NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Kehampaan yang menyelimuti hati Dian perlahan mendorongnya untuk mencari jalan lain, satu-satunya cara yang ia pikir bisa menyampaikan perhatiannya tanpa harus menuntut sesuatu yang berlebihan. Ia menyadari bahwa belakangan ini Joshua tampak semakin kurus, lingkaran hitam mulai terlihat jelas di bawah matanya, dan piring makannya sering kali tersisa penuh tanpa disentuh lebih dari beberapa suap. Rasa khawatir perlahan mengalahkan rasa takutnya, dan ia bertekad ingin melakukan sesuatu yang sederhana namun tulus: memasakkan makanan kesukaan suaminya sendiri.

Pagi itu, saat para pelayan sibuk dengan tugas masing-masing, Dian menyelinap masuk ke dapur yang luas dan tertata rapi. Namun begitu ia hendak mengambil celemek dan bahan-bahan di meja, Bu Ratih serta dua pelayan lain segera menghadangnya dengan wajah cemas dan sungkan.

“Maafkan kami, Nyonya,” ucap Bu Ratih pelan namun tegas, tangannya menahan Dian agar tidak mendekat ke kompor. “Tuan Joshua melarang keras Nyonya masuk ke dapur, apalagi memasak sendiri. Beliau tidak ingin Nyonya kelelahan atau kotor terkena asap. Biar kami saja yang menyiapkan semuanya.”

Dian menunduk, tangannya meremas ujung gaunnya, namun suaranya terdengar lembut namun penuh tekad. “Aku tahu Bu, tapi aku hanya ingin membantu. Aku melihat Kak Joshua jarang makan akhir-akhir ini, dia terlihat sangat lelah. Aku ingin mencoba membuatkan makanan yang mungkin dia suka, sekadar ingin dia makan sedikit saja demi kesehatannya. Tolong izinkan aku, Bu.”

Para pelayan saling berpandangan ragu, takut melanggar perintah tegas tuan rumah, namun tak tega menolak tatapan penuh harap Dian. Akhirnya dengan berat hati mereka mengizinkan, hanya dengan syarat Dian tidak melakukan pekerjaan berat, dan mereka tetap membantu di sampingnya. Dengan hati yang berbunga kecil karena akhirnya bisa berbuat sesuatu, Dian mulai bergerak hati-hati. Ia berusaha sebaik mungkin, mengingat apa yang pernah dilihat Joshua makan, mencicipi bumbu berulang kali agar rasanya pas, dan memastikan semuanya bersih serta disiapkan dengan penuh perhatian. Tangan yang biasanya halus kini sedikit terkena cipratan minyak, namun ia tak peduli—setiap gerakannya terasa bermakna, seolah dengan makanan ini ia bisa menyampaikan bahwa ia ada di sana, bahwa ia peduli.

Menjelang makan siang, ia menyajikan masakannya sendiri di atas meja makan utama, menatap piring itu dengan senyum tipis yang penuh harap. Tak lama kemudian Joshua pulang dari ruang kerjanya, langkahnya berat dan wajahnya masih datar tanpa ekspresi. Namun saat ia melihat hidangan yang berbeda dari biasanya, dan melihat Dian berdiri di samping meja dengan pandangan menanti, keningnya berkerut samar.

“Siapa yang mengizinkanmu melakukan ini?” tanyanya pelan, nada bicaranya tidak marah, namun dingin dan kaku. Matanya menatap piring di hadapannya, lalu beralih ke arah tangan Dian yang sedikit memerah.

Dian tersentak sejenak, namun berusaha tersenyum. “Aku… aku yang memasaknya, Kak. Aku melihat kau jarang makan dan terlihat kurus. Jadi aku coba membuatkan makanan ini untukmu. Mungkin rasanya tidak sebaik buatan koki rumah, tapi aku berharap kau mau mencobanya sedikit.”

Suasana di ruangan itu menjadi hening seketika. Joshua diam cukup lama, menatap Dian lekat-lekat seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Ia tahu betul niat tulus di balik usaha ini, tahu betul betapa besar keberanian yang dibutuhkan gadis itu untuk melanggar larangan demi dirinya. Namun bayangan dendam dan ucapan dingin Dian saat menolak keluarganya kembali menyelinap, membuat hatinya yang sempat sedikit tergoyahkan kembali membeku keras.

Akhirnya ia berjalan mendekat, namun bukan untuk duduk dan mencicipi masakan itu. Ia malah menyingkirkan piring itu perlahan ke pinggir meja, seolah benda itu tak berharga sama sekali.

