Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Ketika bibir mereka kembali bertaut, ciuman itu tidak lagi seperti kecupan singkat di altar atau pelaminan resepsi tadi. Ciuman ini jauh lebih dalam, sarat akan kerinduan yang selama berbulan-bulan mereka tahan untuk malam spesial ini.
Aiena memejamkan mata erat-erat, melingkarkan lengannya di leher tegap Shane sembari menikmati sensasi debaran itu. Masih dalam pagutan yang dalam, Shane perlahan bergerak menggeser posisi tubuhnya. Dengan sangat lembut dan berhati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh, Shane mendorong pelan bahu Aiena agar berbaring di bagian tengah ranjang yang luas, di antara sisa-sisa kelopak mawar merah yang harum.
Aiena bisa merasakan dinginnya seprai satin saat punggungnya menyentuh kasur, namun rasa dingin itu segera menguap ketika tubuh polos Shane kembali condong di atasnya, mengunci posisinya dengan perlindungan yang begitu intim. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, tangan kanan Shane yang hangat mulai bergerak turun. Jemarinya yang bersih perlahan menyentuh kain satin piyama yang dikenakan Aiena, mencari kancing teratas, lalu membukanya satu per satu dengan gerakan yang sangat sabar.
Gerakan jemari Shane di atas kulit dadanya yang mulai terekspos dapat Aiena rasakan. Detak jantungnya berdegup begitu keras di dalam rongga dada. Tercipta rasa gugup yang berbaur dengan rasa malu yang teramat sangat. Aiena memilih untuk menurut saja, membiarkan Shane menuntun jalannya malam itu.
Shane perlahan menjauhkan wajahnya, memutuskan ciuman mendalam mereka sejenak. Napasnya tampak sedikit memburu, namun tatapan matanya saat menunduk menatap Aiena tetap penuh dengan kelembutan yang memabukkan. Ia menatap wajah Aiena yang kini sepenuhnya merona merah padam, lalu beralih pada piyama satin yang sudah terbuka seluruh kancingnya.
“Na, aku buka semua ya,” bisik Shane, suaranya terdengar sangat parau dan rendah.
Tanpa menunggu jawaban, dengan gerakan yang anggun namun pasti, Shane membantu Aiena menyingkirkan seluruh kain piyama yang masih melekat pada tubuh istrinya, sebelum ia sendiri membuang celana panjangnya ke lantai kamar. Aiena refleks menarik kedua tangannya untuk menutupi dadanya, matanya bergerak gelisah ke segala arah, enggan menatap langsung pada tubuh polos Shane yang kini tampak begitu gagah dan maskulin di bawah temaram lampu tidur.
Aiena benar-benar merasa sangat malu. Meskipun ini bukan kali pertama dalam sejarah hidupnya yang kelam di masa lalu, ini adalah kali pertama ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya yang telanjang di hadapan Shane, pria yang kini berstatus sebagai suaminya yang sah. Rasa malu ini terasa berkali-kali lipat lebih intens karena ia sangat ingin terlihat sempurna dan berharga di mata pria yang telah menjaganya dengan begitu terhormat selama ini.
Shane yang menyadari gurat kecanggungan dan rasa malu yang begitu besar di wajah istrinya, tersenyum kecil. Bukannya berhenti, justru mencondongkan tubuhnya kembali, mengecup sudut bibir Aiena dengan lembut, lalu turun ke rahang dan lehernya, mencoba meruntuhkan sisa-sisa kekakuan di tubuh wanita itu.
“Jangan malu, Sayang. Aku suamimu,” bisik Shane di ceruk leher Aiena, membuat Aiena mendesah pelan menahan sensasi menggelitik yang aneh.
Mendengar bisikan yang begitu tulus, Aiena perlahan melemaskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Ia membuka matanya, menatap lurus ke dalam netra hitam Shane.
Shane tidak terburu-buru, ia memulai dengan sentuhan-sentuhan awal, menjelajahi setiap jengkal kulit istrinya untuk memastikan tubuh wanita itu sepenuhnya siap dan rileks. Sentuhan jemarinya yang hangat berpadu dengan kecupan-kecupan dalam di sepanjang leher dan bahu, berhasil meruntuhkan sisa-sisa ketegangan yang sempat mengunci otot-otot Aiena.
Ketika dirasa waktu yang tepat telah tiba, Shane perlahan mengubah posisinya, mengunci tubuh Aiena di bawah kungkungan tubuh tegapnya. Aiena refleks memejamkan mata erat-erat dan memalingkan wajahnya ke samping, sama sekali tidak mau melihat ke arah bawah. Rasa malunya yang teramat besar membuat ia memilih untuk menutup mata dari realitas visual di hadapan mereka.
