"Ini semua memang takdir, aku melewati dimensi dan tiba di dunia kuno ini juga bukan tanpa alasan"
-----------------------------------------------------------------
Amanda atau yang sekarang berganti nama menjadi Zhu Xia. Mengeluh dan merutuki nasibnya yang sangat sangat tidak masuk akal ini.
Berpindah dimensi ke zaman kuno dan lagi pindahnya ke negara asing bukan negara sendiri.
Kekayaan bukanlah hal utama untuk bertahan hidup di dunia ini. Kekuatan! Kekuatan absolut lebih berharga.
Kekuatan seperti apa?
Yaitu kekuatan yang dimiliki oleh para kultivator.
______________________________________
Ini kisah Amanda atau Zhu Xia yang harus bertahan hidup dan beradaptasi di negara yang asing serta di jaman yang kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Sebagai Pemenang
Kang Zhu Ran tidak menjawab pertanyaan Zhu Xia, wajahnya malah semakin memerah, persis seperti orang yang menahan berak.
Zhu Xia melihat sekeliling karena suasana terasa sangat hening. Dengan pedang ditangannya, Zhu Xia berjalan kearah Zhi Xi dengan ekspresi kebingungan.
Suara besi diseret terdengar jelas di sekitar arena membuat mereka yang mendengarnya bergindik ngeri, hawa dingin seketika menjalar ke sekujur tubuh mereka.
"Eh? Zhi Xi! Kenapa tanganmu memegang 'itumu?'"
Zhu Xia bertanya ketika dirinya sudah berada didekat Zhi Xi yang masih melayang menaiki busur panahnya.
Apa yang terjadi? Kenapa semua orang diam saja?
Dipikirannya saat ini Zhu Xia menebak, mungkinkah Yang Shuyan telah menggunakan mantra penghenti waktu?
Zhu Xia berjalan ke pinggir arena dan melihat Yang Shuyan yang juga terdiam dengan mulut sedikit terbuka.
"Ada apa ini? Kamu juga terpengaruh mantramu sendiri, Yang Shuyan?"
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mungil itu, bibir kanan atas Yang Shuyan berkedut.
"Zhu Xia..apa yang kamu lakukan?"
"Eh? Kamu berbicara padaku?"
Zhu Xia menghela nafas lega sebelum melanjutkan, "Untunglah! Kukira kamu juga jadi patung seperti mereka, kamu memang hebat Yang Shuyan"
Zhu Xia mengacungkan jempolnya kepada Yang Shuyan.
Zhi Xi tersadar dari lamunannya, ia pun berdekhem agar perhatian Zhu Xia kembali padanya.
Zhu Xia yang mendengar dekheman Zhi Xi segera berbalik dan mendekatinya.
"Eh! Zhi Xi! Akhirnya kamu bangun"
"Ah!"
Zhi Xi langsung membenarkan posisi tangannya saat Zhu Xia dengan polos menatap tangannya yang ada dibagian 'itunya' dari bawah.
Tentu saja polos! Zhu Xia mungkin sering melihat adegan ciuman di drama kolosal China yang ia tonton. Tapi saat ia jatuh hati pada Arga–dosennya itu, tak pernah sedikit pun dirinya membayangkan hal seperti itu, apalagi hal yang berhubungan dengan burung puyuh.
"Apakah aku menang?"
"Hm! Kamu menang!"
"Akhirnya! Yey!"
Zhu Xia melompat melupakan tubuhnya yang dalam keadaan lelah.
Duukk...
"Aww! Aduh"
Zhu Xia terjatuh karena kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya dari lompatan yang tidak dikondisikan. Zhu Xia terjatuh dengan wajah yang mencium tanah, pedangnya juga ikut tergeletak dengan cukup mengenaskan.
"Tetua ketiga! Muridmu sungguh kasihan!"
"Apa maksudmu sebenarnya, tetua keempat?"
Tetua keempat menghela nafas pelan lalu menceritakan tentang belati hitam yang ada ditangan Zhu Xia. Tentu saja tetua keempat menjelaskannya melalui pesan ilahi.
Mendengar itu, tetua ketiga langsung mengalihkan pandangannya dari tetua keempat ke arah muridnya–Tian Zhu yang sedang menatap lurus arena.
"Ekhem! Dua tetua! Dua junior! Tolong perhatikan tangan kalian!"
