Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22.
Selama Salindra di rumah sakit, teman satu divisi pemasaran penasaran dengan keadaan Salindra. Mereka beranggapan kalau Salindra sakit hati karena turun jabatan dan merasa stres. Ada juga yang menyimpulkan kalau Salindra sedang bersama seorang pria. Dan banyak lagi omongan buruk tentang Salindra dari para karyawan di perusahaan tempat Salindra bekerja.
Di ruang Direktur Haikal menatap layar laptop, jarinya bergerak di atas keyboard dengan cepat dan menekan enter tanda pekerjaan selesai. kemudian meneguk minuman di gelas.
Asisten Rayan memberikan informasi tentang karyawan divisi yang sedang membahas karyawan lain kepada bosnya. Haikal ingin tahu apa yang terjadi dengan Salindra. Ia melihat cctv melalui layar laptopnya. Beberapa menit kemudian ia melihat beberapa peristiwa yang menimpa Salindra termasuk saat bertemu dengan Citra di lorong ruangan. Tangan Haikal mengepal melihat adegan tersebut, dalam hatinya mengumpat kesal.
“Rayan, apa kamu sudah menyelidiki tentang video kemarin?“ tanya Haikal kepada Asistennya.
"Saya belum menemukan pelakunya, Pak. Mohon bersabar," jawab Asisten Rayan sambil melihat ke layar laptopnya.
“Apakah Salindra hari ini masuk?" tanyanya lagi.
Asisten Rayan menghentikan mengetik, matanya melihat Haikal wajahnya nampak khawatir. Ia mengernyitkan dahinya karena ada yang aneh pada bosnya itu ketika menyebut nama Salindra.
"Saya tidak tahu, Pak!" jawab Asisten Rayan.
Haikal memanggil Sekretarisnya untuk ke ruangannya. Beberapa menit kemudian datanglah Elis masuk ke ruangan Direktur sambil menunduk hormat.
"Selamat siang, Pak. Ini Laporan yang bapak minta, Oh iya, nanti ada meeting dengan klien dari perusahaan CV mandiri," kata Sekertaris Elis meletakkan map di atas meja Haikal, kemudian pamit keluar.
Sepeninggal Sekertaris Elis, ponsel Asisten Rayan berdering sebuah notifikasi masuk langsung membuka chat dari seseorang. Ia melihat video yang memperlihatkan seorang pria masuk ke dalam ruang meeting tapi wajahnya tidak terlihat karena memakai masker postur tubuhnya juga tidak nampak jelas. Asisten Rayan mengernyitkan dahinya, dan melebarkan mata, juga zoom video tersebut.
“Aku harus pastikan cctv di ruangan meeting masih on waktu itu," batinnya kemudian mematikan video tersebut dan beranjak dari tempat duduk melangkah dengan cepat, tanpa memperdulikan keberadaan Haikal.
Haikal melihat Asistennya pergi penasaran, ingin mengikuti tiba-tiba ponselnya berdering panggilan dari rumah. "Iya, Ma,"
_
_
"Aku akan pulang setelah selesai pekerjaanku," sahutnya lagi, kemudian menutup panggilan.
Di ruang meeting Asisten Rayan melihat cctv rusak parah, ia memperhatikan dengan jelas seperti di sengaja. "Kurang ajar, siapa yang sudah berani masuk dan merusak fasilitas ruang meeting. Aku akan menangkapnya dan menghukumnya," gumamnya.
Seseorang masuk ke ruang meeting dengan mengendap dan berjalan ke arah cctv, alangkah terkejut saat melihat cctv yang akan ia perbaiki tidak ada. Ia merasa curiga ada orang yang mengetahui kalau cctv ruang meeting rusak.
“Sial, kenapa bisa ketahuan. Padahal sejak kemarin tidak ada orang masuk tapi, kenapa bisa begini," gumamnya dengan perasaan kesal.
Orang itu memperhatikan seluruh sudut ruang meeting tidak terlihat ada orang. Ia menelpon seseorang dengan perasaan khawatir dan cemas. “Halo, Mbak Citra, cctv di ruang meeting kok tidak ada, apa Mbak citra menyuruh orang mengambil cctv?"
Di ruang divisi Citra menerima panggilan dengan suara lirih agar tidak diketahui orang lain sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
“Apa kamu bilang, cctvnya tidak ada, aku tidak menyuruh orang. Kamu pasti bohong, pokoknya kamu selesaikan tugasmu agar tidak ada orang yang tahu rencana kita," perintah Citra.
“Baik, Mbak," jawabnya dengan perasaan tidak enak.
