Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.
"Gue mau mati aja, hiks."
Gendis Mahesa.
Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.
"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."
Dewa Ganesha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung
Dewa tidak pernah tahu bagaimana cara menenangkan seseorang. Dengan memeluknya kah?Membisikannya kata-kata penguatan kah?Atau dengan membelikannya coklat. Selama ini kalau nenek sedih yang Dewa lakukan hanyalah duduk disampingnya dan membiarkan nenek meluapkan kesedihannya melalui omelan-omelan karena ya sumber kesedihan nenek cuma satu, cucunya yang nakal. Sedangkan perempuan lain diluar sana, Dewa tidak tahu karena mereka tak berbagi sisi emosional hanya usaha saling memuaskan. Dan sekarang dia kebingungan, Gendis memang tidak menangis menjerit-jerit yang berlebihan tapi bahu yang terguncang itu menandakan bahwa tuyul kecilnya yang ceria sedang berduka. Ya, sahabat yang sudah bersama-sama dengannya sekian tahun dinyatakan hilang bersama pesawat yang ditumpanginya juga bayi kecil mereka, Navia.
Dewa melangkah perlahan mendekati Gendis berusaha tidak menimbulkan bunyi apapun. Mereka masih di asrama karena hujan diluar masih sangat deras. Dewa hanya terus memastikan telfonnya aktif jadi ia bisa langsung mendapatkan info kalau ada perkembangan mengenai Nadia dan Navia entah itu kabar baik atau kabar buruk. Dewa duduk disamping gadis itu lalu memeluknya. Ia hanya perlu mencoba mungkin saja Gendis bisa merasa lebih baik atau memang seperti inilah menenangkan seorang gadis.
"Mau ke bandara?Disana pasti ada posko pengaduan.” Katanya sembari mengelus-elus rambut hitam itu. Kelak, saat mereka sudah menikah inilah yang harus Dewa lakukan, menjadi penenang dan pelindung untuk gadis kecilnya yang ajaib ini.
Gendis mendongak menatap mata Dewa mempertimbangkan ide lelaki itu. Airmata dan air hidung sudah tidak bisa dibedakan lagi. Dewa meringis, meraih tissue yang tak jauh dari jangkauannya lalu mengelap wajah Gendis.
"Mau?” Ulangnya.
“Abang kan gak ada mobil--hiks”
“Ada taksi online.” Ujar Dewa menjauhkan sedikit badan Gendis lalu mengumpulkan rambut gadis itu dan diikat seadanya. Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya Dewa melihat Gendis masih tetap manis, lucu persis kelinci. Gemas, Dewa mengecup cepat bibir gadis itu, ”Tunggu, abang pesan taksi dulu.” katanya buru-buru meninggalkan Gendis sebelum si kecil itu sadar baru saja di perdaya. Namanya mengambil kesempatan pas korban lagi lengah. Brengsek, Wa. Tapi mau gimana lagi bibir cherry itu selalu menggugah selera.
"Pakai jaket, taksinya sudah di depan.” Dewa memakaikan jaketnya pada Gendis yang diterima dengan pasrah oleh gadis itu. “Pakai masker juga ya. Takutnya gue dituduh ngapa-ngapain lo sama supir taksinya.” lanjutnya melihat wajah kuyu Gendis. Gadis itu menurut tak banyak protes.
Dewa lantas mengambil jas hujan sebagai pelindung mereka karena di rumahnya tidak ada payung atau sejenisnya. ”Yuk!” Dewa melingkarkan lengannya dibahu Gendis agar lebih merapat padanya. Taksi sudah menunggu di depan asrama. Untungnya penjaga pos depan mengizinkan taksi itu masuk ke dalam setelah pemeriksaan dan juga mengingat kondisi sedang hujan lebat.
Sepanjang jalan Gendis tidak berhenti menangis. Dewa yang tiba-tiba punya stok kesabaran banyak tak melepas pelukannya. Bahkan tangisan seorang gadis sekarang tak lagi semengganggu dulu. Sebelum bertemu Gendis, Dewa paling anti sama perempuan yang mudah menangis bahkan untuk hal kehilangan yang seperti ini juga sebab dirinya yang sudah begitu kebal dengan rasa sakit bahkan tak bisa lagi menangis. Ya, Dewa lupa bagaimana menangis karena terlalu banyak hal yang terjadi di depan matanya hingga membuat hatinya seperti sudah kebas.
