NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Sayembara Berdarah di Dunia Fana dan Xiao Bai

Sore itu, kabut tipis di lereng Gunung Han mulai bergulung turun dari puncak, membawa aroma embun pegunungan yang dingin. Di bawah temaram langit fana yang mulai temaram, Gu Yu kecil sedang berjalan pulang menyusuri jalan setapak di antara barisan hutan bambu bagian atas.

Di punggung kecilnya, sebuah keranjang anyaman kecil berisi beberapa tanaman obat kering tampak bergoyang pelan, seirama dengan langkah kakinya yang konstan. Tangan kanan kecilnya tetap memegang sebilah kapak kecil, buah dari pelatihan fisik pertamanya fajar tadi.

Ngiiaungg...

Sebuah suara lenguhan yang teramat pelan, nyaris menyerupai rintihan anak kucing yang sedang sekarat, mendadak menghentikan langkah kaki Gu Yu. Sepasang mata sehitam tintanya menyipit tajam. Watak dewasanya seketika bangkit. Ia menoleh perlahan, menatap ke arah gundukan semak belukar lebat di balik pohon persik tua yang tumbuh di pinggiran setapak.

Gu Yu melangkah pelan dengan posisi siaga penuh. Tangan kanan kecilnya secara insting bergerak menyentuh hulu pedang kayu di punggung jubah rami abu-abunya. Ketika tangan kecilnya menyibakkan daun-daun semak yang basah, sepasang mata hitamnya terbelalak sempurna karena terkejut.

Terbaring di atas tanah berlumpur, sesosok anak harimau bertubuh sekepalan tangan orang dewasa dengan bulu putih bersih bergaris perak halus. Tubuh kecilnya tampak sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dan napasnya tersengal-sengal kaku akibat siksaan rasa lapar yang teramat parah setelah hidup sebatang kara di tengah kejamnya gunung fana.

Gu Yu kecil berlutut di atas tanah yang lembap. Watak dinginnya seketika mencair melihat kondisi memprihatinkan makhluk berbulu tersebut. Rasa empati yang murni—sebuah sifat luhur yang menuruni kesucian Shen Liya—membuatnya tidak tega mengabaikan makhluk tak berdaya ini. Ia mengulurkan tangan kecilnya, dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh lemas anak harimau putih itu ke dalam dekapannya.

"Kau... tidak punya rumah dan kelaparan seperti aku dulu, ya?" bisik Gu Yu kecil dengan suara yang teramat lembut.

Ia membungkus harimau kecil itu dengan saputangan rami miliknya, menaruhnya dengan sangat cermat di dalam keranjang obat, lalu bergegas berlari pulang menuju pondok kayu.

Begitu tiba di pelataran gubuk bambu, Gu Yu langsung berteriak memanggil ibunya dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan.

"Ibu! Lihat apa yang kutemukan di lereng bukit!"

Shen Liya yang sedang merajut sehelai kain katun di teras depan segera bangkit berdiri. Sepasang mata indahnya membelalak kaget saat melihat Gu Yu mengeluarkan anak harimau putih kurus dari dalam keranjang obat.

Sebagai mantan dewi langit, ia memiliki pengetahuan spiritual yang luas; ia langsung menyadari bahwa makhluk ini bukan harimau hutan biasa, melainkan seekor siluman harimau putih murni yang telah kehilangan induknya.

"Dia pingsan karena kelaparan, Ibu. Bolehkah aku merawatnya? Dia bisa menjadi temanku di gubuk ini," pinta Gu Yu kecil dengan tatapan mata memohon yang teramat jujur.

"Tentu saja boleh, Yu'er. Bawa dia ke dapur dan beri dia sedikit air susu kambing hangat yang tadi pagi direbus oleh Ayahmu," ujar Shen Liya tersenyum haru melihat kebaikan hati putranya.

Namun, drama komedi sesungguhnya terjadi beberapa saat kemudian, ketika Gu Jue melangkah keluar dari dalam dapur membawa teko keramik berisi air hangat.

Begitu anak harimau putih yang mulai siuman itu membuka sepasang mata biru kristalnya dan melihat sosok Gu Jue yang berjalan mendekat, insting alami silumannya seketika bergetar hebat. Meskipun Gu Jue menekan kekuatannya sedalam mungkin di balik wujud Ah Jue sang tabib fana, indra spiritual hewan suci itu tetap mampu mendeteksi sebuah kehadiran eksistensi raksasa sepekat malam yang teramat mengerikan di balik jubah rami pria tersebut.

HISS!

Anak harimau putih itu seketika gemetar hebat ketakutan setengah mati. Bulu-bulu putih di tubuh kecilnya berdiri tegak seperti landak, dan ia buru-buru membalikkan tubuhnya, menyembunyikan kepala kecilnya di balik ketiak jubah rami abu-abu Gu Yu sembari mengeluarkan suara cicitan takut yang teramat konyol.