Di tempat persembunyian Asisten Rayan mendengar pembicaraan orang itu dengan karyawan bernama Citra, sambil mengepalkan tangannya. Ia ingin keluar dari persembunyian berjalan ke arah orang tersebut yang sedang merancang cctv, langkahnya terhenti ketika melihat ada orang masuk mendekati orang tersebut.
"Apakah kamu butuh bantuan?" tanya Arya memakai masker berdiri tak jauh dari tempat orang itu.
Tangan pria itu bergetar, jantungnya berdegup cepat, matanya melebar sempurna melihat seorang pria berbadan tegap menghampirinya dengan pandangan santai. Arya melihat rakitan yang dipegang orang tersebut tersenyum licik.
“Aku tahu apa yang sudah kamu perbuat di perusahaan ini, apa kamu masih ingin bekerja di sini?" tanya Arya menatap tajam kepada pria didepannya.
Orang suruhan itu adalah salah satu OB di perusahaan Haikal. Dan sudah tahu seluk beluk tempat di perusahaan tersebut. Orang itu melihat wajah Arya ketakutan.
"Siapa kamu?“ tanya OB bernama Egi menantang.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, justru aku yang tanya sama kamu, apa yang kamu lakukan di sini... Apakah ada orang yang menyuruhmu datang ke mari atau atas niat hatimu sendiri?" Arya menarik napas kasar dan membuangnya.
"Tidak ada, aku hanya menjalankan rencana ku sendiri. Memangnya kenapa, lebih baik kamu pergi dari sini tidak usah ikut campur," kata Egi berbohong menutupi rencananya dengan Citra.
"Masih mau ngelak, apa kamu lupa siapa yang memasukkan mu ke perusahaan?" sahut Arya datar.
Egi terdiam mendengar ucapan Arya, kemudian hendak meninggalkan ruangan ditahan oleh Arya. Tangan Arya memegang sangat kuat sehingga Egi tidak bisa melepaskan diri kemudian membawanya keluar dari ruangan tersebut menuju parkiran di mana motor Arya terparkir.
Arya membawa Egi ke kantor polisi. Di sana keduanya dimintai keterangan terkait perbuatan Egi. Selang beberapa waktu Arya keluar dari kantor polisi sedangkan Egi diputuskan bersalah, pada lahirnya menjadi tahanan atas kasus pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan berencana. Pihak kepolisian segera mencari dalang dari perencanaan tersebut.
Setelah tidak ada urusan Arya pulang ke rumah sepanjang perjalanan pulang Arya memikirkan Salindra, entah mengapa tiba-tiba ia ingin bertemu dengan Salindra. Ia melajukan motor menuju perusahaan Haikal mencari Salindra. Ia memarkirkan motornya lalu, berjalan masuk ke dalam perusahaan tapi, ketika hendak masuk ke dalam Lift mendengar percakapan beberapa karyawan sedang membicarakan Salindra. Ia menghentikan langkahnya.
"Salindra hari ini tidak masuk, kenapa ya?" tanya Dila.
"Iya aku juga penasaran kira-kira sakit atau ada masalah keluarga ," sahut yang lain.
“Mana aku tahu," sahut Agil sambil mengangkat bahu.
"Jadi, Salindra tidak masuk hari ini!" Arya tidak jadi masuk karena tujuan mencari Salindra tidak membuahkan hasil. Ia akan pergi ke rumah Salindra melihat keadaannya saat ini.
Motor Arya berhenti di depan rumah Salindra, terlihat pintu tertutup rapat. Seorang tetangga melihat Arya tersenyum senang mendekatinya sambil membenarkan letak rambutnya dan merapikan ke belakang telinga.
"Mas cari siapa?“ tanya Nuning tetangga Salindra.
“Aku mencari Salindra, apa dia ada di rumah?“ jawab Arya lalu bertanya balik.
“Tadi aku lihat dia sama kakaknya pergi bersama," jawab Nuning semakin dekat dengan Arya.
Arya mengerutkan alisnya arah pandangannya pada rumah di depan matanya. Dalam hati setahu dia, Salindra tidak masuk, kalau pergi pun kemana?
"Apakah anda tahu kemana mereka pergi?" tanya Arya.
“Aku tidak tahu, tapi kalau butuh bantuan aku siap membantu, Mas-nya yang ganteng ini," jawab Nuning meraba tangan kekar Arya dengan senyum menggoda.
Arya melihat Nuning menggodanya tubuhnya bergidik risih. Ia menjauh dengan menjaga jarak sambil naik ke atas motor. Lalu menyalakan mesin dan segera meninggalkan Nuning.
“Loh, Mas. Kok langsung pergi, belum juga ketemu sama Salindra, Mas. Kita belum kenalan, main pergi sih," pekik Nuning memanggil Arya sambil melambaikan tangan.