Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.Menuntut penjelasan.
Danis terdiam.
"Apa tadi pagi, Anin melihat semuanya?" Batin Danis dalam hatinya.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Anin dengan sorot mata tegas.
"Aku....." Danis menghentikan perkataannya.
"Aku apa?" Anin melihat Danis, dengan tatapan yang seolah-olah meminta penjelasan pada kekasihnya itu.
Danis tersenyum, ia meraih tangan Anin dengan lembut.
"Nanti setelah pulang kerja, aku akan jelaskan semuanya." Danis menatap Anin penuh arti.
"Aku harus jujur, aku tidak boleh terus-terusan berbohong padanya atau dia akan semakin kecewa padaku, aku juga tidak mau kalau dia sampai tahu dari orang lain," Batin Danis dalam hatinya.
Danis mengajak Anin masuk ke dalam tempat kerjanya, ia masih berusaha meyakinkan hatinya agar berani jujur pada Anin.
Tidak muda bagi Danis untuk mengatakan semuanya dengan jujur pada Anin, apalagi ia tahu kalau Anin tidak tertarik dengan laki-laki kaya. Ia tahu jika ia jujur akan semuanya maka ia juga harus menerima semua konsekuensinya.
"Danis, kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanya Anin, ia menghentikan langkah kakinya membuat Danis juga ikut menghentikan langkah kakinya.
"Kita bicara setelah pulang kerja! Ini sedang di tempat kerja jadi aku tidak bisa bicara sekarang." Jawab Danis, ia rasanya ingin sekali membawa Anin masuk ke dalam pelukannya.
Anin mengerti, ia melepaskan tangannya dari tangan Danis dan kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Danis tidak bergeming dari tempat ia berdiri, matanya terus tertuju pada Anin yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
"Anin, aku harap ketika aku jujur nanti. Kamu tidak marah padaku dan kamu tetap menerimku sebagai kekasihmu." Hati Danis terus berbicara.
Rifki ia sudah menatap Danis dengan tatapan garang, ia berjalan menuju ke tempat Danis berdiri.
"Bagus, jam segini baru datang. Anggap saja ini cafe milik keluargamu dan kamu bisa seenaknya saja datang bekerja jam berapa," Rifki menggelengkan kepalanya, ia terus menatap kesal Danis dan rasanya ingin memukulnya.
Danis menatap Rifki dengan tatapan tajam, ia tidak takut dengan Rifki biarpun Rifki disitu adalah bosnya.
"Maaf tuan, saya tadi urusan dan tidak sempat mengabari anda," Danis hanya menundukkan kepalanya.
"Aku akan memotong gajianmu bulan ini, dan pergi lanjutkan pekerjaanmu!" Sentak Rifki dengan nada pelan, tapi sungguh membuat Danis merasa sebal.
Danis menganggukkan kepalanya, ia hendak berjalan menuju ke loker tempat kerjanya tapi belum satu langkah ia melangkahkan kakinya Rifki tiba-tiba menarik lengan tangannya, sungguh rasanya Danis ingin sekali menghajar Rifki, tapi ia menahannya karena biar bagaimanapun Rifki adalah bosnya.
"Ada apa, tuan?" Tanya Danis.
"Ingat jangan pernah menganggu Anin, karena dia adalah calon kekasihku dan kamu itu tidak pantas untuk dirinya!" Kata Rifki, ia kembali menujukan rasa sombongnya pada Danis.
"Baru calon, belum menjadi kekasih dan ada baiknya anda yang jaga sikap anda!" Danis menepis tangan Rifki dengan kasar, ia berlalu pergi meninggalkan Rifki begitu saja.
Rifki tidak tahu saja, kalau Anin dan Danis itu sudah pacaran dari beberapa hari lalu. Rifki yang terus-terusan menghina Danis, kadang Danis juga merasa kesal tapi ia hanya diam saja karena tidak mau sampai jati dirinya terbongkar.
