NovelToon NovelToon
Cinta Sendirian

Cinta Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Romansa Fantasi / Kehidupan alternatif / Romansa
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:

Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.

Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.

Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.


Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.

Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.

Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.

Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Terluka

Saat itu Aira langsung berdiri dan melangkah menuju pintu dengan tubuh yang masih lemah. Langkahnya goyah—nyaris saja ia terjatuh—namun seolah ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Bayangan Aksa bergerak cepat, refleks membantu Aira meski dirinya sendiri terbaring tak berdaya.

Azura langsung mendekat.

“Kak Aira, tangan kakak berdarah. Kakak belum pulih… kakak mau ke mana?” ucapnya cemas.

Mosan ikut menghampiri.

“Kak Aira, istirahat dulu,” ujarnya menahan.

Aksa hanya terdiam. Namun batinnya bergejolak.

Kenapa lo bisa sampai terbaring di IGD juga, Aira? Apa yang sebenarnya terjadi… batin Aksa perih.

Aira terdiam. Sebelum Azura datang, ia sempat merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ia hampir jatuh, tetapi seperti ada yang menahan—sangat nyata—padahal tak ada siapa pun di dekatnya.

Siapa yang nahan gue barusan? Aneh… batin Aira bingung.

Elara akhirnya mendekat, memegangi tubuh Aira dengan lembut.

“Aira, kamu mau ke mana buru-buru? Kondisi kamu belum membaik,” ujarnya pelan.

“Mm… Aira pengen pulang, Bu,” jawab Aira lirih.

Tiba-tiba, Zeno berdiri di dalam ruangan itu dan memanggil namanya.

“Airaa…”

Aira menoleh. Matanya membesar terkejut.

Zeno? Bukannya dia ada di tahun 2025? Sejak kapan Zeno masuk ke dunia 2011 ini…

“Z-Zeno…” lirih Aira.

Zeno melangkah mendekat. Azura dan Mosan spontan mundur, memberi ruang. Tepat di hadapan Aira, Zeno berdiri menatapnya penuh khawatir.

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aira langsung memeluk Zeno. Ia adalah sahabat terdekat Aira di tahun 2025—tempat semua lelah dan air matanya berlabuh. Sosok yang sudah seperti abang sendiri baginya.

“Gue capek, Zen… gue lelah,” ucap Aira lirih, nyaris tak terdengar.

Aksa menyaksikan itu dari kejauhan. Dadanya terasa sesak, perih, seakan ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.

Jadi Aira udah punya pacar… gue memang harus terus menjauh dari dia, batin Aksa pilu.

“Kamu mau ke mana?” tanya Zeno pelan.

“Bawa gue pergi dari sini, Zen,” pinta Aira dengan suara lemah.

Zeno mengangguk paham. Perlahan ia merangkul dan memapah Aira, membawa gadis itu keluar dari pintu IGD.

Tatapan Aksa mengikuti mereka hingga menghilang dari pandangan.

Rasa sakit di hatinya jauh lebih perih daripada luka di keningnya sendiri.

Saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit, Rayhan datang dari arah berlawanan. Wajahnya langsung berubah saat melihat kondisi Aira—pucat dan tampak lemah. Namun keterkejutannya bertambah ketika matanya menangkap sosok pria asing yang berdiri di sisi Aira.

“Aira, lo mau ke mana?” tanya Rayhan.

“Gue mau pulang,” jawab Aira singkat.

“Kenapa, Ra? Tubuh lo masih lemah,” ujar Rayhan khawatir.

“Gue gapapa, Ray,” balas Aira, berusaha terdengar meyakinkan.

Pandangan Rayhan bergeser pada pria di samping Aira.

“Dia siapa, Ra?”

“Zeno. Sahabat gue,” jawab Aira.

Zeno langsung mengulurkan tangannya.

“Zeno, sahabat dekat Aira,” ucapnya ramah.

Rayhan membalas uluran tangan itu.

“Rayhan. Teman sekelas Aira.”

“Ayo, Zen, kita pergi,” ujar Aira pelan.

Zeno mengangguk. “Duluan, bro.”

