Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Ups kelepasan
[Dia bilang... Jauhin Bang Asep]
Tulis Ela lagi.
Kais mengerutkan kening.
Tak mau kena marah Ibunya lagi, akhirnya Kais memilih menunjukkan tulisan pesan Ela saja pada Ibunya.
Tampak Ibu bergidik.
Kais lalu berdiri untuk memberitahu Bang Sobir, abangnya, mumpung ia belum balik ke rumah Bibik Bang Asep.
"Bang... Bang Sobir."
Panggil Kais.
Panggilan Kais tentu saja membuat obrolan Bapak dan Abangnya jadi terhenti, kedua laki-laki itu menatap kedatangan Kais yang terlihat terburu-buru.
Kais mendekati Sobir lalu memperlihatkan hp nya.
"Apa ini Kais?"
Tanya Sobir.
"Ela, kirim pesan, baca deh Bang."
Kata Kais.
Ibu Iswanto menyusul Kais ke ruang depan.
"Jangan disebut namanya, nanti dia merasa dipanggil."
Kata Bu Iswanto.
"Dia siapa Bu?"
Tanya Bapak yang jadi kepo.
Bu Iswanto duduk di samping Bapak.
"Lontongnya ditinggal?"
Tanya Bapak lagi, heran Ibu dan Kais malah jadi duduk di depan semua.
"Sudah matang, kompor sudah Ibu matikan."
Kata Ibu.
Sobir yang sudah selesai membaca tulisan pesan Ela di aplikasi chat adiknya tampak merinding.
"Pantas..."
Lirih Sobir.
Bapak, Ibu dan Kais menatap Sobir.
"Pantas apa Bir?"
Tanya kedua orangtuanya nyaris bersamaan.
Kais sendiri memilih duduk di samping abangnya dan menempel karena takut.
"Nama itu, Asep menyebutkannya beberapa hari lalu saat baru tinggal di rumah Bik Marni."
"Hah..."
Semua melongo.
"Yang kata Asep dia nganterin cewe itu pulang ke rumahnya, yang katanya rumahnya ada di sekitar sekolah SD ku, yang padahal di sana kan selain pemakaman dan kebun, hanya ada bangunan ya gudang meubelnya Bu Hajjah Liliek."
Kata Sobir.
Ibu dan Bapak mantuk-mantuk.
Lalu...
"Apa mungkin hantu itu suka sama Asep..."
Gumam Bu Iswanto merinding.
"Ikh Ibu, ngeri banget sih."
Kais tambah nempel Abangnya.
"Duh takut nih Bang jadinya."
Kata Kais.
"Lah kamu mending di rumah, ini Abang gimana mau balik ke rumah Bik Marni tahu cerita begini."
Kata Sobir galau.
Pak Iswanto mantuk-mantuk, ia yang ada keturunan orang pinter tampak menerawang.
Lalu...
"Mungkin sebelum dia mati ada hubungan dengan Asep aslinya, coba kamu tanyakan saja pada Asep, mungkin dia lupa pernah punya pacar atau bagaimana."
Kata Bapak.
"Lah Pak, itu hantu namanya sama kayak yang anak bunuh diri di rel kereta, anak angkatnya pak Umar juragan sapi."
Bu Iswanto jadi bahas asal usul si Melati.
"Lah iya, kan siapa tahu Asep sebetulnya ada hubungan sama itu anak."
Sobir mengerutkan kening.
"Tapi Pak, kalau memang Asep ada hubungan harusnya dia ketemu langsung tahu itu hantu Pak, lah ini Asep saja malah sampai mau ngapelin ke rumahnya."
Kata Sobir.
"Yang dia akhirnya pingsan di sini itu kan kejadian dia habis dari rumah si itu kan Bang?"
Kais ikut nimbrung juga.
Sobir mantuk-mantuk.
"Oooh begitu."
Pak Iswanto mantuk-mantuk lagi, lalu...
"Ya berarti kita musti undang baik-baik hantunya, ajak bicara dari hati ke hati biar dia bisa menyampaikan apa yang sebetulnya ia inginkan."
Kata pak Iswanto yang tentu saja langsung disambut penolakan keras keluarganya.
"Ooh tidak Pak, terimakasih... Bapak kalau sampai begitu, Ibu mogok masak seminggu."
"Kais tidak mau disuruh beli kue pancong dan pukis lagi."
"Saya dukung Ibu dan Kais, Pak."
Sobir mendukung demonstrasi Ibu dan adiknya.
Pak Iswanto jadi terkekeh.
**-------------**
Di rumah Bik Marni, Asep masih menunggu Sobir pulang di depan rumah bersama Bani yang sebetulnya sudah mulai mengantuk tapi tak berani masuk ke dalam rumah.
