Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.
Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.
Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.
Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34. Menjalankan Rencana Jahat
Maka ke esokan harinya, wanita itu mulai berkemas dengan sangat bersemangat, mempersiapkan segala keperluan mereka untuk berlibur. Dia memasukkan kotak-kotak makanan, tas berisi pakaian, bahkan tenda dan karpet kecil yang akan mereka pakai untuk duduk saat menyantap makanan. Dia sangat bahagia mempersiapkan semua itu. Karena dalam beberapa jam lagi, apa yang dia rencanakan akan menjadi kenyataan.
Namun dia melihat wajah Doni begitu lesu. Tidak ada sedikit pun keceriaan. Bagaimana tidak? Perjalanan yang mereka persiapkan, adalah perjalanan untuk mengantar sang ayah ke peristirahatan lain. Maka wanita itu menginjak kakinya dan berkata pada Doni agar merubah raut wajahnya menjadi bahagia. Sementara Jina yang menyaksikan itu, hanya bisa diam. Dalam hatinya dia berpikir, 'Akan jadi seperti apa keluarga ini nanti?'
Lalu tak lama kemudian, pria itu pun muncul sambil tersenyum dan berkata dengan bersemangat,
"Apa kalian sudah siap berangkat? Ayo! Ayo semangat!"
Kemudian dia dan yang lainnya segera masuk ke mobil. Mobil yang telah diservice dan dirangkai sedemikian rupa untuk kecelakaan yang telah wanita itu rencanakan. Pria itu pun memakai sabuk pengamannya, menyetel musik, dan mulai melaju santai sambil sesekali bernyanyi mengikuti lagu yang dia mainkan.
Sedangkan wanita itu, yang duduk di sampingnya, menjadi penunjuk jalan baginya. Sebenarnya pria itu sudah tahu jalan mana yang harus dia lalui untuk sampai ke lokasi wisata yang mereka tuju. Namun wanita itu memutar haluannya untuk mengulurkan waktu dan memperlambat perjalanan. Tapi pria itu tidak membantah sekalipun dan menurutinya. Karena wanita itu mengatakan alasan yang cukup masuk akal baginya sehingga pria itu tidak merasa keberatan untuk memutar haluan. Wanita itu berkata,
"Kak, aku ingin singgah sebentar membeli roti untuk kita panggang nanti. Aku lupa membelinya karena sangat sibuk mempersiapkan yang lainnya."
Pria itu setuju dan langsung berhenti di depan toko tersebut. Lalu, wanita itu pun segera turun untuk membeli beberapa roti juga selai dan isiannya yang lain. Dia juga sengaja berlambat-lambat di sana untuk mengulur waktu. Dia sengaja memilih-milih roti cukup lama. Lalu setelah dia rasa waktunya sudah cukup, saat dia melihat ke jam tangannya, dia segera kembali ke mobil dan berjalan cepat.
Lalu sembari memasukkan kantung-kantung berisi roti itu, dia mengomel untuk bersandiwara,
"Aduh... pegawai toko itu sangat lama melayani pelanggan. Jika dia karyawan saya, sudah saya pecat dia sejak dulu."
"Sudahlah ma. Jangan marah-marah terus." Balas pria itu lembut.
Pria itu masih memanggilnya mama kepada adik perempuannya, karena dia masih berpikir bahwa sandiwara mereka sebagai suami istri belum terbongkar kepada Doni dan menantunya Jina.
Tapi Doni merasa muak dan jijik saat mendengar sebutan yang tidak pantas itu.
Setelah itu, mereka pun segera melanjutkan perjalanan lagi. Dan wanita itu terus memilih jalannya sendiri. Sehingga mereka sering berubah haluan dari jalan yang seharusnya. Tapi pria itu tidak curiga sedikit pun. Hingga akhirnya mereka melewati jalanan yang sepi, perlintasan kereta api.
Wanita itu melakukan berbagai cara agar bisa terus mengulur waktu sampai kereta yang mereka rencanakan melintas. Lalu ketika beberapa menit sebelum kereta itu terlihat, wanita itu mengajak pria itu mengobrol. Juga Doni dan Jina turut mengobrol. Mereka mulai menanyai pria itu berbagai hal sehingga fokusnya teralihkan dan dia terus melajukan mobilnya tanpa memperhatikan kereta api yang semakin dekat.
