Takdir tak selalu buruk untuk kita. Jadikan masa lalu menjadi pelajaran untuk lebih baik di masa depan.
Seperti yang di alami seorang guru cantik bernama Aretha Zayba Almira. Ia sempat terpuruk dengan masa lalu kelam dan trauma mendalam yang di ciptakan mantan kekasihnya. Harus kehilangan kehormatan yang ia jaga hingga hampir mati bunuh diri. Tapi ia bisa bangkit dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sempat menutup hati pada beberapa pria yang datang padanya, hingga takdir menemukannya dengan seorang pria yang mau menerima semua masa lalu dan memperlakukan Amira seperti seorang ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumil yang sensitif
Amira sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang menangani nya, karna luka Amira Hanya lah luka kecil dan hanya sedikit memar. Selain itu pun tidak ada yang serius.
Satrio dan Amira tiba dirumah nya disambut dengan teriakan Aisyah yang menunggu nya sedari tadi bersama Natalie ibunya dan bi Ijah. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah mereka, yang sangat kentara.
" Tante... papa." teriak Aisyah berlarian.
Amira dan Satrio pun keluar dari mobil yang mereka kendarai dan berjalan menghampiri Aisyah yang dengan segera menghambur ke dalam pelukan papa nya.
" Anak papa." sambut Satrio seraya membawa Aisyah ke dalam pelukan nya.
" Tante, Tante uka Tante napa.?" tanya Aisyah penasaran yang melihat wajah Amira agak sedikit membiru.
Amira tersenyum lembut sembari mengusap kepala Aisyah yang di tutupi hijab.
" Tante nggak apa-apa kok sayang, cuma kepentok aja." ujar Amira menjelaskan.
" oh.. gitu ya." Aisyah manggut-manggut seolah paham apa yang di ucapkan Tante nya itu.
" Emang kamu tau." goda Satrio dengan mengangkat sebelah alisnya.
" Nggak ." geleng Aisyah cepat.
Sontak saja semua yang ada disitu terpingkal mendengar Jawaban gadis kecil tersebut.
Dengan gemas Amira mencubit pipi gembul milik Aisyah.
" Kamu itu ya, selalu sukses membuat Tante tertawa." ujar Amira gemas.
" Atit Tante, Napa cih cuka anget ubit-ubit pipi Aicah." Rajuk nya yang semakin menambah nilai plus ke gemasan nya.
Amira Hanya terkekeh geli mendengar celotehan gadis kecil yang menggemaskan anak kakak nya ini.
Hingga akhirnya Natalie segera mengajak semua nya masuk dan menyudahi perbincangan sekilas yang terjadi di teras rumah.
Mereka pun memasuki rumah dengan Aisyah yang berada dalam gendongan Satrio dan Amira yang bergandengan dengan Natalie di ikuti bi Ijah dari belakang.
" Bagaimana keadaan mu ?" tanya Natalie membuka pembicaraan.
" Alhamdulillah Amira baik kak, cuma lebam sedikit aja." ujar nya menenangkan.
" syukur lah kalau begitu, Kakak sangat khawatir dengan keadaan mu saat Mas Satrio bilang kalau kamu masuk rumah sakit." kata Natalie dengan nada khawatir.
" kakak tenang aja ya, bukti nya sekarang Amira disini dan baik-baik aja." Amira mengusap lengan kakak ipar nya itu dengan lembut.
" ya, allhmdulillah kamu nggak kenapa-kenapa." Natalie lega.
Amira tersenyum membalas dan hanya mengangguk, mereka duduk di kursi ruang tamu sembari menunggu bi Ijah yang membuat kan minuman di dapur.
" Oh ya, sebenarnya kamu kenapa sih kok bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Natalie Penasaran.
Amira mengerling ke arah Satrio yang ternyata tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua, Satrio sedang sibuk bersenda gurau dengan Aisyah.
Amira mengembuskan napas berat,
" Ini karena Arif kak." kata Amira lemah.
Sebenarnya Amira sudah malas untuk membahas tentang pria itu, Baginya semua sudah menjadi masa lalu semenjak kejadian di cafe beberapa waktu lalu. Dan dari pihak Arif pun tidak pernah datang untuk sekedar meminta maaf atau memutuskan hubungan.
" APA..?? " teriak Natalie, Dia terkejut bukan main.
Sontak saja Satrio dan Aisyah menoleh dengan agak kaget,
" Ada apa sayang?" tanya Satrio mendekat di ikuti Aisyah.
" Ahh.. aku nggak nyangka mas, ternyata semua ini gegara pria brengsek itu." Natalie Sangat emosional.
" Sayang, kamu jangan marah - marah. Kasian baby kita, nanti dia bisa stress loh." Satrio menenangkan Natalie dengan mengelus punggung istrinya.
