Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Matahari mulai bergeser ke arah barat.
Tanah di taman belakang yang tadi basah karena disiram kini mengering perlahan. Beberapa biji bunga yang baru saja ditanam telah ditutup kembali dengan tanah gembur, lalu diberi penanda berupa papan-papan kayu kecil yang dibuat oleh para pelayan.
Roseline menatap papan miliknya dengan bangga.
"Aku akan datang setiap minggu."
"Aku ingin melihat bunganya tumbuh."
Arcellio ikut mengangguk.
"Aku juga."
Sean masih berjongkok di depan tanah yang baru saja ia timbun.
Ia memandangnya cukup lama.
Sampai akhirnya Kianara berjalan mendekat.
"Ada apa?"
Sean mendongak.
"Yang Mulia..."
"Kalau bunga ini tumbuh..."
"...apakah dia akan ingat kalau aku yang menanamnya?"
Pertanyaan polos itu membuat Kianara terdiam beberapa saat.
Ia kemudian ikut berjongkok di samping Sean.
"Mungkin bunga tidak bisa mengingat."
"Tapi..."
Ia mengambil salah satu papan kayu kecil yang belum digunakan.
"Lihat."
Dengan pisau kecil yang biasa dipakai berkebun, Kianara mengukir sesuatu pada permukaannya.
Perlahan.
Rapi.
Tak lama kemudian papan itu selesai.
Di sana tertulis satu nama sederhana.
Sean.
Kianara menancapkan papan itu tepat di depan tempat Sean menanam benihnya.
"Kalau suatu hari bunga ini mekar..."
"...semua orang akan tahu siapa yang merawatnya."
Sean menatap papan itu tanpa berkedip.
Seumur hidupnya...
namanya hampir tidak pernah ditulis oleh siapa pun.
Kalaupun ada...
biasanya hanya dalam daftar anak-anak yang harus bekerja.
Bukan...
sebagai pemilik sesuatu.
Perlahan ia mengulurkan tangan.
Menyentuh ukiran namanya sendiri.
"...Namaku."
"Iya."
"Bagus."
Sean mengusap papan itu dengan sangat hati-hati, seolah takut huruf-hurufnya menghilang.
Di belakang mereka, Serena diam-diam mengalihkan wajahnya.
Matanya mulai memanas.
Lucien yang berdiri di sampingnya hanya menggenggam tangan sang istri pelan.
"Anak itu..."
"...bahkan tidak pernah merasa memiliki sesuatu."
Serena mengangguk pelan.
"Karena itu..."
"...hal sekecil ini pun berarti sangat besar baginya."
Sementara itu...
Arcellio terlihat sibuk melakukan sesuatu.
Ia mengambil papan kayu miliknya.
Lalu menoleh ke arah Sean.
"Ayo tukar."
Sean berkedip.
"Tukar?"
"Iya."
"Kenapa?"
Arcellio menjawab dengan sangat yakin.
"Kalau nanti bungaku mati..."
"...kau yang bertanggung jawab."
Sean langsung membelalakkan mata.
"Itu bukan tukar."
"Itu menitipkan."
"Oh..."
Arcellio tampak berpikir.
"Iya juga."
Roseline terkikik sampai memegangi perutnya.
"Kak Arcellio lucu."
Arcellio menggaruk pipinya.
"Aku salah ya?"
Sean akhirnya ikut tertawa.
"Banyak."
"Hah?"
"Kalau bungamu mati..."
"...aku juga sedih."
Arcellio tersenyum.
"Kalau begitu jangan mati."
Sean mengangguk mantap.
"Baik."
Tak lama kemudian...
seorang pelayan datang membawa kendi berisi air dingin dan beberapa potong kue madu.
"Anak-anak."
"Waktunya beristirahat."
Roseline langsung mengambil satu potong.
Arcellio menyusul.
Sean baru hendak mengambil...
namun tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh ke arah dua ksatria yang sejak tadi berjaga tidak jauh dari taman.
Mereka masih berdiri tegak.
Belum bergerak sejak pagi.
Sean menggigit bibir bawahnya pelan.
Lalu...
diam-diam ia mengambil dua potong kue lagi.
Arcellio melihatnya.
"Kau lapar?"
Sean menggeleng.
"Bukan."
Ia berjalan pelan menghampiri kedua ksatria itu.
Langkahnya masih sedikit ragu.