Rayhan hanya bisa diam. Ia datang ke rumah sakit dengan tergesa, dipenuhi rasa khawatir pada Aira. Namun kini, melihat Aira begitu ingin meninggalkan tempat ini—dan ada Zeno yang berdiri di sisinya—ia merasa langkahnya tertahan.

Ada keinginan untuk memanggil Aira, menahannya agar tetap tinggal. Tapi melihat Zeno, sahabat Aira, seolah sudah cukup untuk menemani dan menjaganya.

Rayhan terdiam.

Aira… ada apa sebenarnya yang lo sembunyikan?

“Ra, lo mau ke mana?” tanya Zeno sambil menyesuaikan langkahnya.

“Pulang,” jawab Aira singkat.

Satu kata itu justru membuat Zeno terdiam. Pulang ke mana? batinnya bertanya. Apakah pulang ke tahun 2025… atau—

“Pulang ke mana, Ra?” tanya Zeno akhirnya.

“Ke kontrakan gue.”

“Oke,” jawab Zeno tanpa bertanya lagi.

Mereka pun pergi menuju kontrakan Aira dengan menaiki taksi, meninggalkan rumah sakit yang terasa semakin menyesakkan bagi Aira.

Di dalam ruang IGD, Aksa masih terbaring lemah di ranjang. Satu per satu temannya sudah pulang. Kini hanya tersisa ibunya, Azura, dan Mosan.

“Kak Aira ke mana ya, Bu? Buru-buru banget,” ujar Azura penasaran.

“Ibu juga nggak tahu. Yang penting ada seseorang yang menjaganya,” jawab Elara tenang.

“Iya, kalau nggak ada Abang Zeno, Mosan yang bakal jaga Kak Aira,” sahut Mosan polos.

“Jadi abang tadi namanya Zeno ya, San?” Azura melirik sekilas ke arah Aksa. “Tapi kenapa dia kelihatan dekat banget sama Kak Aira… kasihan abangku.”

Aksa hanya diam. Tak ada tenaga untuk menanggapi. Lagipula, apa yang Azura katakan ada benarnya. Adiknya itu memang selalu peka pada perasaannya—bahkan pada hal-hal yang tak pernah ia ucapkan.

“Kalian belum tahu ya, jadi Abang Zeno itu—” Mosan belum sempat melanjutkan ucapannya ketika seorang dokter datang, diiringi perawat.

“Permisi,” ucap perawat.

Dokter segera memeriksa detak jantung Aksa.

“Kondisinya sudah cukup membaik. Detak jantung Aksa juga sudah stabil.”

“Syukurlah, terima kasih banyak, Dok. Oh ya, kapan Aksa boleh pulang?” tanya Elara.

“Besok pagi ya, Bu. Untuk sementara pasien menginap dulu agar lebih mudah ditangani kalau ada kondisi darurat. Nanti akan dipindahkan ke ruang rawat inap.”

“Baik, terima kasih, Dok.”

Dokter dan perawat keluar setelah mengganti infus yang baru.

“Zura, Mosan, kalian istirahat ya. Besok masih harus sekolah,” ujar Elara lembut.

“Oke, Bu,” jawab Azura dan Mosan bersamaan.

Keduanya lalu berbaring di atas karpet tak jauh dari ranjang Aksa.

Sementara itu, Aksa tetap terjaga. Pandangannya menatap kosong ke langit-langit ruangan.

Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar—

Siapa sebenarnya pria bernama Zeno itu?

Apa dia benar-benar pacar Aira… atau seseorang yang jauh lebih berarti?

Di dalam kontrakan yang sunyi, Zeno duduk di hadapan Aira. Tangannya dengan hati-hati mengelap darah kering di tangan Aira menggunakan tisu basah.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Ra?” tanya Zeno pelan. “Kenapa lo sampai masuk IGD?”

“Panjang ceritanya,” jawab Aira lirih.

“Intinya aja, Ra. Biar gue bisa paham,” sahut Zeno lembut.

Aira menarik napas dalam. “Lo lihat cowok yang terbaring di ruang IGD tadi, kan? Namanya Aksa, Zen… gue suka sama dia.”

Zeno terdiam sejenak. Dadanya terasa ditusuk pelan.

“Kalau lo suka… kenapa lo malah pergi?” tanyanya akhirnya.