Makhluk kecil itu merapat seerat mungkin pada tubuh Gu Yu, seolah sedang memohon perlindungan agar nyawa kecilnya tidak dicabut oleh sang Raja Iblis yang berdiri di depan mereka.

Gu Jue menghentikan langkah kakinya tepat dua tindakan dari meja kayu. Sepasang mata sehitam tintanya menurunkan pandangan, menatap datar anak harimau putih yang sedang ketakutan kaku di dekapan anaknya. Di dalam batinnya, Mo Jue mengenali garis darah binatang suci tersebut, namun ia memilih diam demi kelancaran sandiwara manusianya.

"Jika anak kucing berbulu putih itu merusak tanaman obat jemuranku esok pagi, aku akan merebusnya menjadi sup malam, Bocah," ancam Gu Jue dingin sebelum berjalan pergi membalikkan badannya menuju teras samping.

Gu Yu kecil meremas pelan punggung harimau putihnya, mencoba menenangkannya dan memberinya nama Xiao Bai. Mulai sore itu, Xiao Bai resmi menjadi sahabat sekaligus teman bermain yang paling setia bagi sang pangeran cilik di Gunung Han.

------------------------------

Sementara kedamaian kaku mulai terajut hangat di pondok kayu bersama kehadiran Xiao Bai, di belahan dunia fana yang lain, sebuah badai konspirasi yang mengerikan justru baru saja tersulut akibat kelicikan Alam Langit.

Jauh di puncak Gunung Guntur, tempat berdirinya Altar Agung Sekte Sembilan Pedang—sekte kultivator manusia terbesar di bumi fana—langit siang itu mendadak terbelah oleh kilatan cahaya emas yang menyilaukan. Ribuan kultivator yang sedang berlatih di pelataran sekte seketika berlutut ketakutan saat sebuah proyeksi suara tiruan raksasa yang agung bergema dari balik awan langit tingkat sembilan.

Itu adalah titah gaib dari Dewa Tinggi Ling Cang yang penuh dengan manipulasi kejam.

"Wahai para pemburu keabadian di dunia bawah," suara tiruan Ling Cang bergaung megah, memanipulasi keserakahan di dalam hati setiap manusia mortal yang mendengarnya.

"Telah melarikan diri seorang pendosa langit pembawa petaka, seorang wanita bergaun katun biru bersama seorang anak kecil bermata hitam sepekat malam yang merupakan benih kutukan pembawa kiamat bagi dunia fana. Siapa pun di antara kalian, faksi mana pun di dunia bawah yang berhasil menangkap dan membawa mereka hidup-hidup ke altar suci... akan Aku anugerahkan kenaikan tingkat kultivasi instan, mendobrak batas fana, dan diangkat menjadi Dewa Abadi di Alam Langit!"

Mendengar janji palsu tentang kenaikan tingkat instan menjadi dewa dan fitnah kejam mengenai "Benih Kutukan", tidak semua umat manusia fana menjadi gila.

Sekte-sekte yang menjunjung tinggi moral kebajikan memilih untuk menutup gerbang mereka dan mengabaikan sayembara tersebut. Namun, janji keabadian langit terlalu menggiurkan bagi tiga faksi manusia terkuat yang selama ini haus akan kekuasaan mutlak: Sekte Sembilan Pedang, Sekte Lembah Racun, dan Sekte Awan Darah.

Dalam hitungan jam, ketiga sekte besar manusia fana tersebut mendadak berubah menjadi pemburu bayaran yang kejam, menggerakkan ribuan pasukan zirah dan pendekar mereka untuk mulai mengepung dan mendirikan perkemahan perang di bawah kaki Gunung Han.

------------------------------

Malam pun melarut di atas lereng Gunung Han, membawa hawa dingin badai yang kian menusuk pori-pori kulit dari balik celah kabut hutan bambu. Namun, di dalam ruang tengah pondok kayu, kehangatan dari tungku perapian yang menyala kemerahan berhasil mengusir kebekuan malam.

Xiao Bai sudah tertidur lelap di kamar sebelah, meringkuk hangat di bawah selimut katun bersama Gu Yu kecil, menyisakan keheningan yang sarat akan getaran emosional di antara dua orang dewasa yang kini duduk berhadapan di dekat meja kayu bundar.

Shen Liya menatap cangkir teh herbal kosong di depannya. Gaun katun biru mudanya tampak sedikit kusut, mencerminkan kegelisahan batin yang sejak sore tadi mencengkeram jiwanya akibat distorsi energi hasutan dari langit yang sempat ia rasakan. Pikirannya dipenuhi ketakutan bahwa keberadaannya akan kembali menyeret gubuk damai ini ke dalam petaka kehancuran.

