Masih dalam area bacaan 25 tahun ke atas.
Apa yang terjadi ketika masa pubermu datang, dimana secara psycologi kamu masih labil.
itulah yang dialami seorang pemuda, ketika dalam mencari jati diri, Barno hanyut dalam lingkungan kehidupan yang mengarahkan nya ke petualangan cinta, yang di penuhi gejolak batin.
Dua wanita yang termasuk sepupunya sendiri, Ia terjebak dalam perasaan.
**************
Barno hanya diam, bingung mau menjawab apa. Ia tidak menyangka kalau Suhut akan menagih janjinya beberapa hari yang lalu. Semua itu berawal dari kekesalannya akibat ejekan temannya itu, yang menyatakan kalau dirinya adalah pria cupu dalam hal bergaul dengan wanita.
"Hei, gimana? Kau bilang sudah punya pasangan bebas kemarin. Jadi nggak kita tukar pasangannya," tanya Suhut dengan bibir menukik kebawah, memancarkan sebuah ejekan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uncle Jo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
jangan lupa ya buat dukungannya. like, komentar, fav, bunga atau kopi dan juga 🌟🌟🌟🌟🌟.
terima kasih, semoga terhibur.
💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫💫
Sore hari yang begitu cerah, Dengan gontai Barno berjalan dan masuk kedalam rumah kontrakannya. Wajahnya tertunduk lesu ketika membuka pintu.
"Aku pulang!" ucapnya lemah ketika melihat Butet sedang duduk di depan pintu.
"Kau sudah pulang? Liana dimana?" tanya Butet sumringah. Ia begitu senang melihat Barno pulang.
"Dia sudah pulang ke kosannya," sahut Barno berjalan menuju kamarnya.
"Apa perjalanannya menyenangkan?
Walau Butet merasa ada sesuatu yang tidak begitu menyenangkan yang terlihat dari raut wajah Barno, tapi Butet tetap bertanya untuk memastikan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menebak kalau Barno ada masalah dengan Liana, mungkin keduanya bertengkar lagi.
"Aku lelah, aku mau istirahat dulu, jangan ganggu aku."
Butet hanya diam melihat Barno memasuki kamarnya dengan wajah lesu. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi. Namun, Butet segera mengambil ponselnya dan menghubungi Liana, untuk bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Barno menutup pintu kamarnya dan bersandar di pintu, menatap tangannya yang telah menyentuh bagian berharga milik Liana.
"Sial! Apa yang telah aku lakukan?" Mendengus, lalu menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya.
Merenung sendirian sambil menatap langit-langit kamar. Barno merasa khawatir dengan hubungan kedepannya dengan Liana, pasti akan merasa canggung. Barno menjadi gelisah.
Begitu juga dengan Liana yang berbaring di atas ranjangnya, ia menutupi wajahnya dengan bantal. Pikirannya melayang tentang apa yang telah dilakukannya kepada Barno waktu liburan itu. Ia terus mempertanyakan pada dirinya. Kenapa dia sampai harus menghisap milik sepupunya itu? Kenapa dia tidak bisa menahannya ketika Erna bercerita betapa besarnya milik Barno dan betapa perkasanya sepupunya itu memberikan kepuasan batin kepada Erna?
"Ahhhh, sial! Andai kau menyukaiku, Bar. Aku pasti rela."
Liana bangkit dari tempat tidur untuk mengambil minuman dari dalam kulkas, Ketika membuka pintu kulkas, Liana terdiam menatap kosong ke dalam kulkas, teringat betapa hangatnya milik Barno menyentuh vagi–nya dari luar waktu itu.
"Tidak bisa begini. Lebih baik aku pergi belanja dulu."
Liana melihat jam di ponselnya, ham setengah lima sore. Ia pun beranjak keluar menuju warung sembako terdekat untuk belanja keperluannya.baik minuman kaleng, sarden, sayur-sayuran, dan yang lainnya. Setelah belanja Ia kembali pulang dan menyusun belanjaannya ke dalam kulkas.
Akan tetapi, ia kembali termenung saat menaikan sayuran jenis terong ke dalam pendingin. Tatapannya kosong ke arah terong yang ada di tangannya, tapi pikirannya melayang ke hal lain. Ia teringat dengan permainan Barno dan Erna di dalam hutan, lalu terbayang Barno yang dia hisap malam itu, sentuhan Barno di tempat berharganya ketika mereka kembali ke kosannya. Semua kejadian itu silih berganti berputar dalam ingatannya.
"Aishh…! Ada apa denganku? Apa yang aku pikirkan ini?"
Segera Liana menyelesaikan pekerjaan, ia tidak ingin berlarut-larut dengan pikirannya yang aneh, hanya gara-gara melihat terong tersebut. Ia duduk di sisi ranjang dan menggelengkan kepala. Lalu menghempaskan tubuhnya dan meletakkan lengannya di kening
"Kenapa aku bisa membuatkan itu terjadi? Dan kenapa aku terus memikirkannya? Kalau seperti ini terus, dia dan aku…. Ah, Tidak! Liana ayo cuci otakmu."
Tok … tok….
Liana tersadar dari lamunannya ketika terdengar suara ketukan di pintu. Segera ia bangun dan membuka pintu, dan terlihat sebuah senyum manis dari seorang yang sangat dikenalnya. Dia adalah Butet.
"Kenapa pula wajah kau lesu kali?"
Liana tidak menjawab dan kangkung berbalik dan duduk di sisi ranjang. Butet masuk dan menutup pintu.
"Kau kenapa? Bingung aku melihat kalian setelah pulang liburan. Bukannya senang malah manyun," ucap Butet yang mengambil minuman soda dari dalam kulkas, lalu duduk di samping Liana.
"Kalian, aku, kali!" ujar Liana.
"Hahahaha. Ya, kalianlah! Si Barno juga gitu, pulang-pulang mukanya kayak pantat ayam, keriput." Butet kembali tertawa.
💋💋💋💋💓💓💓💓💓💋💋💋💋
*Argon* , kurus panjang, susan 🙏🙏🙏