NovelToon NovelToon
Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Fantasi Timur / Pendekar / Epik Petualangan / Petualangan Fantasi-Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Lahir dari wanita cantik berusia ratusan tahun di dasar Jurang Lolongan, menjadikan Arda Handara bayi yang sangat istimewa. Dalam tubuhnya mengalir darah orang-orang sakti, terutama dari garis ayahnya sebagai Raja Kerajaan Sanggana Kecil.

Sebagai putra pertama Joko Tenang alias Prabu Dira Pratakarsa Diwana yang memiliki sebelas orang istri, Pangeran Arda Handara adalah kandidat kuat Putra Mahkota Kerajaan Sanggana Kecil.

Tanda-tanda bahwa kelak Arda Handara akan menjadi raja yang sakti mandraguna sudah terlihat sejak dini. Memiliki seorang ayahanda raja yang digdaya dan ibu yang sangat sakti, maka tidak heran jika sedari kecil sudah tangguh dan memiliki beberapa kesaktian.

Kenakalannya yang seolah mendapat restu dari sang ayah, menciptakan banyak kegemparan.

Ketika Joko Tenang mengutus Permaisuri Dewi Ara ke Negeri Karang Hijau, sebagai anak, Arda Handara ikut menemani ibunya. Misi ini menjadi perjalanan pertama Arda Handara di kancah dunia persilatan, di mana banyak musuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PHT 35: Menghajar Cumi Hutan

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*

 

Tegang meliputi para pendekar Pasukan Pengawal Bunga, meski mereka adalah para pendekar tingkat tinggi yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana Kecil. Terlebih mereka melihat Surya Kasyara, Sugigi Asmara, Badirat, dan Tangkil Ilir yang sudah pernah bertarung melawan Cumi Hutan, tegang.

Gelapnya malam dan senyapnya pergerakan Cumi Hutan membuat suasana kian horor.

Kontras dengan Prabu Dira dan para istrinya yang jauh lebih tenang.

Tempat terbaik para pendekar berkumpul adalah di lahan tanaman biru. Mereka membentuk lingkaran tiga lapis di bawah komando Reksa Dipa yang kini berjuluk Pendekar Serat Darah.

Prabu Dira dan para istrinya plus Riskaya, mereka tidak turut dalam kumpulan itu, tetapi berposisi terpisah. Permaisuri Sri Rahayu tetap terbang berkendarakan asap merah yang beracun.

Di antara mereka, hanya Permaisuri Sandaria yang bisa memastikan bahwa makhluk yang mengepung mereka adalah Cumi Hutan, karena dialah satu-satunya orang yang bisa merasakan keberadaan Cumi Hutan tanpa pernah melihatnya. Kondisi terang atau gelap seperti saat itu, bagi Permaisuri Sandaria sama saja.

“Hihihi! Waktunya berburu cumi-cumi!” teriak Permaisuri Sandaria bersemangat dengan hidung mungilnya dikerutkan dan sedikit lidahnya ditongolkan di sudut bibir, sambil menunjuk ke langit dengan tongkat biru kecilnya.

Arg!

Setelah itu, Satria tiba-tiba berlari ke satu arah lalu melompat menerkam di dalam kegelapan. Selanjutnya, Satria telah menangkap sesuatu yang panjang, yang digigit dan diinjak dengan cengkeraman kukunya.

Ratu Tirana, Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Getara Cinta, dan Permaisuri Kusuma Dewi segera turun dari punggung para serigala yang mereka tunggangi. Mereka membiarkan para serigala itu ikut berburu Cumi Hutan seperti Satria.

Ketika Permaisuri Sandaria memutuskan berburu, tiba-tiba terdengar suara yang ramai di dalam kegelapan, yaitu suara rayapan makhluk-makhluk yang bernama Cumi Hutan.

Reksa Dipa dan seluruh personelnya bisa melihat pergerakan tanaman yang begitu ramai, menunjukkan bahwa ada makhluk seperti ular yang merayap cepat di dalam tumbuhan tersebut. Pergerekan tanaman di sekeliling mereka membuat para pendekar itu tidak bisa menghindari rasa tengang. Semua senjata sudah tergenggam di tangan.

“Hancurkan!” teriak Reksa Dipa berkomando.

Seolah sudah di-briefing sebelumnya, kelima puluh pendekar itu kompak berlompatan ke udara. Ketika mereka berlompatan sambil memegang obor, di bawah terlihat sejumlah makhluk seperti belalai berwarna hitam yang mencoba berdiri demi menggapai kaki-kaki para pendekar yang diserbu. Namun, upaya para Cumi Hutan gagal.

