Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valdoria
Liora mengangguk pelan, masih berdiri di dekat meja kecil dengan kedua tangan menggenggam ujung celemeknya. Ia belum memahami kenapa nama itu membuat Aveline terdiam cukup lama, tetapi ia bisa merasakan perubahan pada suasana kamar. Aveline tidak tampak terkejut, tidak pula gelisah. Namun tatapannya yang sejak tadi berada pada lembar alamat di tangannya mulai terlihat lebih terarah, seolah satu bagian yang sebelumnya hilang baru saja masuk ke tempatnya.
“Tempat itu masih masuk wilayah Valdoria?” tanya Aveline.
“Iya, Nona,” jawab Liora hati-hati. “Tapi bukan di pusat kota. Letaknya lebih dekat ke bagian pelabuhan dan jalan-jalan belakang. Orang biasa menyebutnya daerah gelap Valdoria.”
Aveline tidak langsung menjawab. Jemarinya menahan kertas alamat itu di atas pangkuan, lalu matanya bergerak turun pada nama-nama yang tertulis di sana. Henric Loar. Milo Vern. Edrik Hale. Roland Krüger. Darius Veyne. Setiap nama memiliki alasan ketidakhadiran yang berbeda. Di atas kertas, semuanya tampak rapi, hanya untuk sebuah markas yang baru saja kehilangan tawanan, disusupi pembunuh, dan mulai menemukan jejak Ashveil di jalur konvoi militer.
“Daerah gelap,” ulang Aveline pelan.
Liora menelan ludah kecil. “Banyak club malam, penginapan murah, dan tempat yang biasanya tidak didatangi keluarga baik-baik. Saya hanya mendengar dari pelayan lain, Nona. Saya sendiri belum pernah ke sana.”
“Orang bisa menghilang di sana?”
Liora tampak ragu sesaat, tetapi akhirnya mengangguk. “Bisa. Kalau seseorang ingin tidak terlihat, tempat seperti itu memang lebih mudah. Banyak orang keluar masuk, dan kebanyakan tidak mau ikut campur urusan orang lain.”
Aveline menatapnya beberapa detik. “Kau tahu jalan-jalan utama Valdoria?”
“Sebagian, Nona. Tidak semuanya, tapi saya tahu jalan dari Silvercrest ke pusat kota, lalu beberapa jalan ke distrik selatan dan timur. Kalau daerah pelabuhan, saya hanya tahu garis besarnya.”
“Cukup.”
Liora terlihat bingung. “Cukup untuk apa?”
Aveline tidak langsung menjawab. Ia justru melipat kembali kertas alamat itu dengan rapi, lalu meletakkannya di atas meja kecil bersama cangkir teh yang belum tersentuh. Setelah itu ia berdiri dari sofa dan berjalan menuju lemari. Gerakannya tenang, tanpa tergesa, seolah keputusan yang baru ia ambil bukan sesuatu yang berbahaya.
“Nona?” panggil Liora pelan.
Aveline mengambil mantel hitam panjang dari gantungan, lalu mengenakannya di depan cermin tanpa benar-benar memperhatikan pantulan wajahnya sendiri. Setelah bagian kerahnya rapi, ia mengambil kembali kertas alamat dan kunci mobil markas yang tadi berada di meja.
“Temani aku keluar.”
Liora langsung terdiam. Matanya membesar sedikit, lalu ia menoleh cepat ke arah jendela yang masih memperlihatkan gelap malam di luar.
“Keluar ... sekarang?”
“Sekarang.”
“Tapi hari sudah malam, Nona.”
“Aku tahu.”
“Dan Tuan Kolonel belum pulang.” Suara Liora terdengar makin cemas. “Kalau beliau kembali dan mengetahui Nona tidak ada di kamar—”
“William tidak akan pulang cepat.”
Liora berhenti bicara. Ia tidak tahu harus membantah apa, karena Aveline mengatakannya dengan nada terlalu yakin. Setelah kejadian di markas dan laporan tentang Prajurit Leren yang baru sadar, sangat mungkin William masih tertahan di rumah sakit militer atau kembali ke markas untuk memeriksa laporan lain. Namun tetap saja, keluar malam tanpa izin di tengah keadaan seperti ini terdengar berisiko bagi Liora.
Aveline menoleh padanya. “Ambil mantel. Jangan terlalu mencolok.”
“Nona benar-benar ingin pergi?”
“Aku tidak mengulang perintah yang sama dua kali.”
Liora langsung menunduk. “Baik, Nona.”
