Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Dua minggu berlalu, dan tiba waktunya bagi Cia untuk melepaskan jahitan di lengan kiri suaminya.
Di ruang keluarga yang terang oleh sinar matahari pagi, Ren duduk di sofa dengan lengan baju kausnya digulung hingga ke bahu. Di depannya, Cia duduk di atas meja bundar kecil, dikelilingi oleh perlengkapan hecting set steril, pinset, dan gunting bedah kecil.
"Mas, kalau agak perih bilang, ya," gumam Cia, wajahnya sangat serius dan berjarak hanya beberapa sentimeter dari lengan Ren.
Dengan sangat telaten, Cia menarik simpul benang jahit itu menggunakan pinset, lalu menggunting bagian dasarnya dan menariknya keluar. Gerakannya begitu cepat dan presisi.
Sepanjang proses yang biasanya membuat pasien meringis ngilu itu, Mayor Ren Adhyaksa sama sekali tidak bergeming. Jangankan meringis, napas pria itu bahkan tidak berubah ritme. Mata elangnya justru sibuk menelusuri raut wajah istrinya yang sedang berkonsentrasi penuh.
"Selesai!" Cia membuang sisa benang terakhir ke bengkok medis, lalu mengoleskan sedikit salep antibiotik. Ia mendongak, tersenyum bangga. "Tujuh belas jahitan lepas dengan sempurna. Dagingnya udah menyatu bagus. Besok kamu udah bisa pull-up lagi, Mayor."
Ren melirik sekilas ke lengannya, lalu kembali menatap Cia. "Terima kasih, Dokter. Penanganan yang sangat efisien."
Cia membereskan peralatannya, lalu menatap suaminya dengan alis terangkat. "Tumben hari ini kamu santai banget? Nggak ada jadwal ngajar di Cipatat?"
"Saya ambil cuti setengah hari," jawab Ren, menurunkan gulungan lengan bajunya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap Cia dengan sorot mata yang mengisyaratkan sebuah misi baru. "Malam ini, ada acara Malam Keakraban Perwira di aula Komando Daerah Militer (Kodam). Jenderal Arman akan hadir, dan seluruh perwira menengah diwajibkan membawa istri."
Gerakan tangan Cia yang sedang menutup botol alkohol terhenti. Ia menelan ludah. "Malam Keakraban? Berarti... aku harus pakai seragam Persit?"
Ren mengangguk pelan. "Pakaian Seragam Resmi (PSR). Blazer hijau pupus dan rok selutut. Saya sudah meminta Bima mengambilkan ukuran yang pas untukmu di koperasi minggu lalu. Semuanya sudah ada di lemari."
Cia mendesah panjang, menyandarkan keningnya di bahu Ren. "Mas, aku ini dokter IGD yang terbiasa lari-lari pakai sneakers dan rambut dikuncir kuda. Disuruh pakai rok ketat, sepatu pantofel hak tinggi, dan... ya ampun, rambutku harus disanggul, kan?"
Ren terkekeh pelan, getaran suaranya terasa di kening Cia. Tangan besarnya naik, mengelus rambut sebahu Cia dengan lembut.
"Hanya untuk beberapa jam, Almeera. Anggap saja ini operasi penyamaran di wilayah musuh," goda Ren, sebuah candaan yang sangat langka keluar dari bibir sang Mayor.
"Di wilayah musuh apanya, itu kan markas bapakmu," gerutu Cia, meski akhirnya ia mengangguk pasrah. "Baiklah. Demi menjaga wibawa Mayor Ren Adhyaksa, aku bakal dandan yang rapi."
Menjelang pukul enam sore, kamar utama rumah nomor 115 berubah menjadi medan pertempuran kosmetik.
Cia berdiri di depan cermin meja rias, mengerucutkan bibir menatap pantulan dirinya. Ia sudah mengenakan setelan PSR Persit—blazer hijau pupus berpotongan tegas dan rok span hijau tua. Seragam itu membalut tubuhnya dengan sangat pas, memberikan kesan anggun dan berwibawa yang selama ini tersembunyi di balik jas putih kebesarannya.
Namun, masalah terbesarnya ada di kepalanya. Cia sedang bertarung mati-matian memasukkan rambut sebahunya ke dalam hairnet bersanggul kecil atau cepol khas ibu Persit.
"Aduh, jepitnya lepas lagi!" keluh Cia frustrasi saat beberapa helai rambutnya kembali terburai.
Pintu kamar mandi terbuka. Ren melangkah keluar, sudah mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan segala atribut, medali, dan lencana kehormatannya. Baret hijaunya belum ia pakai, namun ketampanan dan ketegasan pria itu dalam balutan seragam formal sukses membuat Cia menahan napas sejenak.
