WARNING!
Bukan Untuk Anak di bawah umur (21+)
Cinta segitiga dan patah hati yang membuat baper berat.
No Debat dan baca dengan bijak!
Hanya sekedar hiburan bagi yang ingin kisah cinta romantis.
Wilona tidak menyangka jika selepas kepergian sang ayah, ibunya menikah lagi dengan seorang duda kaya raya. Akibat pernikahan itu, Wilona harus bersaudara dengan Wildan, anak cowok menyebalkan yang menjadi saingannya di sekolah.
Wildan yang belum bisa menerima pernikahan papanya, memilih kuliah di luar negri. Setelah perpisahan bertahun-tahun, Wilona bertemu kembali dengan Wildan saat mereka dewasa. Namun sikap Wildan berubah drastis. Dengan pesonanya, ia berusaha mendekati dan menggoda Wilona. Namun benarkah Wildan jatuh cinta pada Wilona? Atau justru Elzen, sang CEO playboy, yang tulus mencintai Wilona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kamu Bukan Takdirku
Terkuaknya kenyataan pahit tentang Wildan, membuat hati Wilona hancur.
Layaknya para gadis muda, Wilona selalu memimpikan datangnya seorang pangeran yang akan memenuhi hidupnya dengan gemerlap cinta. Ketika Wildan datang menawarkan cinta palsu, dengan naifnya ia mengira jika Wildan adalah pangeran impiannya.
Karena kenaifannya juga, Wilona begitu percaya pada kemurnian dan kekuatan cinta. Hingga acapkali ia menuliskan cerita-cerita yang terlalu indah pada novelnya. Sayangya di dunia nyata, kisahnya sendiri malah berbanding terbalik.
Apa yang disebut cinta justru telah membuatnya sesakit ini. Merasa hampa, sendirian, dan kehilangan harapan. Semua tulisannya mengenai cinta selama ini hanyalah sia-sia belaka. Bagaikan rangkaian huruf demi huruf yang tak bermakna dan sudah kehilangan nyawanya. Setelah ini, ia mungkin akan berhenti menjadi seorang penulis novel. Rasanya ia tidaknsanggup lagi membohongi diri sendiri dengan serangkaian ilusi cinta yang jauh dari kenyataan.
Hampir semalaman, Wilona sulit memejamkan mata. Namun, ia memutuskan untuk tetap mengajar di sekolah pagi ini. Mulai sekarang, Wilona sudah berjanji pada dirinya untuk menjadi wanita yang tangguh.
Dia tidak akan lagi meratapi nasibnya maupun terus menerus larut dalam kesedihan. Apalagi sampai membiarkan dirinya dipermainkan oleh Wildan. Dengan penuh keyakinan, ia akan berusaha menjalani hari demi hari seperti dulu, ketika Wildan belum hadir dalam kehidupannya.
"Kak Wilo, Kakak sudah mengajar hari ini?" tanya Reymond memandang Wilona yang sudah rapi dengan baju kerjanya.
Wilona sengaja mengoleskan make up yang lebih tebal dari biasanya, untuk menutupi bekas air mata dan kesedihan yang tersisa di wajahnya.
"Iya, Rey. Kakak akan berangkat dan pulang bersamamu setiap hari."
"Lho, kemana supir Kakak yang bernama Pak Elang?"
"Dia sudah mengundurkan diri," jawab Wilona singkat.
"Jadi, kita cuma punya satu supir sekarang."
"Nanti Kakak akan mencari supir yang baru. Ayo kita sarapan."
Indah dan Sinta sibuk menyiapkan sarapan di meja makan, namun Bi Rani tidak terlihat.
Tak berapa lama, Ny. Adeline dan Sandra ikut bergabung di meja makan.
"Indah, dimana Wildan? Kenapa dia belum turun untuk sarapan? Wildan harusnya ke kantor hari ini."
"Saya tidak tau Nyonya Sandra. Nyonya bisa bertanya pada Bi Rani. Pagi-pagi tadi Bi Rani dipanggil oleh Tuan Muda."
"Kamu ini kalau ditanya selalu saja jawabannya tidak tau."
"Nyonya, itu Tuan Muda dan Bi Rani sudah turun," tunjuk Indah ke arah tangga.
Sandra dan Ny. Adeline menoleh bersamaan. Mereka melihat Wildan turun dengan membawa koper besar di tangannya.
"Wil, kamu mau kemana? Apa kamu kembali ke Singapura lagi?"
"Tidak, Tante. Aku akan ke kantor sekaligus pindah ke apartemen."