Sess! Bses! Zezz …!

Dari udara itu, para pendekar itu melesatkan berbagai macam ilmu kesaktian mereka masing-masing, berupa sinar-sinar yang warna-warni dan berbagai macam wujud.

Blar blar blar …!

Ladang tanaman biru itu seketika berubah menjadi medan perang dengan terciptanya puluhan ledakan yang menghancurkan dan membakar. Di antara tanah dan tanaman yang hancur naik ke udara, ada sejumlah Cumi Hitam yang juga terpental naik demi merasakan sensasinya terbang.

Sementara Prabu Dira dan sebagian para istrinya mengandalkan sentilan-sentilan tenaga dalam tinggi kepada setiap pergerakan Cumi Hutan, yang mendekati kaki-kaki mereka. Ada Cumi Hutan yang muncul dari tebing jurang, ada yang muncul dari balik tanaman, dan ada yang muncul dari dalam air sungai. Yang dari dalam air mungkin pasukan marinirnya.

Tus tus tus …!

Setiap Cumi Hitam yang terkena tembakan tenaga dalam, mereka akan terpental lalu merayap cepat melarikan diri.

Beda cerita yang dilakukan oleh Permaisuri Pedang dan Permaisuri Tangan Peri.

Permaisuri Kusuma Dewi memainkan ilmu pedangnya. Jarangnya dia bertarung, membuatnya seolah menemukan lawan, meski sekelas binatang.

Set set set …!

Tidak perlu bertemu langsung dengan Cumi Hutan, cukup jarak jauh saja. Permaisuri Kusuma Dewi memainkan tebasan pedang di tempatnya berdiri dengan begitu cepat, tidak terbaca oleh mata pendekar biasa. Dari permainan itu, berlesatan sinar-sinar hijau tipis ke sejumlah target. Itulah ilmu Tarian Pedang Gemulai, meski tidak terlihat sifat gemulainya sedikit pun.

Sejumlah Cumi Hutan harus menderita penjagalan, tubuhnya terpotong-potong, seolah benar-benar hendak dijadikan sate cumi.

Sementara itu, Permaisuri Ginari melepaskan sepuluh butir sinar merah kecil, tapi bisa dikendalikan lesatannya ke mana saja. Sinar-sinar merah itu bukan sinar sekali pakai, tapi berulang kali pakai.

Ketika sinar-sinar merah kecil itu mengenai Cumi Hutan hingga berbolongan, mereka masih bisa diarahkan menyerang Cumi Hutan yang lain. Begitulah kehebatan ilmu Jari Pengendali Kunang-Kunang.

Hebatnya cumi-cumi hutan itu, setelah ladang tanaman biru dihancurkan yang membuat mereka porak-poranda, dari berbagai arah kembali muncul pergerakan yang jumlahnya masih banyak.

Blet blet blet!

“Ak! Ak! Ak!” jerit para pendekar ketika kaki mereka dililit oleh sesuatu yang tertutupi oleh gelap dan dedaunan biru.

Mereka yang dililit langsung ditarik jatuh dan diseret.

“Saling melindungi!” teriak Badirat kencang saat melihat beberapa rekannya sudah ada yang ditarik oleh si Cumi Hutan.

Wus wus wus …!

Ilmu Sukma Bayang Wujud Reksa Dipa langsung aktif. Lima bayangan wujud dirinya yang serupa melesat keluar dari dalam tubuhnya.

Zess zess zess …!

Blar blar blar …!

Kelima sosok duplikat itu berbekal sinar merah pada kedua tangannya. Mereka langsung menghantamkan sinar-sinar merahnya kepada titik pergerakan di dalam tumbuhan biru. Sepuluh ledakan tercipta menghancurkan tanah dan tanaman biru, termasuk mementalkan beberapa Cumi Hutan.

“Beraninya kalian!” pekik Nyi Mut, pendekar wanita berpesolek tebal yang bersenjata dua pedang kembar. Ia diseret hendak diculik mesra oleh seekor Cumi Hutan.

Crek!

Nyi Mut menusukkan kedua pedangnya di tanah dengan kuat, membuat ia bisa bertahan dari tarikan pada kedua kakinya. Nyi Mut melawan dengan kedua kakinya. Dia melempar kedua kakinya ke atas yang dililit oleh seekor Cumi Hitam. Lemparan kaki bertenaga dalam itu membuat Cumi Hutan tersebut lepas dan terlempar ke udara.