"Kau melamun terlalu lama, Liya. Tehmu sudah mendingin," suara rendah Gu Jue memecah kesunyian.

Pria itu duduk dengan santai, jubah rami abu-abunya sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh. Sepasang mata sehitam tintanya menatap lekat-lekat pada wajah cantiknya yang diterangi cahaya temaram api tungku.

Shen Liya menghela napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ah Jue... dunia luar sedang tidak aman. Entah mengapa, instingku membisikkan bahwa badai yang lebih besar dari delapan tahun lalu sedang bergerak menuju gunung ini. Aku... aku takut kehadiranku di sini hanya akan membawa kematian untukmu dan Yu'er."

Gu Jue meletakkan pisau kecil obatnya ke atas meja dengan ketukan pelan. Ia mengulurkan tangannya yang panjang dan kokoh, dengan sangat lembut meraih jemari kurus Shen Liya yang berada di atas meja. Kontak fisik itu membuat Shen Liya tersentak sekilas, namun ia tidak menarik tangannya kembali. Hawa dingin yang menenangkan dari telapak tangan Gu Jue seketika meredam kepanikan di dalam dadanya.

"Delapan tahun lalu kau melarikan diri dariku dengan alasan yang sama," ujar Gu Jue, nadanya tidak lagi ketus atau menyindir, melainkan sarat akan kejujuran yang teramat dalam.

"Kau membiarkanku terbangun di pondok yang kosong, meninggalkan selendang sutramu, dan membiarkanku mengira bahwa kau hanya memanfaatkanku lalu mencampakkanku setelah kau sembuh."

Air mata Shen Liya seketika meleleh membahasi pipi pucatnya mendengarkan kalimat tersebut.

"Aku tidak pernah mencampakkanku, Ah Jue! Aku pergi karena... karena aku tahu musuh-musuhku sangat kuat. Mereka bukan manusia biasa. Jika mereka menemukanmu menyembunyikanku, mereka akan mencabik-cabik sukmamu hingga tidak tersisa! Aku menolak melihat pria yang sudah menyelamatkan nyawaku mati karena kesalahanku!"

Gu Jue mencengkeram jemari Shen Liya sedikit lebih erat, menarik tubuh wanita itu condong ke depan agar jarak wajah mereka kian mengikis.

"Kau mengira dengan mengorbankan dirimu sendirian terlunta-lunta di dunia fana demi membesarkan bocah itu, aku akan hidup bahagia di gubuk ini?" ujar Gu Jue, nadanya sarat akan kejujuran yang teramat dalam.

Di dalam batinnya, Mo Jue sang Raja Iblis ingin sekali berteriak menuntut mengapa wanita ini harus menanggung beban membesarkan anak kandung mereka sendirian dalam kebohongan. Namun, di depan wajah istrinya, ia tetap memoles topeng Ah Jue dengan sangat rapi.

"Kau kembali dan memohon padaku untuk menjadi ayahnya setelah kau tiada. Mengapa kau tidak berpikir bahwa selama sewindu ini, hatiku telah mati bersama kepergianmu, Liya? Setiap fajar menyingsing, aku hanya melihat ranjang kosong yang dingin."

Mendengar pengakuan jujur dari pria yang ia kira manusia mortal biasa ini, dinding pertahanan emosional Shen Liya runtuh seutuhnya. Tangisnya pecah seketika. Ia menyandarkan dahinya di atas punggung tangan tegap Gu Jue yang masih menggenggamnya erat, meluapkan seluruh rasa rindu, rasa bersalah, dan penderitaan batin yang ia tahan sendirian selama delapan tahun melahirkan dan membesarkan anak mereka.

Gu Jue berdiri dari kursinya, lalu berjalan memutari meja. Ia berlutut di samping kursi Shen Liya, mengulurkan kedua lengan kekarnya untuk menarik tubuh rapuh sang Dewi ke dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk Shen Liya dengan begitu erat, menyembunyikan wajah tampannya di balik lekuk leher istrinya yang harum wangi bunga Xian-Cao.

"Aku juga mencintaimu, Liya," bisik Gu Jue, suaranya bergetar halus menahan keharuan seorang suami. "Sangat mencintaimu. Karena itu, berhenti memikirkan tentang melarikan diri lagi. Di gubuk ini, di bawah perlindunganku, tidak akan ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa memisahkan kita untuk kedua kalinya. Serahkan semua ancaman luar padaku."

Shen Liya membalas pelukan tegap Gu Jue dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Rasa aman absolut yang asing namun teramat pekat kembali membungkus jiwanya, mengunci janji saling jujur tentang perasaan cinta mereka di balik dinding-dinding bambu pondok kayu malam itu, sementara di kaki gunung luar sana, lautan obor dari ribuan pasukan tiga sekte besar manusia yang serakah mulai menyala terang, mengurung kedamaian gubuk mereka dari segala penjuru dimensi fana.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!