"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pereda Nyeri
Angin malam menusuk hingga ke tulang, tapi bagi Elea, punggung Nick adalah satu satunya tempat paling aman di dunia saat ini. Isak tangisnya mulai mereda. Ia tersadar, posisi mereka sangat intim. Tangan kiri Nick masih menggenggam erat jemari Elea di atas perut cowok itu, seolah takut jika dilepaskan, Elea akan jatuh atau menghilang.
Elea tertegun. Detak jantung nya terasa berpacu cepat di punggungnya. Namun, sedetik kemudian, topeng itu kembali terpasang. Elea Quenby tidak boleh terlihat lemah. Ia menarik napas panjang, menghapus sisa air mata dengan kasar, lalu melepaskan tautan tangan mereka.
"Turun di sini, Kak! Gue mau beli sesuatu," seru Elea setengah berteriak di balik helm.
Nick mengerem mendadak. Motor sport mahal itu berhenti tepat di depan deretan ruko yang salah satunya adalah minimarket 24 jam. Begitu Elea hendak turun, Nick dengan sigap mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa? Jangan kangen dulu, gue cuma mau ke sana sebentar," goda Elea dengan senyum manis yang dipaksakan, meski bibirnya yang sobek terasa perih luar biasa.
Nick menelan ludah. Ia baru sadar tangannya masih memegang kulit halus Elea. "G-gue yang beli. Lo diam di sini. Muka lo udah kayak habis digebukin massa, nggak usah keluyuran."
Elea mengerjapkan mata, lalu tertawa kecil yang berakhir dengan ringisan. "Oh, ehem... ya udah kalau maksa. Beliin ya, Yang?"
DEG.
Nick merasa jantungnya baru saja melakukan back flip di dalam dada. Panggilan Yang itu terdengar lebih mematikan daripada tikungan tajam di sirkuit. Tanpa kata, Nick langsung melompat turun dan berjalan cepat masuk ke minimarket, meninggalkan Elea yang tertawa puas di atas motor.
Di dalam minimarket, Nick berdiri kaku di depan rak obat obatan. Wajahnya merah padam. Ia bingung. Tadi Elea bilang butuh sesuatu, tapi apa? Ia teringat Elea terus memegangi perutnya.
"Mbak!" panggil Nick pada pelayan toko dengan suara ketusnya yang khas.
"Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?"
"Obat... itu. Yang buat cewek kalau lagi... perutnya sakit. Yang haid atau apalah itu namanya," ucap Nick sambil memalingkan wajah, merasa harga dirinya sebagai pembalap tangguh jatuh ke lantai.
"Oh, pereda nyeri haid ya, Mas? Ini ada yang tablet, ada yang minuman herbal."
"Semuanya. Kasih gue yang paling bagus. Sama... itu, kapas sama cairan pembersih luka," tambah Nick teringat lebam di pipi Elea.
Setelah membayar dengan tangan gemetar, Nick keluar. Dari kejauhan, ia melihat Elea duduk di atas motor sportnya dengan gaya percaya diri, seolah luka di wajahnya hanyalah hiasan make up Halloween.
"Lama banget? Lagi nego harga sama kasirnya?" semprot Elea saat Nick mendekat.
"Berisik!. Nih," Nick menyodorkan kantong plastik hitam itu dengan kasar.
"Makasih, Kakak Pembalap ganteng! Duh, perhatian banget sih calon imam," Elea menerima plastik itu dan langsung mengecek isinya, Matanya membulat. "Buset, Kak? Banyak amat? Gue cuma mau satu tablet, lo beli sekalian sama apoteknya?"
"Tinggal minum apa susahnya sih? Jangan banyak protes," sahut Nick ketus, padahal ia sedang mati matian menetralkan detak jantungnya yang masih dugem.
"Iya, iya. Galak amat" kata Elea cemberut.
"Mau ke rumah?" tanya Nick pelan, suaranya mencicit karena takut salah bicara.