Maka ketika kereta itu sudah sangat dekat, barulah pria itu sadar. Tapi ketika dia terus berusaha melaju, mesin mobil itu mati. Mereka semua pun berteriak ketakutan.
Tapi sebelum kereta itu akan menabrak dan menghancurkan mobil mereka, wanita itu, Doni, dan Jina, dengan cepat keluar dari mobil. Mereka menghancurkan kaca jendela itu dengan alat yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Lalu mereka melompat dan terguling ke tanah. Tubuh mereka penuh luka karena tergores dan terbentur dengan kerikil-kerikil. Sedangkan pria itu, saat berusaha ingin keluar, dia tidak bisa. Karena sabuk pengaman yang sebelumnya dia pasang, telah menempel kuat. Itu seperti dua besi yang disatukan dengan cara di las. Sabuk pengaman itu sengaja dirusak dan dirancang seperti itu oleh wanita itu saat dia membawa mobil itu ke bengkel mobil, untuk membuat agar pembunuhan itu terlihat seperti kecelakaan. Wanita itu membayar dua kali lipat kepada montir itu untuk melakukan apa yang dia suruh, dan berjanji akan merahasiakannya.
Kini mobil itu telah hancur berkeping-keping dan terlempar ke berbagai arah. Juga jasad pria itu hancur lebur tergilas oleh kereta api. Bercak dan jipratan darah menyebar ke seluruh permukaan rel kereta. Entah kemana potongan-potongan tubuhnya berserakan dan terlempar. Sunguh peristiwa yang sangat tragis dan memilukan untuk disaksikan dengan mata telanjang oleh anak sendiri dan adik kandung sendiri.
Mereka meratap dan menangis keras menyaksikan kejadian memilukan itu. Suara mereka yang keras memancing perhatian warga sekitar. Satu persatu warga mulai berdatangan untuk melihat kejadian itu dan memberikan pertolongan pada mereka.
Belakangan beberapa polisi datang kesana dan memeriksa kejadian itu. Maka wanita itu segera bersaksi menceritakan kebohongannya. Dia menangis pilu di hadapan beberapa polisi itu sambil berkata,
"Suamiku yang malang tidak sempat menyelamatkan dirinya. Saat kami berusaha membantunya keluar, dia malah memarahi kami dan mendesak kami agar segera menyelamatkan diri. Kami tidak memperhatikan kereta itu sama sekali. Juga tidak ada palang pintu di sana yang akan mencegah kami lewat saat kereta sedang melintas."
Dia terus menangis mengutarakan kesedihan palsunya. Sedangkan Doni dan Jina, menangis di sudut karena menyesali kejadian itu. Menyesali perbuatannya. Andai waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan merampas kehidupan ayahnya hanya karena kebohongan dan kejahatan besar yang dia lakukan. Dia mungkin akan mencoba berbicara baik-baik padanya untuk menemukan solusi dari permasalahannya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, dan yang mati tidak bisa bangkit lagi.
**********
Setelah kejadian itu, Doni sangat murung. Dia sudah murung selama berhari-hari semenjak kematian ayahnya. Dia juga tidak mau dihibur oleh siapapun. Bahkan makanan yang setiap hari istrinya bawakan kepadanya tidak sanggup dia habiskan karena beratnya kesedihannya. Airmatanya selalu jatuh setiap kali makanan itu menyentuh mulutnya. Dia berkata sambil menangis,
"Makanan ini ada karena uang ayahku, kerja keras ayahku. Tapi aku melenyapkannya dengan tanganku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati makanan ini dan menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih? Kenapa aku sangat bodoh?
Kenapa umurku bertambah tapi tidak hikmatku? Apa bedanya aku dengan ayahku? Aku membenci perbuatannya, tapi aku justru menirunya. Kenapa? Kenapa Jina?"
Dia berteriak keras kepada istrinya dan mencengkram kuat pakaiannya.
Maka dia pun menjadi takut tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya terkunci oleh tangan suaminya yang kuat. Dia hanya menangis diam sambil berharap keadaan emosi dan mental suaminya bisa cepat pulih.
lanjut