Hingga kemudian terlihat sorot lampu motor mendekat.
Dikira Sobir, tampak Asep dan Bani berdiri dari duduk mereka.
Namun...
Motor yang datang itu berhenti, dari boncengan turun seorang gadis cantik.
"Lah..."
Asep kaget bukan main, karena saudara sebuyutnya datang tiba-tiba.
Gadis cantik itu memberikan uang seratus ribu ke tukang ojek yang mengantarnya.
"Duh uang kecil aja Neng."
Kata tukang ojek.
Asep mendekat karena terlihat saudaranya itu geratakan isi dompetnya.
"Berapa Pak?"
Tanya Asep.
"Dua puluh ribu Bang."
Kata Tukang ojek.
Asep memberikan uang tiga puluh ribu kembalian beli martabak.
"Lebih sepuluh Bang."
Kata tukang ojeknya.
"Tidak apa Bang, buat tambahan beli rokok."
Sahut Asep sambil membantu mengangkat tas pakaian yang diletakkan di bagian depan motor.
"Wah makasih Bang."
Tukang ojek itu sumringah.
Setelah Asep mengambil tas pakaian yang ada di motor si tukang ojek, Bapak ojek itupun akhirnya permisi.
"Bang Asep lagi di sini?"
Friska, saudara satu buyut Asep surprise mendapati Asep ada di rumah Bik Marni.
"Aku tinggal di sini sekarang, Bik Marni nemenin si SaNi yang baru beli rumah dan masih takut tinggal sendirian."
Kata Asep.
"Ooh, aku baru tahu Bang."
Ujar Friska.
"Tidak hubungi Bik Marni tadi?"
Tanya Asep yang sambil mengajak Friska masuk.
"Tidak Bang, Friska juga kepikiran ke sini tiba-tiba saja, ceritanya panjang."
Friska matanya berkaca-kaca.
Sepertinya ia sedang ada masalah, dan jika melihat sampai bawa tas pakaian begini, sepertinya ia kabur dari rumah.
Asep yang enggan tanya lebih jauh akhirnya memilih membawakan saja tas pakaian Friska ke kamar SaNi.
Setahu Asep, kalau Friska dan Dede Aisyah anak Uwaknya menginap, diijinkan tidur di kamar SaNi.
"Ban, masuk saja Ban, kayaknya Sobir nginep di rumah orangtuanya."
Kata Asep.
Bani akhirnya menurut menyusul Asep masuk ke dalam, menutup pintu rumah lalu menguncinya.
"Sudah makan belum Fris?"
Tanya Asep yang meletakan tas pakaian Friska di atas karpet kamar SaNi.
Tampak Friska menggeleng.
"Belum Bang."
"Doyan mie instan nggak? Atau mau Abang belikan nasi goreng saja?"
Tanya Asep.
Friska cepat menggeleng.
"Sudah jam 22 lebih, tidak usah repot keluar Bang."
Asep mantuk-mantuk.
Tentu saja, Asep juga berharapnya tidak usah pakai keluar rumah lagi, soalnya dia takut ketemu hantu Melati.
"Kalau begitu bikin mie instan saja ya?"
Friska mengangguk setuju.
"Kalau mau mandi, ada tuh air panas di tremos, pakai saja."
Friska mengangguk lagi.
Asep keluar dari kamar SaNi, ia mendapati Bani tiduran di sofa depan TV.
"Katanya ngantuk, malah nonton TV Ban?"
"Ah iya Sep, nggak apa di sini saja sambil nunggu kamu juga masuk kamar."
Kata Bani.
Asep nyengir keki.
Dia penakut, ditemenin sama penakut, jadilah duo penakut jadi satu.
Batin Asep.
Asep melangkah menuju dapur, tak lama Friska juga menyusul dengan membawa handuk dan peralatan mandi.
Hantu Nenek yang santai saja kedatangan Friska yang memang termasuk juga cucunya terlihat memilih ikut duduk di ruang TV bersama Bani tanpa Bani sadari.
Tapi karena Bani nonton TV tidak fokus nonton karena sebetulnya ia mengantuk, akhirnya malah mainan remote bolak-balik pindah channel, dan tentu saja itu membuat Nenek dongkol.
Kesal dengan kelakuan Bani, akhirnya Nenek menabok kepala Bani.
"Bolak balik ganti channel, pusing nenek!"
Omel Nenek.
Bani yang ditabok jelas saja melompat kaget, dan ngacir ke dapur.
"Seeeep, ada yang nabok kapalakuuuuuu."
Waduh...
Nenek sadar kelepasan jadi tepuk jidat.
**---------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus