NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib

Status: tamat
Genre:Romansa-Teen school / Cintapertama / Spiritual / Tamat
Popularitas:4.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lili Hernawati

Aisha Rumaisha membenci Ibu tiri dan Ayahnya karena telah menyebabkan Mamanya jatuh depresi. Dan dia bahkan lebih membenci adik yang lahir dari rahim Ibu tirinya karena menjadi faktor utama Mamanya meninggal. Karena kebenciannya inilah dia membuat kesalahan, menjebak adiknya minum obat terlarang hingga dilarikan ke rumah sakit.

Kesalahan ini akhirnya menyebabkan Aish dikirim ke pondok pesantren, tempat udik dengan berbagai macam aturannya yang sok ketat dan menjengkelkan.

Berbagai macam cara dia lakukan agar bisa keluar dari pondok pesantren hingga akhirnya dia kembali bertemu dengan Muhammad Thalib Al Khalid. Seorang habib yang telah mencuri hatinya. Namun apa jadinya bila orang yang dia sukai ternyata telah memiliki tunangan seorang Sarifah?

Akankah dia melupakannya dan memilih tetap kabur dari pondok pesantren atau justru sebaliknya,

Dia memilih tinggal di pondok pesantren untuk memperjuangkan cintanya.

Jawabannya ada di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.6

"Hari ini Gadis udah janji mau bantuin kita bersihin dapur." Kata Gisel kepada kedua temannya.

Aish juga baru mengingat ini dan secara alami senang karena pekerjaan mereka setidaknya diringankan.

"Iya, dia pasti bantuin kok." Kata Aish tidak mau berpikir panjang.

Setelah itu mereka bertiga tidak berbicara lagi. Mereka sibuk melahap bubur ayam di atas meja. Perlahan perut kosong mereka dihangatkan dan terisi. Mereka tidak merasa lapar lagi tapi belum puas sepenuhnya.

"Ayo, pergi." Aish langsung memimpin jalan ke meja Gadis setelah menyelesaikan sarapannya.

Saat ini sudah banyak santriwati dan santri yang menyelesaikan sarapan. Mereka pergi satu demi satu dari stan makanan dan bergegas kembali ke asrama. Entah ingin melanjutkan tidur lagi atau melakukan bersih-bersih, semua orang punya rencana masing-masing.

Gadis saat ini masih belum menghabiskan sarapannya karena lebih banyak mengobrol dengan teman duduknya.

"Gadis, apakah kamu sudah selesai makan?" Tanya Aish berbasa-basi.

Gadis mengangkat kepalanya melihat Aish. Dia tersenyum malu sambil menggelengkan kepalanya. Dia masih belum menghabiskan sarapannya.

"Ada apa Aish, apakah kamu butuh bantuan ku?" Tanya Gadis lembut.

Aish mengangguk.

"Kamu bilang mau bantuin kami bersihin kamar mandi." Kata Aish singkat.

Beberapa orang di meja yang sama dengan Gadis sontak mengangkat kepala menatap ke arah Aish, Gisel dan Dira. Mereka menatap dengan ekspresi yang rumit sebelum beralih menatap ke Gadis.

Gadis tiba-tiba meletakkan sendok yang ada ditangannya.

"Aku... aku minta maaf, Aish. Aku sepertinya enggak bisa bantu soalnya aku harus nemenin Askia membersihkan perpustakaan pondok." Kata Gadis ragu-ragu.

Aish mengernyit, di belakangnya Gisel dan Dira saling memandang. Mereka jelas tidak suka dengan keputusan Gadis tiba-tiba setelah berjanji kemarin.

"Bukannya kemarin kamu udah janji mau bantuin kami?" Tanya Aish menyipit.

Melihat Gadis dipojokkan oleh Aish, teman-temannya langsung ikut berbicara untuk membantu Gadis lepas dari mereka.

"Gadis harus membersihkan perpustakaan sesuai dengan arahan ustazah Dian. Kalau Gadis melanggarnya, maka ustazah Dian akan mengurangi poinnya." Kata salah satu gadis yang paling dekat dengan Gadis.