Dalam hati Danis, dasar bos sombong kamu tidak tahu siapa aku yang sebenarnya? Jika kamu tahu, dengan mudahnya aku bisa membeli cafemu ini dengan uangku.
.
.
Danis mulai bekerja, sekali-kali ia melihat sang kekasih yang juga sedang sibuk bekerja melayani para pelanggan.
"Anin, percayalah kelak aku tidak akan membiarkan tanganmu kotor dan harus mengerjakan semuanya. Kelak jika kita menikah nanti aku akan menjadikanmu sebagai ratuku." Kata Hati Danis, ia merasa tidak tega melihat Anin harus berkerja keras setiap hari.
Setelah selesai berkerja dan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, seperti biasanya Anin dan Danis pulang kerja bersama.
.
.
.
Risa dan Denis.
Denis sedang makan kacang sambil menonton televisi, sedangkan Risa sedang berhayal jika dirinya punya menantu nanti pasti ia akan sangat bahagia sekali.
Risa terus senyam-senyum sendiri, membuat suaminya mengira kalau istrinya itu sudah mulai gila.
"Risa-Risa, semenjak pulang dari rumah Danis kamu sering senyam-senyum sendiri, jangan-jangan di tempat tinggal ada hantunya lagi, terus dia mengikuti istriku sampai rumah." Denis tersenyum dalam hatinya.
Denis tidak tahu saja, kalau istrinya itu sedang menghayalkan punya menantu.
"Sayang, berhentilah senyam-senyum tidak jelas seperti itu!" Pinta Denis, ia merasa risih karena istrinya terus tersenyum tidak jelas.
"Suamiku," Risa berpindah tempat duduk, kini ia duduk disebelah suaminya.
"Iya ada apa?" Tanya Denis, tanpa melihat wajah cantik istrinya.
"Kita akan segera punya menantu!" Kata Risa, dengan senyuman penuh harap.
"Sungguh? Apa anak bandelmu itu sudah menemukan seorang kekasih? Lalu dia sungguh serius tidak dengan gadis itu?" Tanya Denis panjang lebar, membuat Risa merasa sangat pusing.
"Tentu saja serius, pasti Danis akan mengenalkan gadis itu pada kita secepatnya." Jawab Risa, ia begitu antusias.
Risa sudah sangat mengharapkan seorang menantunya, sedangkan Denis ia juga sudah siap menjadi papa mertua kalau anaknya sungguh serius dengan satu orang gadis.
.
.
.
Kembali ke Anin dan Danis.
Anin menghentikan langkah kakinya tepat dihalaman bawa rumahnya, Danis juga ikut menghentikan langkah kakinya.
Danis berjalan menghampiri Anin, ia menatap Anin dengan tatapan bingung.
"Danis, bukankah kamu ingin bicara sesuatu padaku?" Tanya Anin dengan sorot mata serius.
Danis ingat, kalau tadi ia bilang dengan Anin akan menceritakan semuanya setelah mereka pulang dari kerjaannya.
Danis meraih tangan Anin, lalu mengajaknya duduk dikursi yang ada dihalaman itu.
"Anin, aku ingin jujur padamu akan hal yang selama ini aku rahasiakan dari kamu." Kata Danis, ia menguatkan dirinya sendiri.
Anin membenarkan posisi duduknya, ia menghadap ke arah Danis.
"Katakan padaku! Apa yang kamu rahasiakan dariku?" Tanya Anin, ia terus menatap sorot mata Danis dengan begitu tulus.
Danis terus menguatkan hatinya, ia berharap kejujurannya pada Anin itu akan membuat Anin mengerti.
"Anin, sebenarnya aku adalah orang kaya!!" Danis langsung menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Anin sedikitpun.
"Anin, aku mencintaimu!" Batin Danis dalam hatinya.
Anin ternganga ia tidak percaya, sungguh ia merasa dibohongi oleh Danis selama ini.
"Orang kaya! Maksudnya apa?" Tanya Anin, dengan sorot mata yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Danis.
"Kamu tidak sedang berguraukan?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...