Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Tawaran Licik
Kirana menatap Melani cukup lama sampai perempuan itu mulai gelisah.
"Kamu salah paham," kata Melani. "Ibu tidak memaksamu."
"Ibu baru saja menawarkan agar saya meninggalkan suami saya untuk keluarga kaya."
"Bahasamu terlalu kasar."
"Isinya memang kasar."
Melani menarik napas, lalu menurunkan suara. "Kirana, kamu harus realistis. Hidup tidak bisa dibangun hanya dengan perasaan. Kamu punya catatan masa lalu, nenek yang sakit, dan keluarga Li yang tidak akan menolong. Kalau ada kesempatan masuk ke keluarga yang bisa melindungi, kenapa tidak dipikirkan?"
Ia mengeluarkan amplop tipis dari tas dan mendorongnya sedikit ke tengah meja. Kirana tidak menyentuh.
"Apa itu?"
"Informasi keluarga tersebut. Foto putranya, latar belakang bisnis, rumah, yayasan yang mereka kelola."
"Ibu membawa brosur calon suami ke perempuan yang sudah menikah."
"Jangan sinis. Ini data."
"Tentang manusia?"
"Tentang masa depan."
Kirana melihat ujung foto di dalam amplop. Pria asing dengan jas rapi tersenyum di depan gedung tinggi. Ia tidak merasa penasaran. Ia hanya merasa seperti udara di paru-parunya berkurang.
"Karena saya sudah menikah."
"Pernikahan bisa diakhiri."
Kirana hampir tidak percaya mendengar kalimat itu keluar begitu ringan dari mulut ibu kandungnya. "Ibu tahu apa tentang pernikahan saya?"
"Cukup untuk tahu kamu menikah terburu-buru."
"Dan itu membuatnya tidak berarti?"
"Itu membuatnya bisa diperbaiki."
Kirana tertawa pelan. "Diperbaiki dengan menjual saya lagi?"
Wajah Melani berubah. "Jangan gunakan kata itu."
"Kenapa? Terlalu tepat?"
Melani melihat sekitar, khawatir meja lain mendengar. Di restoran itu, orang-orang bicara pelan, sendok menyentuh piring dengan suara halus. Tempat mahal ternyata tidak membuat percakapan menjadi lebih bermartabat.
"Ibu melakukan ini untuk masa depanmu."
"Masa depan saya atau posisi Ibu?"
Pertanyaan itu mengenai sasaran. Mata Melani berkedip cepat.
"Kamu tidak tahu betapa sulitnya membangun relasi setelah semua yang terjadi," kata Melani. "Nama keluarga Li ikut terseret. Orang-orang bertanya. Ibu juga harus menjawab."
"Jadi saya masalah reputasi."
"Kamu anak Ibu."
"Baru sekarang?"
"Kirana."
"Jawab saja. Kalau keluarga itu menerima saya, Ibu mendapat apa?"
Melani menatapnya dengan marah yang ditahan. "Akses. Kerja sama yayasan. Kesempatan untuk memperbaiki posisi. Hal yang juga bisa menguntungkanmu."
Akhirnya.
Kirana hampir lega karena kebohongan itu berhenti berputar.
"Terima kasih sudah jujur," kata Kirana.
Melani tampak tidak nyaman. "Jangan bicara seolah Ibu musuhmu."
"Ibu sedang meminta saya menjadi jalan masuk."
"Ibu sedang meminta kamu berpikir lebih luas."
"Lebih luas dari hidup saya sendiri?"
"Hidupmu bisa lebih baik."
"Menurut ukuran Ibu."
Melani menatapnya tajam. "Ukuran dunia, Kirana. Dunia tidak memberi hadiah pada perempuan yang hanya punya harga diri."
Kirana menyentuh ujung amplop dengan satu jari, lalu mendorongnya kembali. "Kalau begitu biar saya tidak mendapat hadiah dari dunia seperti itu."
Kirana semakin yakin. "Keluarga itu kenalan siapa?"
"Relasi lama."
"Relasi yang bisa menguntungkan Ibu?"
"Semua hubungan baik saling menguntungkan."
"Jadi saya bagian dari keuntungan itu."
Melani menekan serbet di pangkuannya. "Kamu selalu keras kepala. Mungkin itu yang membuat keluarga Li sulit menerimamu."
Kirana diam.
Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Anehnya, ia merasa lebih jelas daripada terluka. Ini bukan ibu yang datang membawa rindu. Ini perempuan yang tahu tombol mana yang bisa ditekan agar anaknya merasa kurang layak.