“Terima kasih niatmu,” ucapnya datar, tanpa senyum sedikit pun. “Tapi aku sudah terbiasa dengan rasa masakan yang ada di sini. Aku tidak suka perubahan tiba-tiba, apalagi hal yang tidak biasa kau lakukan. Dan jangan lakukan ini lagi. Kau tidak perlu repot-repot melakukan hal yang bukan tugasmu. Kehadiranmu saja di sini sudah cukup bagiku—atau setidaknya, itulah yang kau inginkan.”

Ia duduk di kursinya, memakan sedikit hidangan yang disiapkan koki biasa, tanpa sekalipun menyentuh masakan buatan istrinya. Dian berdiri terpaku di tempatnya, senyum di wajahnya perlahan luntur, dan rasa hangat yang sempat ada di dadanya kini berubah menjadi dingin yang menyakitkan. Ia tidak menyangka bahwa usaha tulusnya, rasa khawatirnya, dan keberaniannya melanggar aturan justru disambut dengan penolakan yang begitu halus namun tajam.

Ia menyadari satu hal: sekeras apa pun ia berusaha mendekat, sebesar apa pun perhatian yang ia berikan, tembok tinggi yang dibangun Joshua di antara mereka seolah takkan pernah bisa ia tembus. Ia hanya bisa berdiri diam, menatap piring masakannya yang utuh tak tersentuh, dan menyadari bahwa kasih sayang yang ia berikan hanyalah sesuatu yang tak diinginkan oleh orang yang paling ia cintai.

Selesai makan, Joshua langsung beranjak pergi kembali ke ruang kerjanya tanpa menoleh ke belakang. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menatap ke arah Dian yang masih duduk memandang piringnya sendiri, lalu bergumam pelan tak terdengar: “Jangan berusaha sekeras ini, Dian. Semakin kau berusaha menyenangkanku, semakin berat hukuman yang harus kau terima nantinya.”

Saat ruang makan kembali sepi, Dian perlahan maju menarik piring berisi makanannya yang tak tersentuh itu. Ia memegang pinggiran piring yang masih hangat, namun rasanya seperti memegang bongkahan es dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia tidak membuangnya, melainkan membawanya kembali ke dapur, menatap masakan yang ia buat dengan penuh harap itu dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.

“Maafkan kami, Nyonya…” bisik Bu Ratih pelan, hatinya ikut teriris melihat kesedihan yang tak bisa disembunyikan di wajah gadis itu.

Dian menggeleng pelan, menelan ludah yang terasa pahit. “Tidak apa-apa, Bu. Mungkin memang rasanya tidak enak, atau mungkin… memang aku tidak pantas melakukan hal sederhana seperti ini untuknya.”

Ia menutup kembali tutup piring itu rapat-rapat, menyimpannya di lemari pendingin dengan harapan mungkin nanti saat Joshua lapar, ia mau berubah pikiran. Padahal di lubuk hatinya, ia tahu hal itu takkan pernah terjadi.

Siang berganti sore, namun Dian tak beranjak dari kamar. Ia duduk di tepi jendela, menatap langit yang perlahan berubah warna menjadi kelabu. Pikirannya melayang ke segala kemungkinan: apakah yang salah dengan dirinya? Apakah caranya mendekat selalu salah? Atau memang sejak awal, tak ada satu pun tempat di hati Joshua yang tersedia untuknya?

Sementara itu, di ruang kerja yang tertutup rapat, Joshua tak bisa tenang. Ia terus berjalan mondar-mandir, bayangan wajah Dian yang kecewa tadi tak lepas dari ingatannya. Ia tahu betul betapa besar keberanian yang gadis itu kumpulkan untuk melanggar larangannya, tahu betul betapa tulusnya rasa khawatir di balik piring makanan itu. Sekali saja ia memejamkan mata, ia bisa membayangkan bagaimana Dian bergerak canggung di dapur, mencicipi bumbu dengan ragu, dan tersenyum bahagia saat menyajikannya.

Namun saat bayangan itu muncul, bayangan kematian orang tuanya dan wajah puas ayah angkat Dian kembali menghantui. Ia mencengkeram tepi meja dengan kuat, urat-urat di tangannya menonjol menahan amarah yang bercampur rasa bersalah yang tak ia akui.

“Jangan lemah, Joshua,” bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. “Dia bagian dari mereka. Semakin kau luluh pada kebaikannya, semakin kau mengkhianati kenangan orang tuamu. Biarkan dia kecewa, biarkan dia lelah berusaha—itulah yang pantas dia terima.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!