NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Perkenalan

Malam itu suasana rumah terasa begitu sunyi. Angin yang berembus perlahan dari jendela kamar membawa hawa sejuk yang biasanya mampu membuatku cepat terlelap. Di luar, suara jangkrik saling bersahutan memecah keheningan malam, sementara cahaya bulan menyelinap melalui celah-celah jendela, memantulkan bayangan samar di lantai kamarku. Namun, setenang apa pun suasana malam itu, pikiranku justru dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang terus berputar tanpa henti.

Aku membaringkan tubuh di atas kasur sambil memeluk guling kesayanganku. Mataku menatap langit-langit kamar cukup lama, tetapi rasa kantuk tak kunjung datang. Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan seorang laki-laki kembali hadir memenuhi pikiranku. Wajah itu memang baru kulihat sekali, bahkan kami belum pernah berbicara secara langsung. Anehnya, hanya dalam waktu sesingkat itu, sosoknya berhasil membuatku terus memikirkannya.

Sore tadi, saat latihan tarian di sekolah, Vita dengan percaya diri menghampiri seorang laki-laki yang berdiri sendirian di dekat area parkir. Saat itu aku hanya mampu memperhatikannya dari kejauhan karena rasa malu membuat kakiku seolah terpaku di tempat. Aku bahkan tidak berani menatapnya terlalu lama. Yang kuingat hanyalah tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang cerah, serta senyum tipis yang sempat terlihat ketika Vita mengajaknya berbicara.

Aku mengembuskan napas panjang.

"Apa dia benar-benar serius mau menjadi pasangan tarianku?" batinku pelan.

Pertanyaan itu kembali berputar di kepalaku. Bisa saja ia hanya merasa tidak enak menolak permintaan Vita sehingga akhirnya menganggukkan kepala. Lagi pula, kami sama sekali belum saling mengenal. Bagaimana mungkin seseorang begitu saja bersedia menjadi pasangan latihan orang yang bahkan namanya pun belum ia ketahui?

Semakin kupikirkan, semakin besar pula rasa penasaranku.

Yang membuatku heran, selama beberapa hari bersekolah di SMP ini, rasanya aku belum pernah melihat wajahnya. Padahal setiap pagi seluruh siswa kelas tujuh selalu berkumpul di lapangan untuk mengikuti apel. Saat masa pengenalan lingkungan sekolah pun aku merasa belum pernah melihat laki-laki itu.

"Apa dia benar-benar siswa di sekolah ini?" pikirku lagi.

Aku mencoba mengingat kembali wajah-wajah teman yang pernah kulihat selama beberapa hari terakhir, tetapi tetap saja sosok itu tidak pernah muncul dalam ingatanku.

Mungkin saja aku memang tidak menyadarinya. Jumlah siswa kelas tujuh sangat banyak. Setiap kelas dipenuhi puluhan murid, dan masih banyak wajah yang belum sempat kukenal satu per satu. Bisa jadi selama ini kami hanya belum pernah bertemu, atau mungkin ia lebih sering berada di dalam kelas sehingga aku tidak pernah melihatnya.

Aku tersenyum kecil mengingat diriku sendiri yang sejak tadi sibuk memikirkan seseorang yang bahkan belum kuketahui namanya.

"Hitas... kenapa, sih? Baru sekali ketemu sudah kepikiran terus."

Aku menggeleng pelan, berusaha mengusir semua pikiran yang terus berdatangan. Besok pagi aku pasti akan mengetahui jawabannya. Jika ia benar-benar bersekolah di sini, tentu kami akan bertemu lagi.

Dengan pikiran itu, aku akhirnya memejamkan mata. Meski rasa penasaran masih tersisa, perlahan rasa kantuk mulai mengambil alih hingga akhirnya aku tertidur.

Keesokan paginya sinar matahari menembus jendela kamarku, membangunkanku lebih awal dari biasanya. Setelah bersiap-siap dan berpamitan kepada Mama, aku segera berangkat menuju sekolah. Jalan yang kulalui masih sama seperti hari-hari sebelumnya, tetapi entah mengapa langkah kakiku terasa sedikit lebih cepat.

