NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:43.4k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Jam tujuh Nita kembali menelpon Peno untuk mengabari kalo dia sudah berada dilobi hotel, Peno pun segera turun menemui Nita dan mereka berdua pun jalan kaki menyusuri trotoar menuju taman kota yang memang dekat dengan hotel.

"nah itu ada tukang gorengan!" ucap Peno saat melihat tukang gorengan dengan gerobak pikulan sedang mangkal diatas trotoar beberapa meter dari dirinya.

Peno dan Nita mendekati pedagang gorengan itu, "asalamualaikum pak!" ucap Peno menyapa si pedagang dengan ramah.

"waalaikumsalam, monggoh silahkan mas, masih anget, ketupatnya juga ada, mau dibungkus apa makan sini!?" jawab pedagang itu dengan sopan menawarkan dagangannya.

"makan disini saja pak, sambil duduk ditrotoar kan mantap, minta daun pisangnya pak buat tempat gorengan!" kata Peno lalu mengambil selembar daun pisang bekas bungkus tempe yang sudah dibersihkan.

Peno mengambil beberapa jenis gorengan yang sudah matang dan masih panas, diletakannya diatas daun pisang kemudian ia mengambil dua buah ketupat dan beberapa cabai rawit lalu ia duduk lesehan ditrotoar persis di sebelah gerobak gorengan dan memuali sarapan paginya.

Nita yang tadinya hanya bengong memperhatikan Peno sekarang ikut juga duduk disamping Peno dan mengambil satu tempe goreng dan ketupat milik Peno dan memakannya.

"emmmm, ternyata enak juga, beda sama yang dikampus!" ucap Nita sambil terus makan.

"lebih enak pakai cabai rawit!" ujar Peno sambil mencontohkan mengambil satu cabe dan langsung memakannya sekaligus.

Melihat itu Nita juga ikut ikutan mengambil cabai dan memakannya bersama gorengan yang ia pegang, "waaaaaaaaa, pedaaassss, air, air!" ucap Nita kemudian sambil mengkibas kibaskan tangan didepan mulutnya.

"waduuuhh, lupa ga bawa air lagi, pak, ada air apa engga!?" ujar Peno langsung tanggap dan bertanya pada bapak penjual gorengan itu.

"ada mas, kopi juga ada kalo mau!" jawab penjual itu.

"minta air putihnya dulu pak, dan tolong dibikinin kopi satu sama susu putih satu!" ucap Peno langsung mengambil air putih yang disediakan oleh pedagang itu dengan gelas dan langsung menyodorkannya pada Nita.

"nih, minum, biar pedasnya ilang!" ujar Peno, tanpa pikir panjang Nita meraih gelas itu dan meminumnya langsung tandas.

"haaaah, haah ,hah, masih pedas!" ucap Nita dengan muka yang sudah memerah dan keringat bercucuran.

"makan ketupatnya lagi, aku lagi pesan susu anget, nanti kalo sudah minum susu pedesnya langsung ilang!" jawab Peno dengan sedikit panik.

Dua gelas minuman pesanan Peno datang, ia langsung meraih gelas susu dan langsung diberikan pada anita, " kopinya taruh dibawah saja pak!" ucap Peno sambil fokus mengurus Nita yang masih kepedesan.

"nih minum susu, nanti pedasnya ilang!" uajr Peno, Nita meraih gelas itu dan meminumnya sedikit demi sedikit karena panas.

"ehhh iya, pedasnya ilang!" ucap Nita kegirangan karena rasa pedas cabai dalam lidahnya seketika hilang setelah meinum susu.

"syukurlah kalo sudah hilang, wis kamu ga usah makan cabai lagi, makan ketupat sama gorengan saja!" kata Peno, ia kembali duduk ditrotoar dan menikmati gorengannya kembali.

"tadi kan aku ikutan kamu makan sekaligus, ternyata sangat pedas, mungkin kalo sedikit tidak terlalu pedasnya!" jawab Nita, ia mengambil lagi gorengan dan ketupat dan satu biji cabai.

"ya wis terserah kamu, kalo kepedasan minum susu lagi!" kata Peno sambil tetap asik makan.

Selesai makan Peno menghampiri pedagang gorengan, "pak berapa semuanya, ketupatnya jadi empat, gorengannya sepuluh, tambah kopi satu dan susu satu!? Kata Peno.

"ketupat empat harganya empat ribu, gorengan sepuluh harganya sepuluh ribu, wedangnya dua enam ribu, jadi dua puluh ribu mas!" jawab bapak penjual.

"hah, ga salah hitung pak, kok cuma duapuluh ribu!?" ujar Nita yang kaget mendengar harganya.

"ya memang segitu mba, he he he.....!" jawab bapak penjual itu.

"nih pak, kembaliannya ambil saja, terimakasih ya pak, saya pamit dulu, assalamualaikum!" kata Peno dengan memberikan uang lima puluh ribu pada bapak penjual gorengan dan sekalian berpamitan.

"waduh alhamdulillah, terimakasih mas, semoga rejekinya tambah lancar dan berkah, waalaikumsalam!" jawab bapak penjual itu dengan penuh rasa syukur.

Peno dan Nita meninggalkan penjual gorengan dan memutuskan kembali kehotel mengingat sebentar lagi mereka akan berangkat menuju kampung Peno.

