NovelToon NovelToon
LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

LUKA YANG MENGANTARKAN KU PULANG

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: NATstory

Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA BERBALIK ARAH

Siang itu,Mobil hitam milik Dr.Hendy berhenti perlahan tepat di depan kantor dira,beberapa minggu terakhir,hendy selalu menyempatkan diri mengantar Dira sebelum kembali ke rumah sakit.

" sudah sampai."

Dira tersenyum merapikan rambutnya.

"Terima kasih, Dok. Tiap hari diantar, nanti saya jadi manja."

"Memangnya salah kalau saya bikin kamu nyaman?".

dira tersenyum,melambaikan tangan sebelum masuk keruangan.

Studio siaran mulai ramai,para kru sibuk mempersiapkan acara,aku memeriksa naskah,dan tiba tiba ponsel bergetar,Nomor tidak dikenal,Biasanya Dira tak menghiraukan,entah mengapa kali ini ia ingin menjawab tlp itu.

"Halo?"

tidak ada jawaban...

"Halo... Bun."

Suara itu,dira pernah mengenal nya.

"Mas... ?"

"Iya, ini aku...

Dira mematung,Lebih dari setahun lelaki itu menghilang tanpa kabar,tiba-tiba ia kembali seolah waktu tidak pernah berlalu.

"Apa kabar, Bun?"

Dira tersenyum lebar

"Alhamdulillah... baik

Gimana kerjaannya?mas kangen,

Dira terdiam

"Aku juga sering ingat Mas."

Andi mengembuskan napas lega.

"Maaf ya, Bun."

Dira masih mencoba memahami perasaannya sendiri,Bahagia?Sedih?atau lega?

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Aku senang Mas telepon."

"Mau mulai lagi?"

Pertanyaan itu membuat Dira kehilangan kata-kata,Andi tidak memaksa.

Sejak hari itu, komunikasi mereka kembali terjalin,Di satu sisi, Dr. Hendy semakin sering hadir dalam kehidupan Dira,antar kekantor,Menjemput pulang,makan malam,tapi..Andi seperti nya ingin kembali mengisi hati yang telah lama sempat hilang.

"bun,ayah boleh tlp?,"

tanya Andi dengan panggilan khas nya.

"Nanti ya."

balas Dira yang sedang duduk di dalam mobil bersama Hendy,Sesekali Hendy melirik Dira yang tampak salah tingkah.

Hari berikutnya,Andi kembali menelepon.

"kenapa ya? sekarang susah sekali dihubungi?"

Andi mulai curiga,instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan,Tetapi ia tidak punya bukti,Semakin ia mengejar, semakin Dira memberi alasan.

Dulu...Dira selalu menunggu,Selalu menghubungi lebih dulu,Kini semuanya terbalik,Andi yang menunggu,Andi yang gelisah,Andi yang takut kehilangan,ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang dicintai.

Suatu malam...mereka hanya saling memandang dalam panggilan video call.

"Bun."

"Iya."jawabku datar.

"Kamu kenapa?"tanya Andi.

"Kenapa apa?"

"Kamu berubah."ujar Andi.

Dira tersenyum hambar.

"Enggak kok."

"Kamu jauh."

"Enggak."! balasnya lagi.

"Ada apa sebenarnya?Kamu sedang menyembunyikan sesuatu.?"tebak Andi lagi.

Dira menarik napas panjang.

"Orang memang bisa berubah, Mas."

sejenak Andi terdiam, lalu mengakhiri tlp nya,Beberapa menit kemudian video call berakhir.

...Sebuah pesan masuk.

"Kalau memang hubungan ini sudah tidak bisa diteruskan, ya sudah. Kita akhiri saja, kamu sudah gak cinta kan sama saya?!!

hal itu mengingatkannya pada luka yang pernah ia telan sendirian,Dira langsung menelepon Andi.

"Halo."

Suara Dira kali ini bergetar.

"Mas Andi tadi gak salah bilang saya berubah?Lantas selama setahun lebih itu Mas ke mana?"

Mas tahu tidak hidup saya bagaimana?"

Andi mulai menyimak

"Dira..."Andi memotong.

"Jangan potong pembicaraan saya!"

Suara Dira meninggi.

"Mas tahu waktu saya kelaparan di kos siapa yang ada?Mas tahu waktu saya bingung bayar kuliah siapa yang menemani? saya sendiri lho!

Tidak ada jawaban.

"Mas hilang,Setahun lebih,Bukan satu minggu,waktu saya benar-benar butuh,mas dimana? "

Semua alasan yang selama ini ia siapkan mendadak lenyap,Tidak ada satu pun yang pantas diucapkan.

"Dira... maaf."ujar Andi menyesal.

Dira tertawa pahit,Selama ini ia selalu merasa benar,Merasa Dira akan selalu menunggu,Merasa Dira tidak akan pernah pergi,Ucapan Dira seperti skak mat dalam permainan catur,andi tidak punya langkah lagi,Semuanya benar,Ia memang pergi meninggal kan Dira, dan datang kembali saat hidup Dira mulai membaik.

"Penyesalan itu datang setelah semuanya terlambat, balasku serius.

"Dengar dulu."

"sudah ya mas, saya mau istirahat, selamat malam"!

andi akui bahwa wanita yang dulu selalu mengejarnya kini telah belajar berdiri di atas kakinya sendiri,Ia bukan lagi gadis yang rela mengorbankan harga diri demi mempertahankan cinta,ia berubah menjadi perempuan yang tahu arti menghargai dirinya sendiri.

Pagi berlalu dengan suasana yang masih menyisakan sisa perdebatan semalam,Tidak ada bentakan, Hanya beberapa kalimat yang saling beradu, cukup untuk membuat keduanya sadar bahwa waktu telah mengubah banyak hal.

Mobil Andi berhenti di pinggir jalan. Ia mematikan mesin, lalu menyandarkan kepala ke jok.

"Kenapa dulu aku malah pergi?"

Andi memejamkan mata,Bayangan Dira

bertahun-tahun kembali muncul,Perempuan sederhana yang selalu menunggu teleponnya,Yang rela begadang hanya agar bisa mendengar suaranya.

Di kantor, Dira sibuk menyusun naskah siaran,Beberapa rekan kerja memujinya,Semua proses itu membentuknya,sebenarnya mas Andi juga menjadi bagian dari proses itu,Meski dengan cara yang menyakitkan,andai Kalau dulu mas Andi tidak pergi,mungkin Dira tidak akan sekuat sekarang.

tiba tiba Ponsel Dira berbunyi,dira menatap layar beberapa detik.

"Halo."

Suara Andi terdengar lebih pelan.

"sudah makan?"

"Belum!"

balasku dingin,Obrolan mereka terasa canggung,Tidak ada lagi rayuan berlebihan,Hanya dua orang yang sama-sama mencoba mengenal ulang satu sama lain.

"jujur,aku benar benar menyesal,andai pun nanti aku mendapatkan penggantimu,mungkin dia tidak akan sebaik kamu,Aku ingin memperbaiki semuanya,aku mau bertemu Bapak, dan membawa hubungan kita ke jenjang lebih serius.

Dira terdiam biasa saja.

"Aku menghargai niat baik Mas,Tapi...Aku nggak bisa langsung menjawab,aku butuh waktu untuk percaya lagi.

Setelah telepon ditutup, Andi duduk sendirian di balkon rumahnya,Dulu aku punya dia,Sekarang,aku harus memperjuangkannya lagi.

ini adalah konsekuensi dari kesalahannya sendiri,mendapatkan kembali kepercayaan seseorang yang pernah terluka,ternyata memang butuh kesabaran.

_________________________________________________

esok hari pukul 5 sore,aktivitas dikantor tempat Dira bekerja perlahan berkurang,karyawan satu per satu meninggalkan gedung,menyisakan beberapa kendaraan yang masih terparkir,Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari pintu keluar,Di balik kemudi,ada Andi memandang lurus ke arah lobi,hampir satu jam ia menunggu.

Tangannya beberapa kali menggenggam ponsel, berniat menghubungi Dira, tetapi kembali mengurungkan niat,Setelah lebih dari setahun menghilang, ia sadar dirinya tidak lagi memiliki hak untuk datang sesuka hati,Belum sempat Dira keluar,wanda menghampiri mobilnya.

Tok... tok...

Andi menurunkan kaca sedikit.

"Mas nyari Dira?"

"Iya,kok tau?"jawab Andi ramah.

"Yah... telat."

Andi mengangkat alis.

"Maksudnya?"

"Dira udah pulang."ucap Wanda menjelaskan.

"Dijemput siapa?"

Wanda memasang wajah sinis,

"ya sama cowok lah,gak tau deh pacarnya yang nomer berapa,mas cowok yang mana ni? yang captain kapal itu? ..itu pasti pacar khayalan,dia sering sebut nama itu soalnya.

Beberapa detik suasana menjadi sangat hening,Andi tidak menjawab,Namun di dalam hatinya,setiap kata Wanda terasa aneh.

Kapten kapal...Ia mengenal kisah itu,Karena kapten kapal yang dimaksud mungkin adalah dirinya sendiri,Semuanya nyata,Tiba-tiba Andi memahami sesuatu, Berarti..selama ini dira sering membanggakan Andi bahwa dia punya sosok pacar berprofesi sebagai pelaut,Andi memandang Wanda,Tatapannya dingin.

"Apa sudah selesai?"

Wanda sedikit bingung.

"kan aku cuma kasih info sesuai fakta? kalau dia itu halu.! 😒

Andi mengangguk pelan.

"Kalau begitu, saya tegaskan,dira tidak berkhayal, captain itu adalah saya?! ..terima kasih."

Wajah Wanda berubah,Andi menatap lurus ke matanya.

Andi menaikkan kaca Mobilnya,dan perlahan meninggalkan kantor,Di balik kaca spion...ia masih melihat Wanda berdiri dengan wajah kesal,Perjalanan menuju apartemen Dira terasa begitu panjang,Jantung Andi berdetak semakin cepat,Ia sendiri tidak tahu untuk apa datang.

Meminta maaf?Atau sekadar memastikan Dira benar-benar bahagia?yang pasti dia merasa lebih percaya diri saat dia dengar dari rekan kerjanya bahwa pacarnya adalah pelaut yang dia tunggu selama ini.🙂

Sesampainya di depan apartemen, Andi memilih memarkir mobil agak jauh,Mesinnya dimatikan,Lampu mobil ikut padam, langit mulai gelap,Lima belas menit berlalu,tapi Tiba-tiba sorot lampu sebuah mobil memasuki area parkir.

Mobil itu berhenti tepat di depan lobi.

Dira turun lebih dulu,Ia mengenakan blouse putih sederhana dipadukan celana panjang hitam,Rambutnya terurai,Wajahnya terlihat segar,Kemudian Hendy ikut turun,Masih memakai seragam dokter lengkap,Lelah tampak jelas di wajah pria itu,Namun saat melihat Dira...senyum hangat langsung menghiasi bibirnya,Andi mematung,Dari dalam mobilnya yang gelap...

ia memperhatikan semuanya,Dira tertawa kecil.

"Masih sempat nganter padahal baru selesai operasi."

Hendy mengusap tengkuknya.

"Kalau buat kamu, capeknya hilang."

Dira menggeleng sambil tersenyum malu.

"Dokter itu gombalnya makin parah."

"Bukan gombal."

"Fakta."

Mereka tertawa bersama,Suasana terasa sangat ringan,Tidak dibuat-buat,Hanya dua orang yang benar-benar menikmati kebersamaan,Hendy kemudian membuka bagasi,Mengambil sebuah kantong kecil.

"Kamu lupa buahnya."

"Oh iya."

Dira menerima kantong itu.

"jangan lupa makan tepat waktu."

"Iya, Dok."🙂

"Janji?"

Dira mengangkat jari kelingking.

"Janji."

Hendy ikut mengaitkan jari kelingkingnya.

Andi menundukkan kepala.

"Kalau besok pusing lagi, langsung telepon,Jangan nunggu parah."

Dira mengangguk.

"Iya."

Hendy tampak ragu.

"Boleh peluk sebentar?"

Dira tersenyum,Hanya pelukan singkat penuh rasa syukur,Dira membalas pelukan itu.

"Terima kasih ya."

Dari kejauhan, Andi melemah,ia sadar selama ini justru dirinya yang tidak pernah benar-benar ada ketika Dira membutuhkan,Ia sibuk dengan ego,Menghilang,Memblokir,Meninggalkan.

"Lain kali jangan maksa kerja terus."

Hendy mengangguk.

"Kalau kamu yang nyuruh, aku nurut."

Mereka kembali tertawa,Dira melambaikan tangan.

"Hati-hati di jalan."

"Hendy masuk ke mobil setelah memastikan Dira benar-benar masuk ke lobi apartemen,Barulah ia menghidupkan mesin dan pergi,Semua itu disaksikan Andi tanpa mampu bergerak sedikit pun,Tangannya gemetar di atas setir.