Namun akhirnya ia berhenti tepat di depan mereka.
"Untuk..."
Sean mengangkat kedua tangannya.
"...Tuan."
Dua ksatria itu saling berpandangan.
Salah seorang bahkan tampak kebingungan.
"Untuk kami?"
Sean mengangguk.
"Kalian..."
"...belum makan."
Ksatria yang lebih muda tampak benar-benar tidak menyangka.
Selama bertahun-tahun menjadi penjaga keluarga Anwealda...
belum pernah ada anak kecil yang memperhatikan apakah mereka sudah makan atau belum.
Biasanya...
keberadaan mereka bahkan nyaris tidak dianggap.
"Aku..."
Sean kembali berbicara pelan.
"...tidak tahu boleh atau tidak."
"...tapi..."
"...kalau berdiri terus pasti capek."
Suasana taman mendadak sunyi.
Kianara memperhatikan dari kejauhan.
Begitu pula Serena.
Lucien.
Para pelayan.
Bahkan Kepala Pelayan tersenyum tipis.
Ksatria yang lebih tua akhirnya berlutut agar tinggi mereka sejajar.
"Terima kasih, Tuan Muda Sean."
Sean buru-buru menggeleng.
"Aku bukan tuan muda."
"Bukan."
Ksatria itu tersenyum hangat.
"Menurutku..."
"...suatu hari nanti kau akan menjadi seseorang yang layak dihormati."
Sean tidak begitu mengerti maksud kalimat itu.
Namun ia tetap menyodorkan kuenya.
"Kalau begitu..."
"...dimakan sebelum dingin."
Ksatria itu menerima kue tersebut dengan kedua tangan.
"Baik."
Di balkon lantai dua...
Agerald baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika tanpa sengaja melihat seluruh kejadian itu.
Ia berdiri cukup lama.
Tanpa suara.
Tanpa ekspresi.
Namun tatapannya tidak pernah lepas dari Sean.
Anak itu...
bahkan setelah mengalami begitu banyak penderitaan...
masih bisa memikirkan orang lain.
Tidak heran Arcellio begitu cepat menyukainya.
Tidak heran Kianara ingin melindunginya.
Tanpa sadar...
Agerald teringat satu kalimat dalam jurnal Alaric.
> "Masa depan keluarga tidak selalu ditopang oleh darah yang sama... terkadang oleh hati yang memilih tinggal."
Saat itu Agerald belum memahami maksud kalimat tersebut.
Namun kini...
melihat Sean berdiri kecil di tengah taman sambil tersenyum malu kepada dua orang ksatria...
ia mulai mengerti sedikit demi sedikit.
Mungkin...
keluarga memang tidak selalu lahir karena hubungan darah.
Kadang...
keluarga hadir karena seseorang memilih untuk saling menjaga.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun...
benih kecil itu mulai tumbuh di kediaman Anwealda.
Seperti bunga-bunga yang baru saja mereka tanam pagi ini—
masih rapuh, masih kecil, tetapi perlahan mengakar... dan suatu hari nanti akan menjadi sesuatu yang sangat sulit dicabut.
...****************...
Senja perlahan menyelimuti kediaman Anwealda.
Langit yang semula biru berubah menjadi semburat jingga kemerahan. Burung-burung mulai kembali ke sarang, sementara para pelayan menyalakan lampu-lampu dinding di sepanjang koridor.
Kepala Pelayan bertepuk tangan pelan.
"Anak-anak."
"Sudah waktunya masuk."
Roseline mengembuskan napas panjang.
"Padahal aku masih ingin bermain."
"Besok datang lagi."
Serena mengusap kepala putrinya lembut.
"Kalau Bibi Kianara mengizinkan."
Kianara tersenyum.
"Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu."
Roseline langsung memeluk Kianara.
"Kalau begitu aku akan sering datang."
"Aku juga mau melihat bunga Sean."
Sean yang mendengar namanya dipanggil hanya tersenyum malu.
...
Tak lama kemudian kereta keluarga Everhart kembali meninggalkan kediaman Anwealda.
Sean masih berdiri di depan tangga.
Tangannya melambai pelan sampai kereta itu benar-benar menghilang dari balik gerbang.
"Besok kita siram bunganya lagi."
Arcellio berdiri di sampingnya.
"Iya."
Sean mengangguk.
Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat melewati aula utama...
Sean tiba-tiba berhenti.
