NovelToon NovelToon
My Cold Husband

My Cold Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:347k
Nilai: 5
Nama Author: maudia

Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++

Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.

Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.

Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.

Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.

Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.

Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.

Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband

SLOW UPDATE 🙏🏻


NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.


Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.

شكرا جزيلا♥️

Terimakasih banyak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 - Sama-sama Rindu

Setelah Agam keluar, Rahim membalikkan badannya, menatap keluar jendela. Ternyata di luar panas. Paparan cahaya matahari yang turun langsung ke permukaan bersamaan sekarang telah masuknya jam makan siang, membuat udara di sekitar Ibu kota yang sudah panas menjadi semakin panas.

Dari ruangan Presdir, ruangan yang terletak di lantai paling tertinggi perusahaan. Semua terlihat sangat nampak dari atas sana. Padatnya jalanan yang di dominasi oleh kendaraan bermotor, dan mobil. Sampai banyaknya para pedagang angkringan yang di serbu karyawan kantor untuk menghilangkan rasa penat. Hingga para pelajar yang tengah pulang sekolah.

Pemimpin perusahaan itu, menghela nafasnya dengan kasar. Dirinya juga ingin menghilangkan rasa penat, ingin bebas dari beban tanggung jawab pengelola perusahaan. Seperti berlibur misalnya. Menghabiskan waktu bersama sang istri. Walaupun untuk saat ini hanya sedekar makan siang.

Aku merindukanmu...

Rahim menatap ke atas, tepatnya pada langit yang cerah secerah senyuman Nita yang sangat ia rindukan. Matanya bergerak kesana kemari seperti sedang mengumpulkan awan. Imajinasi dan halusinasinya terkuak, senyum tipis terbit di sana saat ia berhasil menggambarkan Nita yang sedang tersenyum dari gumpalan awan.

"Senyum mu itu sangat manis" pujinya sembari tersenyum, seakan Nita sedang ada di depannya.

"E'hem" terdengar deheman keras dari arah belakang.

Senyum seperangkat dengan halusinasi yang sudah Rahim bangun dengan susah payahnya langsung buyar menghilang begitu saja. Wajahnya berubah menjadi dingin kembali. Rahim memutar tubuhnya.

-Agam- sang tangan kanan tersenyum smrik kearah Tuannya, sebenarnya ia sudah ada di ruangan sejak tadi, dan ia melihat bahkan mendengar semua yang Rahim lakukan dan katakan.

"Apa ada yang lucu?!" ekor matanya melirik tajam kepada Agam, berusaha menutupi rasa malunya dengan bersikap dingin.

"Tidak Tuan"

Tuan sensi!. Hatinya terkikik sendiri.

"Bagaimana?" tanya Rahim, seraya bejalan menuju kursi kebesarannya.

"Dia sedang menangis hebohhh ----" cerita Agam terhenti saat Rahim memotong.

"Aku tidak bertanya tentangnya!."

Kedua alis Agam mengernyit secara otomatis. Bingung.

Tadi katanya bertanya dan sekarang katanya tidak bertanya?.

Merasa salah, sang tangan kanan itu diam, sepertinya dia sedang loading. Memikirkan siapa dan kemana arah pembicaraan Tuannya ini.

Memang kemampuan menerjemahkan pertanyaan Rahim yang suka seenak jidat dan tidak spesifik itu terbilang langka. Hanya Tuan besar dan Vans saja mampu, itupun terkadang Vans juga suka loading.

"Riyaa" melihat Agam yang diam dengan alis yang berkerut dalam, Rahim pun membuka suara, memberikan petunjuk. Karena terlalu lama bagi Rahim menunggu hingga Agam mengerti arah pertanyaannya.

"Oh..."

"Kita berhasil mendapatkan hak asuhnya Tuan" Agam berucap setelah fikirannya kembali koneks, sembari mengangguk-angguk. "Sebentar" ucapnya dengan kedua telapak tangan berdiri di udara dan langsung keluar mengambil sesuatu yang tadi ia tinggalkan di meja kerja Tania.

2 Menit kemudian Agam kembali dengan membawa sebuah map berwarna coklat. "Ini Tuan" seraya menyerahkan map itu pada Rahim.

"Good Job!" seru Rahim, tersenyum lebar setelah membuka map tersebut. Map yang berisikan surat hak asuh Riyaa, yang berhasil berpindah tangan kepadanya.

Rahim tidak kuasa melihat Istri terutama Ibunya yang terlihat begitu terpuruk saat, setelah -Riyaa- si princes kecil pergi di bawa oleh kedua orang tua angkatnya.

Ingatannya kembali pada kejadian mengenaskan 22 tahun silam. Bagaimana Ibunya yang kehilangan putri kecilnya sama persis seperti sekarang, saat si kecil Riyaa pergi, hingga membuat -Sonia- Ibunya jatuh sakit.

Dengan kekuasaan dan harta, mudah tentunya bagi Rahim untuk mendapatkan hak asuh Riyaa kembali, demi menyehatkan Ibunya serta mengembalikan keceriaan keluarganya.

Di sela senyumnya pria itu menghela nafas, mengingat akan ego dan kekerasan hatinya dulu, yang tidak mau mengadopsi Riyaa hanya karena takut waktu bersama Nita akan berkurang, karena ada anak di antara mereka. Tapi sekarang berbeda, Rahim sudah menyadari dimana kesalahannya, mempunyai anak justru bisa mengeratkan hubungan dirinya dengan Nita. Bukan malah merenggangkan.