Tetua keempat berkata dengan mata tertutup rapat, pipinya yang putih sedikit memerah seperti telah memakai blush on.
Keempat orang yang berada di balkon menara lantai empat spontan menatap tangan mereka yang berada ditempat yang salah.
Tangan mereka langsung menghilang dari tempat terlarang itu, ada yang menggaruk kepalanya, ada yang memindahkannya ke pinggiran kursi ada juga yang menggenggam tangannya erat.
"Ekhem. Peserta yang satu ini cukup mengerikan!"
"Kau benar tetua ketiga! Mereka para perempuan tidak ada yang tidak mengerikan! Mereka semu-"
Tetua kelima berhenti berbicara ketika merasakan aura membunuh menusuk tubuhnya.
"Hehe.. Tetua keempat.."
Tetua kelima hanya bisa tertawa pelan dengan perasaan was was. Dirinya lupa kalau diantara mereka saat ini ada seorang wanita yang tak kalah mengerikannya dari seekor monster.
Zhu Xia turun dari arena sedangkan Kang Zhu Ran pingsan lalu diangkat oleh beberapa orang untuk menuruni arena.
Para peserta bergindik ngeri saat melihat wajah Kang Zhu Ran yang diangkat melewati mereka, lagi lagi tangannya memegang 'itu' secara spontan, mereka menggenggamnya dengan kedua tangan seolah-olah itu adalah berlian yang harus mereka jaga, walaupun nyawa taruhannya.
"Ck. Trik murahan!"
Ucap Putri Huamei.
Ia tak habis pikir kenapa para pemuda yang menjadi peserta terlihat begitu takut melihat 'itu' orang lain ditendang.
Memang.
Bukan hanya Putri Huamei saja yang terlihat biasa saja, gadis lainnya juga bersikap santai. Toh rasa sakit terlukai pedang sudah mereka rasakan, tertendang seperti itu saja tidak ada apa-apanya dimata mereka.
Tapi bagi sebagian orang yang sudah mengerti seperti Yang Shuyan, mereka juga seolah merasakan sakitnya tertendang. Mereka merasa prihatin pada Kang Zhu Ran yang merupakan korban kepolosan Zhu Xia.
"Hei! Lepaskan kami!"
Teriak Qin Shan pada Zhi Xi.
Tanpa berbalik, Zhi Xi mengibaskan tangannya kebelakang. Tali perak transparan pun hilang dari tubuh mereka berdua, hal itu membuat keduanya tersentak dan merasa lega secara bersamaan.
"Kedua, An Ming dan Ruoxin"
Zhi Xi dengan segera mengumumkan pertandingan kedua babak kedua.
"Zhu Xia"
Qin Shan segera memapah Zhu Xia saat sudah turun dari arena, sedangkan Yang Shuyan langsung mengambil pedang yang ada ditangan Zhu Xia.
"Untung saja Zhu Xia tidak merusakmu"
Yang Shuyan memeluk pedang yang sudah berada disarungnya dengan sangat erat, ia bahkan menciumnya beberapa kali.
"Kamu! Kamu ternyata lebih khawatir pada pedang itu?"
"Hileuh. Memangnya apa yang harus ku khawatirkan darimu?"
"...Seseorang berkata kamu tidak akan mati, dan aku hanya percaya saja pada orang itu"
Yang Shuyan mendumel dengan mata melirik Zhi Xi.
"Yang menangis sampai ingusnya keluar, siapa yah? Atau mungkin aku salah lihat!?"
Qin Shan berkata dengan wajah yang melihat kesana kemari. Pura-pura mencari orang yang ia katakan tadi.
"Siapa?"
Zhu Xia menoleh pada Qin Shan yang sedang memegang tangannya agar tubuhnya tidak tumbang.
"Ah sudahlah Zhu Xia, jangan dengarkan dia. Pegang ini! Biar aku saja yang membantu Zhu Xia!"
Yang Shuyan melemparkan pedangnya pada Qin Shan dan langsung mengambil alih Zhu Xia. Dan itu membuat Zhu Xia hampir terjatuh karena pegangan Qin Shan yang terlepas.
"Aaa aa aaa.."
Zhu Xia sempat kehilangan keseimbangan. Untung saja Yang Shuyan langsung memegangi lengannya yang satu lagi, menghentikan dirinya untuk kembali mencium lantai.