"Ke apartemen? Untuk apa kamu pindah kesana?"
"Benar, Wildan. Kamu baru saja pulang ke rumah, kenapa sekarang malah pindah ke apartemen?" sahut Ny. Adeline menimpali.
"Oma, aku ingin tinggal dekat dengan kantor. Selama aku pergi, pekerjaanku banyak yang tertunda. Mungkin aku harus lembur selama beberapa hari untuk menyelesaikan semuanya."
Sandra memicingkan matanya sembari memperhatikan raut wajah Wildan yang lesu.
"Apa benar kamu pindah karena pekerjaan kantor? Jangan-jangan karena ada orang lain yang memaksamu," sindir Sandra melirik Wilona.
Wilona tetap fokus pada Reymond dan sarapannya, tanpa menggubris sindiran dari Sandra.
"Tidak ada yang menyuruhku, Tante. Ini semua kemauanku sendiri."
"Wildan, kalau kamu pergi lalu bagaimana dengan Oma?"
"Oma tinggal saja di rumah bersama Wilona dan Tante Sandra. Aku akan berkunjung kesini di akhir pekan."
"Tidak, Wildan. Oma akan pulang saja ke Australia Sabtu besok. Oma lebih suka tinggal di rumah Oma sendiri. Lagipula Adrian juga sudah membaik."
Sandra terkejut mendengar pernyataan Ny. Adeline yang ingin segera pulang ke Australia.
"Tante, kenapa pulang secepat ini? Bukannya Tante mau menunggu sampai Kak Adrian pulang ke Jakarta?"
"Aku berubah pikiran Sandra. Aku tidak betah lama-lama disini."
"Ya sudah, aku akan menemani Tante pulang," ucap Sandra kesal.
Sementara dari luar terdengar suara seorang pria berjalan menuju ruang tengah. Pria itu adalah Victor, asisten kepercayaan Tuan Adrian yang kini menjadi asisten Wildan.
"Selamat pagi, Tuan Wildan," sapa pria berjas hitam itu.
"Pagi, Om Victor. Terima kasih sudah menjemputku. Apa apartemenku sudah siap?"
"Sudah, Tuan Wildan. Anda bisa berangkat bersama saya sekarang."
Reymond yang sejak tadi asyik memakan serealnya, langsung bangkit berdiri mencegah kepergian Wildan.
"Kak Wildan kenapa malah meninggalkan aku lagi? Nanti malam aku mau mengajak Kakak main bersama."
"Rey, Kakak sedang banyak pekerjaan. Kakak janji Sabtu nanti Kakak akan kesini untuk menemanimu bermain sepuasnya."
"Benar ya, Kak?"
"Iya. Kakak berangkat ke kantor dulu. Jangan menyusahkan Kak Wilona," ucap Wildan mengelus kepala Reymond.
"Oma, Tante, aku pergi."
Wildan berhenti sebentar memandang ke arah Wilona, tapi gadis itu tidak mengacuhkannya.
"Wilo, jaga dirimu," kata Wildan melangkah pergi diikuti oleh Victor.
Meskipun Wilona merasa sedih melihat kepergian Wildan, namun hatinya saat ini terlalu perih untuk bisa memaafkan perbuatan pria itu. Mau tak mau ia harus menyadari bahwa Wildan bukanlah takdirnya. Dan jalan perpisahan inilah yang terbaik bagi mereka berdua.
...****************...
"Wilo, akhirnya kamu masuk juga. Hari ini aku berencana mengunjungimu di rumah kalau kamu belum masuk. Sebenarnya kamu sakit apa?"
"Aku hanya kelelahan saja, Gabby."
"Tapi apa kamu yakin sudah sehat? Di bawah matamu ada lingkaran hitam. Sepertinya kamu kurang tidur. Kalau kamu mengalami insomnia, lebih baik hubungi Wildan. Mengobrol dengan pacar bisa membantumu tidur lebih nyenyak."
"Gab, tolong jangan sebut namanya lagi. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Wildan."
"A..apa? Kamu putus darinya? Kenapa? Apa karena orangtua kalian?"
"Bukan, aku akan menceritakannya padamu kalau aku sudah siap. Yang jelas Wildan hanya mempermainkan aku. Dia tidak pernah mencintaiku."
Gabby memutar kedua bola matanya sambil membelalak.
"Ha? Apa benar separah itu, Wilo? Aku kira Wildan itu pria yang baik."
