Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Damian Datang Meminta Maaf
Hujan turun sejak sore.
Langit kota dipenuhi awan gelap yang menggantung rendah, membuat malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di lantai paling atas gedung Vasiliev Group, sebagian besar lampu sudah dimatikan.
Karyawan pulang.
Koridor mulai kosong.
Namun satu ruangan masih menyala.
Ruang kerja Elara.
Elara duduk di depan laptop dengan beberapa dokumen audit terbuka di meja.
Matanya lelah.
Sudah tiga hari berturut-turut ia hampir tidak pulang sebelum tengah malam.
Setiap divisi menyimpan masalah.
Setiap laporan seperti menyembunyikan sesuatu.
Dan semakin dalam ia menggali…
semakin jelas bahwa perusahaan besar ini selama bertahun-tahun berjalan dengan terlalu banyak kompromi.
Ketukan pelan terdengar.
“Masuk.”
Viktor masuk sambil membawa tablet.
“Direktur investasi resmi mengajukan pengunduran diri.”
Elara tidak terlihat terkejut.
“Cepat sekali.”
“Dia tahu audit berikutnya akan lebih buruk.”
Elara menutup map perlahan.
“Orang biasanya lari lebih dulu sebelum pintunya benar-benar tertutup.”
Viktor mengangguk.
Lalu ekspresinya berubah sedikit aneh.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Seorang tamu datang.”
“Jam segini?”
“Ya.”
“Siapa?”
Viktor diam dua detik sebelum menjawab,
“Damian Moretti.”
Ruangan langsung sunyi.
Elara tidak bergerak.
Namun tangannya perlahan berhenti di atas dokumen.
Nama itu…
masih punya cara aneh untuk membuat udara berubah.
Viktor memperhatikan reaksinya hati-hati.
“Kalau Anda tidak ingin bertemu, saya bisa menyuruh keamanan—”
“Tidak.”
Elara berdiri perlahan.
Tatapannya kembali dingin.
“Biarkan dia naik.”
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka lagi.
Damian masuk.
Untuk sesaat…
tak ada satu pun dari mereka bicara.
Sudah lama sejak terakhir kali mereka berdiri sedekat ini.
Namun semuanya terasa berbeda sekarang.
Sangat berbeda.
Damian mengenakan jas gelap sederhana.
Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding terakhir kali.
Tak lagi setenang pria yang dulu selalu terlihat memegang kendali.
Kini ada sesuatu yang retak di matanya.
Sementara Elara berdiri di dekat meja kerja dengan aura yang jauh lebih sulit disentuh.
Bukan lagi wanita yang menunduk saat bicara.
Bukan lagi seseorang yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Mereka saling menatap cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Damian benar-benar merasakan jarak di antara mereka.
“Aku tidak mengganggu?” tanyanya pelan.
Elara menjawab datar,
“Kalau aku bilang mengganggu, apa kau akan pergi?”
Damian tersenyum pahit.
“Tidak.”
“Kalau begitu pertanyaanmu tidak penting.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga.
Namun Damian tidak marah.
Karena ia tahu…
ia pantas menerimanya.
Elara berjalan kembali ke kursinya.
“Duduk.”
Damian duduk perlahan di depan meja.
Hening kembali memenuhi ruangan.
Suara hujan di luar menjadi satu-satunya yang terdengar beberapa detik.
Sampai akhirnya Damian bicara.
“Aku membaca berita tentang rapat direksi.”
Elara tidak menoleh.
“Dan?”
“Kau hebat.”
Elara tersenyum tipis tanpa emosi.
“Kalau hanya ingin memuji, kau datang terlalu jauh.”
Damian menarik napas pelan.
“Aku datang untuk meminta maaf.”
Akhirnya.
Kalimat itu keluar juga.
Namun berbeda dari yang ia bayangkan…
Elara tidak terlihat terkejut.
Tidak marah.
Tidak emosional.
Justru terlalu tenang.
Dan itu jauh lebih membuat Damian gugup.
“Untuk yang mana?” tanya Elara pelan.
Damian membeku.
Elara menatapnya lurus.
“Terlalu banyak yang bisa dipilih.”
Kalimat itu membuat dada Damian terasa sesak.
“Aku tahu aku terlambat.”
“Benar.”
“Aku seharusnya melindungimu.”
“Benar.”
“Aku seharusnya tidak diam waktu mereka menuduhmu.”
Elara tersenyum kecil.
Aneh.
Senyum itu justru terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Tapi kau diam.”
Damian menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia tidak punya pembelaan.
“Aku pikir semuanya hanya kesalahpahaman.”
“Elara tertawa kecil.”
“Kesalahpahaman?”
Tatapannya tajam.
“Aku diusir malam-malam saat hujan.”
“…”
“Aku dituduh pencuri di depan semua orang.”
“…”
“Dan pria yang katanya paling mengerti aku…”
ia berhenti sejenak,
“…bahkan tidak mengejarku.”
Setiap kata terasa seperti pisau yang pelan-pelan ditancapkan.
Damian menggenggam tangannya erat.
“Aku salah.”
“Ya.”
“Aku pengecut.”
Elara diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Akhirnya ada satu hal yang kita sepakati.”
Hujan di luar semakin deras.
Ruangan terasa semakin sunyi.
Damian menatap wanita di depannya.
Dulu…
Elara selalu terlihat hangat.
Lembut.
Tenang.
Sekarang ia masih tenang.
Namun kehangatan itu seperti ditarik pergi oleh sesuatu.
Dan Damian tahu siapa penyebabnya.
Dirinya sendiri.
“Aku tidak datang untuk mencari pembenaran,” katanya pelan.
“Bagus.”
“Aku hanya…”
Ia berhenti.
Sulit sekali mengucapkannya.
Pria seperti Damian Moretti terbiasa mengendalikan situasi.
Namun malam ini…
ia bahkan tidak tahu bagaimana memperbaiki satu hubungan.
“Aku menyesal.”
Elara menatapnya lama.
Mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.
Kebohongan.
Kesombongan.
Alasan.
Namun yang ia lihat justru kelelahan.
Dan penyesalan yang terlambat.
“Damian,” katanya pelan.
Pria itu langsung mengangkat kepala.
“Penyesalan itu aneh.”
“Apa maksudmu?”
“Selalu datang setelah semuanya hancur.”
Kalimat itu membuat Damian kehilangan kata-kata.
Ia melihat sekeliling ruangan besar itu.
Meja kerja mewah.
Pemandangan kota.
Nama besar Vasiliev.
Semuanya terlihat sempurna.
Namun entah kenapa…
ia justru semakin sadar bahwa Elara sampai di titik ini tanpa dirinya.
Dan mungkin…
karena memang tidak pernah membutuhkannya.
“Aku tahu kau mungkin tidak akan memaafkanku.”
“Elara menyandarkan tubuh.”
“Mungkin?”
Damian tersenyum pahit.
“Baik. Pasti.”
“Setidaknya kau mulai realistis.”
Mereka sama-sama diam lagi.
Namun kali ini…
heningnya tidak setajam sebelumnya.
Damian akhirnya berkata pelan,
“Setelah kau pergi…”
ia menatap meja beberapa detik,
“…rumah terasa berbeda.”
Elara tidak menjawab.
“Awalnya aku pikir itu cuma karena suasana.”
Ia tertawa kecil tanpa humor.
“Ternyata bukan.”
Tatapannya perlahan kembali padanya.
“Aku baru sadar ada seseorang yang diam-diam menjaga semuanya.”
Elara menatapnya tanpa ekspresi.
“Sekarang kau tahu.”
“Aku terlambat.”
“Ya.”
Damian tersenyum pahit lagi.
Ia mulai membenci kata itu.
Terlambat.
Karena semakin sering mendengarnya…
semakin ia sadar semuanya memang sudah terlalu jauh.
Ponsel Elara tiba-tiba bergetar.
Pesan dari Viktor.
“Cassian datang ke gedung.”
Elara membaca cepat lalu mematikan layar.
Namun Damian sempat melihat nama itu.
“Cassian?”
“Elara berdiri.”
“Rapat berikutnya akan segera dimulai.”
Damian ikut berdiri perlahan.
“Aku mengganggu waktumu lagi.”
“Kali ini iya.”
Meski dingin…
jawaban itu justru terdengar lebih ringan dibanding sebelumnya.
Dan Damian cukup bodoh untuk merasa sedikit lega karena hal kecil itu.
Ia melangkah menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Damian berhenti.
Membelakangi Elara.
“Aku tidak berharap kau kembali.”
Elara diam.
“Tapi kalau suatu hari nanti…”
ia menarik napas pelan,
“…kau butuh seseorang yang berdiri di pihakmu…”
Damian menoleh sedikit.
“Aku tidak akan diam lagi.”
Ruangan kembali sunyi.
Elara tidak langsung menjawab.
Karena bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah—
dulu…
itulah yang paling ingin ia dengar.
Namun sekarang semuanya berbeda.
Ia bukan lagi wanita yang menunggu seseorang membelanya.
Ia sudah belajar berdiri sendiri.
Dan itu membuat permintaan maaf Damian terasa jauh lebih rumit.
“Elara.”
Damian memanggil pelan sebelum pergi.
“Apa?”
“Dulu… apakah kau pernah membenciku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Elara menatap hujan di balik jendela besar.
Lama sekali.
Lalu akhirnya menjawab,
“Tidak.”
Damian terlihat sedikit terkejut.
“Tapi aku kecewa.”
Nada suaranya pelan.
Tenang.
Namun justru itu yang menghancurkan Damian paling dalam.
Karena kebencian masih menyisakan emosi.
Tapi kekecewaan…
biasanya datang setelah hati benar-benar lelah berharap.
Damian pergi beberapa menit kemudian.
Pintu tertutup perlahan.
Dan Elara kembali sendirian di ruang kerjanya.
Namun anehnya…
malam terasa lebih berat dibanding sebelumnya.
Ia duduk perlahan.
Tatapannya jatuh pada hujan di luar.
Kenangan lama muncul tanpa izin.
Sarapan pagi.
Lampu balkon.
Suara langkah Damian di malam hari.
Hal-hal kecil yang dulu terasa berarti.
Ia menutup mata pelan.
Lalu menghembuskan napas panjang.
“Sudah terlambat…” bisiknya lirih.
Namun entah kenapa…
hatinya tidak sepenuhnya tenang setelah mengatakannya.
Sementara itu, di dalam lift gedung Vasiliev Group…
Damian berdiri sendirian.
Tangannya masuk ke saku jas.
Tatapannya kosong.
Permintaan maafnya tidak memperbaiki apa pun.
Tidak menghapus luka.
Tidak mengubah masa lalu.
Namun untuk pertama kalinya…
ia merasa sedikit lega.
Karena akhirnya…
ia berhenti menjadi pria yang hanya diam.
Pintu lift terbuka di lobby bawah.
Dan tepat saat Damian melangkah keluar—
seseorang berdiri di sana sambil tersenyum tipis.
Cassian.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Udara berubah dingin seketika.
Cassian melirik ke arah lift di belakang Damian.
“Menarik.”
Damian menatap tajam.
“Apa?”
“Pria yang terlambat akhirnya datang juga.”
Damian tidak menjawab.
Cassian mendekat sedikit.
“Sayangnya…”
senyumnya tipis namun tajam,
“…wanita seperti Elara biasanya tidak menunggu terlalu lama.”
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