Elea terdiam sebentar, menatap jalanan kosong. "Gue... nggak mau pulang dulu deh. Males ketemu monster."
Nick meremas kepalan tangannya di samping paha. Ia ingin sekali memeluk Elea, mengobati luka lebam yang mulai membiru itu, tapi gengsinya setinggi langit. Ia bingung harus mulai dari mana.
"Luka lo... nggak sakit emang?" tanya Nick akhirnya, tetap dengan nada ketus yang gagal menyembunyikan rasa khawatir.
Elea mendongak, menatap Nick dengan mata bulatnya yang masih agak sembab. "Ya sakit atuh, Aa Nicktan! Masih aja ditanyain. Ini pipi rasanya kayak habis ditabrak ban motor lo, tahu nggak?"
Nick semakin gugup. Ia membuang muka. "Makanya jangan banyak tingkah. Sini, gue obatin dikit."
"Cieee, mau ngobatin ya? Bilang aja mau pegang-pegang pipi gue kan?" goda Elea lagi, kali ini dengan kerlingan mata yang nakal.
"Enggak! Geer banget lo!"
"Halah, bohong. Itu kuping lo kenapa merah banget, Kak? Kayak kepiting rebus," Elea mendekatkan wajahnya ke wajah Nick. Jarak mereka hanya tersisa sepuluh senti.
Nick membeku. Tangan nya terulur untuk membersihkan luka Elea di pipinya.
Napas Elea yang hangat terasa di kulitnya.
"Kak Nicktan, kalau lo terus terusan kaku gini, nanti gue cari pembalap lain lho yang lebih sat set. Tadi si Riko aja nawarin mau nemenin gue kalau gue mau," Elea memanasi manasi.
"Coba aja!, gue giles pake motor!" ucap Nick spontan. Posesifnya keluar tanpa filter.
Elea tertawa puas, meski harus menahan nyeri di sudut bibirnya. "Tuh kan, cemburu. Ngaku aja sih, Kak. Sayang kan sama gue? Kangen kan?"
"Siapa yang kangen? Gue cuma... cuma mastiin lo nggak mati di jalan terus gue yang disalahin!"
"Masa? Terus tadi yang megangin tangan gue kenceng banget pas di motor siapa? Hantu sirkuit?"
Nick kehabisan kata kata. Ia benar benar glitch. Setiap kali Elea menyerang dengan godaan, logika Nick mendadak padam. Ia hanya bisa berdiri mematung sambil menatap Elea yang kini justru asyik meminum pereda nyerinya.
"Udah, jangan diliatin terus. Gue tahu gue cantik meski muka gue begini" celetuk Elea pede. "Antarin gue ke rumah Sindy ya? Sahabat gue. Jangan ke rumah gue lagi, ntar lo kena amuk Paman Seno."
"Gue nggak takut sama paman lo," gumam Nick. "Gue cuma takut... lo nggak bisa senyum lagi."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Hening sejenak. Elea terpaku, jantungnya kini ganti yang berdebar kencang. Ia tidak menyangka Nick si manusia kulkas bisa bicara sedalam itu.
"Apa, Kak? Ulangi coba, gue nggak denger," goda Elea dengan suara bergetar, mencoba menutupi rasa harunya.
"Nggak ada pengulangan. Naik. Gue anter ke rumah temen lo sekarang sebelum gue berubah pikiran dan buang lo di pinggir jalan," Nick memakai helmnya dengan gerakan super cepat, menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak bisa dikontrol lagi warnanya.
Elea tersenyum lebar, kali ini senyum tulus yang sampai ke mata. Ia naik ke boncengan dan kembali melingkarkan tangannya di perut Nick, kali ini lebih erat.
"Makasih ya, Kakak pembalap. Jangan lupa, besok beliin yang enak enak sebagai biaya sewa peluk!"
"Berisik, Elea!"
Motor itu pun melaju membelah malam, membawa dua insan yang sama sama gengsi namun hatinya sudah saling tertambat erat.