Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Tunanganku
Beberapa menit berlalu.
Koridor rumah sakit kembali dipenuhi suasana yang tenang. Hanya terdengar langkah kaki para perawat yang sesekali melintas, sementara Lyko masih duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
Tatapannya tak pernah lepas dari pintu ruang UGD. Sementara Bella kini masih setia berdiri di sampingnya.
Sampai tiba-tiba pintu ruang UGD akhirnya terbuka. Seorang dokter bersama dua orang perawat berjalan keluar sambil membawa map pemeriksaan.
Lyko yang melihat itu langsung bergegas menghampiri dokter dengan wajah penuh kekhawatiran. "Permisi dokter... bagaimana keadaannya?”
Dokter menatap Lyko sejenak. "Maaf sebelumnya... Anda siapa dari pasien?"
Pertanyaan itu membuat Lyko langsung terdiam. Haruskah ia berkata bahwa dirinya adalah tunangan Xavier? Tapi disisi lain Xavier sendiri belum menjelaskan hubungannya dengan Lyko kepada publik.
"A-Aku..." bibirnya terbuka kecil, tetapi ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Lyko tampak kembali gugup. "Aku..."
“Dia tunangan ku.”
Belum sempat Lyko melanjutkan, terdengar suara datar dan tenangnya yang dingin. Siapa lagi kalau bukan Xavier. Xavier terlihat berjalan keluar dengan lengan kirinya kini telah diperban rapi. Tatapannya langsung tertuju kepada Lyko.
Suasana koridor langsung hening.
Dokter membelalakkan matanya, sementara kedua perawat di sampingnya saling berpandangan dengan ekspresi syok.
"T-Tunangan...?"
"Benarkah ini?”
Lyko sendiri benar-benar membeku. Pipinya langsung memerah karena malu. Ia menatap Xavier dengan mata membesar, sama sekali tidak menyangka pria itu akan mengatakannya secara terus terang.
Sementara Bella yang berdiri tak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. Ia buru-buru mengalihkan wajahnya ke arah lain agar tidak ketahuan sedang menahan tawa.
Xavier kemudian berjalan mendekati Lyko hingga berdiri tepat di sampingnya. Tatapannya jatuh pada mata Lyko yang masih tampak sembab.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Dokter akhirnya berdeham pelan. "Kalau begitu saya akan menjelaskan kondisi Tuan Xavier,” Dokter membuka map pemeriksaannya.
"Untung saja luka Tuan Xavier tidak mengenai bagian pembuluh darahnya, namun luka di lengannya cukup dalam sehingga kami harus memberikan beberapa jahitan tadi."
"Untuk sementara... saya sarankan jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat dan jangan sampai jahitannya robek kembali, selain itu kondisinya stabil dan beliau sudah diperbolehkan pulang."
Lyko yang masih sedikit malu hanya mampu mengangguk berkali-kali. "Baik, Dokter."
Dokter kembali melanjutkan, "Kami juga sudah menyiapkan obat pereda nyeri, salep untuk luka, dan beberapa vitamin agar proses penyembuhannya lebih cepat."
Lyko kembali mengangguk. "Saya mengerti."
Dokter tersenyum ramah. "Kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi... saya permisi dulu."
Lyko membungkukkan badan kecil. "Terimakasih banyak, Dokter."
Dokter dan kedua perawat pun meninggalkan koridor.
Xavier kini langsung menoleh kepada Lyko.
Xavier yang sedari tadi berdiri di samping Lyko perlahan menoleh. Tatapannya jatuh tepat pada wajahnya lagi. Bekas air mata belum benar-benar hilang.
Xavier mengernyit tipis. "Kenapa matamu seperti itu?" katanya dengan tatapannya yang tetap tenang seperti biasanya. "Mengapa matamu sembab?"
Lyko langsung terdiam. "Hah...?" ia refleks menyentuh sudut matanya. "A-Aku..."
“Kau menangis?” tanya Xavier.
Pertanyaan itu langsung membuat Lyko bingung untuk menjawab apa. Ia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
“Tuan.”
Untung saja terdengar suara Felix dari ujung koridor.