Ia bergerak cepat menuju kamarnya, lalu kembali beberapa menit kemudian dengan mantel sederhana berwarna gelap yang menutupi seragam pelayannya. Rambutnya ia ikat lebih rendah, tidak serapi biasanya, tetapi cukup untuk membuatnya terlihat seperti gadis biasa yang sedang menemani majikannya keluar. Wajahnya masih tampak cemas. Meski begitu, ia tetap berdiri di dekat pintu, menunggu Aveline tanpa berani menghindar.
Aveline memperhatikannya sebentar. “Kau takut?”
Liora menggenggam ujung mantelnya. “Sedikit.”
“Kalau takut, jangan banyak bicara di luar.”
Liora mengangguk cepat. “Saya mengerti.”
Mereka keluar dari kamar tanpa membawa pelayan lain. Lorong lantai atas mansion sudah lebih sepi dibanding sebelumnya. Lampu dinding menyala redup, dan suara langkah mereka terdengar jelas di atas lantai yang bersih. Aveline berjalan lebih dulu dengan kunci mobil di tangan, sementara Liora mengikuti setengah langkah di belakang. Saat mereka turun ke lantai bawah, Ralf yang masih berjaga di dekat pintu utama langsung menoleh.
“Nona?”
Aveline tidak berhenti terlalu lama. “Aku keluar sebentar.”
Ralf tampak terkejut, tetapi ia menahan pertanyaan itu dengan cepat. Matanya bergerak ke arah Liora, lalu kembali pada Aveline. “Perlu saya siapkan pengawal?”
“Tidak.”
“Situasi malam ini belum aman.”
“Aku tidak pergi jauh.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya menjelaskan apa pun, tetapi nada Aveline cukup jelas untuk membuat Ralf tidak bertanya lebih dalam. Ia akhirnya menunduk dan membuka pintu utama. Udara malam langsung masuk saat pintu besar itu terbuka. Halaman Eisenhall terlihat tenang, diterangi lampu taman yang berjajar di sisi jalan batu. Mobil hitam milik markas masih terparkir di depan, permukaannya memantulkan cahaya lampu dengan kilap dingin.
Aveline masuk ke kursi pengemudi tanpa ragu. Liora sempat berhenti di samping pintu penumpang, lalu masuk setelah menyadari Aveline sudah menyalakan mesin. Gerbang dibuka oleh penjaga tanpa banyak tanya. Mereka hanya memberi hormat saat mobil melewati halaman, lalu gerbang besar itu kembali tertutup di belakang.
Jalanan Silvercrest malam itu lengang. Rumah-rumah besar di kanan kiri jalan masih menyisakan cahaya dari beberapa jendela, tetapi tidak banyak kendaraan yang lewat. Aveline mengemudi dengan kecepatan stabil. Kertas alamat diletakkan di pangkuannya, sesekali ia lirik ketika melewati persimpangan. Liora duduk di sampingnya dengan tubuh kaku, kedua tangannya berada di atas pangkuan, dan beberapa kali matanya bergerak ke arah wajah Aveline.
“Kita mau ke mana dulu, Nona?” tanyanya akhirnya.
“Henric Loar.”
Liora mengingat nama itu dari daftar yang tadi sempat disebutkan di markas. “Yang izin cuti karena ibunya sakit?”
“Ya.”
Mobil terus melaju keluar dari kawasan Silvercrest menuju distrik selatan Valdoria. Semakin jauh dari kawasan bangsawan, jalanan berubah lebih sempit. Bangunan rumah tidak lagi besar dan berjarak, melainkan berdempetan dengan pagar rendah, lampu minyak kecil, dan beberapa kedai yang mulai menutup pintu. Aveline tidak berhenti tepat di depan alamat tujuan. Ia memarkir mobil di sisi jalan yang lebih gelap, cukup jauh dari rumah yang ingin diamati tetapi masih memberi pandangan jelas ke arah jendela depan.
Liora mencondongkan tubuh sedikit. “Itu rumahnya?”
Aveline mencocokkan nomor rumah dengan alamat di kertas. “Iya.”
Rumah itu kecil, tetapi lampunya masih menyala. Dari balik tirai tipis, terlihat bayangan seorang pria muda bergerak di ruang depan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Pria itu keluar membawa baskom berisi air, lalu membuangnya ke selokan kecil di depan rumah. Wajahnya terlihat lelah di bawah cahaya lampu, rambutnya sedikit berantakan, dan lengan bajunya tergulung sampai siku. Setelah masuk kembali, bayangannya terlihat mendekati seseorang yang berbaring di ruang tengah.
Liora menatap pemandangan itu tanpa berkedip. “Dia benar-benar ada di rumah.”