Melihat gurat kesedihan di mata Wilona, Gabby menghentikan ucapannya. Ia tau sahabatnya itu sedang mengalami patah hati karena putus cinta.
"Wilo, jangan sedih lagi. Kamu harus bisa move on. Di luaran sana masih banyak cowok lain yang bisa menghargai cintamu," ucap Gabby memegang bahu Wilona.
"Bagaimana kalau setelah ini kita shopping atau nongkrong bareng di kafe? Siapa tau kamu bisa ketemu cowok ganteng."
"Aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana, Gab."
"Ayolah, Wilo!"
"Gab, sebentar ada telepon masuk," kata Wilona mengambil ponselnya.
Ia melihat nama Elzen tertera di layar panggilan.
"Halo, Wilona. Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah sehat?"
"Sudah. Hari ini aku sudah mengajar di kelas."
"Oh ya, apa kamu menyukai bunga dariku? Biasanya gadis cantik suka dengan bunga mawar."
"Bunganya bagus, terima kasih."
"Wilona, apa kamu ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu makan malam di luar."
"Makan malam? Kalau soal itu..."
Gabby yang mendengar pembicaraan Wilona menjadi tidak sabar. Ia merebut ponsel dari tangan Wilona dan menjawab Elzen dengan suara lantang.
"Halo, Tuan Elzen, saya Gabby, sahabatnya Wilona. Wilona malam ini tidak ada acara apapun dan dia sedang sedih. Tapi dia malu mengatakannya pada Tuan. Ajak saja Wilona pergi ke mana saja supaya dia bisa tertawa lagi."
"Gabby, apa-apaan kamu?" sahut Wilona menggerakkan bibirnya tanpa suara untuk memarahi Gabby.
Elzen tertawa mendengar penjelasan Gabby yang sangat terus terang itu.
"Oke, Gabby, terima kasih atas infonya. Tolong katakan kepada Wilona nanti aku menjemputnya sekitar pukul enam. Aku akan mengajaknya ke suatu tempat yang menyenangkan seperti permintaanmu."
"Baik, Tuan Elzen. Semoga kencan Anda nanti menyenangkan bersama Wilona," ucap Gabby menutup telepon Wilona.
"Nah, beres. Nanti malam kamu harus dandan secantik mungkin. Buat Elzen semakin jatuh cinta padamu. Lalu kamu pacaran saja dengan dia dan lupakan Wildan."
"Gab, kamu terlalu berlebihan. Aku belum ingin berpacaran lagi. Sekarang aku sedang fokus membenahi hidupku."
"Turuti saja nasehatku, Wilo. Kamu bisa mulai pendekatan dengan Elzen malam ini," kata Gabby berapi-api.
...****************...
Akibat ulah Gabby, Wilona terpaksa menerima ajakan Elzen. Walaupun sesungguhnya ia tidak berminat untuk pergi di saat hatinya masih terluka.
Demi menutupi persoalannya dari Elzen, Wilona sengaja memilih gaun berwarna dusty pink agar terlihat lebih ceria.
"Rey, Kakak akan pergi sebentar. Kamu makan malam bersama Bi Rani ya. Setelah itu kamu harus tidur. Jangan bermain game."
"Iya, Kak," jawab Reymond mengangguk.
Sandra yang lewat di depan kamar Reymond, berhenti untuk mengamati penampilan Wilona.
"Wah, wah, barusan semalam kamu menangis bombay di hadapan Wildan. Lalu pura-pura akan jatuh pingsan. Sekarang kamu sudah berdandan secantik ini. Kamu mau berkencan dengan pria mana lagi, Wilona? Tante tidak menyangka aktingmu jauh lebih hebat daripada Wildan."
"Maaf, Tante, saya tidak punya waktu untuk meladeni Tante," kata Wilona melangkahkan kakinya meninggalkan Sandra.
Wilona hendak menuju ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan Elzen. Namun di tengah jalan, ia hampir bertabrakan dengan Wildan.
"Wilo, kamu mau kemana?" tanya Wildan menatap Wilona lekat-lekat.
"Aku akan pergi. Untuk apa kamu kesini?" balas Wilona dingin.
"Ada dokumenku yang tertinggal. Aku akan mengambilnya sebentar lalu kembali ke kantor."
"Kalau begitu masuk saja. Di dalam ada banyak orang yang bisa membantumu."
"Wilo, tunggu. Dengan siapa kamu akan pergi? Apa dengan Elzen Prayoga?"
"Wil, aku akan pergi kemana dan dengan siapa itu bukan urusanmu," jawab Wilona ketus.
sukses
semangat
mksh