Perpisahan Denan Al fatan dan Akia Rinjani di masa kecil. Akhirnya di pertemukan lagi lewat sebuah pekerjaan. Dimana Denan Al Fatan adalah CEO tempat Akia bekerja mencari uang.
Kisah cinta mereka banyak di taburi perselisihan, kesalah paham dan juga masalah keluarga.
Penyatuan cinta yang penuh warna-warni dalam sebuah kehidupan yang menjadikan mereka kuat dan tegar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Di Intograsi
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan dan tak jadi makan. Padahal rasa lapar masih menggelayut, cacing-cacing diperut mereka juga tengah demo untuk protes pada pemilik perut. Apalagi Denan, Ia sama sekali belum makan sedikit pun, rasa laparnya seketika hilang saat melihat Helen dan Rafa di tempat ini mengundang rasa kesalnya.
Cukup jauh menempuh perjalanan, mereka melintas di sebuah pedagang yang ada di pinggirim jalan. Mendadak Akia menyetop mobil mereka karena tak mampu lagi menahan diri.
"Berhenti sebentar, Pak!" pinta Akia cukup keras hingga
Revan pun menginjak rem dengan cepat.
"Ya ampun Akia mau apa lagi sih?" Protes Denan dengan suara yang cukup tinggi.
Akia tak menggubris, lalu berlari ke seorang pedagang siomai yang masih sibuk melayani para pembeli. Sudah lama Ia tidak pernah jajan itu lagi semenjak di kota.
"Ngapain dia?" Tanya Denan yang melihat Akia dari balik kaca spion pada Revan.
"Gak tau Bos, mau beli makanan itu kayaknya," jawab Revan acuh tak acuh.
"Dasar OG jorok, emang makanan pinggir jalan itu sehat apa? Tempat aja kotor begitu," ucap Denan lagi bersungut-sungut tak habis pikir kenal cewek kampung seperti Akia.
Tak lama gadis itu pun kembali dengan membawa tiga bungkus siomai yang ditusuk dengan tusukan dari bambu yang sudah dibersihkan lalu membaginya pada Denan dan Revan.
"Apa sih ini?" Tanya Denan heran sambil melihat Akia meniup siomai yang masih panas itu lalu melahapnya dengan nikmat.
"Ambil Bos dan rasakan kelezatannya!" Ucap Akia.
"Eh iya Bos ternyata sangat enak, cobain dulu Bos," ucap Revan yang sudah mencicipi lebih dulu.
"Iya tapikan tempatnya gak higenis belum lagi aku gak tau namanya," ucap Denan lagi meragu, tapi Ia juga merasa sangat lapar untuk menahan diri.
"Ini namanya Siomai Bos yang di balurin kedalam bumbu kacang. Bapaknya tadi rajin kok bahkan sangat bersih.Ato ambil ini adalah makanan favorit saya dikampung. aku sering banget membeli ini sama sahabatku sewaktu kecil," jawab Akia yang menyerahkan paksa bungkusan itu.
Denan mengkerut memperhatikan makanan ditangannya itu sambil penasaran dengan satu kata yang di dengarnya
"Sahabat...?"
"Iya, dulu aku punya sahabat karib, kami berpisah karena orang tuanya bekerja di kota," jawab Akia sambil kembali melahap Siomai yang bertabur bumbu kacang itu hingga bibirnya belepotan.
Replek Denan mengusap bibir itu dengan tangannya sesaat hingga bola mata mereka bertemu.
"Ehemz... ehemz...," goda Revan yang pura-pura tidak lihat.
"Eh iya maaf tadi belepotan." Lekas Denan menarik tangannya.
"Gak papa Bos," jawab Akia menjauh.
Denan pun mengangguk mengerti, lalu mencicipi Soiman miliknya. "Enak...," tukasnya tak percaya.
"Tentu saja makanan favorit," timbal Akia sumringah.
Tiba-tiba Revan dikagetkan sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti didepan Mereka hingga Ia kembali mengerem mendadak. Untung remnya masih berfungsi baik, sehingga masih bisa diajak kompromi.
"Hais, siapa mereka?" Decak Denan kesal padahal Ia masih mengunyah siomay dengan santai.
Tak lama beberapa orang turun dari mobil dan mengetuk pintu mobil mereka. Revan pun langsung menurunkan kaca jendela. Karena Ia paham siapa orang-orang itu.
"Bos, anda diminta untuk pulang segera bersama kami," tukas seorang dari mereka.