Di ujung lorong...
Agerald baru saja turun dari lantai dua.
Masih mengenakan pakaian latihan berwarna hitam.
Rambutnya sedikit berantakan.
Pedang latihan masih tergantung di pinggangnya.
Pelayan-pelayan yang berpapasan langsung menundukkan kepala.
"Yang Mulia."
Agerald hanya mengangguk singkat.
Tatapannya kemudian jatuh kepada dua anak kecil yang berdiri beberapa meter di depannya.
Arcellio tersenyum.
"Ayah."
"Mm."
Jawaban Agerald tetap pendek seperti biasa.
Sean buru-buru ikut menundukkan kepala.
"S-Selamat sore..."
"...Yang Mulia."
Ia hampir saja kembali mundur selangkah karena gugup.
Namun belum sempat bergerak...
Agerald lebih dulu berbicara.
"Sudah bermain seharian?"
Sean tampak terkejut.
Pertanyaan itu...
ditujukan kepadanya.
"I-Iya."
"Capai?"
Sean berpikir beberapa detik.
"...Sedikit."
"Bagus."
Jawaban itu singkat.
Namun cukup membuat Sean kebingungan.
Bagus?
Melihat ekspresi polos anak itu, Agerald akhirnya menjelaskan.
"Anak kecil memang seharusnya lelah karena bermain."
"Bukan karena bekerja."
Kalimat itu membuat seluruh aula mendadak sunyi.
Kepala Pelayan yang berdiri tidak jauh langsung menundukkan kepala lebih dalam.
Sean mematung.
Matanya perlahan membesar.
Tidak ada yang tahu...
bahwa kalimat sederhana itu menghantam bagian paling dalam hatinya.
Dulu...
setiap kali ia kelelahan...
orang-orang hanya berkata dirinya lambat.
Malas.
Tidak berguna.
Belum pernah...
belum pernah ada orang yang mengatakan bahwa anak kecil memang seharusnya lelah karena bermain.
Sean menundukkan kepala.
"Iya..."
"...Yang Mulia."
Agerald hendak melangkah pergi.
Namun baru dua langkah...
ia berhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata,
"Besok."
Arcellio dan Sean sama-sama mengangkat kepala.
"Jangan lupa menyiram bunga."
Keduanya berkedip bersamaan.
Agerald...
mengingat bunga yang mereka tanam?
Arcellio langsung tersenyum lebar.
"Kami tidak akan lupa!"
Sean ikut mengangguk cepat.
"Iya!"
Agerald kembali berjalan menuju ruang kerjanya.
Langkahnya tetap tenang.
Namun begitu sosoknya menghilang di balik koridor...
Arcellio menoleh kepada Sean dengan wajah berbinar.
"Ayah tahu."
Sean masih menatap lorong yang kini kosong.
"...Beliau memperhatikan."
"Iya."
Arcellio menggenggam tangan Sean.
"Ayah memang begitu."
"Beliau tidak banyak bicara."
"Tapi selalu melihat."
Sean memandang tangan kecil yang menggenggamnya.
Kemudian kembali menatap lorong tempat Agerald menghilang.
Perlahan...
senyum tipis muncul di wajahnya.
Mungkin...
Grand Duke Anwealda memang tampak menakutkan.
Namun hari ini...
Sean mulai percaya bahwa tatapan pria itu tidak lagi membuatnya merasa takut.
Justru...
untuk pertama kalinya...
ia merasa dirinya benar-benar terlihat.
Dan dari balik jendela ruang kerja di lantai dua, tanpa disadari kedua anak itu, Agerald sempat menghentikan langkahnya.
Ia melirik ke taman belakang, tempat papan bertuliskan "Sean" berdiri di samping tanah yang baru ditanami benih.
Entah mengapa, ia teringat lagi tulisan Alaric.
> "Ada orang-orang yang tidak lahir sebagai keluarga Anwealda... tetapi pada akhirnya akan menjaga keluarga ini dengan nyawa mereka."
Agerald memejamkan mata sejenak.
"Semoga..."
gumamnya sangat pelan.
"...takdir kali ini tidak merenggut anak-anak itu lagi."
Kalimat itu nyaris tak terdengar.
Namun untuk pertama kalinya sejak sekian lama, doa keluar dari bibir seorang Grand Duke yang selama bertahun-tahun hanya percaya pada pedangnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TO BE CONTINUE...