Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Catatan Kontrak
Jayengrana merapatkan tubuhnya ke balik bayang-bayang dinding batu. Ayunan langkah kaki itu kian mendekat—pelan, teratur, tanpa sedikit pun ketergesaan.
Tak lama kemudian, sesosok tubuh renta muncul dari belokan gang. Punggungnya membungkuk disangga sebatang sapu lidi. Langkah lelaki tua itu terhenti tatkala matanya menangkap daun pintu rumah Jayengrana yang terbuka sedikit.
"Siapa di sana?" tanyanya waspada, menyipitkan mata menembus kegelapan.
Jayengrana mengamati rupa lelaki tersebut. Ia mengenalnya dengan sangat baik—Mbah Karta, tetangga sepuh yang mendiami rumah persis di samping kediamannya sejak puluhan tahun lalu.
Tentu saja, Mbah Karta tak akan pernah mengenali raut wajah "Saka" yang kini disandangnya.
"Saya hanya pengembara yang kebetulan melintas, Mbah," sahut Jayengrana tenang, mengusahakan nada suara yang asing. "Saya penasaran melihat pintu rumah ini terbuka tanpa penerangan."
Mbah Karta menghela napas panjang, sorot matanya redup diliputi kemalangan. "Rumah ini sudah kosong. Kasihan sekali nasib pemiliknya..."
Jayengrana menahan gejolak emosi di dadanya, menanggapi sekadarnya. "Ada apa dengan pemilik rumah ini?"
Lelaki tua itu mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong, memastikan tak ada rombongan patroli yang mengintai sebelum berbisik gencar. "Kabar dari orang-orang keraton... Raden Jayengrana dituduh membelot."
Jayengrana membisu, menunggu kelanjutan ucapan sang tetangga.
"Tapi saya dan warga tua di sini sama sekali tak sudi memercayai dongeng itu," lanjut Mbah Karta dengan nada bergetar. "Mana mungkin seorang perwira yang tiap kali pulang bertugas selalu membagikan jatah berasnya untuk para janda dan anak yatim di kampung ini mendadak menjual tanah kelahirannya?"
Kalimat bersahaja itu menghantam dada Jayengrana dengan kehangatan yang tak terduga. Selama bertahun-tahun mengabdi, ia tak pernah berharap tindakan kecilnya bakal membekas begitu dalam di hati rakyat jelata.
"Lalu... ke mana perginya penghuni rumah ini, Mbah?"
"Beberapa hari lalu, rombongan prajurit membawa pergi istrinya," terang Mbah Karta. "Tapi anehnya, mereka tidak memborgol atau bertindak kasar. Istri Raden bahkan sempat berpamitan dan menyalami kami sebelum berangkat."
Sebuah kelegaan besar membanjiri benak Jayengrana. Setidaknya, anak dan istrinya tidak diperlakukan bak tawanan tawanan perang—setidaknya untuk saat ini.
"Terima kasih atas keterangannya, Mbah. Saya permisi dulu."
Baru saja Jayengrana berbalik membelakangi pelataran, tanda perjanjian di dadanya kembali menyengat hangat. Pendar itu merambat halus, disusul bisikan gaib yang memantul langsung di dalam kepalanya.
"Jayengrana."
Ia tetap menjaga ayunan langkahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan Mbah Karta yang masih berada di belakang.
'Mau apa lagi kau?' sahut Jayengrana dalam batin.
"Garis ikatan ini tidak pernah lupa mencatat," desis suara Penunggang Perjanjian. "Semasa hidupmu, kau telah menanam begitu banyak benih kebaikan tanpa mengharapkan sepeser pun imbalan."
Jayengrana mengernyit samar. 'Apa hubungannya dengan perjanjian kita?'
"Kebaikan sejati tidak pernah lenyap ditelan zaman. Ia hanya mengendap, menanti saat yang tepat untuk membalikkan takdir. Tindakanmu telah melipatgandakan bobot jiwamu. Hari ini, simpul kedua dari perjanjian ini terbuka."
Bekas luka di dada Jayengrana terasa kian hangat—sebuah sensasi menenangkan yang mengalirkan ketentraman di seluruh pembuluh darahnya.
'Kemampuan apa yang kau berikan kali ini?'
"Naluri Niat," sebut sosok gaib itu. "Tatkala seseorang berdiri di jangkauan pandangmu, kau sanggup menangkap gejolak dorongan paling dominan yang bersemayam di dalam relung hatinya."
'Kau memberiku kemampuan membaca pikiran?'
"Bukan. Otak manusia terlampau bising oleh ribuan prasangka. Perjanjian ini hanya memancarkan niat murni yang paling pekat: kehendak membunuh, hasrat menolong, kecenderungan menipu, ketakutan, atau kedengkian."
Jayengrana mengangguk pelan di balik keheningan malam. Anugerah ini mungkin tidak menambah daya hancur panggilannya dalam pertempuran fisik. Namun bagi seorang perwira yang tengah mengepung konspirasi, sanggup mendeteksi niat buruk sebelum pedang terhunus jauh lebih berharga daripada kekuatan puluhan prajurit.
"Ingat," peringatan Penunggang Perjanjian kembali terngiang, kini mengalun lebih berat. "Semakin dalam simpul kekuatan ini terkuak, semakin mustahil bagimu untuk kembali menjadi manusia fana yang utuh."
'Lantas bagaimana cara memutus ikatan terkutuk ini secara permanen?'
Keheningan panjang menyelimuti benaknya. Cukup lama suara itu membisu sebelum akhirnya melontarkan jawaban singkat.
"Belum saatnya kau menggenggam rahasia itu."