Natalie refleks mengelus perutnya buncit nya,
" Astaghfirullah, maafin mama nak. Mama selalu saja terbawa emosi jika menyangkut nama pria itu." Bahkan Natalie pun tidak ingin menyebutkan nama Arif karena ia sudah sangat sakit hati dengan pria tersebut.
Natalie Sangat menyayangi Amira meski hanya adik ipar, Natalie lah yang paling marah dan emosi saat mendengar kabar jika Arif sudah mempunyai kekasih sebelumnya.
Dia ingin melihat Amira bahagia setelah menjalin hubungan dengan Arif, tetapi ternyata pria itu malah menambah luka di hati Amira. Dari dulu ia sudah sangat khawatir dengan kehidupan Amira yang sulit sekali membuka hatinya setelah sebuah kejadian menyakitkan yang terjadi pada Amira.
Dan sekarang, saat Amira sudah mau membuka hati malah kepada orang yang salah. Pria yang jauh dari kata baik malah terkesan brengsek, Bagaimana Natalie tidak sakit hati melihat adik ipar nya yang sempat viral karena ulah pria itu.
Untung saja Mertua dan suami nya ini orang yang cukup berpengaruh, sehingga berita semacam itu bisa dengan mudah di hapus dari semua media. Sehingga Amira tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan tidak menjadi bahan pembicaraan orang lain yang hanya melihat dari sisi lain.
Dengan santai nya mereka menghujat Amira sebagai pelakor bahkan ada yang menyalahkan hijab nya.
Padahal Amira tidak tahu apa-apa tentang hubungan Arif dan Siska.
Amira ikut menenangkan Natalie dengan mengusap lembut lengan kakak nya.
" Kakak tenang ya, bener kata kak Satrio. Jangan marah-marah. Kasian kan kalo ponakan Amira yang ada dalam perut buncit mu ini nanti ikut stres." goda Amira.
" Iya, iya." balas Natalie tersenyum lembut.
" Jadi kenapa kamu kok bisa lebam gitu muka nya?" tanya Natalie bersemangat.
" kakak beneran mau denger ceritanya? nanti kakak emosi lagi loh. Amira nggak mau kakak terbawa emosi lagi yang nantinya akan berpengaruh sama baby nya."
" iya. Kakak janji nggak akan emosi."
" Beneran?" tanya Amira menaikkan alis nya.
Amira meragukan kakak iparnya ini, karna tadi saja ia sangat berapi-api, apalagi jika mendengar kelanjutan ceritanya yang pasti akan semakin membuat Natalie emosi.
" Mending nggak usah ya sayang, nanti kamu emosi lagi. Kasian kan baby kita?" Satrio menimpali.
Sedangkan Aisyah hanya berdiri tak mengerti apa yang sedang orang dewasa ini bicara kan. Matanya berkedip-kedip mengawasi dengan sesekali melihat papa nya,mama nya dan Tante nya.
" Sayang, apa kamu mau aku mati penasaran?" tanya Natalie mendelik kearah suami nya.
" hussh.. jangan sembarangan kalo ngomong." kata Satrio cepat sembari menutup mulut Natalie dengan telapak tangannya.
" Lepasin, " Natalie memberontak melepaskan bekapan suaminya di mulut Natalie.
Natalie merajuk dan masih keras kepala ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Amira dan Satrio pun saling pandang melihat bumil yang satu ini.
Natalie sangat sensitif saat hamil anak kedua mereka, ia akan cepat sekali merajuk jika keinginan nya tidak di turuti.
Akhirnya Amira dan Satrio pasrah.
" Cerita kan lah," kata Satrio melirik Amira.
Amira pun hanya mengangguk pasrah, terlihat Natalie yang awal nya merajuk menjadi sangat antusias seperti anak kecil yang hendak di beri permen.
" Baik lah kakak ku tersayang, adik ipar mu ini akan menceritakan kejadian sebenarnya. Tapi kakak harus janji, jangan terbawa emosi." ucap Amira pelan.
Natalie tersenyum sumringah dan mengangguk kan kepala nya kuat.
" i promise " Natalie mengangkat jari telunjuk dan jari tengah nya keatas.
Satrio pun sangat gemas melihat kelakuan istri nya yang seperti itu, hingga membuat nya tak segan untuk mengacak hijab istri nya dengan sayang.
(dikarenakan Natalie berhijab, jadi hijab nya yang di acak bukan rambutnya ya😁😁✌️✌️)
Amira pun hanya geleng-geleng dan tersenyum melihat kelakuan kedua pasangan suami istri yang selalu harmonis itu. Tak bisa di pungkiri hatinya juga ingin memiliki suatu hubungan yang manis dengan kekasih halal nya suatu hari nanti.
****
**Bersambung...
Happy reading 💖💖
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan vote..
biar author tambah semangat 😘😘😘**
Emosi tetaplah emosi
Kesal dan sakit hati, jelaslah
Betapa tidak 🙄🙄
manakala sesuatu yang menyakitkan terpampang didepan mata