Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis cantik yang tinggal bersama seorang janda yang tidak di karuniai sang buah hati, namanya ibu Ruminah. Sedangkan gadis cantik yang dimaksudkan yaitu namanya Lunika, gadis berparas cantik dan juga sederhana. Kesehariannya hanya membantu sang ibu menjadi buruh cuci.
Perjalanan tentang hidupnya, cukuplah rumit dengan statusnya sebagai anak jalanan. Lunika diasuh sejak usianya 10 tahun.
Karena berawal dari sebuah kebutuhan yang mendesak, Lunika harus menerima pernikahan yang tidak diinginkannya itu. Mau tidak mau, Lunika harus menikah dengan seorang laki laki yang tidak disukainya.
Namun, apa daya Lunika yang tidak memiliki pilihan lain. Meski Lunika memiliki seorang kekasih yang berada, namun hubungannya terhalang karena status ibu asuhnya dan statusnya yang tidak jelas sebagai anak jalanan.
Demi kesembuhan ibu asuhnya karena sesuatu penyakitnya, Lunika harus menikah dengan keterpaksaan. Lelaki itu yang tidak lain bagian keluarga Wilyam, Zicko Wilyam namanya. Zicko putra semata wayang tuan Zayen Wilyam dan Afnaya Danuarta.
Penasaran dengan kisahnya? ayo, ikutin terus kelanjutannya. Ingat, hanya di platform Noveltoon ya....
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih terasa kesal
Zicko yang masih kepikiran dengan sesuatu yang membuatnya cemas, ia mencoba memijat kedua pelipisnya.
Karena sudah merasa gondok, Zicko langsung memanggil sekretarisnya. Tidak lama kemudian, sekretarisnya pun sudah ada dihadapannya.
"Arnal, kamu lanjutkan pekerjaanku ini. Ingat, jangan sampai teledor. Aku percaya denganmu, bahwa kamu dapat aku percaya. Jika hasilmu memuaskan, aku beri tambahan gaji untuk kamu." Ucap Zicko, kemudian ia segera meraih tasnya.
"Baik, Bos. Sebisa mungkin akan saya lakukan dengan baik." Jawab Arnal, Zicko pun hanya mengangguk dan pergi.
Sedangkan Arnal dapat bernafas lega, ia berharap upah tambahan gajinya dapat membantu meringankan beban seseorang yang ia cintai.
'Semoga saja, aku masih belum terlambat untuk membantu Lunika. Meski sekarang ada Aden, Lunika pasti menolak bantuan darinya.' Batin Arnal, kemudian ia segera membawa tugasnya dan kembali ke ruangannya.
Dengan langkah kakinya yang tergesa gesa, Zicko tidak memperhatikan sisi kanan, kiri, maupun yang lainnya. Zicko tetap fokus dengan langkah kakinya.
"Zicko, tunggu." Seru seorang perempuan tengah mengagetkannya sambil lari kecil mengejar Zicko, Zicko anti menoleh jika merasa malas. Zicko hanya menghentikan langkahnya dan tetap pada posisinya, dan hanya menghitung sampai hitungan ketiga kali. Jika lebih, Zicko kembali melangkahkan kakinya.
"Zicko, kamu sudah pulang?" tanyanya yang sudah berada di sebelah sosok perempuan yang sudah ia kenal.
"Ada perlu apa kamu mendatangi kantorku?" tanya Ziko dengan tatapannya yang masih menyimpan rasa kesal.
"Aku ingin bertemu dengan kamu saja, mau mengajakmu jalan jalan malam. Habisnya kamu tidak mengangkat telfonku, jempolku sampe kesal sendiri." Jawabnya dan berusaha tersenyum, meski dirinya ikut kesal dengan sikapnya Zicko yang dingin.
"Aku sibuk dengan pekerjaanku." Ucapnya singkat.
"Iya, aku percaya kalau kamu sibuk. Oh iya, kita mampir ke Restoran, yuk?" jawabnya, lalu menawari ajakan pada Zicko penuh harap.
"Terserah kamu saja Jen, hanya sebentar. Aku sedang tidak enak badan, jangan lama lama." Jawab Zicko, kemudia ia segera masuk kedalam mobil dan juga Jenyta ikut duduk disebelahnya.
Mau tidak mau, Zicko menurutinya. Meski sebenarnya ia merasa risih jika ada sosok perempuan yang terlalu berani mendekatinya.
"Zicko, memangnya calon istri kamu itu anaknya siapa? siapa tahu saja aku mengenali orang tuanya." Tanya Jeny menyelidik.
"Tidak penting, kamu sama sekali tidak mengenalnya. Karena perempuan yang akan menjadi istriku berbeda jauh dengan kamu, sulit untuk disamakan." Jawab Zicko, kemudian menambah kecepatannya.
Jenyta terus berpikir dengan apa yang dikatakan Zicko, ia mencoba untuk mencernanya disetiap kata katanya.
'Dia bilang, berbeda jauh denganku. Memangnya sekaya apa perempuan itu denganku? aku rasa dia berbohong. Tapi ... jika memang benar dengan yang dikatakan Zicko, berarti sangat sulit untuk merebut Zicko.' Batinnya mencoba untuk berpikir.
Tidak lama kemudian, keduanya telah sampai di sebuah Restoran yang sudah diwariskan turun temurun ke anak cucu. Restoran mana lagi kalau buka Merpati Jaya. Restoran milik keluarga Danuarta, yang sekarang ini dikelola oleh cucu Tirta Danuarta yang masih sangat muda di usianya belasan tahun. Siapa lagi kalau bukan Putra dari Kazza dan istrinya yang bernama Vella, yang umurnya terpaut jauh dengan Zicko.
Setelah itu, Zicko dan Jenyta segera masuk kedalam. Keduanya akhirnya menemukan tempat duduk dan segera duduk dengan santai. Lalu, salah satu pelayan tengah menghampirinya.
"Zicko, kamu mau pesan apa?" tanya Jenyta.
"Terserah kamu, samakan saja." Jawab Zicko yang sebenarnya tidak berselera untuk makan.
"Nanti kalau kamu tidak suka, bagaimana?" tanyanya lagi.
"Semua makanan aku suka, tidak ada yang tidak aku sukai." Jawabnya dengan datar.
"Baiklah, kalau begitu." Ucapnya, kemudian menunjukkan beberapa menu makanan dan dua minuman.
Setelah itu, Jenyta kembali menatap Zicko yang berada dihadapannya.
"Perempuan mana coba, yang tidak tergila gila sama Zicko. Sudah tampan, dinginnya kebangetan. Tapi, tetap saja sikap dinginnya tetap terasa hangat. Semoga saja, Zicko akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahannya. Kalau pun tidak mungkin, aku harus memberi jebakan untuk dirinya." Batin Jenyta dengan akal bulusnya dan senyum senyum tidak jelas.
"Kenapa kamu senyum senyum?" tanya Zicko mengagetkan.
"Tidak, sedang merasa senang saja bisa makan bareng denganmu." Jawabnya deng rasa percaya diri.
"Oooh, begitu." Ucap Zicko datar, sedangkan Jenyta tidak memperdulikan sikap dingin Zicko pada dirinya. Jenyta tetap percaya diri, jika dirinya dapat mengambil hari Zicko.
Tidak lama kemudian, pesanannya pun telah tersaji diatas meja. Zicko dan Jenyta menikmati makanannya, tiba tiba ponsel Zicko berdering dan bersuara yang cukup nyaring. Entah memang disengaja dari awal, atau ... memang lupa untuk membisukan.
"Sebentar, aku angkat dulu telfonnya." Ucap Zicko, kemudian ia langsung menerima panggilan.
"Apa!! maksud kamu? oh, iya ya ya. Tunggu aku di sana, aku akan segera datang. Ok! ok, ok! ok." Ucap Zicko mendadak panik ketika menerima panggilan telfon.
"Emm ... Jen, sepertinya aku harus pergi sekarang. Temanku, dia membutuhkanku. Jadi, maafkan aku harus meninggalkan kamu disini. Lain kali saja kita makan disini, tapi aku tidak janji. Ya sudah kalau begitu, aku pergi." Ucap Zicko dengan tatapan serius.
Jenyta yang mendengarnya pun ingin rasanya marah, namun dirinya tidak dapat untuk memaksanya. Ditambah lagi jika dirinya ingin mendekati Zicko, apapun ia hanya bisa pasrah.
"Iya, tidak apa apa. Hati hati dijalan, Zick." Jawab Jenyta berusaha untuk bersikap tenang.
Setelah berpamitan untuk pergi, Zicko langsung pergi begitu saja. Dalam perjalanan, Zicko mengusap dada bidangnya dengan penuh kelegaan.
"Syukur deh, akhirnya aku bisa lepas dari perempuan gile itu. Mendingan juga pulang, bisa istirahat dan tidur nyenyak." Ucap Zicko sambil menyetir mobilnya.
Dengan kecepatan yang tinggi, Zicko tidak memakan waktu lama untuk sampai di rumah.
Ketika sampai, Zicko segera bergegas masuk rumah dan langsung masuk kamar.
"Zicko, sudah pulang?" tanya sang ibu mengagetkan putranya yang hendak menapaki anak tangga.
"Eh, Mama. Zicko sedang tidak enak badan, Ma. Zicko ingin istirahat, tiba tiba kepala Zicko terasa pusing." Jawab Zicko beralasan.
"Banyak alasan kamu, pasti kamu menyuruh sekretaris kamu untuk menyelesaikan pekerjaan kamu, jawab jujur." Tanya sang ibu mendekati putranya.
"Iya, Zicko bosan di dalam Kantor, Ma ... kalau begitu Zicko masuk ke kamar dulu ya, Ma." Jawab Zicko dengan senyum merayu.
"Mama mau bicara denganmu, ayo cepetan masuk ke kamar." Ucap sang ibu, kemudian mendahului putranya masuk ke kamar Zicko.
"Iya, Ma." Jawab Zicko dengan lesu.
Sesampainya didalam kamar, Zicko mengganti pakaiannya dan melepaskan sepatunya. Kini, hanya kaos oblong dan celana pendek yang ia kenakan. Kemudian, Zicko duduk di tepi ranjang.
"Mama mau bicara apa?" tanya Zicko yang sudah siap untuk mendengarkannya.