Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Perangkap di Ujung Lorong
Cahaya senter yang dipegang oleh sosok di ambang pintu bergeser liar, menyorot langsung ke arah meja kayu tempat Fajar dan Kirana berdiri. Di balik bayangan siluet tubuh yang tegap itu, wajah Ardi tampak menua namun menyeringai tajam dengan sorot mata penuh keputusasaan dan kemarahan. Pria paruh baya tersebut tidak lagi mengenakan setelan eksekutif yang rapi; jaket tebal berkerudung yang dipakainya membuat penampilannya terlihat seperti buronan bayangan yang siap melakukan apa saja.
"Wah, wah... rombongan kecil yang manis," suara serak Ardi memecah keheningan ruang arsip, bergetar menahan amarah yang meluap-luap. "Kalian kira bisa dengan mudah mengorek-ngorek bangkai masa lalu di tempat sampah ini dan lolos begitu saja? Kalian benar-benar anak-anak bodoh yang mencari mati." Fajar segera menarik tubuh Kirana ke belakang punggungnya, menjadikan dirinya sebagai perisai pelindung. Matanya menatap tajam ke arah benda logam di tangan Ardi—sebuah pisau lipat bergagang hitam yang memantulkan kilau dingin di bawah temaram lampu darurat.
Ardi melangkah maju perlahan, langkah kakinya berderap berat di atas lantai semen yang dingin, menutup satu-satunya jalan keluar dari lorong sempit arsip tersebut. "Kirana," panggil Ardi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba memanipulasi emosi putri tirinya. "Kemarilah. Jangan biarkan bocah asing itu meracuni pikiranmu. Semua yang kubangun ini... perusahaan ini, kekayaan ini, semuanya kuperuntukkan untukmu. Kita bisa pergi dari sini dan memulai semuanya dari awal di tempat lain." Kirana yang berada di belakang Fajar mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap tajam pria yang selama bertahun-tahun ia hormati sebagai ayah kandungnya sendiri.
"Jangan panggil aku dengan nama itu!" sergah Kirana, suaranya bergetar hebat namun penuh ketegasan yang menusuk hati. "Aku sudah tahu semuanya, Ardi! Kamu bukan ayahku! Kamu adalah monster egois yang merampok kehidupan paman Aditya dan menghancurkan segalanya demi ambisi busukmu sendiri!" Mendengar bentakan itu, seringai di wajah Ardi seketika lenyap, digantikan oleh raut wajah dingin yang mengerikan. Pria tua itu berhenti melangkah, tawanya pecah secara tiba-tiba, menggema nyaring di antara deretan lemari besi tua yang berdebu.
"Oh, jadi kalian sudah tahu selengkap itu?" cemooh Ardi, menatap Fajar dengan sorot mata penuh dendam membara. "Baguslah kalau begitu. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot menjelaskan kebohongan apa lagi yang harus ditutupi. Dan kamu, Fajar... keberanianmu mencampuri urusanku hari ini akan menjadi penyesalan terbesar seumur hidupmu." Sebelum Ardi sempat menerjang maju dengan pisau di tangannya, Fajar dengan sigap meraih sebuah tumpukan besar map arsip tebal di atas meja dan melemparkannya sekuat tenaga tepat ke arah wajah Ardi untuk memecah konsentrasinya.
Lembaran kertas berdebu itu berhamburan di udara, menciptakan kabut debu tebal yang menghalangi pandangan Ardi seketika. "Lari, Kirana!" bentak Fajar sambil menyambar tangan gadis itu, berlari kencang menuju sisi lain lorong arsip yang memiliki jalur evakuasi darurat menuju tangga basement. Ardi yang terkejut karena lemparan map tersebut mengibaskan tangannya dengan kasar, batuk-batuk kecil akibat debu tua yang terhirup, lalu berteriak murka saat melihat mangsanya mulai kabur melarikan diri ke dalam kegelapan lorong.
Langkah kaki mereka berdua bergemuruh di atas lantai semen, berlari menembus labirin rak-rak besi berkarat yang dipenuhi tumpukan sejarah perusahaan. Senter ponsel yang mereka pegang berkedip-kedip lemah, menambah ketegangan situasi di tengah ruangan yang minim cahaya. "Fajar, ke mana arah jalur keluar ini?" tanya Kirana terengah-engah, napasnya memburu karena kelelahan dan rasa takut yang bercampur aduk di dalam dadanya. Fajar melirik sekilas ke arah denah darurat yang sempat ia hafalkan di kepala saat memasuki gedung ini beberapa hari lalu. "Di ujung lorong ini ada pintu darurat yang tembus langsung ke area parkir basement. Bertahanlah sebentar lagi!" balas Fajar menyemangati.
Namun, suara derap langkah kaki Ardi di belakang mereka terdengar semakin dekat, disertai teriakan-teriakan penuh ancaman yang menggema di balik dinding-dinding semen. Pria paruh baya itu sangat mengenal setiap sudut gedung ini, memberinya keuntungan taktis dalam memburu mereka berdua di lorong yang gelap gulita. Tiba-tiba, dari arah persimpangan lorong sebelah kanan, bayangan tubuh Ardi muncul secara mendadak, memotong jalur pelarian mereka dengan kecepatan yang tak disangka-sangka dari seorang pria seusianya.
Fajar refleks mendorong Kirana ke samping, tepat sepersekian detik sebelum ayunan pisau Ardi menyambar udara kosong di tempat mereka berdiri tadi. Sabetan itu meleset tipis, namun berhasil merobek sedikit kain lengan jaket Fajar. "Cih, gesit juga kau, anak muda!" desis Ardi penuh amarah, bersiap melancarkan serangan susulan yang jauh lebih mematikan. Fajar tidak punya pilihan lain; ia memasang kuda-kuda, siap mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Kirana dan memastikan rahasia kelam PT Arunika Jaya akhirnya bisa diserahkan kepada pihak yang berwenang.
Situasi di persimpangan lorong arsip bawah tanah itu kian mendesak. Kirana yang terjatuh di lantai semen segera bangkit, matanya membelalak ngeri melihat Ardi kembali mengayunkan pisaunya ke arah Fajar. Tanpa pikir panjang, gadis itu menyambar sebuah pipa besi tua yang tergeletak di dekat tumpukan reruntuhan bangunan, lalu menghantamkannya dengan sekuat tenaga ke arah punggung Ardi. Hantaman keras itu membuat Ardi terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan, dan tersungkur jatuh menimpa tumpukan kotak arsip di sudut ruangan.
"Fajar, cepat lari!" jerit Kirana panik sambil menarik tangan Fajar agar segera memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Fajar dan Kirana melesat berlari sekencang-kencangnya menyusuri sisa lorong menuju pintu darurat bercat merah yang berada di ujung pandangan mereka. Di belakang mereka, Ardi meraung murka, bangkit dengan sisa tenaganya sambil mencaci maki kedua anak muda yang telah menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
Begitu mereka tiba di depan pintu darurat, Fajar menendang pegangan besi pintu tersebut dengan seluruh sisa tenaga di kakinya. Ceklek! Pintu berat itu terbuka lebar, membiarkan terpaan angin malam dan cahaya lampu sorot area parkir basement menyambut kebebasan mereka. Mereka berdua melompat keluar, menutup dan mengunci kembali pintu besi darurat dari luar dengan mengganjalnya menggunakan pipa besi agar Ardi tidak bisa langsung mengejar mereka. Napas keduanya terengah-engah hebat di udara malam yang dingin, namun mereka tahu pertempuran ini belum benar-benar selesai.