Lyko langsung menoleh dan tanpa sadar mengembuskan napas lega.
Felix datang sambil membawa 3 botol air mineral dan sebuah kantong kecil berisi makanan ringan.
Ia segera menghampiri mereka. "Tuan apa keadaan Anda sudah membaik?"
Xavier mengangguk singkat. "Aku baik-baik saja."
Felix tampak lega.
Kemudian ia menyerahkan minuman kepada Lyko. "Ah Nona, silakan minuman Anda."
Lalu kepada Bella. "Ini untukmu."
Bella menerimanya, “terimakasih.”
Setelah itu, Felix melangkah ke arah Xavier. Dengan penuh hormat ia membuka tutup botol air mineral terlebih dahulu sebelum menyerahkannya kepada sang tuan.
"Tuan, silakan diminum terlebih dahulu. Tubuh Anda kehilangan cukup banyak darah."
Xavier menerima botol itu tanpa banyak bicara. "Terimakasih."
Setelah selesai minum ia kembali menyerahkannya kepada Felix.
Pandangan Xavier kini melirik ke arah Lyko yang mulai meminum air mineralnya. Entah mengapa begitu melihat gadis itu minum malah membuat sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Sampai tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar dari lorong.
"Xavier," suara seorang wanita menggema memenuhi koridor.
Semua orang spontan menoleh.
Terlihat Mama Olivia berlari sekencang mungkin kearah mereka. Lyko perlahan menjauhkan sedikit tubuhnya agar tidak mengenai Mama Olivia yang mau memeluk Xavier.
Namun alih-alih langsung menghampiri Xavier wanita itu justru berlari lurus menuju Lyko. "Lyko!"
BRUK!
Mama Olivia langsung memeluk Lyko erat. "Aduh menantu Mama... sayang kamu tidak apa-apa kan? Ada yang terluka? Mama khawatir sekali...”
Lyko benar-benar terkejut, karena ia berpikir Mama Olivia akan memperhatikan Xavier. Namun pemikirannya salah. "M-Mama...? A-Aku tidak apa-apa Ma...”
Mama Olivia terlihat masih memeriksa wajah, tangan, hingga bahu Lyko dengan panik. "Kamu yakin sayang?”
Lyko mengangguk dan melirik Xavier yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka. "lagipula... yang terluka itu Xavier.”
Mama Olivia langsung menjawab tanpa berpikir panjang. "Ah, anak itu sudah biasa terluka, sejak kecil saja luka seperti apapun sudah pernah dia dapat selagi masih hidup biarkan saja.”
"Yang Mama khawatirkan itu kamu Lyko... masa nanti menantu Mama kenapa-kenapa?”
Lyko hanya bisa berkedip beberapa kali. Ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Namun ketika Mama Olivia melihat noda darah di tangan Lyko wajahnya langsung berubah panik. "Ya ampun! Tangan kamu berdarah! Masa ini yang di katakan tidak apa-apa?”
Mama Olivia langsung menoleh tajam kepada Xavier. "Xavier!Kamu bagaimana sih?! Masa calon istrimu sampai berdarah begini tidak kamu jaga!"
Xavier hanya menghela napas kecil. Sebelum ia sempat menjawab Lyko buru-buru menggeleng. "Mama salah paham... ini bukan darahku."
Mama Olivia berkedip. "Bukan darahmu?”
Lyko menjelaskan pelan. "Ini darah Xavier, karena sepanjang perjalanan tadi aku menahan luka di lengannya supaya darahnya tidak keluar terlalu banyak."
Mama Olivia langsung mengembuskan napas lega. "Astaga... mama pikir darahmu... kamu benar-benar menanti terbaik Mama!” Mama Olivia langsung memeluknya lagi.
Dan dibelakang mereka Papa Edward hanya dapat menggeleng pelan melihat tingkah istrinya. Ia kemudian berjalan menghampiri Xavier. "Bagaimana? Kamu baik-baik saja?"
Xavier mengangguk. "Tentu."
Papa Edward mengangguk puas. "Syukurlah.”
