atas meja, lalu menatap Hesti dengan pandangan menuntut. "Siapa yang naro terarium di kamar gue?"
Hesti meletakkan mangkuk buah tanpa menoleh ke arah Kayla. "Saya. Kenapa?" ucap Hesti singkat.
"Bakal gue buang," jawab Kayla ketus, mencoba memprovokasi ibu tirinya.
Hesti akhirnya menoleh, menatap Kayla dengan ekspresi datar yang tidak terganggu sedikit pun. "Terserah. Saya naruh di situ juga biar ada pemandangan yang bagus aja di kamar kamu. Kamar kamu sumpek banget soalnya, auranya negatif," jawab Hesti santai, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya menata piring.
Sialan lo! batin Kayla mengumpat geram. Lagi-lagi argumennya mentah di hadapan wanita itu. Pak Hendra yang duduk di antara mereka hanya bisa menyembunyikan senyum geli, merasa bersyukur karena Hesti bisa menghadapi sifat keras Kayla dengan cara yang cerdas.
Sementara itu, di tempat lain, urusan teror pesan misterius ternyata mulai bergeser ke arah yang berbeda. Kayla yang merasa frustrasi dan ketakutan karena tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya memilih untuk tidak menceritakan apa-apa kepada Arka. Ia tahu, jika Arka tahu, cowok itu pasti akan mengadu ke ayahnya dan mengurungnya di dalam rumah.
Sebagai gantinya, sebelum berangkat sekolah tadi, Kayla diam-diam mengirimkan tangkapan layar berisi pesan ancaman dan foto pengintaian dari nomor asing itu kepada Gavin. Ia merasa dunia Gavin yang liar lebih cocok untuk menyelesaikan masalah seperti ini.
Di parkiran sekolah yang masih sepi, Gavin berdiri bersandar pada motor sport-nya. Matanya yang biasa jenaka kini berkilat tajam, memancarkan aura dingin yang mematikan setelah menatap layar ponselnya. Foto Kayla yang sedang dibonceng olehnya beberapa waktu lalu terpampang nyata di sana, lengkap dengan kalimat ancaman dari si pengirim misterius.
Gavin meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengencang menahan murka yang membakar dada.
"Sialan. Jadi mobil hitam yang mepet gue waktu itu ulah orang ini?" desis Gavin berang.
Gavin tahu betul ini bukan sekadar urusan teror biasa. Orang ini dengan sengaja mengincar Kayla hanya untuk memancing dirinya, atau mungkin sebaliknya. Sebagai ketua anak motor yang memiliki banyak jaringan dan musuh di jalanan, Gavin tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milik sepotong rambut pun dari gadis yang sedang ia dekati itu.
Gavin memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket jeans-nya dengan gerakan kasar. Ia memanggil salah satu orang kepercayaannya lewat sambungan telepon. "Gue kirim satu nomor asing ke lo sekarang. Lacak lokasinya, cari tahu siapa pemiliknya. Gue mau data lengkapnya ada di meja gue sebelum jam istirahat siang ini selesai. Jangan sampai ada yang kelewat!"
Dengan Arka yang masih buta tentang apa yang terjadi, Gavin kini bergerak sepenuhnya di bawah bayangan. Ia bersiap memulai investigasinya sendiri, memburu sosok bermasker hitam yang berani mengusik ketenangan sang Princess.