Aveline tidak menjawab. Ia menunggu lebih lama. Pria itu kembali terlihat mengambil kain dari kursi, membasahinya, lalu duduk di sisi ranjang kecil yang hanya terlihat sebagian dari jendela. Tangan tuanya terangkat lemah dari balik tirai, dan Henric menunduk, seperti sedang membantu ibunya minum.
Tidak ada tamu asing maupun kendaraan yang berhenti. Ia bahkan tidak terlihat sedang bersiap pergi diam-diam. Alasan cutinya sesuai dengan apa yang terjadi di depan mata.
“Cukup,” ucap Aveline.
Mobil kembali bergerak. Liora masih menoleh ke arah rumah kecil itu sampai cahayanya tertutup tikungan. Setelah beberapa saat, ia bertanya pelan, “Nona hanya ingin memastikan mereka benar-benar di tempat yang tertulis?”
“Untuk sekarang.”
“Kalau mereka memang benar?”
“Berarti namanya bisa dipindahkan ke bagian bawah.”
Liora tidak langsung mengerti, tetapi ia memilih diam. Aveline tidak sedang mencari pembenaran di atas kertas. Ia sedang mengurangi kemungkinan satu per satu, dan itu membuat Liora semakin sadar bahwa perjalanan malam ini bukan tindakan sembarangan.
Alamat berikutnya membawa mereka ke bagian timur Silvercrest, tempat Milo Vern mengambil izin untuk urusan keluarga. Kawasan itu lebih rapi dibanding distrik selatan, tetapi tetap bukan lingkungan bangsawan utama. Rumah-rumahnya sederhana, dihuni pegawai, prajurit tingkat bawah, dan keluarga pekerja yang hidup cukup dekat dengan jalan utama. Aveline kembali menghentikan mobil di tempat yang tidak langsung terlihat dari rumah tujuan.
Kali ini jendela depan rumah Milo terbuka sedikit. Cahaya lampu dari dalam membuat ruang tamu tampak jelas dari luar. Seorang pria muda berdiri di dekat meja, mengenakan kemeja rumahan, bukan seragam. Di depannya duduk seorang lelaki lebih tua dengan wajah keras, sementara seorang wanita paruh baya terlihat menaruh beberapa lembar dokumen di atas meja. Milo menunjuk salah satu kertas, lalu menjelaskan sesuatu dengan gerakan tangan yang tertahan. Percakapan mereka terlihat serius, tetapi tidak mencurigakan. Tidak ada orang luar di ruangan itu. Tidak ada tanda pertemuan rahasia.
“Urusan keluarga,” gumam Liora pelan.
Aveline memperhatikan beberapa menit lagi. Milo membantu wanita itu merapikan kertas, lalu menutup jendela sebagian. Setelah itu ia duduk di kursi dekat pintu, menunduk sambil memegang kepalanya dengan dua tangan. Gerakan itu tampak seperti lelah, bukan takut ketahuan.
Aveline menjalankan mobil lagi.
“Dia juga sesuai,” ucap Liora pelan.
“Untuk malam ini.”
Liora menoleh, tetapi tidak bertanya. Ia mulai paham bahwa Aveline tidak mudah menganggap seseorang bersih hanya karena sekali terlihat benar. Namun untuk tujuan malam ini, cukup jelas bahwa Milo memang berada di rumahnya dan sedang mengurus masalah keluarga.
Malam terus bergerak ketika mereka menuju alamat berikutnya. Edrik Hale tidak sedang cuti, melainkan tercatat dipindahkan sementara ke gudang suplai dekat Grimhaven. Jalan menuju kawasan itu lebih sepi. Udara mulai membawa bau laut yang tipis, bercampur dengan aroma kayu basah dari gudang-gudang lama. Liora tampak semakin tegang ketika mobil melewati area yang jauh dari lampu rumah warga.
Aveline memperlambat kendaraan sebelum sampai di area gudang. Dari kejauhan tampak pos jaga kecil dengan dua prajurit yang berdiri di depan gerbang. Lampu pos membuat bayangan mereka jatuh panjang di tanah. Aveline tidak mendekat. Ia memutar mobil ke sisi jalan yang lebih gelap, lalu berhenti di dekat tumpukan peti kosong yang masih memberi pandangan ke arah halaman gudang.
Beberapa menit berlalu sebelum Edrik muncul. Pria itu keluar dari salah satu bangunan gudang sambil membawa papan catatan. Seorang petugas lain berjalan di sampingnya, menunjuk beberapa peti yang tertata di dekat pintu. Edrik mencatat sesuatu, lalu menyerahkan lembaran itu pada prajurit di pos. Mereka berbicara sebentar. Gerak tubuhnya terlihat biasa untuk orang yang sedang menjalani tugas malam. Tidak ada kepanikan, ataupun tanda-tanda ia mencoba kabur, dan tidak ada gerakan mencurigakan menuju jalan belakang.