Melihat istrinya yang sedang merengut sambil memegang jepit rambut hitam, Ren melangkah mendekat. Pria itu berdiri di belakang Cia, menatap pantulan mereka berdua dari cermin.
"Ada kesulitan, Nyonya Adhyaksa?" tanya Ren rendah.
"Rambutku kurang panjang buat digulung rapi, Mas. Susah jepitnya," adu Cia, nyaris menyerah.
Tanpa banyak bicara, Ren mengambil alih jepit bobby pin dari tangan Cia. Tangan besar yang terbiasa memegang senjata laras panjang itu kini bergerak dengan sangat hati-hati dan presisi. Ren mengumpulkan sisa rambut Cia, menggulungnya dengan rapi ke dalam hairnet, lalu menyelipkan jepit hitam itu di titik yang tepat hingga sanggul kecil itu terpasang kokoh.
Cia menatap pantulan suaminya di cermin dengan mulut setengah terbuka. "Kamu... belajar nyanggul dari mana, Mayor?"
"Dalam taktik kamuflase tempur, kami diajarkan cara mengamankan semua perlengkapan agar tidak tersangkut ranting pohon, termasuk rambut," jawab Ren santai, mengambil lencana emas lambang Persit dari kotak perhiasan di atas meja.
Ren mencondongkan tubuhnya, menyematkan lencana itu di kerah kiri blazer Cia dengan sangat hati-hati agar ujung penitinya tidak menusuk kulit sang istri.
"Sempurna," bisik Ren, memundurkan tubuhnya selangkah untuk mengagumi hasil karyanya.
Cia berdiri, merapikan blazernya. Ia menatap Ren dengan sedikit keraguan. "Mas, aku kelihatan aneh nggak? Aku ngerasa kayak anak kecil yang lagi cosplay jadi ibu pejabat."
Ren menatap Cia dari ujung sepatu pantofel hitamnya hingga ke ujung sanggulnya. Sorot mata pria itu memancarkan pemujaan yang dalam.
"Jas putihmu adalah bukti pengabdianmu pada kemanusiaan, Almeera," ucap Ren, melingkarkan lengannya di pinggang Cia dan menarik gadis itu merapat padanya. "Tapi seragam hijau ini... adalah lambang kehormatan saya yang kamu sandang. Kamu terlihat luar biasa cantik. Jangan pernah menundukkan kepalamu malam ini."
Kepercayaan diri Cia seketika meroket. Jika sang Mayor berkata ia cantik, maka Cia siap menghadapi satu batalyon ibu-ibu Persit sekalipun.
Aula Kodam malam itu bermandikan cahaya lampu kristal. Ratusan perwira dan istri mereka memadati ruangan, diiringi alunan musik orkestra ringan.
Saat Mayor Ren dan Cia melangkah masuk melalui pintu ganda, beberapa pasang mata langsung menoleh. Kombinasi antara pahlawan operasi sandera yang legendaris dan istrinya yang masih sangat muda namun memancarkan aura cerdas, sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Cia mengapit lengan kiri Ren, berjalan dengan postur tegak yang secara tidak sadar meniru gaya jalan suaminya.
Mereka menghampiri meja bundar di barisan depan. Jenderal Arman sudah duduk di sana, berbincang dengan beberapa jenderal bintang dua lainnya.
"Malam, Pa," sapa Ren sambil memberi hormat militer pada ayahnya dan para perwira tinggi di meja tersebut.
Cia ikut mengangguk hormat dengan senyum anggun. "Selamat malam, Papa. Malam, Jenderal."
Jenderal Arman menatap menantunya dari atas ke bawah, lalu mengangguk puas. Senyum tipis terbit di wajah keriputnya yang tegas. "Malam, Almeera. Pakaianmu pantas sekali. Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit swasta itu? Tidak ada masalah?"
"Lancar, Pa. Saya ditempatkan di poli umum dan sering dirotasi ke IGD jika butuh tambahan tenaga," jawab Cia lancar, tanpa kegugupan sedikit pun meski ia sedang dikelilingi oleh jenderal-jenderal petinggi negara.
"Bagus. Ingat, disiplin medis dan militer itu sama. Keduanya menuntut presisi," puji Jenderal Arman, yang diam-diam merasa sangat bangga melihat menantunya bisa membawa diri dengan begitu elegan.
Setelah berbasa-basi, Ren menuntun Cia menuju meja prasmanan. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang nyonya perwira baru saja dimulai.
Saat Ren sedang mengambilkan minuman untuk Cia, beberapa ibu Persit yang tampak lebih senior—ditandai dengan lencana dan perhiasan emas yang lebih mencolok—menghampiri Cia.
"Nyonya Ren, ya? Wah, masih muda sekali," sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Ia adalah Nyonya Kolonel Haris, istri dari salah satu komandan senior di sana.