"Awwwss.. Jangan menarikku seperti ini"
Zhu Xia meringis merasakan lengannya ditarik paksa.
"Hei! Tunggu aku"
Qin Shan menyusul kedua gadis itu dengan pedang di kedua tangannya. Satu miliknya dan satu lagi milik Yang Shuyan.
Pertandingan kedua masih berlanjut, sama seperti Zhu Xia dan Kang Zhu Ran, An Ming dan Ruoxin terlihat imbang, membuat pertandingan kedua babak kedua itu tidak membosankan sama sekali.
"Tidak bisakah membiarkanku istirahat dibawah pohon?"
"Tidak bisa! Kamu pikir kita akan mudah melewati lautan manusia dibelakang kita itu?
Zhu Xia menekuk wajahnya mendengar jawaban Yang Shuyan.
Mereka hanya pergi menjauh dari depan arena, bukan pergi dari kerumunan peserta.
"Qin Shan pegang dia!"
"Tapi pedangnya.."
"Tsk. Simpanlah dulu di tanah!"
"O-oh baik baik"
Qin Shan segera menyimpan kedua pedang itu di tanah, lalu memegangi kedua lengan atas Zhu Xia dari belakang.
"Makan ini"
"Apa?"
"Pil obat? Kamu tidak buta bukan?"
"Ck"
Zhu Xia berdecak mendengar jawaban Yang Shuyan.
Basa basi! Kamu tau tidak, Yang Shuyan?
Basa basi? Hal itu wajar! Karena dirinya berasal dari Indonesia yang terkenal akan basa basi, tentu saja hal itu terbawa sampai ke jaman kuno.
Zhu Xia memakan pil obat yang sedang Yang Shuyan pegang.
"H-hueek"
"Hei ada apa?"
Tanya Qin Shan.
Sedangakan sang pelaku hanya tersenyum puas.
"Kenapa pahit sekali?"
"Pil obat dimana-mana memang pahit, kalau mau yang manis, makan saja manisan!"
"Tapi ini terlalu pahit untuk sebuah pil! Kamu...tidak sedang meracuniku kan?"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh!"
Yang Shuyan menyentil kening Zhu Xia.
"Awwsss.. Sakit! Yang Shuyan"
Zhu Xia meringis merasakan panas pada keningnya.
"Hei! Jangan menyakitinya!"
Qin Shan akhirnya bersuara.
"Tidak apa, aku baik-baik saja"
Ucap Zhu Xia mengusap-ngusap keningnya.
Yang Shuyan diam-diam memutar bola matanya melihat kedua orang didepannya itu.
Yang Shuyan mengangkat telapak tangannya dan mengarahkannya pada dada Zhu Xia.
"E-eh! Apa yang kamu lakukan?"
"Menyembuhkanmu!"
Zhu Xia merasakan sedikit hangat ditubuhnya, ternyata Yang Shuyan sedang mengalirkan energi spiritualnya.
"Tapi kamu juga pasti kehilangan banyak energi sebelumnya, ini tidak perlu!"
"Diamlah! Kamu hanya perlu memfokuskan diri untuk mencerna obatnya"
Pak..
"Qin Shan?"
Zhu Xia mencoba menoleh ke belakang. Terlihat Qin Shan juga menempatkan tangannya di salah satu sisi punggung Zhu Xia.
"Aku juga akan membantumu menyembuhkan luka luar"
Ucap Qin Shan pada Zhi Xi.
Yang Shuyan tersenyum, lalu mulai fokus menyembuhkan luka dalam Zhu Xia.
Ck. Lukanya terbuka lagi!
Yang Shuyan mengerutkan keningnya saat merasakan beberapa luka dalam Zhu Xia yang kembali memburuk.
"Baiklah!"
Zhu Xia mulai memfokuskan diri untuk mencerna pil obat yang sangat pahit itu. Sebenarnya ada pil obat yang tidak pahit, tapi karena Yang Shuyan sedang merasa kesal, ia akhirnya memberikan obat yang lebih pahit dari biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...****************...
......................
^^^Majalengka, 04 November 2021^^^
^^^Ttd. Author🍃^^^
Hallo kak👋..
Apa kabar? Apakah kalian selalu menunggu novel ini untuk update? Komen dibawah yah hehe😁.
Like, vote di setiap episode jika kalian suka novel ini:v
bukan lagi beberapa hari tapi sudah beberapa bulan...hmp😥😥😥