"Keluarga Li tidak menerima saya karena mereka tidak pernah ingin melihat saya sebagai manusia," kata Kirana. "Saya tidak perlu Ibu melanjutkan pekerjaan mereka."
"Kirana."
"Siapa nama keluarga itu?"
Melani ragu, lalu menyebut sebuah nama keluarga kaya dari kota lain. Kirana tidak mengenalnya, tetapi cara Melani mengucapkannya penuh hormat yang tidak ia berikan kepada putrinya sendiri.
"Mereka tahu saya pernah dipenjara?"
"Detail itu bisa diatur."
"Berarti tidak tahu."
"Tidak perlu semua hal dibuka di awal."
Kirana teringat Nathaniel, rahasia yang hampir menghancurkan kepercayaan. Perbedaannya, Nathaniel menyembunyikan identitas untuk mendekat dengan caranya yang salah. Melani ingin menyembunyikan luka Kirana agar ia laku di mata orang lain.
"Saya bukan barang cacat yang perlu dikemas ulang."
"Kamu terlalu emosional."
"Saya terlalu sadar."
Melani mengubah strategi. Wajahnya melembut. "Ibu tahu kamu terluka. Ibu juga terluka saat harus melepaskanmu dulu."
"Tapi Ibu tetap melakukannya."
"Ibu tidak punya pilihan."
"Saya sering mendengar kalimat itu dari orang yang selalu punya pilihan paling nyaman untuk dirinya."
Melani terdiam.
Kirana mengambil tasnya. "Saya datang karena ingin tahu apakah Ibu pernah mencari saya sebagai anak. Sekarang saya tahu jawabannya."
"Duduk dulu."
"Tidak perlu."
"Kirana, jangan bodoh. Pria miskin yang kamu sebut suami itu tidak akan bisa memberimu tempat di dunia ini."
Kirana berhenti.
Ia menoleh pelan.
"Jangan bicara tentang suami saya."
Melani berdiri juga. "Ibu bicara karena peduli. Kamu tidak tahu harga hidup yang layak. Kamu pikir kerja kecil-kecilan, merawat nenek sakit, tinggal dengan pria tanpa masa depan itu cukup? Kamu lahir dari darah yang lebih tinggi daripada itu."
"Darah yang lebih tinggi tidak datang saat saya disidang."
"Ibu sudah bilang, keadaan..."
"Keadaan tidak pernah datang. Ibu yang tidak datang."
Beberapa orang mulai menoleh. Melani segera tersenyum kaku kepada mereka, lalu berkata lebih pelan, "Kita bisa bicara baik-baik."
"Kita sedang bicara sangat baik. Saya belum melempar apa pun."
"Kamu mempermalukan Ibu."
"Saya belajar dari hidup. Malu ternyata tidak membunuh. Tapi diam bisa."
Wajah Melani memucat.
Kirana mengambil dompet dan meletakkan uang untuk minumannya di meja. Melani menahan pergelangan tangannya.
"Pikirkan Nio," bisik Melani. "Keluarga itu bisa membiayai perawat terbaik. Kamu tidak akan sanggup sendirian."
Kirana menatap tangan yang memegangnya.
Nio dijadikan alasan.
Itulah batasnya.
Dalam kepala Kirana, wajah Nio muncul: duduk di teras rumah kecil, memandang pohon mangga, bertanya apakah Kira sudah bahagia. Nio pernah kehilangan rumah karena orang dewasa memperlakukannya seperti beban. Sekarang Melani memakai nama Nio untuk mendorong Kirana ke transaksi baru. Kemarahan yang naik tidak lagi panas. Ia menjadi sangat tenang.
Ia melepaskan tangan Melani dengan gerakan tegas. Cangkir teh di sisi meja tersenggol. Cairan cokelat muda tumpah ke taplak putih, menyebar seperti noda yang tidak bisa ditarik kembali.
Restoran hening sesaat.
Melani menatap noda itu, lalu Kirana.
"Kamu akan menyesal," katanya pelan.
Kirana berdiri tegak. "Mungkin. Tapi bukan karena menolak dijual."
Ia tidak mengambil amplop itu. Foto pria asing tetap terkurung di dalamnya, bersama janji rumah besar, perawat mahal, dan status yang menurut Melani bisa menutup semua noda. Kirana berjalan pergi dengan tangan kosong, tetapi untuk pertama kalinya tangan kosong itu terasa lebih ringan daripada tawaran penuh harga.
Ia berjalan menuju pintu tanpa menoleh, tetapi di balik punggungnya, Melani masih berdiri di samping meja dengan teh tumpah dan rencana yang belum sepenuhnya mati.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