"Mau apa?" Sentak Denan mulai emosi.
"Kami tidak tahu, kami hanya menjalankan perintah, silahkan duluan, kami akan Giring dari belakang!" Ujar orang itu.
"Astaga mengesalkan sekali, mau apa lagi sih?" Jengah Denan seraya mengumpat. "Putar balik!" titahnya pada Revan.
"Oke Bos."
Revan pun memutar arah dan berbelok menuju rumah Denan dimana itu adalah jalan pintas untuk sampai lebih cepat tiba di rumah dimana mereka sudah disambut Oleh Pak Am dan beberapa penjaga halaman.
"Selamat malam Tuan," tukas Pak Am sambil membukakan pintu lalu membungkukkan badan. Namun Denan tak menggubris dan pergi melangkah lebih dulu diikuti Akia dan Revan yang menyusul turun.
"Van, apa dia Nona Akia?" Bisik Pak Am pada putranya.
"Iya Ayah," jawab Revan.
Akia memilih untuk bungkam dan sedikit merasa bingung telah berada di suatu tempat yang begitu membuatnya terperangah.
"Ini rumah presiden apa istana sih," gumamnya kebingungan dan terheran-heran.
Pak Am dan Revan yang mendengarnya pun mengulum senyum lalu membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang Nona, ini adalah kediaman Tuan Denan, silakan ikuti saya," tutur Pak Am.
"Mau kemana Pak?" Tanya Akia polos.
"Lebih baik ikut saja, Nona akan tau setelah berada didalam," jawab Pak Am.
Akia yang merasa gugup dan takut pun menjadi tidak nyaman ada ditempat itu. Entah apa yang akan dilakukan mereka padanya nanti setelah masuk.
"Pa, mau apa lagi sih Pa? Malam-malam begini, meminta kami untuk datang?" Protes Denan pada Rama yang masih duduk menumpukan kaki dan masih belum berucap apa pun.
"Pa, jangan-aneh dong Pa, Denan tidak suka," protesnya lagi dengan mimik wajah kesal.
"Tenang Den, Papa tidak akan menyakiti gadis itu," sahut Yuni yang muncul dari dalam.
"Ma, jangan bawa-bawa gadis itu dalam masalah ini," jengah Denan.
"Tidak, Papa hanya ingin mengetahui rumor kebenaran tentang hubungan mu dengan gadis OG itu," jawab Yuni tersenyum.
"Duduk!" Perintah Rama dengan sorot mata tajam.
Dengan malas Denan pun menuruti kemauan Papanya itu.
Tak berapa lama Akia yang di giring Pak Am dan Revan pun masuk. Akia yang melihat Revan dan Pak Am membungkuk pun ikut menirukan kebiasaan mereka sambil menunduk dan tak berani melihat.
Rama dan Yuni saling melempar pandang saat melihat Akia masih mengenakan seragam OG.
"Halo nak, siapa namamu?" Tanya Mama Yuni pada gadis itu.
"Akia, Bu," jawab nya lirih.
Rama mengangguk mengerti. "Sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Rama tiba-tiba membuat Akia ter jengah mendengar pertanyaan itu lalu menatap kearah sumber suara.
"Lho bukankah mereka Om Rama dan Tante Yuni," batin Akia yang masih mengenali dua orang paruh baya itu tapi Ia tak berani untuk menyapa takut jika Ia salah orang. Pasalnya, mereka tidak pernah bertemu lagi selama delapan tahunan. Tentu banyak perubahan yang terjadi.
"Kenapa tidak menjawab?" Tanya Rama. Sorot matanya amat tajam dan suaranya nampak dingin.
"Em... A-Aku_." Akia bingung harus menjawab apa pasalnya Ia dan Denan tidak lah berpacaran.
"Sudah Sepuluh hari," Sela Denan kemudian, tak ingin Akia ungkap kebohongannya.
"Apa kamu sadar siapa kamu?" Tandas Rama lagi mendesak.
"Papa...?" Denan merasa tak terima dengan ucapan Rama yang nampak terdengar memaksa Akia.
"Iya Om, saya hanya Office Girls di kantor Pak Denan," jawab Akia lirih.
"Kamu tau apa akibatnya kalau dekat dengan Denan?"
"Papa, mau apa Papa mengintrogasi Akia begitu?" Potong Denan kesal.
"Ti- tidak Om," jawab Akia gugup.