Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKATAN DARAH
Kavya segemoy ini, keseringan mabok ASI, sehingga bayi berusia satu bulan itu sudah mulai muncul roti sobek di lengannya. Berkat jasa Bu Bidan dan Mbok E, Tania dan Kavya diberikan pelayanan gizi yang sangat optimal. Tania tak gendut tapi ASInya sangat lancar sehingga stok ASI melimpah.
"Padahal prematur, tapi bisa segembrot ini, Py Py," begitu Mbok E kalau bercanda dengan Kavya saat goleran di ruang TV bersama Bu Bidan yang hari ini jari terakhir kerja. Tania sudah merasa siap, dan banyak pelajaran yang diambil dari Bu Bidan.
"Bakal kangen nih sama Kavya," ujar Bu Bidan sembari memijat si bayi.
"Bu Bidan boleh main ke sini kapan aja kok," ujar Tania ikut tersenyum, karena sang putri banyak yang menyayangi. Setidaknya Kavya tidak seperti dirinya, hidup sebatang kara. Sang putri meski tak punya ayah, tapi ada Bu Bidan dan Mbok E yang ikut menyayangi Kavya.
Bahkan Bu Bidan saat berpamitan, memberikan sebuah mainan yang menunjang motorik Kavya nantinya. Tania sampai terharu, wajar Bu Bidan seperti itu, Tania juga tak pernah pelit pada Bu Bidan dan Mbok E, sungguh Tania tidak akan pernah bisa membalas jasa mereka berdua meski uang bulanan dan bonus juga ada.
"Mbak Tania berarti orang yang baik," ucap Mbok E setelah mengantar Bu Bidan pulang. Tania menatap Mbok E. "Biasanya ibu muda itu cerewet, tapi Mbak Tania sangat bisa diajak kerja sama, dan memberikan keleluasaan pada kita untuk merawat dedek dan Mbak sendiri."
Tania tersenyum sembari mengelus lengan gemoy Mbok E. "Mbok E bisa aja, justru saya yang harus beradaptasi pada Bu Bidan dan Mbok E, saya selama ini hidup sendiri, ada teman itu harusnya disyukuri, apalagi ini pengalaman pertama, mau tak mau harus belajar pada orang lain," ujar Tania. Keduanya pun masuk ke rumah, Mbok E langsung masuk ke dapur dan menyodorkan kolak pisang untuk camilan Tania. Sedangkan Tania memberikan ASI pada Kavya.
Saat menikmati kolak dan mengobrol bersama, bel pagar bunyi. Mbok E langsung melihat, dan kaget karena kedatangan Yovi dan sang istri.
Tania melongo sejenak, kaget saja. Mau tak mau ia juga menemui kakak Lingga itu.
"Sehat ya dedeknya, Tania?" tanya istri Yovi sembari menggendong Kavya.
"Alhamdulillah, Bu. Sehat!" ucap Tania sedikit canggung.
"Maaf ya, mungkin kedatangan kita mengganggu istirahat kamu," Yovi mulai pembicaraan, dan sepertinya sangat serius.
"Sedikit, Pak. Kaget saja, bahkan saya sempat berpikir apa mungkin Mbok E akan ditarik," ucap Tania dengan tawa kecilnya.
"Enggak, Mbok E biarkan di sini, anak-anak sudah pada mandiri, dan ART di rumah juga banyak kok, Tan!" sahut istri Pak Yovi yang sepertinya tahu latar belakang Tania.
"Saya yang gak enak, karena gak ikut menggaji Mbok E."
"Perihal itu kan sudah saya katakan, sebagai bentuk tanggung jawab Lingga, melalui saya. Meski dia tidak tahu, saya ke sini juga mau bertanya soal Kavya. Apalagi kasus Lingga dan Calista sudah berakhir," ucap Yovi menatap Tania.
"Maksudnya?" mendadak Tania takut, kalau Yovi sudah tahu ayah biologis Kavya dan mengambil Kavya darinya. Bisa jadi ia memberikan Mbok E tapi imbalannya ambil Kavya, sungguh Tania tak akan membiarkan Yovi mengambil sang putri.
"Saya minta kamu jujur pada kami, apakah Lingga ayah dari Kavya?" tanya Yovi dengan menatap intens pada mantan anak buahnya itu.
