NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Ke Pantai

Sore itu, setelah seluruh agenda bisnis selesai, suasana tim PT Dirgantara Group jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya.

Investor terakhir baru saja meninggalkan ruang pertemuan dengan senyum puas. Kerja sama yang mereka perjuangkan selama berbulan-bulan akhirnya resmi disepakati. Begitu pintu ruang rapat tertutup, beberapa staf langsung bersorak pelan.

"Yes!"

"Akhirnya berhasil juga!"

"Astaga, aku mau tidur tiga hari tiga malam!"

Tawa langsung pecah di seluruh ruangan.

Bahkan Rina yang biasanya tenang terlihat lega. "Kita berhasil lagi, Dara."

Dara tersenyum kecil. "Iya."

Saat semua orang sedang sibuk merayakan keberhasilan mereka, pikirannya justru berada di tempat lain. Ia ingin cepat pulang secepat mungkin. Karena berada di hotel yang sama dengan Alexander membuatnya semakin sulit bernapas.

Sementara itu di ujung ruangan, Alexander berdiri sambil berbicara dengan beberapa investor. Namun sesekali tatapannya tanpa sadar mengarah ke Dara. Dan setiap kali melihat wajah pucat wanita itu, dadanya terasa semakin berat.

Beberapa menit kemudian...

Salah satu staf tiba-tiba berseru. "Tuan Alexander!"

Alexander menoleh.

"Karena semuanya berhasil, bagaimana kalau kita refreshing sebentar sebelum pulang?"

Beberapa orang langsung menyambut. "Iya Tuan! Kita belum sempat jalan-jalan sama sekali! Kerja terus dari kemarin!"

Alexander terdiam sejenak, biasanya ia akan langsung menolak. Namun hari itu berbeda, suasana tim sedang sangat baik. Mereka memang pantas mendapat penghargaan.

Alexander akhirnya berkata, "kalau begitu kita tambah satu hari."

Ruangan langsung hening.

Satu detik kemudian... "Haaaah?!"

"Serius Tuan!"

"Iya saya serius." Alexander mengangguk. "Besok pagi baru kembali ke Jakarta."

Sorakan langsung memenuhi ruangan. "Tuan Alexander terbaik!"

"Pantai! Pantai!"

"Beneran liburan!"

Bahkan beberapa staf sudah mulai sibuk membuka ponsel mencari rekomendasi pantai terdekat.

Rina ikut tertawa. "Akhirnya kita bisa jalan-jalan juga."

Namun di tengah kegembiraan itu. Dara justru membeku. Besok? Bukan hari ini? Dadanya langsung terasa sangat sesak. Ia sudah berharap bisa segera kembali ke Jakarta. Menjauh dari semua yang terjadi, menjauh dari Alexander. Namun ternyata mereka harus menginap satu malam lagi.

"Dara?"

Rina menoleh. "Kamu nggak senang?"

Dara langsung tersadar. "Eh?"

"Liat deh yang lain senang banget."

Dara memaksakan senyum. "Iya... aku juga senang kok."

Namun Rina merasa ada yang aneh dengan Dara sejak tadi malam. "Kamu mau pulang ya?"

Dara tertawa kecil. "Iya sih."

"Kamu capek?"

"Hm."

Rina mengangguk mengerti. "Tenang aja. Kita cuma mau senang-senang sebentar, mumpung kita masih di Surabaya."

Dara tidak menjawab, karena yang membuatnya lelah bukan pekerjaan. Melainkan perasaannya sendiri.

Menjelang sore, rombongan akhirnya berangkat menuju sebuah kawasan pantai yang terkenal tidak jauh dari kota Surabaya. Langit mulai berubah keemasan, angin laut berembus lembut. Begitu turun dari bus, para staf langsung bersorak.

"Waaaah!"

"Bagus banget!"

"Ayo foto!"

Beberapa orang langsung berlari menuju bibir pantai. Ada yang sibuk berfoto, ada yang bermain pasir, dan ada pula yang langsung membeli kelapa muda. Suasana benar-benar santai.

