Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Hati Membara… Buka!"
Arka tiba-tiba meraung kencang, dan gerbang kedua Dewa Angkara — Hati Membara, terbuka tanpa keraguan sedikit pun! Dalam sekejap, aura tenaga batin di tubuhnya melonjak gila-gilaan dengan kecepatan yang mengejutkan. Tingkat energinya secara resmi masih berada di Alam Sejati tingkat sepuluh, namun kepekatannya sudah melampaui batas nalar. Kekuatannya kini mendekati intensitas aura milik Ratna.
"WAAAAAHH!!" Yogi terlonjak ke depan dengan mulut menganga, mengeluarkan teriakan kaget. Kemarin, saat ia kalah, ia masih merasa Arka menang dengan susah payah. Namun saat Arka mengeluarkan Naga Pusaka, kepercayaan dirinya langsung runtuh. Dan sekarang, lonjakan tenaga batin Arka yang jauh lebih kuat dari kemarin seolah menghantam ulu hati Yogi.
Ternyata dalam duel kemarin, Arka tidak hanya menahan diri dalam hal senjata, tapi dalam hal tenaga batin pun ia belum mengeluarkan semuanya.
Jika kemarin Arka menggunakan kekuatan ini dan memakai Naga Pusaka, mengalahkan Yogi pastilah semudah membalik telapak tangan.
Namun, situasinya tidak sesederhana yang dibayangkan Yogi. Tenaga batin Arka sebenarnya terlalu rendah. Bahkan dengan sokongan teknik Jalan Sang Budha tingkat kedua yang baru ditembusnya, ia hanya sanggup mempertahankan kondisi Hati Membara ini secara paksa. Jika pertarungan berlangsung terlalu lama, dampaknya akan fatal bagi tubuhnya.
Batas waktunya hanya sekitar lima menit.
Dan lima menit itulah satu-satunya modal yang ia punya untuk mengimbangi Ratna! Dengan kata lain, ia harus mengalahkan Ratna dalam waktu kurang dari seperempat jam. Jika tidak, setelah ia tak mampu lagi mempertahankan kondisi ini, ia tidak akan punya peluang sedikit pun.
Lonjakan kekuatan Arka yang mendadak membuat semua orang terkesiap, termasuk Luhur dan Satya. Sejak awal turnamen, satu per satu situasi yang tak masuk akal muncul dari Arka, namun ternyata ia belum pernah menunjukkan kekuatan aslinya. Seiring lawan yang semakin kuat, ia hanya melepas sedikit demi sedikit kekuatannya… Dan saat ini, ia benar-benar melepas seluruh kekuatan yang ia punya tanpa sisa.
Arka menggenggam Naga Pusaka secara horizontal di depannya. Dengan teriakan nyaring, ia mendadak menerjang ke arah Ratna. Di kehidupan masa lalunya, ia sudah sering menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dalam situasi terjepit. Ia tahu betul apa yang harus dilakukan: cara paling bodoh adalah mencoba bertarung mengulur waktu. Cara terbaik adalah mengumpulkan seluruh kekuatan untuk satu serangan beruntun yang mematikan!
Begitu Arka bergerak, ia mengerahkan seluruh tenaganya tanpa menahan diri! Di atas Naga Pusaka yang beratnya lebih dari empat ribu kilo itu, meluap aura kekuatan iblis yang mengamuk.
BOOM!!
Tekanan dari serangan ini membuat Ratna memilih untuk tidak menahannya; ia melayang mundur menjauh. Mengikuti suara ledakan yang memekakkan telinga, Arena Adu Pedang yang malang itu kembali menderita kerusakan parah. Arka, yang pukulannya hanya mengenai udara kosong, tidak berhenti sama sekali. Ia mendadak melompat tinggi dan meluncurkan serangan lain tepat ke arah dada Ratna. Pedang berat itu memicu suara menderu yang mengerikan.
Pita Salju Phoenix Es kini telah menyelimuti seluruh tubuh Ratna. Menghadapi serangan Arka yang menekan, pita itu tidak mundur sedikit pun, membuat tebasan Arka meleset lagi. Kemudian, pita itu mendadak meluncur di sepanjang bilah Naga Pusaka dan melilitnya dengan erat...