Sepanjang perjalanan, pikiranku kembali dipenuhi oleh bayangan laki-laki yang kutemui kemarin sore.

"Kalau dia memang bercanda, ya sudah," batinku mencoba menenangkan diri. "Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa memaksanya menjadi pasangan latihanku."

Meski begitu, jauh di dalam hati kecilku, aku tetap berharap ia benar-benar datang.

Setibanya di sekolah, bel apel pagi belum berbunyi. Halaman sekolah sudah mulai dipenuhi siswa yang datang dari berbagai arah. Beberapa di antaranya bercanda bersama teman-temannya, sementara yang lain sibuk berjalan menuju barisan kelas masing-masing.

Aku segera bergabung bersama teman-teman kelas 7D. Ketika seluruh siswa mulai berbaris dengan rapi, pandanganku diam-diam menyapu hampir setiap barisan kelas tujuh. Tanpa kusadari, mataku terus mencari sosok yang sejak semalam memenuhi pikiranku.

Satu per satu wajah kulihat dengan saksama.

Namun, laki-laki itu tidak ada.

Aku kembali mencoba melihat ke barisan lain, berharap tadi hanya terlewat. Sayangnya, hasilnya tetap sama.

"Ke mana dia?" gumamku dalam hati.

Selama apel berlangsung, pikiranku tidak sepenuhnya fokus pada arahan guru. Sesekali aku masih melirik ke arah barisan lain, tetapi sosok yang kucari tetap tidak terlihat.

Hingga apel selesai dan seluruh siswa kembali menuju kelas masing-masing, rasa penasaranku justru semakin bertambah.

"Apa jangan-jangan dia memang bukan murid di sekolah ini?"

Pertanyaan itu kembali muncul memenuhi pikiranku.

...***...

Aku masih memikirkan pertanyaan itu ketika langkah kakiku memasuki ruang kelas 7D. Suasana kelas pagi itu belum terlalu ramai. Beberapa teman sedang berbincang dengan kelompoknya masing-masing, sementara yang lain masih sibuk merapikan buku pelajaran di atas meja. Dari sudut ruangan terdengar suara tawa yang sesekali memecah keheningan, membuat suasana kelas terasa hangat seperti biasanya.

Pandanganku langsung tertuju kepada Vita yang sedang duduk di bangkunya sambil menikmati sebungkus nasi yang baru saja dibelinya. Ia makan dengan santai seolah tidak memiliki beban apa pun, sangat berbeda denganku yang sejak semalam dipenuhi rasa penasaran.

Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya, lalu menarik kursi di samping bangkunya.

"Vit..."

Vita mengangkat wajahnya sambil masih memegang sendok.

"Iya? Ada apa?"

Aku mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menyampaikan apa yang sejak tadi mengganggu pikiranku.

"Aku dari tadi mencari laki-laki yang kemarin, tapi sama sekali tidak melihatnya di lapangan. Menurutmu dia benar-benar sekolah di sini, tidak? Jangan-jangan dia hanya kebetulan datang waktu latihan kemarin."

Vita berhenti mengunyah, lalu menatapku beberapa saat. Raut wajahnya terlihat berpikir sebelum akhirnya menggeleng pelan.

"Ah, rasanya tidak mungkin, Hit. Kalau dia bukan murid di sini, kenapa kemarin dia langsung mengiyakan waktu diminta jadi pasanganmu? Lagipula, latihan itu memang untuk siswa sekolah kita."

Aku menganggukkan kepala pelan. Apa yang dikatakan Vita memang masuk akal, tetapi entah mengapa perasaan ragu itu masih belum juga hilang.

"Iya juga, sih," jawabku sambil tersenyum tipis. "Tapi siapa tahu dia cuma mengerjai kita."

Vita langsung terkekeh mendengar ucapanku.