"Kalau Nad dan Pia beneran nggak ada lagi gimana, Bang?Hiks. Nad--hiks.” Gendis tak bisa melanjutkan kata-katanya karena tak mampu membayangkan bahwa sahabatnya itu mungkin tak akan pernah ditemuinya lagi selama-lamanya. Dewa tak menyahuti sebab diapun tak bisa memberikan kepastian. Ia bahkan tak punya kalimat-kalimat menenangkan sebab yang harus dilakukan saat keadaan seperti ini adalah hanya menyiapkan diri untuk mendengar kabar baik atau kabar buruk. Tentang harapan, Dewa tidak tahu sebab ia sudah lama tak pernah mengharapkan apapun lagi. Baginya yang lalu biarlah berlalu, yang terjadi biarlah terjadi dan masa depan biarkan tetap jadi misteri.
“Pak, ada radio lokal?” Tanya Dewa pada supir taksi yang membawa mereka.
"Ada, Pak. Sebentar saya putarkan.” Supir taksi yang sejak tadi melirik prihatin pada Gendis itu sedikit mulai memahami apa yang dialami penumpangnya terlebih tujuan mereka adalah Bandara. Si supir langsung menyetel radio berita daerah. Dewa dan Gendis menyimak dengan khusyuk. Dewa menggenggam tangan Gendis erat tak tega melihat kekacaun gadis itu. Kehilangan memang tak pernah mudah dan Dewa sudah tak perlu lagi diajari tentang itu.
Keadaan bandara begitu padat. Bukan hanya penumpang yang memenuhi tempat itu melainkan keluarga korban dan juga para wartawan yang sedang berburu berita mengenai pesawat naas itu. Gendis dan Dewa langsung ke pusat informasi dan disana sudah ada kedua orangtuanya juga kedua orangtua Aleks dan Sandra.
"Mamii.” Gendis memeluk Papi dan Maminya kembali menangis disana.
"Sabar ya sayang, Nad dan Pia pasti baik-baik saja.” Ujar Mami menenangkan putrinya. Keenam orang tua itupun harap-harap cemas menunggu ada kabar baik tentang keberadaan Navia dan Nadia. Mereka langsung meninggalkan pekerjaan setelah mendengar kabar tentang sahabat putri mereka. Nadia bukan lagi orang lain bagi keluarga Gendis, Sandra dan Aleksis. Mereka sudah menganggap gadis malang itu sebagai anak sendiri.
"Gendis takut mih--hiks.” Gendis menangis. Sementara Dewa yang berdiri tak jauh dari mereka menatap iba. Ia memang tak mengenal Nadia selama Gendis mengenal Nadia tapi istri sahabatnya itu sudah menjadi keluarga sejak Gibran menikahinya. Meskipun mereka sering ribut tapi itu tak pernah sampai dalam hati. Dewa menganggap Nadia sebagai adik perempuan yang tak pernah dimilikinya.
Melihat Gendis sudah bersama orangtuanya, Dewa meminta izin pergi membeli air minum. Ia langsung menuju salah satu stan yang tidak begitu ramai agar tak berlama-lama. Seseorang menghampirinya saat ia tengah membayar barang yang dibelinya.
"Bang Dewa?”
Dewa menoleh, di depannya berdiri Devi menggendong bayi yang juga akan membayar belanjaannya.
"Oh Hai Dev.” Sapanya ramah. ”Siapa yang berangkat?” tanyanya tipikal Dewa yang ramah pada semua wanita.
"Nganterin kak Bima.” Jawab Devi sembari meletakkan dua kaleng minuman di depan kasir.
"Sudah mau ke Bali?”
Devi mengangguk.
"Abang ngapain disini?Bawa minuman banyak begitu.”
Dewa melirik kantung belanjaan yang sudah dibayarnya, ”Oh ini untuk---“
"Bang Dewa?”
Dewa dan Devi menoleh bersamaan keasal suara. Dari kejauhan Gendis dengan wajah basahnya berlari menghampiri dan langsung memeluk Dewa.
"Kok lama?Gendis nungguin.” Katanya manja membuat Dewa mengerutkan kening melirik orang-orang disekitar situ. Tumben-tumbenan si tuyul kecil mau manja-manjaan di tempat umum begini. Disampingnya Devi yang melihat adegan itu langsung memasang tampang tak suka.
"Kan tadi sudah dibilang.” Ujar Dewa pasrah menerima perlakuan Gendis.
"Lama.” Rengeknya persis anak kecil. Lantas perhatiannya tertuju pada keberadaan Devi yang baru disadarinya, "Tante godain ya?“ Gendis menatap Devi galak. Aura permusuhan tak terelakan dari keduanya.