"Iya, Ibu. Saya Almeera Cia," jawab Cia sopan.
"Saya dengar Nyonya ini sibuk kerja jadi dokter, ya? Pulang sampai malam terus," Nyonya Haris memulai serangan pasif-agresifnya, mengipasi wajahnya dengan kipas lipat. "Sayang sekali. Mayor Ren itu kariernya sedang bersinar. Seharusnya Nyonya fokus mengurus beliau di rumah, ikut kegiatan arisan dan baksos asrama. Kalau Nyonya sibuk di luar, siapa yang mengurus makan dan seragam suami? Tugas istri tentara itu melayani suami seratus persen, lho."
Beberapa ibu di belakang Nyonya Haris mengangguk setuju, menatap Cia dengan pandangan sedikit meremehkan.
Dada Cia sedikit memanas. Ia tidak suka profesinya direndahkan, seolah menjadi dokter adalah sebuah pekerjaan sampingan yang mengganggu rumah tangganya.
Cia menarik napas pelan, mengumpulkan ketenangannya. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban telak khas dokter IGD, sebuah suara bariton yang berat dan dingin memotong dari arah belakang.
"Tugas istri saya memang melayani, Nyonya Haris."
Semua ibu di lingkaran itu tersentak dan otomatis menyingkir, memberikan jalan bagi Mayor Ren Adhyaksa yang melangkah mendekat dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. Aura sang Mayor begitu mengintimidasi hingga udara di sekitar mereka terasa membeku.
Ren menyerahkan salah satu gelas pada Cia, lalu berdiri di samping istrinya, menatap Nyonya Haris dengan pandangan elang yang tajam dan tak berkedip.
"Tetapi, dia tidak hanya melayani saya," lanjut Ren, nadanya sangat sopan namun memancarkan otoritas mutlak yang membuat nyali siapa pun ciut. "Istri saya melayani masyarakat. Dia menyelamatkan nyawa orang-orang yang keluarganya mungkin sedang mempertaruhkan nyawa di perbatasan."
Nyonya Haris menelan ludah, wajahnya memucat. "E-eh, iya, Mayor. Saya hanya... maksud saya, kewajiban di rumah—"
"Untuk urusan seragam dan makanan, saya dididik di Akademi Militer untuk bisa bertahan hidup dan mengurus diri sendiri di tengah hutan belantara, Nyonya," potong Ren tanpa ampun, mengunci tatapan wanita paruh baya itu. "Saya tidak menikahi Cia untuk menjadikannya asisten rumah tangga saya. Saya menikahinya karena saya bangga padanya."
Ren memberikan jeda sejenak, melingkarkan lengannya di pinggang Cia dengan posesif di depan semua orang.
"Bagi saya, pengabdian istri saya pada negara melalui nyawa pasien-pasiennya, adalah bentuk pelayanan tertinggi pada nama keluarga Adhyaksa," pungkas Ren tegas. "Permisi, kami harus menyapa komandan yang lain."
Tanpa menunggu balasan, Ren menuntun Cia menjauh dari lingkaran ibu-ibu yang kini terdiam kaku seperti patung es.
Begitu mereka berada di sudut ruangan yang lebih sepi, Cia tidak bisa lagi menahan senyum lebarnya. Ia menatap suaminya dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.
"Kamu tahu, Mayor? Kamu barusan bikin istri Kolonel mati kutu," bisik Cia takjub, setengah tertawa.
Ren mendengus pelan, wajahnya kembali datar. "Saya hanya menyampaikan fakta intelijen lapangan. Tidak ada yang boleh meremehkan jas putihmu, Almeera. Sekalipun dia memakai emas seberat setengah kilogram di lehernya."
Cia tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Ren. "Makasih, Mas. Aku ngerasa jadi wanita paling aman di ruangan ini."
"Itu memang tugas saya," Ren menatap istrinya, ujung bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat menawan. "Sekarang, bagaimana kalau kita pulang? Operasi penyamaran ini sudah cukup sukses, dan sejujurnya... seragam PDU ini sangat tidak nyaman."
Cia terkekeh, mengangguk setuju. "Ayo pulang, Mayor. Kita tukar seragam ketat ini pakai piyama."
Malam itu, mereka meninggalkan gemerlap aula Kodam lebih awal. Di dalam Jeep Wrangler yang membelah jalanan malam kota Bandung, Cia melepaskan jepit bobby pin dari rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas.
Ren menoleh sekilas, tangan kirinya bergerak meraih tangan Cia dan menggenggamnya erat di atas tuas persneling.
Tidak peduli apakah Cia sedang memakai jas putih yang kotor oleh darah pasien, atau seragam Persit hijau yang rapi, bagi Mayor Ren Adhyaksa, gadis ini adalah satu-satunya panglima yang perintahnya akan selalu ia patuhi seumur hidupnya.