Liora menghela napas kecil, tetapi cepat menahannya. “Dia memang bertugas.”
Aveline tetap memperhatikan sampai Edrik masuk lagi ke gudang bersama petugas lain. Setelah pintu tertutup dan pos kembali tenang, barulah ia menjalankan mobil.
Tiga alamat sudah dilihat. Henric benar merawat ibunya. Milo benar berada di rumah dengan urusan keluarga. Edrik benar berada di tempat tugas sementara. Dalam satu malam, Aveline belum menemukan orang yang salah tempat, tetapi justru itu membuat daftar di tangannya semakin menyempit.
Jalanan Valdoria semakin sepi ketika mobil kembali menjauh dari Grimhaven. Liora beberapa kali menahan kantuk, tetapi ia tetap berusaha membuka mata. Aveline terus mengemudi melewati beberapa jalan penghubung, memeriksa rute yang paling mungkin dilalui orang jika ingin bergerak dari distrik militer menuju bagian kota lain tanpa menarik perhatian. Ia tidak turun maupun mengetuk pintu. Justru hanya melihat dari dalam mobil, memanfaatkan cahaya lampu jalan, bayangan jendela, dan aktivitas kecil yang masih tersisa di setiap tempat.
Menjelang dini hari, mobil berhenti di sisi jalan yang lebih tenang di antara Valdoria tengah dan distrik militer. Tidak ada alasan untuk kembali ke Eisenhall sekarang. William belum pulang, dan Aveline juga belum selesai. Jika ia kembali hanya untuk tidur sebentar, waktu akan terbuang. Gadis itu memilih mematikan mesin dan membiarkan mobil itu diam di bawah deretan pohon yang menutupi sebagian cahaya lampu.
Liora menatap ke luar jendela dengan wajah lelah. “Nona tidak pulang?”
“Belum.”
“Tuan Kolonel juga belum pulang?”
“Belum.”
Liora tidak tahu dari mana Aveline bisa seyakin itu, tetapi setelah melihat cara wanita itu bergerak sepanjang malam, ia tidak lagi mencoba mempertanyakan semua hal. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Udara di dalam mobil terasa dingin, dan matanya berkali-kali hampir tertutup.
Aveline menoleh sekilas. “Tidur.”
Liora langsung berusaha duduk tegak. “Saya masih bisa menemani Nona.”
“Kau sudah mengantuk sejak tadi.”
“Maaf.”
“Aku tidak meminta maafmu. Tidur.”
Liora akhirnya menarik mantel lebih rapat ke tubuhnya. Ia menyandarkan kepala ke sisi kursi, masih mencoba membuka mata beberapa saat, tetapi tubuhnya tidak kuat lagi. Tidak lama kemudian napasnya mulai pelan dan teratur. Aveline tetap duduk di kursi pengemudi. Kertas alamat berada di pangkuannya, dan jemarinya menahan lipatan kertas itu tanpa bergerak banyak.
Malam di luar mobil berjalan lambat. Beberapa orang lewat dengan langkah berat setelah kedai tutup. Seorang prajurit patroli melintasi jalan besar dengan bahu turun karena lelah. Dari kejauhan, suara roda kereta terdengar sebentar lalu menghilang. Aveline memejamkan mata beberapa kali, tetapi tidak benar-benar tidur panjang. Setiap suara kendaraan yang lewat membuat matanya kembali terbuka, lalu memeriksa kaca spion dan jalan di depan.
Ketika warna langit mulai berubah pucat di ujung timur, Liora bergerak pelan di kursi sebelahnya. Gadis itu membuka mata dengan wajah bingung, lalu cepat menyadari bahwa mereka masih berada di dalam mobil.
“Nona ... kita masih di sini?”
Aveline sudah duduk tegak dengan mata terbuka. Wajahnya tampak tenang, meski semalaman hampir tidak benar-benar tidur.
“Sudah pagi.”
Liora cepat merapikan posisi duduknya. “Maaf, saya tertidur terlalu lama.”
“Aku yang menyuruhmu tidur.”
Liora melihat ke luar jendela. Jalanan mulai hidup. Pedagang kecil membawa keranjang, beberapa pekerja berjalan menuju pasar, dan prajurit yang berganti jaga terlihat melewati ujung jalan dengan langkah lambat. Valdoria mulai bergerak lagi, seolah malam panjang tadi tidak pernah terjadi.
Aveline membuka kembali lipatan kertas alamat. Matanya turun pada nama berikutnya.
Kapten Roland Krüger.
.
.
.
Bersambung