"Begini rasanya...Melihat orang yang paling di cintai..bahagia bersama orang lain,Ia menutup wajah dengan kedua tangannya,semua yang terjadi adalah akibat dari keputusannya sendiri,sepertinya Dira telah menemukan seseorang yang tidak hanya mengucapkan cinta, tetapi juga membuktikannya setiap hari.

Andi menyalakan mesin mobil dengan tangan yang masih gemetar,Sebelum meninggalkan apartemen, ia menatap sekali lagi ke arah balkon tempat lampu kamar Dira baru saja menyala,Mobil itu perlahan melaju meninggalkan apartemen.

Sementara di dalam kamar, Dira berdiri di balik jendela tanpa mengetahui bahwa malam itu, seseorang baru saja mengucapkan selamat tinggal di dalam hatinya.

Keesokan paginya,Hari Minggu,Pukul delapan,Dira yang masih mengenakan piyama dikejutkan oleh suara telepon.

"Halo?"

"Dira... ini aku."

Suara itu membuat Dira langsung mengenali pemiliknya.

"Aku di bawah,Tolong bukakan akses,Aku cuma mau bicara"

Dira terdiam,Ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi,Namun rasa kemanusiaannya membuat ia tak tega membiarkan Andi berdiri sendirian di luar,Beberapa menit kemudian...Pintu lift terbuka,Andi berjalan pelan menuju unit apartemen Dira,Begitu pintu dibuka, keduanya saling menatap tanpa suara.

"Boleh masuk?"

Dira mengangguk pelan,Mereka duduk berhadapan.

"Semalam..aku lihat semuanya,Aku lihat kamu pulang sama dokter itu,Aku lihat kalian pelukan."

Suara Andi mulai bergetar.

"Dira... aku cemburu."

Dira memandangnya dengan tatapan datar,Ruangan kembali sunyi,Dira menghela napas pelan,Lalu menggeleng.

"Maaf Mas,Aku ingin memilih diriku sendiri dulu,Aku capek,aku cuma ingin hidup tenang."

Baru kali ini ia melihat Dira setegas ini,Tiba-tiba...Nada dering ponsel Dira berbunyi,Nama di layar membuat Dira sedikit tersenyum.

Dokter Hendy.

Belum sempat Dira mengangkat telepon itu...

Andi bergerak cepat,Ponsel tersebut sudah berpindah ke tangannya,Andi langsung menggeser tombol hijau.

"Halo."

Suara tenang Hendy terdengar dari seberang.

Andi menjawab dingin.

"Ini dokter semalam itu?"

Hendy sedikit terdiam.

"Benar. Dengan siapa saya bicara?"

"Saya Andi."

"tolong jangan dekati Dira,Dia calon istri saya."

melihat itu dira marah.

"Mas! Apa-apaan!"

Ia berusaha merebut ponselnya.

Namun Andi mengangkat tangannya lebih tinggi.

"Dengar ya Dok,Saya dan Dira pernah saling mencintai,Jangan ganggu hubungan kami."

"Balikin HP aku!"

Namun Andi masih mempertahankannya.

"Dira, dengarkan aku dulu!"

"Enggak!"Mas nggak berhak jawab telepon pribadi aku!"

"Dengerin aku!Kita harus bicara!Aku nggak mau kehilangan kamu."teriak Andi.

"Itu bukan cara mencintai Mas,"Itu obsesi."

Kalimat itu membuat Andi terpaku.

"Iya...Tapi kita pernah saling mencintai, kan?"

"Itu dulu, Mas!"

Suara Dira meninggi.

"apa begitu mudah kamu melupakan semua kenangan kita Dira?

tanya Andi lirih, Dira tak mau menjawab,hati nya memang sudah luka.

Keheningan itu menyelimuti ruangan,Di sisi lain telepon, Hendy mendengar seluruh pertengkaran itu,Tanpa banyak bicara, ia langsung mematikan sambungan,Beberapa menit kemudian...Lift apartemen terbuka,Langkah kaki Hendy terdengar mantap menyusuri koridor,Ia berdiri tepat di depan pintu unit Dira.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan itu membuat Dira dan Andi sama-sama menoleh,Dira tahu,Orang di balik pintu itu adalah Hendy,Sementara Andi menggenggam ponsel Dira semakin erat,pintu perlahan terbuka, tiga hati yang dipenuhi cinta, penyesalan, dan harapan akhirnya berdiri dalam satu ruangan yang sama. Konflik yang selama ini hanya tersimpan di dalam hati, kini tak lagi bisa dihindari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!