"Kamu ini kebanyakan mikir."

"Masa tidak? Aku benar-benar belum pernah melihat dia sebelumnya."

"Mungkin saja kalian memang belum pernah bertemu. Siswa kelas tujuh banyak sekali. Tidak mungkin dalam beberapa hari kamu sudah hafal semua wajah."

Aku tersenyum kecil. Penjelasan Vita membuatku sedikit lebih tenang.

"Sudahlah," lanjutnya sambil kembali menyendok nasi. "Nanti waktu istirahat kita sekalian cari dia. Kalau memang dia sekolah di sini, pasti ketemu."

Aku akhirnya menganggukkan kepala. Untuk sementara aku mencoba melupakan rasa penasaran itu dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Meskipun begitu, harus kuakui pikiranku beberapa kali kembali melayang. Penjelasan guru terdengar masuk ke telingaku, tetapi sesekali bayangan laki-laki itu kembali muncul tanpa permisi.

Waktu terasa berjalan cukup lambat hingga akhirnya suara bel istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolah.

Teng..Teng...Teng...

Hampir seluruh siswa langsung berdiri dari tempat duduk masing-masing. Sebagian bergegas menuju kantin, sebagian lagi memilih tetap berada di dalam kelas sambil mengobrol bersama teman-temannya.

Vita segera merapikan tempat makannya, kemudian menoleh ke arahku dengan senyum penuh semangat.

"Ayo, Hitas. Katanya mau cari dia."

Aku tertawa kecil melihat semangatnya yang seolah lebih besar daripada semangatku sendiri.

"Iya, ayo."

Kami berjalan berdampingan menyusuri koridor sekolah menuju kantin. Suasana sekolah saat jam istirahat selalu terasa berbeda. Dari berbagai arah terdengar suara siswa yang bercanda, tertawa, bahkan ada yang saling memanggil nama temannya. Beberapa guru juga tampak berjalan melewati koridor sambil sesekali menyapa murid-murid yang mereka temui.

Sesampainya di dekat gerbang sekolah, langkahku tiba-tiba terhenti.

Dari kejauhan kulihat seorang laki-laki sedang berjalan santai bersama salah seorang temannya. Tubuhnya tinggi, kulitnya cerah, dan wajahnya sangat mudah kukenali meskipun baru sekali melihatnya.

Tanpa sadar aku langsung menepuk pelan lengan Vita.

"Vit... Vit..."

Vita menoleh dengan wajah heran.

"Ada apa?"

"Itu... coba lihat ke sana. "Aku menunjuk ke arah gerbang.

Vita mengikuti arah telunjukku. Sesaat kemudian senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.

"Iya, Hitas. Itu dia."

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat. Rasanya sama seperti ketika pertama kali melihatnya di lapangan latihan kemarin sore. Aku hanya mampu berdiri sambil memperhatikannya dari kejauhan.

"Ayo kita samperin," bisik Vita.

Aku langsung menggeleng cepat. "Jangan... kamu saja,hitas malu"

Vita hanya menggelengkan kepala kecil sambil tersenyum geli melihat tingkahku. Tanpa menunggu persetujuanku lagi, ia segera melangkahkan kaki menghampiri laki-laki itu.

Aku hanya bisa berdiri beberapa meter di belakang mereka. Rasa gugup membuat kakiku seolah enggan bergerak. Dari tempatku berdiri, kulihat Vita mulai berbicara dengannya.

"Kamu yang kemarin, kan?" tanya Vita ramah.

Laki-laki itu menghentikan langkahnya, kemudian menganggukkan kepala pelan. Setelah itu pandangannya perlahan beralih ke arahku.Tatapan kami kembali bertemu.

Entah mengapa, kali ini aku justru menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan karena merasa terlalu malu untuk menatapnya lebih lama.Beberapa saat kemudian kudengar Vita kembali berbicara.

"Kami mau ke kantin dulu. Nanti kita ketemu di kursi depan kantor, ya."

Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum tipis."Iya."