Dara memilih berjalan pelan menjauh dari keramaian. Sepatu sandalnya ia lepaskan, kakinya menyentuh pasir yang hangat. Kali ini ia merasa sedikit tenang. Angin laut menerbangkan rambut panjangnya. Suara ombak terdengar menenangkan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena tanpa disadari. Beberapa meter di belakangnya. Alexander sedang memperhatikannya. Pria itu berdiri sendirian dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Dara sejak siang tadi. Dan semakin lama ia melihat wanita itu. Semakin yakin dirinya bahwa Dara sedang menanggung sesuatu sendirian. Sesuatu yang berhubungan dengannya.

Sementara itu, Dara sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut. Ia hanya memandang laut yang membentang luas di depannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Bahwa setelah mereka kembali ke Jakarta, semua akan kembali normal. Meskipun jauh di dalam hatinya, Dara tahu. Tidak ada yang akan benar-benar sama lagi setelah malam itu.

Dara berdiri cukup lama di tepi pantai. Angin sore menerpa wajahnya. Kini pikirannya terasa sedikit lebih tenang. Ombak datang dan pergi silih berganti, seolah membawa pergi segala kegelisahan yang selama ini memenuhi dadanya.

Di belakangnya, suara tawa para staf masih terdengar. Rina sedang sibuk berfoto bersama beberapa rekan kerja. Bahkan Pak Ganjar yang biasanya serius terlihat ikut tersenyum saat dipaksa berfoto oleh para staf muda.

Suasana terasa hangat, namun tidak bagi Alexander. Pria itu masih berdiri tidak jauh dari sana. Kedua tangannya berada di saku celana. Tatapannya sesekali tertuju ke arah Dara. Ia sendiri tidak mengerti kenapa. Yang jelas, sejak melihat rekaman CCTV tadi siang, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Tiba-tiba...

Suara klakson mobil terdengar dari area parkir pantai. Beberapa staf menoleh.

"Masih ada tamu lain ya?"

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh dari lokasi mereka. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria tinggi keluar dari sana.

Alexander yang awalnya tidak terlalu memperhatikan langsung menyipitkan mata. Wajah itu tidak asing... Aldi.

Rahang Alexander seketika mengeras. "Apa yang dia lakukan di sini?"

Di sisi lain, beberapa staf terlihat terkejut. "Itu kan Pak Aldi?"

"Loh iya."

"Ngapain dia ke sini?"

Aldi berjalan santai sambil membawa senyum lebar khasnya. Tatapannya menyapu area pantai beberapa saat. Lalu berhenti, tepat pada Dara. Senyumnya langsung melebar.

Alexander yang melihat itu langsung memahami satu hal. Pria itu datang bukan karena urusan pekerjaan. Dia datang untuk Dara. Entah bagaimana, kesadaran itu membuat dada Alexander terasa tidak nyaman.

Sementara itu, Dara yang mendengar namanya dipanggil akhirnya menoleh.

"Dara!"

Mata Dara membelalak. "Pak Aldi?"

Aldi melambaikan tangan dari kejauhan lalu berjalan mendekat. "Kaget ya?"

"Kok kamu bisa ada di sini?"

Aldi tertawa kecil. "Aku tahu dari Rina kalau kalian nggak jadi pulang sekarang, ya udah aku susul aja."

Dara terlihat benar-benar terkejut. Sedangkan dari kejauhan, Alexander memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Tatapannya semakin dingin ketika melihat Aldi dan Dara mulai berbicara.

Mereka tampak akrab. Pak Ganjar yang berdiri tidak jauh darinya diam-diam melirik wajah atasannya. Lalu langsung menelan ludah. Astaga. Sudah bertahun-tahun bekerja bersama Alexander. Dan ia sangat mengenal ekspresi itu.

Ekspresi yang muncul ketika seseorang mulai menganggap sesuatu sebagai miliknya... lalu melihat orang lain mendekat.

"Tuan..." gumam Pak Ganjar pelan.

Alexander tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Aldi. Dan tepat saat itu... Aldi tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dara terlihat terkejut. Sedangkan Alexander langsung membeku di tempat. Kotak itu...

"Kenapa Aldi memberikan kotak itu pada Dara," batinnya. Tanpa sadar tangannya mengepal. "Apa mungkin Aldi menyukai Dara."

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!