"Untuk apa?" tanya Tania ingin menggali lebih dalam tujuan Yovi.
"Lingga sekarang tidak tinggal di sini lagi. Setelah kasus dengan Calista, papa meminta Lingga untuk tinggal di luar kota, setidaknya meredam ricuhnya media sosial dan mengubur nama buruknya yang terseret kasus Calista. Setiap hari dia menanyakan kamu, dan dia sangat menyesal telah melukai hati kamu sedalam ini. Lingga juga menyesal kenapa tidak mengajak kamu tes DNA terlebih dulu."
Tania diam. "Ketika aku sudah memutuskan untuk putus dengan Lingga, sejak saat itu aku tidak mau ada urusan apapun dengannya. Aku juga sanggup untuk membayar Mbok E, Pak. Agar Bapak tak perlu repot-repot bertanggung jawab atas nama Lingga."
Yovi dan sang istri saling pandang. "Bagaimana dengan akta kelahiran Kavya?" tanya istri Yovi, karena dokumen penting harus tetap diurus.
"Aku sudah meminta bantuan rumah sakit untuk mengurus akta dan KK, bagian ayah dikosongkan, karena aku bilang anak di luar pernikahan," ucap Tania. Yovi dan sang istri terdiam, Tania terlalu gegabah.
"Tan, saya tahu kamu. Kamu bukan perempuan yang gampang berhubungan dengan lelaki lain, saya yakin anak itu anak Lingga, dan kalau kamu setuju untuk tes DNA untuk meyakinkan Lingga, dia bakal mau balik sama kamu," bujuk Yovi.
Bukan tanpa alasan, Lingga sangat stress tinggal di luar kota tanpa keluarga dekat, dia diminta mengurus perkebunan milik sang papa, dibiarkan menyatu dengan alam, agar permasalahan kemarin segera terlupakan. Namun hatinya masih pada Tania, sehingga setiap hari yang ditanyakan adalah Tania.
"Saat kami berhubungan, saya tak pernah meminta Lingga menikahi saya, karena saya tahu, saya tidak sepadan dengan keluarga Lingga. Saya pernah membaca chat papa Pak Yovi di ponsel Lingga. Saya ingat betul papa Pak Yovi mengancam Lingga agar menjauhi saya. Saya sudah mempengaruhi Lingga hingga tinggal bersama, dan memakai segala fasilitas dari papa Pak Yovi. Bahkan papa Pak Yovi mengatakan saya jual diri, sejak saat itu saya tidak mengharap kelanjutan hubungan ini. Saya hanya menjalani karena sudah terlanjur basah dalam kubang tinggal bersama, apalagi sekarang saya sudah punya anak. Sangat mungkin pandangan papa Pak Yovi semakin merendahkan saya. Jadi tolong, jangan paksa saya membuka siapa ayah Kavya. Biarkan saya hidup sendiri, saya akan jungkir balik membiayai hidup Kavya, Pak!" inilah Tania yang akan keras kepala dan tak mau menggantungkan hidup pada orang lain.
Hidup sebatang kara membuatnya terlalu tegar dan berani ambil resiko, Yovi dan istri pun tak mau memaksa. Urusan Mbok E biarlah tetap ditanggung Yovi saja.
Sepeninggal pasangan itu, Tania menangis sembari memeluk sang putri, merasa bersalah karena tak memberikan keluarga utuh bagi sang putri. "Mbak, jangan menangis. Kasihan Kavya," ucap Mbok E sembari menepuk pundak sang majikan.
"Mungkin saat Kavya sekarang tidak akan mencari sang ayah, tapi kalau dia sudah sekolah dia akan bertanya siapa ayahnya, Mbok. Saya harus jawab apa."
"Mbak tahu siapa ayah Kavya?" tanya Mbok E yang memang tak mendengar pembahasan Yovi tadi. Bukan urusannya sehingga Mbok E sibuk dengan cucian dan setrika.
"Saya tahu, dan saya tidak mau meminta pertanggung jawaban. Dia hanya anakku, Mbok. Aku gak mau dia ambil oleh ayahnya meskipun ayahnya juga berhak!"
"Ikatan darah akan menemukan jalannya sendiri, Mbak. Serapat-rapatnya Mbak Tania menyembunyikan, pasti Kavya akan bertemu dengan ayahnya di suatu kesempatan," ujar Mbok E bijak.
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat