Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Si pemicu amarah
Riana mengetuk pintu dua kali. Karena tak kunjung ada sahutan dari sang pemilik, dia pun membuka pintu kemudian masuk, “Pak, boleh saya masuk?” dia minta ijin, tapi kakinya sudah menapaki ruangan itu, jelas ucapannya hanya sekedar basa-basi.
Zayn menyambut kedatangan Riana dengan wajah muram, selaras dengan cuaca yang tengah mendung diluar sana, “Ini catatan hasil pertemuan barusan,” Riana menyodorkan map berwarna abu-abu kehadapannya.
Zayn tak menyambutnya, dia melipat tangan di dada sambil terus menatap Riana dengan tatapan setajam pedang. Ribuan pertanyaan, bergumul di kepalanya seperti seperti awan hitam, dia ingin mencecar Riana dengan pertanyaan-pertanyaan di otaknya, namun logikanya menahan. ‘Jangan Zayn, wibawamu akan hilang kalau kau berani bertanya.’
“Bapak udah minum obat? Mau saya buatkan janji temu dengan Dokter Danu?” tanya Riana yang mengira Zayn marah karena penyakitnya sedang kumat.
“Kamu benar-benar menganggap saya sebagai orang gila. Sedikit-sedikit psikiater, sedikit-sedikit Dokter, apa dimata kamu saya ini orang gak waras,” dengusnya kesal.
“Bukan begitu Pak, jika suasana hati Bapak sedang buruk kita bisa konsultasi ke pakarnya, begitu maksud saya,” ralat Riana segera, “atau Bapak butuh sesuatu?”
“Tidak usah, obatnya sama sekali gak mempan,” dustanya.
“Kalau begitu saya akan minta resep obat yang baru yang lebih ampuh,” Riana mengetik di ponselnya bersiap menghubungi Dokter Danu, psikiater yang waktu itu ditemui oleh Zayn.
“Ck, kamu ini. Bawa berkas-berkasnya kita rapat sekarang.” Ucapnya sembari bangkit, tak ingin menuruti isi kepalanya yang terus menyuruhnya bertanya.
“Tapi Pak, obatnya?”
“Gak usah. Obat yang lama aja, tinggal tambah dosisnya. Percuma juga saya ganti obat, kalau pemicunya masih ada,” dia memelankan suaranya di akhir.
Hening saat langkah mereka melewati ruangan para pegawai, selain fokus bekerja mereka pun sengaja bersembunyi di balik meja mereka, takut terkena amarah Zayn lagi.
Zayn berjalan tak peduli, sementara Riana melihat para pekerja lain mengelus dada mereka setelah Zayn lewat.
“Emh Riana, apa saya terlihat menakutkan dimata kamu?” tanyanya saat mereka telah masuk kedalam lift, sepertinya dia menyadari kalau para pekerjanya bersembunyi saat dia lewat.
“Lumayan sih Pak, kalau di lihat-lihat Bapak itu mirip T-rex, ngaum...!” komentar Riana sambil menirukan gaya menerkam tepat ke muka Zayn.
Zayn menatapnya dengan tatapan datar tanpa berkedip, bahkan dia tak bergerak sama sekali “hehe, gak lucu ya Pak?" Riana tertawa garing.
Dia membuang pandangannya malas, namun senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Bapak tadi marahin anak baru sampe dia nangis-nangis, udah pasti mereka takut,” Riana mulai berkomentar jujur kali ini, karena tak mendapat reaksi apapun dari Zayn.
“Lemah. Hanya begitu saja nangis, pecat aja kalau gitu. Males saya punya karyawan begitu,” Ujarnya sambil melangkah keluar lift, pun dengan Riana.
“Saya juga sama Pak, kalau di bentak ya nangis apa lagi kalau kesalahan saya hanya sekedar noda tinta kecil doang, jadi jangan salahin dia, itu mah Bapak yang galak.”
“Kamu nyalahin saya?!”
“Tadi kan Bapak nanya, apa saya menakutkan. Nah itu jawabannya, di katain mirip T-rex Bapak gak percaya, giliran saya ngomong jujur Bapak marah, bapak maunya saya gimana?”
“Bilang Bapak super baik, Bapak loyal banget sama pegawai, gak pernah marah-marah, udah gitu gak pelit, itu yang mau Bapak denger? Jelas saya bohong kan.”
Zayn mendengus kasar. Sementara pekerja lain yang mendengar ucapan Riana sampai membeku mendengar keberanian wanita itu dengan ucapan jujurnya terhadap sang Bos.
“Gila si Riana, berani banget ngomentari Bos depan hidungnya sendiri,” bisiknya pada teman di sampingnya.
“Dan luar biasanya Bos Zayn gak marah sama sakali, aneh gak sih.” komentar yang lain.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