"kok tadi kamu kasih uang lebih dan ga ambil kembaliannya!?" tanya Nita saat dalam perjalanan kehotel.

"sedekah!" jawab Peno singkat.

"kamu tadi dengar ga apa yang diucapkan bapak penjual gorengan setelah aku bilang ga usah ada kembalian?" lanjut Peno bertanya pada Nita.

"bersyukur!" jawab Nita.

"iya dia bersyukur sekaligus mendoakan kita, itulah manfaat sedekah!" ucap Peno sambil terus berjalan menuju hotel.

Mendengar itu Nita mencoba mencerna setiap kata kata Peno, sekarang ia paham kenapa hidup Peno yang sederhana bisa terlihat tenang dan damai.

Dihotel Peno dan Nita sudah ditunggu pak Anton dan juga istinya serta Desti adiknya Nita, ada juga pak Supri dan pak Basuki yang telah siap dengan tas pakaian mereka yang sudah dibawa kelobi hotel.

"waahhh, pada curang ini oak Supri sama pak Bas, masa aku ga ditungguin beres beresnya!" ujar Peno protes karena ia sama sekali belum membereskan barang barangnya dikamar.

"ya salah sendiri jalan jalan ga mengajak kita, ha ha ha!" jawab pak Supri.

"wis ga usah protes, sana cepetan beresi barangmu sebelum diberesin sama petugas dari hotel!" sambung pak Basuki.

"weeehhh, gitu ya, ya wis aku siap siap dulu!" kata Peno yang langsung pergi kekamarnya untuk beberes, bagi ia perkataan pak Basuki itu serius, ia takut barangnya malah diambil oleh petugas hotel.

Jam sembilan tepat mereka pun berangkat menuju kampung halaman Peno dengan dua mobil, mobil depan dikendarai pak Basuki berpenumpang Peno dan pak Supri, mobil belakang mobil milik pak Anton yang dikemudikan sopir pribadi berpenumpang pak Anton sekeluarga.

Perjalanan akan memakan waktu cukup lama yaitu sekitar enam jam, maka dari itu setelah menempuh tiga jam perjalanan mereka memutuskan beristirahat disebuah rest area.

Setelah mobil berhenti Peno langsung turun dan menuju toilet kemudian mencari mushola untuk melaksanakan sholat dhuhur.

"kita makan siang dulu No!" ajak pak Anton setelah Peno kembali bergabung kembali dengan mereka.

"iya pak, kebetulan saya juga sudah lapar, he he he......!" jawab Peno.

Merekapun kemudian masuk kesebuah rumah makan yang ada direst area tersebut, pak Anton memilih rumah makan yang menyajikan makanan khas daerah dengan cara prasmanan menjadikan yang mau makan bebas untuk memilih lauk yang diinginkan.

Setelah makan Peno memilih istirahat dibawah pohon yang cukup rindang untuk sekedar merokok dan menikmati minuman dingin yang ia beli tadi dimini market.

Sedang asik duduk dan menikmati rokoknya Peno melihat Nita keluar dari minimarket dan berjalan kearahnya, namun ada sesuatu yang mencurigakan, Nita seperti sedang diikuti oleh seseorang, Peno terus saja mengamati orang yang mengikuti Nita itu.

Dan dugaan Peno memang benar orang yang dari tadi mengikuti Nita tiba tiba menyambar ponsel Nita yang sedang dipegangnya, seketika Nita kaget, dan langsung berteriak.

"jambreeeetttt!" pekiknya dengan suara tinggi.

memang apes bagi penjambret itu, ia malahan lari kearah Peno yang tak ia lihat, dan tiba tiba "bummm!" tubuhnya terpental jatuh telentang dengan perut yang terasa sakit, rupanya Peno melancarkan tendangan terbang saat jambret itu lari kearahnya.

"aduuuuhhh, perutku!" rintih jambret itu keskitan.

1
Yoyoh Dariyah
lanjut thor
Rival Permana
kok gak update² thor
Firdaus Hamid
kenapa ini ceritanya lama kelanjutannya
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah orang baik dipertemukan orang baik semangat mbak mita demi anak2
Ilham
lanjut bg
dewi rofiqoh
Dunia emang kebalik,... Tak jarang anak dan istri yang susah payah pontang panting demi sesuap nasi, tapi sang lelaki cuma ongkang-ongkang kaki
Ilham
Lo udh berapa hari ini sibuk bangat BG jarang up baktiku sama peno
Ilham
BG lanjut bg
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah up juga
jgn lsma2 thor updatenya
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah terimakasih up nya thor💪
dewi rofiqoh
Lanjuut
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah alhirnya up juga
terimakasih thor
Night Watcher
yg lebih pas: di "ladang" bukan sawah
Night Watcher
ke sawah panen singkong?
ada ya?
Ilham
lanjut bg
Yoyoh Dariyah
Alhamdulillah agus orang baik jadi dipertemukan dgn orang2 baik juga
dewi rofiqoh
Semoga bapaknya agus lekas sembuh
Ilham
lamjut BG ini cerita sedih nya apa lagi dua adek Agus masih kecil belum makan jadij sesih cerita nya dan kasian sama adek si Agus bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!