Mama Olivia kembali bertanya. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Xavier menjawab dengan tenang. "Saat aku sedang berdansa di pesta ulang tahun putri keluarga Agrasa... lampu kristal besar yang berada tepat di tengah ballroom tiba-tiba jatuh dan serpihan kacanya mengenai lenganku."
Lyko melanjutkan, "benar, untung saja refleks Xavier sangat cepat kalau tidak... mungkin sekarang kami sudah tertimpa lampu itu."
Papa Edward dan Mama Olivia langsung saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah serius. "Tidak mungkin,” gumam Mama Olivia.
Lyko tampak memasang wajah penasaran.
Papa Edward menjelaskan dengan nada tenang. "Ballroom itu sejak awal kami yang merancang, dan termasuk lampu kristal yang ada di tengah ballroom itu.”
"Kait penyangganya dibuat dengan lapisan yang tebal, dan kami juga memasang kait otomatis, dan tidak mungkin dapat terlepas begitu saja."
Mama Olivia ikut mengangguk. "Bahkan sistem pengaturan lampu itu terhubung ke ruang kontrol, dan ruang itu tidak bisa dimasuki sembarang orang."
"Hanya pegawai tertentu yang memiliki sidik jari atau kartu identitas khusus yang dapat masuk."
Lyko langsung terdiam. Pikirannya kembali berputar. Kalau begitu... Jenny hampir tidak mungkin bisa masuk ke sana. Kecurigaan yang sempat muncul di dalam hatinya perlahan mulai memudar.
Berarti masih ada orang lain yang berada di balik semua ini.
Xavier kemudian berkata dengan nada dingin. "Aku akan mencari informasi lebih lanjut. Siapa pun yang melakukannya... tidak akan kubiarkan tenang."
Lyko menundukkan pandangan, entah kenapa dadanya kembali terasa sesak. Lagi dan lagi... Xavier yang harus mengurus semuanya. Sementara dirinya belum bisa melakukan apa-apa.
Seolah dapat membaca isi pikirannya, Xavier melirik sekilas ke arah Lyko dan berbisik kecil kearahnya. “Jangan berfikir begitu, ini memang sudah tugasku.”
Lyko hanya dapat mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
Mama Olivia kemudian menghembuskan nafasnya. "Sudahlah... ayo sekarang kita pulang."
"Dan... kita mampir ke kafe Mama sebentar ya? Lyko juga ikut agar Lyko tahu kafe Mama, sekaligus kita santai-santai dulu, ya?” ucap Mama Olivia dengan wajah permohonan.
Lyko tersenyum kecil dan mengangguk karena tidak dapat menolak. "Baik, Ma."
Mama Olivia kemudian menoleh kepada Felix. "Felix."
Felix langsung menoleh.
“Tolong tebus semua obat Xavier ya?"
Felix membungkuk. "Baik, Nyonya."
Baru saja ia hendak pergi...
"Tunggu," suara Xavier menghentikannya.
Felix menoleh. "Ada apa Tuan?"
"Berikan kunci mobilmu."
Felix tampak sedikit heran. "Kunci... mobil?"
Xavier mengangguk. "Aku ingin menyetir sudah lama aku tidak membawa mobil."
Lyko langsung berbisik pelan di sampingnya. "Xavier... lenganmu masih baru selesai di jahit loh, jangan memaksakan diri.”
Namun Xavier menjawab dengan tenang. "Aku bisa mengaturnya."
Lyko hanya menghela napas panjang.
Keras kepala sekali pemuda itu.
Mama Olivia yang melihat keduanya hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Kalau begitu terserah dirinya saja."
Felix akhirnya menyerahkan kunci mobil. "Ini, Tuan.”
Xavier menerimanya. “Kali ini kau ikut Bella, setelah mengambil obat, menyusul kami."
"Baik, Tuan saya mengerti," Felix mengangguk hormat, lalu segera berjalan menuju apotek rumah sakit dengan Bella yang mengikuti.
Lyko memandangi Xavier beberapa detik. Kemudian ia kembali mengembuskan napas pelan. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan keras kepalamu itu..."
Xavier hanya menoleh sekilas kepadanya. Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.