Jawabannya memang singkat, tetapi cukup membuatku mengembuskan napas lega. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa ia benar-benar menepati janjinya.

Setelah itu ia kembali berjalan bersama temannya menuju kantin, sedangkan aku masih berdiri memandangi punggungnya hingga perlahan menghilang di balik keramaian siswa yang berlalu-lalang.

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi sebuah senyum kecil terus menghiasi wajahku.

"Hitas..."

Suara Vita kembali membuyarkan lamunanku.

"Ayo. Kalau kita terus berdiri di sini, nanti makanan di kantin keburu habis."

Aku tersentak kecil, lalu spontan tertawa karena menyadari diriku kembali melamun."Iya... ayo."

Aku segera menyusul Vita menuju kantin. Namun, jauh di dalam hati, rasa penasaranku justru semakin besar. Beberapa menit lagi kami akan kembali bertemu, dan mungkin... untuk pertama kalinya aku benar-benar akan mengenal laki-laki yang sejak semalam memenuhi pikiranku.

...***...

Setelah membeli makanan dan minuman secukupnya, aku dan Vita tidak berlama-lama berada di kantin. Bel masuk memang belum berbunyi, tetapi kami memilih segera kembali ke halaman sekolah. Entah mengapa, langkah kakiku terasa sedikit lebih cepat dibanding biasanya. Bukan karena takut terlambat masuk kelas, melainkan karena rasa penasaran yang sejak semalam terus memenuhi pikiranku kini akan segera menemukan jawabannya.

Sepanjang perjalanan kembali menuju gedung sekolah, Vita beberapa kali melirik ke arahku sambil tersenyum kecil. Ia seolah mengetahui bahwa aku sedang berusaha menyembunyikan rasa gugup yang semakin sulit dikendalikan.

"Kamu dari tadi diam saja," katanya sambil menahan tawa. "Jangan bilang masih kepikiran dia."

Aku hanya menggeleng pelan, meskipun sebenarnya wajahku mulai terasa hangat.

"Nggak juga."

"Ah, masa? Dari tadi senyum-senyum sendiri."

Aku hanya tertawa kecil untuk mengalihkan pembicaraan. Semakin Vita menggodaku, semakin aku merasa malu. Padahal aku sendiri belum mengenal laki-laki itu. Kami bahkan belum pernah berbicara secara langsung.

Ketika kami memasuki gerbang sekolah, pandanganku langsung tertuju ke arah kursi panjang yang berada di depan kantor guru. Di sanalah kulihat sosok yang sejak tadi kami cari.

Laki-laki itu benar-benar datang.

Ia duduk sendirian di atas kursi sambil membungkukkan badan untuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. Rambutnya yang sedikit tertiup angin bergerak perlahan, sementara sinar matahari siang membuat wajahnya tampak sedikit memerah. Setelah selesai mengikat tali sepatu, ia masih tetap berdiri di tempat seolah memang sedang menunggu seseorang.

Tanpa kusadari aku menghentikan langkah.

"Dia benar-benar menunggu..." batinku.

Perasaan yang sejak tadi hanya berupa rasa penasaran perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit kujelaskan. Aku tidak menyangka seseorang yang baru kutemui sehari sebelumnya benar-benar menepati ucapannya.

Saat itu pula Kenan mengangkat wajahnya. Matanya langsung menemukan aku dan Vita yang sedang berjalan ke arahnya. Ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Sebaliknya, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya, senyum yang sama seperti ketika kami bertemu kemarin sore.

Refleks aku mencengkeram pelan lengan Vita."Vit..." bisikku lirih. "Dia lihat kita."

Vita justru terkekeh pelan."Iya, memang dia lagi nunggu kita."

Semakin dekat jarak kami, semakin cepat pula detak jantungku. Rasanya belum pernah aku segugup ini hanya untuk bertemu seseorang. Telapak tanganku mulai terasa dingin, sementara pikiranku mendadak kosong. Aku bahkan tidak tahu harus membuka percakapan dengan kalimat apa.