Agam mengangguk beberapakali, ia ikut senang, karena ternyata hasil kerja kerasnya tidak sia-sia.

"Apa kita akan menjemput Nona kecil Tuan?"

Orang yang ditanya mengangkat salah satu alisnya, berfikir. "Tidak usah! Biarkan dia bersenang senang" Rahim menyeringai licik.

"Agam dimana ponsel ku?" ia sudah merasa sangat suntuk kalau hanya berada di ruangan.

Sesegera mungkin Agam meraih ponsel Rahim di saku bagian kiri jasnya. "Anda ingin menelpon Nona, Tuan?" tanyanya, setelah sebelumnya memberikan ponsel pada Rahim.

"Nyonya!" Rahim memperbaharui serta membenarkan sebutan Agam pada Nita. "Kau harus memanggilnya Nyonya mulai sekarang!" titahnya. Karena Riyaa sudah sah menjadi putri mereka.

"Baik! Nyonya." Rahim mengangguk, sebutan Agam sudah benar. Just right!

"Hmmm... Kenapa tidak bisa?" bergumam sendiri didepan ponsel.

"Bukankah ponsel Nyonya memang tidak aktif?" seingat Agam menurut cerita Vans waktu itu, dia dimarahi habis-habisan oleh Rahim karena diduga sengaja salah memberikan nomor telpon Nita.

Gerakan jari jemari yang tadinya berseluncur ria di layar datar itu terhenti. Rahim mendongakkan kepalanya dari ponsel menatap Agam. "Benarkah?."

Agam terbengong, tidak percaya. Pertanyaan bodoh apa itu menurutnya.

Bukankah Tuan selalu bersama dengan Nyonya? lalu kenapa bisa bisanya tidak tahu?

"Anda benar benar tidak tahu Tuan?."

Tanpa beban Rahim mengangguk. Membuat Agam tergelak. Fikiran liarnya berkeliaran kesana kemari.

Rahim mencoba mengingat ingat, sampai ingatannya kembali saat dirinya menelpon tim cleaning servis, eh tidak-tidak maksudnya menelpon Istrinya tapi yang mengangkat malah anggota cleaning servis.

Ah sial!

Pria itu baru ingat, kalau itu adalah pertama dan terakhir kalinya dirinya menghubungi Nita. Dan setelahnya tidak ada lagi komunikasi antara dirinya dengan sang istri.

'Brakkk!' Rahim menggebrak meja.

Tik tik tik, dalam 3 detik, Agam langsung bungkam. Aura membunuh dari seorang Rahim terkerahkahkan sempurna. Membuat suasana menjadi hening dan mencekam, Agam tetap berdiri dengan diamnya, di depan meja Rahim. Sementara Rahim juga diam memikirkan, kenapa bisa-bisanya dirinya tidak tahu dan tidak sadar.

Drt... drt. Ponsel yang tergeletak di atas meja berdering.

Rahim meraih ponselnya dengan kasar. "Ada apa Vans?!" menjawab gausar.

".......…..........."

Agam masih setia dengan mode diamnya. Ia lebih memilih mendengarkan. Tidak memancing lebih jauh lagi kemarah Tuannya.

Kenapa, kenapa?

Bingung sendiri saat melihat perubahan mimik muka Rahim.

"Aku tidak mau tahu. Kau harus bisa mencegahnya agar tidak datang ke sini!" Rahim langsung mematikan sambungan telponnya.

Baru Agam membuka mulut, ingin bertanya. Apa? dan kenapa?. Tapi Rahim sudah bangun dari kursi kebesarannya, bersiap beranjak.

"Ayo kita pergi Agam!"

🍃🍃🍃

Kampung.

Nita termenung duduk di teras kelas. Tatapannya kosong, lurus ke depan. Yang ia fikirkan hanya satu, yaitu Rahim, suaminya. Dan bagaimana dengan nasib pernikahannya yang baru seumur jangung ini?

Nita merasa perasaan dan perhatian Rahim hari makin hari berangsur berkurang.

Dan akhirnya hilang tanpa membekas.

Nita tersenyum getir. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa? Seumur hidupnya, tidak pernah merasa ada di posisi sekarang. Ia tidak pernah menjadi seorang wanita yang mempunyai rasa sayang dan takut kehilangan kepada lawan jenis.

Aku... aku... aku sangat merindukanmu.

Senyumnya, wajah tampannya, dekapan hangatnya, semua Nita rindukan.

Baru kali ini Nita merasakannya, merasakan takut akan kehilangan.

Apa kami akan bercerai?

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari dalam hatinya.

.

.

.

.

.

Aku yang Manis ini kadang suka Malis. [Malas nulis] ea canda manis;)

1
Dindaa
mantap
Alia Addurrunnafis
kpn di lnjud lg thor??
Febri Ana
aku mampir thor
R.A
seperti cinderela awal ceritanya 👍
Staffs AZ Zahro
tulisanya tamat tapi ceritaya nanggung banget
manda_
👍👍👍👍
manda_
keren 👍👍👍
manda_
👍👍👍
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya
manda_
lanjut
manda_
nita mulai cemburu ya
manda_
🤣🤣🤣😂😂
manda_
mulai dikit2 ya biar nitanya gak kaget
manda_
pak supir lagi luluran non sama lumpur
manda_
lanjut
manda_
baru liat bibirnya aja udah bangun ya dedeknya 😂😂😂😂🤭🤭
manda_
😍😍😍
manda_
lanjut
manda_
👍👍
manda_
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!