“Ciaaat!” pekik Nyi Mut yang cepat melompat ke udara menyusul si Cumi Hutan yang hilang kendali.

Set set set!

Tiga tebasan pedang yang sangat tajam cukup menghabisi riwayat si Cumi Hutan.

Beda cerita dengan Surya Kasyara. Pendekar Gila Mabuk itu bertarung tinju melawan seekor Cumi Hutan yang berdiri tegak seperti punya kaki saja. Jika Surya Kasyara bertarung dengan dua tinjunya, maka Cumi Hutan bertarung dengan ujung belalainya.

Setiap kali si Cumi Hutan menusukkan ujung belalainya kepada Surya, pemuda itu begitu licin mengelak hanya dengan cara memainkan lehernya bak seorang petinju legendaris Naseem Hamed. Jurus mabuknya yang membuatnya menjadi tidak tersentuh.

Bubuk buk!

“Hahaha!” tawa Surya Kasyara setelah tiga tinju kerasnya menghantam beruntun tubuh Cumi Hutan.

Tinju yang bertenaga dalam itu membuat Cumi Hutan limbung.

“Fruuut!”

Tiba-tiba Surya Kasyara menyemburkan air berapi kepada Cumi Hutan. Ilmu Semburan Naga Api Mabuk itu membakar si Cumi Hutan.

Di sisi lain, Tangpa Sanding yang dililit kaki hingga pinggang, menghujani si Cumi Hutan dengan tinju yang bertubi-tubi tanpa henti.

Buk buk buk …!

Mungkin ada seratus tinju cepat bertenaga dalam tinggi yang menghujani si Cumi Hutan. Setelah tinju itu selesai, maka si Cumi Hutan yang melilit melorot seperti celana di malam pertama.

Sementara pendekar cantik bernama Sekarembun berlari di atas pucuk-pucuk dedaunan biru.

Set set!

Sambil berlari dengan ilmu peringan tubuhnya, dia meniup sumpitnya. Beberapa jarum beracun yang tidak terlihat, melesat dan menancap di tubuh seekor Cumi Hutan yang sedang menarik cepat tubuh salah seorang pendekar.

Cumi Hutan pun terkejut saat terkena jarum sumpit. Ia langsung melepas mangsanya dan merayap pergi, tapi di tengah jalan dia diam tidak bergerak.

Banyak cara yang dilakukan oleh para pendekar dalam melawan serangan para Cumi Hutan. (RH)

1
Bocil
rokoh tokoh namanya susah diingat ber akhiran A .terlalu banyak permasuri jarang ada cerita yg seru seperti pertarungan soalnya ini verita tentang raja dan kerajaan
Anugrah Sanjaya
Luar biasa
Anugrah Sanjaya
Lumayan
Aromatheracy
Luar biasa
Idrus Salam
Kasih minum atau makan dulu itu pendekar...
M. Syafri
Luar biasa
syamsul bahri
sudah sekian chapter tapi tokoh utama masih anak2 dan belum diketahui kesaktiannya apa aja
Om Rudi: semoga bisa betah. tokoh utamanya ibu dan anak
total 1 replies
Ilham Tanjung
Lumayan
asta guna
cakeeeeppp
Om Rudi: terima kasih sudah betah di novel Om
total 6 replies
asta guna
omongannya setajam silet
asta guna
author kamvret
𝓛𝓮𝓸 [off]
bunyi apa tuh hehehe
𝓛𝓮𝓸 [off]
wah apaan nih masa nggak lolos kerajaan
𝓛𝓮𝓸 [off]
ada apa berlari kencang ini mirip Sonic sih
asta guna
bongko cocotmu we... Ra sopan babar blas mpel tompel
asta guna
gejrot haahhaha
Bimo
ceritanya sangat bagus dan alur ceritanya mudah dimengerti.
Om Rudi: terima kasih Bang Bimo
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
Jelas dendam lah, Dendam kesumat malah 😂 Pendekar lagi tidur disiram air, apa kata dunia kalo tau 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
Ha ha haaa... cuma di sanggana bunyi telor pecah.. Set! Cplok! 😂😂🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 𝓐𝓡 -𝓡𝓾𝓶𝓲 🏡s⃝ᴿ
Ha Ha Ha.. nama Anjing nya Gowo 😂 udah matang lagi, tinggal di cocol kecap manis 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!