"Vit... aku malu."

Vita menoleh sambil tersenyum menenangkan. "Tenang saja. Kan cuma kenalan."

Aku hanya mengangguk pelan, meskipun rasa gugup itu sama sekali belum berkurang.

Beberapa langkah kemudian kami berhenti tepat di depan Kenan. Untuk beberapa saat suasana berubah menjadi hening. Aku menundukkan kepala karena bingung harus berkata apa, sedangkan Kenan hanya berdiri dengan senyum tipis yang membuat suasana canggung itu terasa sedikit lebih nyaman.

Melihat kami sama-sama terdiam, Vita kembali menjadi penyelamat keadaan.

"Kenan," ucapnya sambil menunjuk ke arahku, "ini Hitas. Teman yang kemarin aku ceritakan. Dia yang akan jadi pasangan latihanmu."

Kenan menganggukkan kepala pelan. Tanpa ragu ia kemudian mengulurkan tangan ke arahku.

"Oh iya... perkenalkan. Namaku Kenan."

Aku sempat terpaku beberapa detik.

Tatapanku berpindah dari wajahnya menuju tangan yang masih terulur di hadapanku. Seumur hidup, baru kali itu aku berjabat tangan secara langsung dengan seorang laki-laki yang bukan anggota keluargaku. Rasa gugup yang sejak tadi kutahan seolah berkumpul menjadi satu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku akhirnya membalas uluran tangannya.

"Aku... Hitas."

Jari-jariku menyentuh telapak tangannya dengan hati-hati. Anehnya, Kenan tidak langsung melepaskan jabat tangan kami. Ia tetap menggenggam tanganku beberapa saat sambil mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Aku sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang bisa kulakukan hanyalah menahan rasa gugup sambil sesekali mencuri pandang ke arah wajahnya.

Untuk beberapa detik, suasana di sekitar kami seolah menghilang. Keramaian halaman sekolah, suara siswa yang berlalu-lalang, bahkan angin yang bertiup pelan terasa seperti tidak lagi terdengar. Yang tersisa hanyalah keheningan di antara kami berdua.

Tiba-tiba...

Teng... Teng... Teng...

Suara bel masuk menggema keras di seluruh lingkungan sekolah.

Aku dan Kenan sama-sama terkejut hingga refleks melepaskan jabat tangan kami secara bersamaan.

"Huh... ngagetin saja," gumam Kenan sambil mengusap dadanya pelan.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil melihat ekspresinya yang spontan. Rasa gugup yang sejak tadi memenuhi pikiranku perlahan berubah menjadi rasa lega.

Vita yang berdiri di sampingku ikut tertawa sebelum akhirnya berkata, "Nah, sekarang kalian sudah saling kenal, kan? Ayo, Hit, kita kembali ke kelas."

"Iya," jawabku sambil menganggukkan kepala.

Vita segera menarik pelan tanganku untuk kembali menuju ruang kelas. Aku pun mengikuti langkahnya. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan halaman sekolah, aku sempat menoleh ke belakang.

"Kenan..."

Ia langsung mengangkat wajahnya.

"Nanti sore jangan lupa datang latihan, ya."

Kenan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepala mantap, kemudian mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum lebar ke arahku.

Aku membalas senyum itu tanpa sadar.

Sepanjang perjalanan kembali menuju kelas, entah mengapa langkahku terasa jauh lebih ringan daripada saat berangkat ke kantin tadi. Rasa penasaran yang sejak semalam terus mengganggu pikiranku akhirnya terjawab sudah. Kami memang baru saling mengenal nama, tetapi pertemuan sederhana di depan kantor sekolah itu meninggalkan kesan yang sulit kujelaskan.

Saat itu aku sama sekali tidak mengetahui bahwa jabat tangan singkat yang diakhiri dengan senyum sederhana tersebut perlahan akan menjadi awal dari sebuah kisah yang kelak menghadirkan begitu banyak kenangan dalam perjalanan hidupku.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!