Gema suara gaib itu perlahan memudar, meninggalkan Jayengrana yang kini berdiri di persimpangan jalan utama Kotaraja.
Di bawah pendar obor dan lalu lalang warga yang tak mengenali rupanya, ia menyadari satu hal pasti: ikatan gelap ini bukan sekadar memberinya muslihat pertahanan. Perjanjian dengan Penunggang Perjanjian tengah menempa dan mengubah hakikat dirinya secara perlahan—menjadi sosok baru yang wujud akhirnya pun belum sanggup ia bayangkan.
Jayengrana menahan diri untuk tidak langsung memburu tempat tinggal Wiradipa. Menyusup ke pusat kekuatan lawan tanpa mengantongi peta situasi hanya akan mengantarkannya ke lubang kematian yang sia-sia.
Ia memerlukan ruang pengintaian yang tepat—tempat yang riuh, penuh interaksi, dan dihuni orang-orang yang gemar bertukar cerita. Di Kotaraja, lokasi ideal seperti itu selalu berwujud sama: warung makan.
Di sudut gang dekat pasar utama, berdiri sebuah warung kayu sederhana milik seorang janda bernama Mbok Sari. Bangunannya tidak seberapa luas, hanya diisi beberapa meja kasar, tungku tanah liat, dan deretan bangku panjang. Kendati demikian, pengunjung datang silih berganti tanpa henti—mulai dari pedagang, kusir kereta, kuli angkut, hingga para prajurit jaga.
Jayengrana melangkah masuk seraya menyandarkan karung perbekalannya di lantai.
"Mau mengisi perut, Nak?" sapa Mbok Sari ramah.
"Jika masih ada hidangan yang tersisa," sahut Jayengrana rendah.
"Masih hangat. Silakan duduk dulu."
Tak butuh waktu lama, semangkuk sayur lodeh gurih, sepotong ikan asin, dan nasi beras merah hangat tersaji di atas meja. Baru saja Jayengrana mendaratkan suapan pertamanya, tiga perwira Mataram melangkah masuk dan mengambil tempat duduk tak jauh dari posisinya.
"Besok giliran kelompok kita lagi yang mengawal area pendapa," keluh salah seorang prajurit seraya meluruskan kakinya. "Penjagaan makin diperketat seminggu belakangan ini."
"Kabarnya ada tahanan khusus yang dipindahkan ke sana," bisik prajurit kedua seraya mengedarkan pandangan.
"Tahanan? Siapa?"
Prajurit ketiga merapatkan posisi duduknya, berbisik lirih. "Pengawal pribadi Wiradipa sendiri yang menyegel lokasinya. Kudengar... tahanan itu seorang perempuan dari kediaman bekas Senopati Jayengrana."
Genggaman jemari Jayengrana pada pinggiran mangkuk mendadak mengencang, meski raut wajah "Saka" yang ia sandang tetap tenang tanpa riak.
Secara instingtif, ia mengaktifkan anugerah barunya: Naluri Niat.
Ia memusatkan segenap perhatian pada ketiga prajurit tersebut. Detik berikutnya, sebuah pendar sensasi asing membanjiri benaknya. Bukan berwujud suara ataupun bisikan, melainkan pancaran emosi murni yang teramat lugas.
Prajurit pertama dipenuhi oleh rasa jenuh yang pekat. Prajurit ketiga dilingkupi oleh ketamakan. Sedangkan prajurit kedua—sosok yang menyebut soal tahanan—dipenuhi oleh gelombang ketakutan yang begitu nyata.
Jayengrana paham seketika: mereka tidak sedang menebar berita bohong. Prajurit yang ketakutan itu sungguh-sungguh meyakini kebenaran rahasia di pendapa.
"Jika memang dia istri Jayengrana..." bisik prajurit pertama ragu, "...kenapa tidak sekalian dijatuhi hukuman bersama dakwaan suaminya?"
"Ssst! Jangan bicara sembarangan!" tegur prajurit kedua panik. "Ki Wiradipa sendiri yang menahan berkas pembalasannya. Beliau menginstruksikan agar perempuan itu tetap dibiarkan hidup."
Di bawah lindungan meja kayu, jemari Jayengrana mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sosok yang mereka perbincangkan tak salah lagi adalah istrinya. Namun, bertindak gegabah detik ini hanya akan menghancurkan satu-satunya peluang keselamatan yang ia miliki.
Saat itulah Mbok Sari menghampiri mejanya seraya menuangkan air dingin dari kendi tanah liat. "Kelihatannya kau baru pertama kali singgah di Kotaraja, Nak."
"Benar, Mbok," jawab Jayengrana, menundukkan pandangan.
"Jika sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup, besok cobalah datang ke kompleks gudang beras kerajaan. Mereka sedang membutuhkan banyak tenaga angkut barang."
Jayengrana mengangguk samar. Rekomendasi itu merupakan celah masuk yang sangat sempurna—kompleks gudang beras berada persis di pinggir benteng dalam, amat dekat dengan area pendapa.
Ia menuntaskan makanannya dalam diam. Sebelum ia beranjak berdiri, Mbok Sari menambahkan dengan senyum hangat, "Kalau belum menemukan bilik menginap, di bagian belakang warung ini ada kamar kecil yang bisa disewa murah."
"Saya ambil kamarnya untuk beberapa hari ke depan, Mbok," sahut Jayengrana mantap.
Ia menyadari penuh satu hal: kemenangan perang tak selalu ditentukan oleh seberapa cepat pedang dihunus dari sarungnya. Sering kali, kemenangan justru berawal dari kesabaran untuk duduk membisu di pojok warung, menyimak setiap bisikan orang-orang yang tak menyadari kehadiran sang pembalas dendam.