Namun, karena menutup mata, semua indra perasanya yang lain justru mendadak menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif. Begitu Shane menyatukan tubuh mereka secara perlahan namun pasti, Aiena langsung tersentak kaget. Tubuhnya melengkung kecil di atas kasur, tangannya mencengkram erat bahu polos Shane yang kokoh. Rasanya begitu pekat dan penuh, sebuah sensasi hantaran nyata yang langsung mendominasi seluruh kesadarannya.
“Shane…” pekik Aiena tertahan.
Begitu Shane mulai melakukan pergerakan awal yang konstan, gelombang kenikmatan yang asing namun dahsyat langsung menghantam pertahanan Aiena. Tanpa dapat ditahan lagi, sebuah desahan manja lolos begitu saja dari bibirnya yang sedikit terbuka.
Shane tidak membiarkan istrinya berjuang sendirian; sembari terus bergerak dengan ritme yang terjaga, tangan kirinya bergerak turun, memberikan stimulasi tambahan pada titik sensitif Aiena yang langsung membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.
Sensasi luar biasa itu menyerang dengan cepat. Aiena bisa merasakan bahwa puncaknya sudah sangat dekat. Ia merasa sangat malu pada Shane karena reaksi tubuhnya yang begitu liar, namun kekuatan dari sensasi itu terlalu besar untuk dilawan. Dengan satu hentakan presisi dari Shane, tubuh Aiena menegang sempurna. Ia mencapai orgasmenya yang luar biasa, melepaskan seluruh ketegangan hingga membasahi permukaan sprei putih di bawah mereka.
Setelah gelombang itu surut, Aiena langsung terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal di atas bantal. Matanya terpejam, menikmati sisa-sisa rasa nyaman di masa pasca-orgasmenya.
Shane menghentikan gerakannya sejenak, bertumpu pada kedua sikunya di sisi kepala Aiena. Keringat tipis tampak membasahi dada dan dahinya, berkilau tertimpa cahaya temaram. Ia mengangkat wajahnya, menatap Aiena yang masih memejamkan mata dengan dada yang naik-turun.
“Sayang,” panggil Shane, suaranya terdengar sangat parau, rendah, dan dipenuhi kilat intensitas yang belum padam. “Buka mata dulu.”
Aiena perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat, menatap sayu ke arah suaminya.
“Enak mana?” tanya Shane tiba-tiba, sebuah pertanyaan langsung tanpa basa-basi yang membuat Aiena seketika bingung dan kehilangan kata-kata.
Belum sempat Aiena mencerna kebingungannya, Shane kembali berbisik, kali ini dengan nada yang sedikit menuntut namun sarat akan kepemilikan yang mutlak. “Lebih enak sama aku atau Haze?”
Mendengar nama dari masa lalunya disebut di tengah momen paling intim ini, Aiena langsung membuang wajahnya ke samping. Pipinya yang sudah merah kini terasa semakin terbakar karena rasa malu yang luar biasa. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya di balik lengannya sendiri, enggan menjawab pertanyaan yang dirasanya terlalu memojokkan itu.
Namun Shane tampaknya tidak berniat memberikan jalan keluar yang mudah bagi istrinya. Ia meraih kembali pergelangan tangan Aiena, menguncinya di atas kepala, lalu dengan satu gerakan menumbuk yang kencang dan dalam, ia kembali memulai ritme permainannya dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
“Shane! Ah!” Aiena tersentak hebat, guncangan mendadak itu kembali menyalakan syaraf-syaraf sensitifnya hingga ia melengkung di atas ranjang.
“Jawab, Aiena. Enak siapa?” desak Shane lagi, suaranya bergetar di dekat telinga Aiena bersamaan dengan dorongan-dorongan kuat yang terus menghujam pertahanan istrinya.
Dalam kepungan sensasi nikmat yang kembali meledak-ledak dan dorongan kencang yang tak memberinya celah untuk berpikir jernih, Aiena kehilangan seluruh kendali atas rasa malunya. Secara tidak sadar, di antara deru napas dan tangis kecilnya yang pecah karena kenikmatan, ia berteriak pasrah, “enak kamu, Shane! Enak kamu!”
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir istrinya, sebuah senyuman puas dan penuh kemenangan akhirnya terukir di wajah Shane. Kilat di matanya semakin menggelap, dipenuhi oleh kepuasan instingtif seorang pria yang tahu bahwa ia telah sepenuhnya menghapus sisa-sisa bayang masa lalu di hati wanita yang dicintainya.
***