Dia berasal dari asrama yang berbeda dengan Gadis tapi hubungannya cukup dekat. Karena itulah dia mau membantu Gadis.

"Oh." Karena dia sudah mengungkit nama ustazah ataupun membawa-bawa ancaman pengurangan poin, Aish tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Toh yang berjanji adalah Gadis sendiri dan yang mengingkari adalah Gadis sendiri, dia tidak memiliki masalah apapun lagi untuk dibicarakan walupun sebenarnya dia cukup kecewa karena pekerjaannya akan lebih berat dari yang diharapkan.

"Aku tidak akan memaksamu. Lagipula kamulah yang berjanji dan mengingkarinya sendiri." Kata Aish acuh tak acuh.

Wajah Gadis langsung cemberut, tampak sedih juga tidak berdaya.

"Apakah kamu marah, Aish?" Dia bertanya.

Bohong jika dia tidak marah.

"Tidak." Katanya biasa saja.

"Baiklah, kami harus pergi sekarang." Kata Aish seraya mengambil langkah menjauh tanpa memberikan Gadis kesempatan untuk berbicara.

Entahlah, apa ini hanya perasaan Aish saja. Tapi jujur, dia merasakan perubahan sikap Gadis kepadanya. Tapi itu tidak terlalu jelas atau mungkin, ini hanya perasaannya saja yang tidak berdasar. Pasalnya Gadis hanyalah kenalan baginya dan dia juga tidak terlalu mengenalnya jadi besar kemungkinannya bila ini hanya perasaannya saja.

"Matilah kita sekarang. Kamar mandi sebanyak itu harus dikerjakan kita bertiga. Hah, aku yakin enggak akan bisa makan setelah ini." Katanya jijik.

"Cek, kenapa harus kamar mandi sih." Desah Gisel tak senang.

Diantara semua pilihan kenapa harus membersihkan kamar mandi?

Tempat menjijikkan itu, mereka bertiga jelas tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri.

"Mau gimana lagi, kak- habib Thalib orangnya terlalu ketat. Kita enggak bisa melakukan apa-apa dibawah pengawasan matanya." Aish juga merasa sangat tidak puas dengan hukuman ini.

"Eh, aku tadi enggak salah dengar yah?" Dira melihat Aish dengan tatapan menyelidik.

"Apa?" Aish yang ditatap bingung.

"Kamu tadi manggil habib Thalib dengan sebutan kak?" Goda Dira bercanda.

Aish mengangkat bahunya acuh.

"Kepeleset. Enggak usah dipikirin." Katanya menutupi malu sambil mempercepat langkahnya menuju asrama.

Setelah mereka bertiga pergi dari stan makanan, teman-teman yang duduk bersama Gadis langsung berbicara.

"Gadis, kamu adalah anak yang baik. Aku enggak setuju kamu bergaul sama mereka." Kata seorang gadis tidak setuju.

Gadis menundukkan kepalanya malu.

"Mereka adalah orang-orang yang baik." Katanya lemah.

Tapi tindakan lemahnya ini justru semakin membuat mereka meragukan ucapannya.

"Kamu harus bisa melawan Gadis kalau disuruh-suruh sama mereka. Kalau kamu benar-benar enggak bisa, maka lebih baik melaporkan mereka saja ke Ustazah Nurul agar kamu tidak ditekan lagi." Kata gadis itu berbicara lagi yang langsung disetujui oleh teman-teman yang lain.

Gadis masih menundukkan kepalanya tidak berbicara. Sikap diamnya menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak baik-baik saja. Tepat saat mereka ingin membujuknya lagi, tiba-tiba Siti menginterupsi percakapan mereka.

"Gadis, kenapa kamu masih di sini?" Tanya Siti entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Gadis.

Gadis terkejut. Sontak dia mengangkat kepalanya untuk menoleh ke belakang.

"Itu...aku masih belum selesai sarapan." Kata Gadis.

Siti mengernyit,"Cepatlah makan dan segera pergi ke kamar mandi untuk menyusul para anak kota itu. Bukankah kamu kemarin berjanji untuk membantu mereka?"

Gadis tidak menyangka bila Siti akan langsung mengungkit masalah ini dan dia juga tidak berharap bila Siti mendengar pembicaraannya dengan Aish kemarin.

"Dia harus pergi ke perpustakaan denganku untuk bersembunyi dari mereka. Dia sangat mudah diganggu jadi aku tidak ingin melihatnya dekat dengan mereka." Kata gadis lain langsung menjawab tanpa menunggu suara Gadis.

Siti tidak terkejut tapi sinar matanya jelas menunjukkan keanehan.

"Oh. Kalau begitu aku pergi. Assalamualaikum." Salam Siti kepada mereka semua.

Dia langsung pergi meninggalkan Siti dan teman-temannya tanpa menunggu mereka mengucapkan salam terlebih dahulu.

...***...

Sebelum kaki mereka menyentuh ubin lantai asrama, kedatangan mereka telah disambut oleh sekelompok staf kedisiplinan asrama putri yang terdiri dari 4 orang.

Melihat kelompok orang yang mengibarkan bendera keadilan ini, Aish, Dira, dan Gisel tanpa sadar membuang muka. Mereka jelas tidak sudi bertemu atau berhubungan lagi dengan mereka. Mungkin jika itu adalah kelompok Nasha, mereka masih akan memberikan wajah, tapi sayangnya orang yang datang menghalangi mereka adalah Khalisa, Meri, dua lainnya tidak dikenal karena mereka belum pernah bertemu.

"Assalamualaikum." Salah Nasha sopan dan lembut kepada mereka bertiga.

"Waalaikumussalam." Aish tidak mau menjawab dan bahkan Gisel pun bungkam, jadi mau tidak mau hari ini Dira kembali menjadi juru bicara kelompoknya.

1
Anggita Gita
thor season 2 nya🥺
Anggita Gita
Plis kak adain part 2 secepetnya🥺
Anggita Gita
part 2 nya gada kak🥺
kuro
mantul
kuro
aku dah baca 2 x Thor, cerita nya keren
kuro
cerita nya bagus tapi yg like sedikit.
kuro
kaya nya mereka udah nikah ka. cuma ais belum tau
Siti Kusniawati
Alhamdulillah ditunggu lanjutannya cerita Aisah tpi cerita Gisel juga ditunggu lanjutannya ya . trimakasih banyak ya 🙏
Rani
Good
minasri narsi
Thor mn season 2nya ??
Arya Al-Qomari@AJK
sangat puas n mengagumkan 🥰🥰🥰🌹🌹🌹👍👍👍
Arya Al-Qomari@AJK
yang Syarifah aja ditolak sama habib Khalid apalagi si Aira betina munafik Yo gk bakalan lah.
Arya Al-Qomari@AJK
mungkinkah Sina bukan anak Walid? soalnya kata2 Walid ambigu sekali"ana jangan merepotkan Walid dg masalah yg terjadi pada ana".
Arya Al-Qomari@AJK
Allahu Akbar 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Arya Al-Qomari@AJK
baca cerita ini malah teringat dengan cerita ttg aish dkk n ustadz Vano
Arya Al-Qomari@AJK
satu keluarga pada gk bener.
Arya Al-Qomari@AJK
mungkinkah habib Khalid sudah menikahi aish tapi tanpa sepengetahuannya aish? soalnya habib Khalid secara terang-terangan menemui aish walaupun dengan dalih patroli.
Arya Al-Qomari@AJK
munafik teriak munafik. dasar gadis betina aneh
Arya Al-Qomari@AJK
di novel season 1 q baca nangis terus. kasihan aish yg kehilangan kasih sayang orang tua dan dianggap selalu salah.
kuro: terimakasih ka😍
total 4 replies
Luluk Syrfh
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!