“Dia kecelakaan. Gue khawatir banget,” suara Aira bergetar. “Dan akhirnya gue juga drop. Di saat yang sama, gue malah ikut terbaring di IGD.”

“Sesayang itu lo sama dia, Ra?” tanya Zeno lirih.

Aira mengangguk jujur, tanpa ragu.

Sedekat apa pun gue sama Aira, ternyata di matanya gue tetap cuma sahabat, batin Zeno pahit.

“Terus kenapa lo pengin pergi dari rumah sakit… tepat di saat kalian sama-sama sadar?” tanya Zeno lagi.

“Hati gue sakit, Zen,” ucap Aira, matanya mulai berkaca-kaca. “Pas gue dengar Aksa kecelakaan itu karena masalah hati. Dan lo tau artinya apa?” Air mata Aira akhirnya jatuh. “Ada perempuan lain di hidup Aksa.”

“Masalah hati yang dimaksud… bukan sama lo?” tanya Zeno pelan, seolah masih berharap.

“Gue nggak tau, Zen,” Aira menggeleng lemah. “Tapi mana mungkin masalah hati itu ada hubungannya sama gue. Aksa aja tiba-tiba ngejauhin gue tanpa sebab. Jadi pasti ada orang lain di hatinya.”

Zeno tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menarik Aira ke dalam pelukannya, membiarkan sahabat kecilnya itu menangis sepuasnya.

Di balik pelukan itu, Zeno menutup mata.

Menjadi tempat pulang bagi Aira—

ternyata juga berarti harus siap menyembunyikan perasaan sendiri.

Zeno sebenarnya ingin bertanya tentang misi ayahnya—apakah sudah ada pertanda, atau sesuatu yang mulai terlihat. Namun melihat Aira yang masih terluka, Zeno tahu… ini bukan waktu yang tepat. Bertanya tentang tugas hanya akan menambah beban di hati Aira.

Akhirnya, Zeno memilih diam. Ia membiarkan Aira menangis di pelukannya.

Beberapa saat kemudian, Aira perlahan melepaskan pelukan itu. Ia mengusap air matanya sendiri, diikuti jari Zeno yang ikut membantu menghapus sisa air mata di pipinya dengan lembut.

“Zen… lo kenapa datang ke sini?” tanya Aira pelan.

“Karena gue yang minta izin sama ayah lo,” jawab Zeno jujur.

“Ayah?” Aira terkejut. “Kenapa ayah bisa ngizinin? Bukannya ayah nyuruh aku sendiri?”

Zeno menarik napas sejenak.

“Ayah lo tiba-tiba dadanya sesak, Ra. Terus keinget kamu. Ayah punya firasat nggak enak—takut sesuatu yang buruk terjadi. Akhirnya gue minta izin buat nyusul kamu ke sini, buat lihat kondisi kamu.”

Zeno menatap Aira dengan lembut.

“Dan ternyata firasat ayah lo bener. Waktu gue sampai, kamu lagi di ruang IGD.”

Air mata Aira kembali menggenang. Ia menunduk, suaranya nyaris berbisik.

“Ayah… Aira rindu banget sama ayah.”

Zeno meraih tangan Aira, menggenggamnya erat—seolah menjadi penghubung antara rindu, jarak, dan waktu yang memisahkan mereka.

Dua hati sedang terluka karena salah paham, bagaimana kebenaran masing-masing akan terungkap?

1
Tara Yulina
Karya ini menurutku sangat menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Alurnya mengalir, konflik dan emosi tokohnya terasa nyata, membuat aku mudah ikut merasakan apa yang dialami Aira. Karakter-karakternya kuat dan relatable, masing-masing punya keunikan dan perkembangan yang jelas. Cerita ini juga berhasil membuat pembaca penasaran ingin tahu kelanjutan tiap bab.
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.
Kama
Penuh emosi deh!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berikan pendapat mu, jangan lupa untuk lanjut baca mungkin kamu akan menemukan ketenangan 💪
total 1 replies
Elyn Bvz
Bener-bener bikin ketagihan.
Tara Yulina: terimakasih jangan lupa lanjut ya 🫶🏻
total 1 replies
Phone Oppo
Mantap!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berpendapat, jangan berhenti disini masih panjang kisah antara Aira dan aksa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!