NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan dan Masa Depan

Lampu-lampu neon estetik mulai menyala satu per satu, menghiasi sudut-sudut instalasi seni dan bangunan kontainer yang ditumpuk artistik di kawasan kota kreatif itu. Setelah tiga hari penuh berkutat dengan lensa kamera, tim fotografer, dan berbagai arahan gaya yang melelahkan, sore ini Shane dan Aiena akhirnya bisa bernapas lega. 

Tidak ada lagi gaun pengantin yang berat atau rambut yang kaku oleh hairspray, keduanya kini tampil santai dengan pakaian kasual, membaur di antara para seniman muda dan wisatawan yang memenuhi destinasi wisata tersebut.

Shane melangkah dengan tangan yang terselip santai di saku celana jinsnya, sementara matanya tak henti memindai arsitektur unik di sekeliling mereka. 

“Akhirnya, Na. Tinggal kita berdua. Santai,” ujarnya sambil menoleh ke arah Aiena yang tampak antusias memotret sebuah mural besar menggunakan ponsel.

Aiena menurunkan ponselnya, memberikan senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipinya yang manis. “Jujur, Shane, aku senengnbanget bisa jalan-jalan gini tanpa beban. Bali ternyata punya sisi lain yang modern ya, bukan cuma pantai sama pura.”

“Memang. Ini konsepnya kota kreatif, semacam ruang komunal buat para kreator,” Shane menunjuk ke arah sebuah galeri terbuka yang memajang kerajinan keramik kontemporer. “Cocok buat kamu yang bikin-bikin konten terus. Siapa tahu kamu dapat inspirasi untuk proyek baru di sini.”

Aiena tertawa kecil, melangkah mendekati sebuah gerobak es krim artisan yang berdesain retro. “Inspirasi proyek baru? Aku malah masih mikirin buat desain kemasan produk nanti, Tuan Calon Suami.”

Shane ikut berhenti di sampingnya, memesan dua cone es krim rasa sea salt caramel dan vanilla. Untuknya dan untuk Aiena.

 

“Nah, itu dia. Anggap aja kencan sore ini sebagai riset lapangan. Kamu lihat orang-orang di sini? Perhatikan perilakunya. Anggap mereka semua pelanggan kita. Kamu pernah dapat mata kuliah perilaku konsumen, kan?”

Aiena menerima cone es krimnya, lalu mereka berjalan menuju sebuah area duduk yang terbuat dari ban bekas yang dicat warna-warni. “Hebat ya, Pak Shane. Sambil menyelam minum air. Kencan sambil survei lapangan.”

Shane menyandarkan punggungnya, menatap Aiena dengan tatapan yang jahil. “Namanya efisiensi, Na. Efisien waktu, efisien biaya.”

Aiena menyendok es krimnya menggunakan sendok kayu kecil dengan gerakan canggung untuk menutupi rasa malunya. “Setelah nikah, aku tetap boleh kerja kan?”

“Terserah kamu, Na. Perusahaan memang butuh kamu, tapi kalau kamu mau jadi ibu rumah tangga full, aku nggak keberatan. Kamu mau kerja dari rumah juga nggak masalah.”

“Oh ya, satu lagi. Soal anak…”

Shane menoleh ke arah Aiena. “Aku terserah kamu, Na. Aku ingin cepat ada anak, tapi kalau kamu belum siap, kita bisa tunda…”

“Aku siap, Shane,” potong Aiena cepat. “Aku siap kalau sama kamu. Kamu sudah buktiin, kamu bisa lindungi aku, kamu juga pasti bisa jadi papa yang baik buat anak kita nanti.”

Setelah es krim habis, keduanya kembali berjalan. Menikmati pemandangan yang asri dan udara yang sejuk. Langkah membawa mereka ke taman multimedia outdoor yang dihiasi lampu warna-warni, efek dramatis dan suara latar yang membuat suasana semakin hidup.

“Soal kerjaan…” Shane memperlambat langkahnya. “Kalau kamu mau jabatan yang lebih tinggi atau mau jadi sekretarisku boleh. Bilang aja.”

“Aku mau tetap di posisi yang sekarang, Shane,” jawab Aiena mantap. Ia memang menikmati pekerjaan dan posisinya saat ini. Editing foto dan membuat gambar konten adalah spesialisasi dan hobi Aiena. Selama ini, ia mengerjakan job desk-nya itu dengan senang hati.

“Oke kalau kamu nyaman disana. Aku juga senang nggak perlu rekrut orang baru buat divisi pemasaran digital,” sahut Shane santai. Ia berjalan sedikit di depan Aiena. Membuka jalan terlebih dahulu, memastikan tidak ada bahaya di depan mereka, mengingat bahwa taman ini cukup gelap di hari yang sudah mulai sore.

***

1
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
Quoari
Iya, udah berapa kali
Wid Sity
lama juga menghilangnya, untung gak dipecat
Quoari: Sembuhnya lama. Ga dipecat karena shane
total 1 replies
Wid Sity
hey, sadar Na. Kamu kesakitan kan gara2 Haze. Jangan luluh
Wid Sity
harusnya kamu minta maaf utk hal lain sat. Gak sadar diri salahnya apa
Quoari: Emang gitu dia. Pinter manipulasi perasaannya aiena
total 1 replies
Wid Sity
tapi kalo kamu meninggal duluan gara2 melakukan hal aneh2. Ortumu lebih terpukul lagi, Na
Quoari: Untungnya nggak terjadi
total 1 replies
Wid Sity
kok Aiena gak mau cerita ya? Kalo cerita kan bisa dibantu. Kalo dipendem sendiri, selamanya akan terjerat dengan Haze dong
Quoari: Percuma, haze yang dibela
total 1 replies
Wid Sity
Haze tu tampang malaikat tapi berhati iblis
Quoari: Betul
total 1 replies
Wid Sity
Haze gila ya, cemburu sama darah daging sendiri. Enggak mau ada anak. Kalo gak mau ada anak, harusnya jangan kawin, sat. Doyan kawin doang, gak mau anaknya
Quoari: Emang egois dan posesif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!