"Hush, apaan sih. Nggak sengaja ketemu.” Jelas Dewa cepat-cepat karena merasa tak enak pada Devi yang makin horor mukanya.
"Yakali aja belum move on.“ Ucap Gendis sembari merapatkan pelukannya dipinggang Dewa. “Nggak boleh ya Tante, Udah mau jadi suami orang nih, suami aku.” katanya tak lagi segalak tadi tapi lebih menyebalkan tentu saja di telinga Devi.
"Baru mau kan?” Devi tersenyum miring.
Gendis langsung mendongak meminta pembelaan dari Dewa. "Bang, mantannya tuh.” Adunya meskipun jelas di dengar oleh Dewa langsung tetap saja wajib hukumnya mengadu.
Dewa menggosok hidungnya yang tak gatal. Bisa panjang urusannya kalau mode kekanak-kanakan Gendis kambuh sekarang. “Udah Yuk, Papi Mami kamu sudah nunggu lama.” Kata Dewa memutus perdebatan yang tak penting itu. Jika selama ini dirinya bangga menjadi pihak yang diperebutkan, sekarang rasanya berbeda sebab ada Gendis yang terlibat langsunv dan anak gadis yang tengah memeluknya ini jelas anti pada kekalahan. “Devi, kami permisi.” pamitnya dan langsung merangkul Gendis membawanya menjauh dari tempat itu.
"Padahal Gendis belum selesai ngomong tuh tadi.” Gendis menarik kaos depan Dewa untuk mengelap hidungnya.
"Mau ngomong apa emang?” Tanya Dewa sembari mengambil tissue dalam plastik dan menyerahkannya pada Gendis, ”Jangan pake kaos abang. Jorok.” katanya sambil menyelipkan anak rambut dibelakang telinga Gendis.
"Mau bilangin sama tuh Tante kalau abang punya aku sekarang. Biar nggak dekat-dekat lagi. Nggak suka.” Jawab Gendis sembari menyeka basah diwajahnya.
Dewa terkekeh, “Tadi kan sudah. Kenapa harus di ulang-ulang?”
"Biar makin paham.” Ujar Gendis ngegas. ”Abang juga jangan ramah bangat jadi cowok. Contoh tuh Om Gi. Tak tergoyahkan meskipun banyak yang suka.”
Dewa makin tergelak, ”Lah, ngapain samain abang sama kanebo kering. Om Gi yang kamu bangga-banggakan itu kan nenek moyangnya es batu makanya begitu modelnya.” katanya membuat wajah Gendis jadi makin manyun.
"Gendis laporin tau rasa.” Ancamnya yang ditanggapi kecupan ringan di puncak kepalanya oleh Dewa.
"Laporin aja, nggak takut.” Senyumnya tak berhenti sampai kemudian sebuah berita menyambut mereka di pos pengaduan. Dari nama-nama penumpang yang dirilis ada nama Nadia Gaudia Rasya dan Navia Ayara Gibran disana. Tangis Gendis langsung pecah.
"Nad---” Panggilnya pilu. Sementara orangtua mereka tak bisa menyembunyikan duka melihat berita tersebut.
"Nad--Pia-- jangan gini dong--hiks. Ya Tuhaaan--hiks.” Gendis menangis dalam pelukan Maminya sedangkan Dewa, laki-laki itu mengusap wajah tak percaya. Nadia dan Navia benar-benar sudah tidak ada lagi?
Dari kejauhan Dewa melihat Gibran tampak begitu kacau. Laki-laki itu menangis. Gibran yang tak pernah terlihat serapuh ini sebelumnya membuat hati Dewa mencelos. Beginilah kehilangan separuh dari hidup, hidup seperti menjadi begitu gelap.
"Sabar, Bro.” Hanya kalimat pendek itu yang bisa ia ucapkan kala memeluk Gibran, memberi kekuatan pada pria itu.
"Istri dan anak saya, Wa.” Gibran menangis dibahu Dewa. Dewa tak bisa mengukur rasa sakit Gibran tapi kehilangan memang tak pernah mudah dihadapi.
"Nadia, Navia-- Ya Allah.” Dewa menepuk pundak Gibran yang terus meracaukan nama dua perempuan paling penting dalam hidupnya itu.
"Istri dan anak lo pasti bisa bertahan. Mereka kuat kayak lo.” Dewa berusaha menghibur walaupun kalimat-kalimat seperti ini ia tahu tak begitu berguna tapi setidaknya dirinya mencoba.
