#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Munchen, Jerman
Namun, Lucy menghentikan Elena. Mereka harus ke sana karena Xander pasti datang ke acara itu. Lucy pernah berkata bahwa festival itu bukan hanya kesenangan semata tetapi di sana mereka bisa menemukan titik terang keberadaan Xander. Meskipun terkesan aneh untuk Elena. Tetapi, Lucy tak hanha sekali atau dua kali melihat Xander setiap tahun selalu ke acara itu. “Kau hanya tak tahu saja... masalahnya kau begitu percaya pada si brengs*k itu!” ujar Lucy menambahkan.
Oktoberfest adalah festival dua-mingguan yang diadakan setiap tahun di München, Bayern, Jerman, pada akhir September dan awal Oktober. Festival ini merupakan salah satu acara paling terkenal di kota ini dan juga merupakan festival terbesar di dunia dengan sekitar dua juta pengunjung setiap tahunnya. Tak lengkap jika pengunjungnya pun memakai pakaian adat tradisional yang bernama Dirndl untuk wanita dan lederhosen untuk pria.
Elena melepaskan jarinya, dari kancing-kancing pakaian yang sedang ia kenakan. Ia terdiam sambil menatap Lucy. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang begitu nyaring. Suara bibi Ruby yang meminta agar Elena cepat turun untuk sarapan pagi ini. Karena ia akan terlambat sarapan serta Darren sahabat telah menunggu di meja makan. Lucy bergegas mengancingkan pakaian Elena.
“Ya, saya segera kesana! “ ujar Elena ynag menyahut ucapan sangat bibi dari dalam ruangan wardrobe tersebut. Setelah memakai pakaian tradisional itu, Lucy mengajak Elena untuk merias wajahnya. Karena hari ini ia harus ke tempat yang berbeda, Lucy pun menawarkan riasan yang berbeda pula untuk Elena.
Ia akan merias Elena tak seperti biasanya. Karena memang biasanya Elena hanya mengenakan riasan mini malis dan simpel. Lucy mempersilahkan duduk di kursi rias. Ia tersenyum menyunggingkan sudut bibir yang terkesan bahwa, semua hal akan berjalan dengan lancar, serahkan saja padaku. Elena mengapa ke arah cermin rias di kamar mewah miliknya itu.
Sedari padi ternyata Lucy telah mempersiapkan alat serta barang make up miliknya. Dengan jemarinya yang lentik, ia mulai dengan merapikan rambut Elena agar tak menghalangi permukaan wajahnya. Perlahan namun pasti Lucy merias wajah Elena dengan bersungguh-sungguh. Memang pengalamannya sebagai selebriti tak lepas dari manajemen yang mendukungnya. Bahkan ia selalu belajar merias diri dari penata rias profesional yang di pekerjaan oleh manajemen aktris tersohor.
Setengah jam kemudian, Lucy pun selesai merias Elena lengkap dengan pilinan rambutnya yang menjuntai indah. “Akhirnya selesai juga!” ujar Lucy yang merentangkan telapak tangannya seolah bangga dengan hasil jerih payah-nya itu. Elena tertegun kagum. Ia menatap kearah cermin yang ada di depannya seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya itu. Terlihat dari cermin, raut wajahnya Elena yang tersenyum tipis.
“Bagaimana? Apa kau puas?” tanya Lucy dengan raut wajah semringah. Elena menoleh kearah Lucy. Ia mengangguk pelan dan berkata, “Ya!” Seketika Lucy bertepuk tangan. Ia seolah bangga atas usahanya kali ini. Bergegas, Lucy mengajak Elena untuk sarapan pagi ini. Karena mereka akan terlambat untuk pergi ke acaranya dan semakin siang, makan akan semakin banyak orang yang berdatangan kesana.
Mereka berjalan keluar dari kamar tidur Elena. Sepanjang perjalanan mereka tampak bahagia dan berbincang satu sama lain. Hingga beberapa menit kemudian, mereka pun turun dari lift dan tiba ruangan makan keluarga. Tadi Elena telah mengirimkan pesan pada Darren bahwa ia dan Lucy akan memakan waktu lama untuk persiapan, jadi Elena meminta Darren untuk sarapan terlebih dahulu. Namun sesampainya di meja makan, Terlihat Darren yang memandang kearah kedua gadis tersebut.
Ia terkesima melihat penampilan Elena. Wajahnya tak bisa disembunyikan. Darren tampak terpesona oleh kecantikan Elena. Bahkan dalam balutan pakaian tradisional serta riasan wajah yang tak terlihat berat itu, sekilas Elena seperti seorang aktris pemeran utama yang akan berakting. “Wah, kau membiarkan air liurmu menetes!?” ucap Lucy yang berjalan kearah Darren dan menarik kursi untuk dirinya. Seketika Darren tersadar saat Lucy menyenggol lengannya.
“Astaga! Lap dulu, air liur di bibirmu itu!” sindir Lucy kembali. Darren pun menoleh kearah Lucy dengan pandangan menusuk. Akhirnya makanan pun dihidangkan. Mereka sarapan dengan lahap pagi ini. Beberapa menit kemudian, Darren, Lucy dan Elena pun selesai sarapan pagi dan bergegas pergi menuju ke pintu utama rumah mewah tersebut.
Terlihat mobil violet yang di kemudikan oleh sang sopir pribadinya Elena yaitu, Daniel. “Selamat, pagi!” ucap sang sopir ramah yang membukakan pintu untuk Elena.
Mereka semua pun pergi dari rumah mewah itu menuju ke kota Munchen, Jerman. Sepanjang perjalanan seperti biasa Lucy berbicara banyak hal. Ia selalu antusias jika pergi untuk perjalanan wisata. Tak ayal ia adalah seorang MC dari sebuah acara perjalanan wisata yang terkenal. Bahkan kini Lucy berbicara layaknya sedang Suting acara yang ia perankan itu. Dari mulai makanan dan minuman serta acara-acara yang di selenggarakan ketika festival berlangsung.
“Pokoknya, kau tak akan jemu dan kau pastinya akan bahagia! Percayalah!” tutur Lucy dengan menggenggam kedua tangan Elena.
Dari ibu kota Berlin, menuju Munchen membutuhkan waktu yang cukup lama. Sekitar 7-9 jam jika menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil. Untung saja, Darren mempunyai pesawat Jet miliknya pribadi, yang diletakkan di rumahnya yang tak jauh dari rumah Elena. Darren memang sering berpergian keluar negara, bahkan sebagai seorang dokter ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menolong korban bencana di luar Negeri.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kediaman Darren. Ia tinggal sendiri di rumah yang tidak begitu mewah, namun semua peralatan dan barang-barang di rumah itu begitu mumpuni. Bahkan ia mempunyai ruangan fitnes untuknya berolahraga. Mobil berwajah violet itu memasuki garasi rumah yang tampak sederhana. Mereka hanya bisa berjalan melewati jalan setapak beberapa meter saja untuk ke tempat dimana pesawat jet itu disimpan.
“Wah, sepertinya kita akan tiba lebih cepat disana. Aku melihat ramalan cuaca bahwa hari ini tak akan ada hujan atau pun awan hitam di sekitar sini!?” tutur Lucy dengan menatap layar ponselnya.
“Ya, semoga saja kita selamat dan lebih cepat tiba disana!” ujar Elena yang berjalan, sambil mengangkat pakaian terusan rok yang ia kenakan.
Sekitar 30 meter lebih, mereka tiba di sebuah padang yang luas. Memang rumah Darren hanya sederhana, tetapi ia mempunyai tanah padang hijau yang begitu luas di belakang rumah itu. Karena Darren bermimpi untuk membangun sekolah kedokteran, juga di dekat rumahnya. Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun tiba di mana pesawat jet itu berada. Mereka bertiga pun masuk kedalam pesawat itu. Dimana sangat pilot pribadi Darren telah menunggu mereka didalam pesawat itu. Sang pilot menyapa Darren dan kedua sahabtnya dengan ramah. Pesawat itu pun meninggalkan kediaman Darren menuju Munchen.