Pita tersebut pernah menerbangkan pedang milik Yoga, namun Arka dan Naga Pusaka telah menyatu dengan sempurna, seolah pedang itu adalah lengannya sendiri. Bahkan bagi Pita Salju Phoenix Es sekalipun, menerbangkan pedang itu adalah hal yang mustahil.
Tepat saat kekuatan lilitan pita itu dilepaskan, Naga Pusaka mendadak melepaskan raungan naga yang menggetarkan jiwa. Sebuah kekuatan tirani meledak, menghentakkan pita tersebut hingga lepas. Tatapan Arka setajam pedang saat Naga Pusaka menghujam ke bawah. Di saat yang sama, ia mengaktifkan jurus Bayangan Dewa Bintang, menciptakan tiga sosok yang tampak identik secara instan. Bayangan ketiga muncul secara diagonal di atas Ratna dan menebas ke bawah...
"Murka Sang Penguasa!!"
Pengaktifan jurus Bayangan Dewa Bintang terjadi tanpa suara dan tanpa wujud. Bayangan palsu dan aslinya benar-benar identik, dan yang paling menakutkan adalah tidak ada fluktuasi tenaga batin saat ia bergerak. Seseorang hanya bisa bergantung pada aura yang terasa setelah tubuh aslinya berpindah posisi, namun saat hal itu terjadi, biasanya sudah terlambat.
Pita Salju Phoenix Es milik Ratna melesat ke depan untuk menyambut serangan Arka yang perkasa. Namun anehnya, aura berbahaya justru mendadak muncul dari belakangnya. Rasa terkejut terpancar di matanya saat menyadari pitanya tidak punya cukup waktu untuk melindungi punggungnya. Ia tak punya pilihan selain dengan cepat membangun dinding kristal es yang tebal menggunakan ilmu Awan Beku.
BOOM!
PRANK!!
Tiga lapis dinding kristal es itu hancur berkeping-keping dalam sekejap. Bagaikan badai, sebuah dorongan besar dan kekuatan ledakan menghantam Ratna hingga ia terpental. Tanpa menunggu Ratna mendapatkan keseimbangannya kembali, Arka sudah meraung. Bersama Naga Pusaka yang terus mengikuti bayangannya, ia langsung menerjang ke arah Ratna...
"Apa!?" Citra berdiri dengan kening berkerut. Ia tak menyangka begitu pertarungan dimulai, justru Arka yang mengambil inisiatif serangan. Intensitas tenaga batin dari serangan terakhir tadi cukup untuk membuat Ratna menderita luka dalam.
Namun, ini bukan berarti kekuatan Arka melampaui Ratna. Ini lebih kepada metodenya. Serangan gila itu seperti serangan mendadak binatang buas yang memaksa Ratna berada dalam posisi pasif.
Satu jurus Murka Sang Penguasa terasa seperti palu godam yang menghantam bahunya, membuat seluruh lengan kiri Ratna mati rasa. Organ dalamnya juga menderita luka ringan akibat hantaman tenaga batin, namun ia tidak panik. Sebaliknya, ekspresinya mendingin. Mengingat nasihat Citra tadi malam bahwa ia harus menggunakan seluruh kekuatannya, Ratna segera berkonsentrasi. Seketika tubuhnya menjadi sedingin dan semurni es. Dengan satu gerakan berputar yang anggun, ia menstabilkan keseimbangannya. Bagaikan kilat putih, Pita Salju Phoenix Es melesat menyerang Arka.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!!
Setiap serangan dari Arka selalu memicu ledakan yang memekakkan telinga. Melawan pedang berat secara frontal adalah keputusan paling bodoh. Namun saat menghadapi Ratna, pedang berat Arka menemukan lawan yang sepadan...
Pita Salju Phoenix Es itu selembut air dan selincah ular. Saat bertukar serangan dengan Naga Pusaka, kekuatan Awan Beku yang dominan justru tidak beradu langsung dengan pedang berat itu. Sebaliknya, pita itu menggunakan kelenturannya untuk menciptakan daya tarik, membuat setiap serangan Arka terbuang ke udara kosong. Di saat yang sama, hawa dingin yang semakin pekat mulai menyelimuti Arka. Kemudian, dengan suara "krak", lapisan es tebal membeku di kedua bahunya.
Hawa sedingin es itu menusuk hingga ke hulu hati, seolah ribuan pisau menghujam tubuhnya.