"Thanks, Bro.” Gibran menghapus kedua ujung matanya yang basah. ”Mereka pasti baik-baik saja. Nadiaku kuat. Saya tau itu.” Katanya dengan airmata yang tak bisa dibendung.
"Ya, mereka kuat.” Ujar Dewa lirih. Nad, dimanapun lo, berjuanglah. Pulang, liat suami lo ini. Dia akan hancur tanpa kalian.
***
Dewa melirik jam di layar hpnya. Sudah hampir tiga jam mereka berada di bandara. Di dekapannya ada Gendis yang tertidur karena lelah menangis. Kedua orangtua Gendis, Aleks dan Sandra sudah pulang duluan karena ada pekerjaan yang harus di urus dan tak bisa di wakilkan. Sementara Gibran dan keluarga dari penumpang lain berada di depan meja pengaduan menunggu info terkini. Pesawat secara resmi sudah dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian. Dewa memandangi punggung tegap Gibran yang biasa mampu memikul beban apapun terlihat begitu rapuh. Laki-laki itu tertunduk dengan kedua tangan saling menggenggam kuat. Dewa melirik Gendis dalam pelukannya. Nafas gadis itu putus-putus.
“Ndis,--”
"Hm?” Gendis membuka matanya pelan.
"Gue pamit sama Gibran bentar. Gue antar pulang.”
”Tapi Nadia gimana?” Gendis meluruskan punggungnya sembari mengucek mata.
"Kita tunggu infonya di rumah. Kamu sudah kacau bangat.” Ujar Dewa sembari merapatkan jaket Gendis.
"Tapi---”
"Kita pulang. Lo denger gue.” Putus Dewa tak terbantahkan. Ia lantas berpamitan pada laki-laki yang tengah merana itu untuk mengantar Gendis pulang.
"Ayo.” Ia mengulurkan tangannya setelah kembali dari menemui Gibran.
Gendis menyambut uluran tangan itu dan langsung dibawa dalam rangkulan hangat Dewa.
"Apartemen Gendis ya Bang.” Ujar Gendis ketika mereka menunggu taksi datang.
"Rumah kamu kenapa?”
Gendis menggeleng, ”Mami Papi nggak di rumah. Gendis kesepian di rumah segede itu seorang diri. Makin sedih ntar.” Katanya sembari masuk di kursi penumpang di susul Dewa.
"Disana juga sendiri kan?”
"Tapi nggak seluas di rumah.”
Dewa mengangguk, ”Oke.” Ia menepuk bahu supir taksi, ”Jaksel ya, Bang.”
"Siap.” Ujar sopir itu.
Dewa duduk menyandarkan punggungnya sengaja membuka jendela mobil karena tak begitu menyukai udara dari pendingin udara. Disampingnya Gendis melakukan hal yang sama. Gadis itu menatap keluar jendela, pikirannya melalangbuana kemana-mana. Nadia, Navia, dua nama itu mengisi kepalanya. Dia baru saja bertemu mereka belum lama ini dan sekarang--- Gendis menghapus airmatanya.
"Sini sama Abang.” Dewa meraih pelan lengan Gendis lalu menjatuhkan gadis itu dalam dekapannya.
"Nadia--hiks.” Tangisnya kembali pecah dan Dewa tak mengatakan apa-apa selain memberi kenyamannya pada gadis itu. Sebuah ketakutan tiba-tiba menyerangnya. Pekerjaannya begitu sangat beresiko. Nyawa adalah taruhan dari apa yang menjadi pekerjaannya sehari-hati. Bagaimana jika yang berada di posisi Gibran adalah Gendis. Apakah gadis kecil ini akan mampu?Lalu, tegakah ia menyeret Gendis dalam pusara hidup seorang prajurit sepertinya?Dewa menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang terlintas begitu saja.
Gue nggak tau apa keputusan yang gue ambil ini udah tepat atau nggak yang pasti gue akan jaga lo, yul. Gue akan jaga lo. Itu janji gue. Batinnya sembari mencium kening Gendis.
Dewa lantas menenangkannya menepuk-nepuk punggungnya lembut, ”Menangis saja. Ada abang disini.” katanya membiarkan Gendis meluapkan tangisnya sekali lagi.
***
Readers, maaf ya baru muncul lagi. Author sakit bebeeapa minggu belakang ini jd nghak bisa menulis. Sekarang sudah baikan, alhamdulillah.
Happy reading.
makasih banyak ya ❤🥰💪
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